Saturday, February 18, 2017

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PRE DAN POST CONFERENCE CONFERENCE


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PRE DAN POST CONFERENCE
CONFERENCE
A.    Definisi
Conference adalah diskusi kelompok tentang beberapa aspek klinik dan kegiatan konsultasi. Conference dilakukan sebelum dan sesudah melaksanakan asuhan pada pasien.
B.     Tujuan umum conference
Secara umum tujuan konferensi adalah untuk menganalisa masalah-masalah secara kritis dan menjabarkan alternatif penyelesaian masalah, mendapatkan gambaran berbagai situasi lapangan yang dapat menjadi masukan untuk menyusun rencana antisipasi sehingga dapat meningkatkan kesiapan diri dalam pemberian asuhan keperawatan dan merupakan cara yang efektif untuk menghasilkan perubahan non kognitif (McKeachie, 1962). Juga membantu koordinasi dalam rencana pemberian asuhan keperawatan sehingga tidak terjadi pengulangan asuhan, kebingungan dan frustasi bagi pemberi asuhan (T.M. Marelli, et.al, 1997).
C.    Pedoman pelaksanaan conference :
·         Sebelum dimulai, tujuan conference harus dijelaskan
·         Diskusi harus mencerminkan proses dan dinamika kelompok
·         Pemimpin mempunyai peran untuk menjaga fokus diskusi tanpa mendominasi dan memberi umpan balik
·         Pemimpin harus merencanakan topik yang penting secara periodik
·         Ciptakan suasana diskusi yang mendukung peran serta, keinginan mengambil tanggung jawab dan menerima pendekatan serta pendapat yang berbeda
·         Ruang diskusi diatur sehingga dapat tatap muka pada saat diskusi
·         Pada saat menyimpulkan conference, ringkasan diberikan oleh pemimpin dan kesesuaiannya dengan situasi lapangan
Conference di bagi menjadi 2 macam :
a.       Pre Conference
b.      Post Conference
a.      Pre Conference
1.      Definisi
Pre conference adalah komunikasi ketua tim dan perawat pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim. Jika yang dinas pada tim tersebut hanya satu orang, maka pre conference ditiadakan. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian), dan tambahan rencana dari kepala tim dan penanggung jawab tim.
Pre conference adalah diskusi tentang aspek klinik sebelum melaksanakan asuhan pada pasien.
2.      Tujuan pre conference:
·         Membantu untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien, merencanakan asuhan dan merencanakan evaluasi hasil
·         Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di lapangan
·         Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan pasien

3.      Syarat pelaksanaan:
·         Pre conference dilaksanakan sebelum pemberian asuhan keperawatan dan post conference dilakukan sesudah pemberian asuhan keperawatan
·         Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit
·         Topik yang dibicarakan harus dibatasi, umumnya tentang keadaan pasien, perencanaan tindakan rencana dan data-data yang perlu ditambahkan
·         Yang terlibat dalam conference adalah kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim (Jean, et.Al, 1973)

4.      Pelaksanaan
·         Dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim
Isi conference:
-          Rencana tiap perawat (rencana harian)
-          Tambahan rencana dari ketua tim atau penanggung jawab tim


·         Waktu
Dilakukan setelah operan
·         Tempat
Dilakukan di meja masing – masing tim

D.    Penanggung jawab
Ketua tim atau penanggung jawab tim kegiatan
·         Ketua tim atau penanggung jawab tim membuka acara
·         Ketua tim atau penanggung jawab tim menanjakan rencana harian masing masing perawat pelaksana
·         Ketua tim atau penanggung jawab tim memberikan masukan dan tindakan lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu


















STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP )
PRE CONFERENCE
NO
TINDAKAN
YA
TIDAK
1
Persiapan



1.      Ruangan
2.      Staff


2
Tatalaksana



1.      Melakukan konferensi setiap hari segera setelah dilakukan pergantian dinas pagi atau sore sesuai dengan jadwal pelaksana.
2.      Dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim
Isi conference:
-          Rencana tiap asuhan (rencana harian)
-          Tambahan rencana dari ketua tim atau penanggung jawab tim
3.      Konferensi dihadiri oleh perawat pelaksana dan PA dalam timnya masing – masing.
4.      Menyampaikan perkembangan dan masalah pasien berdasarkan hasil evaluasi kemarin dan kondisi pasien yang dilaporkan oleh dinas malam
5.      Perawat pelaksana menyampaikan hal-hal meliputi
-          Keluhan pasien
-          TTV dan kesadaran pasien
-          Hasil pemeriksaan laboratorium atau diagnosis terbaru
-          Masalah keperawatan
-          Rencana keperawatan hari ini
-          Perubahan keadaan terapi medis
-          Rencana medis
6.      Perawat pelaksana mendikusikan dan mengarahkan perawat asosiet tentang masalah yang terkait dengan perawatan pasien yang meliputi :
-          Pasien yang terkait dengan pelayanan seperti : keterlambatan, kesalahan pemberian makan, kebisikan pengunjung lain, kehadiran dokter yang dikonsulkan.
-          Ketepatan pemberian infuse
-          Ketepatan pemantauan asupan dan pengeluaran cairan
-          Ketepatan pemberian obat / injeksi
-          Ketepatan pelaksanaan tindakan lain
-          Ketepatan dokumentasi
7.      Mengingatkan kembali standar prosedur yang ditetapkan
8.      Mengingatkan kembali tentang kedisiplinan, ketelitian, kejujuran dan kemajuan masing–masing perawatan asosiet
9.      Membantu perawatan asosiet menyelesaikan masalaah yang tidak dapat diselesaikan.






b.      Post Conference
1.      Definisi
Post conference adalah diskusi tentang aspek klinik sesudah melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien. Conferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari. Konferensi dilakukan sebelum atau setelah melakukan operan dinas, pagi, sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas perawatan pelaksanaan. konference sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri sehingga dapat mengurangi gangguan dari luar.
2.      Tujuan Post Conference
Tujuan post conference adalah untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian masalah dan membandingkan masalah yang dijumpai.

3.      Syarat Post Conference
·         Post conference dilakukan sesudah pemberian asuhan keperawatan
·         Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit
·         Topik yang dibicarakan harus dibatasi, umumnya tentang keadaan pasien, perencanaan tindakan rencana dan data-data yang perlu ditambahkan
·         Yang terlibat dalam conference adalah kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim
4.      pelaksanaan dalam melaksanakan konferensi
Adapun panduan bagi Perawat pelaksana dalam melakukan konferensi adalah sebagai berikut: (Ratna Sitorus, 2006).
·         Konferensi dilakukan setiap hari segera setelah dilakukan pergantian dinas pagi atau sore sesuai dengan jadwal perawatan pelaksana.
·         Konferensi dihadiri oleh perawat pelaksana dan PA dalam timnya masing – masing.
·         Penyampaian perkembangan dan masalah klien berdasarkan hasil evaluasi kemarin dan kondisi klien yang dilaporkan oleh dinas malam.

Hal hal yang disampaikan oleh perawat pelaksana meliputi :
a)      Utamanya tentang klien (biodata, status sosial, ekonomi, budaya)
b)      Keluhan klien
c)      TTV dan kesadaran
d)     Hasil pemeriksaan laboraturium atau diagnostic terbaru.
e)      Masalah keperawatan
f)       Rencana keperawatan hari ini.
g)      Perubahan keadaan terapi medis.
h)      Rencana medis selanjutnya (tindak lanjut)

·         Perawat pelaksana mendikusikan dan mengarahkan perawat tentang masalah yang terkait dengan perawatan klien yang meliputi :
1)                     Klien yang terkait dengan pelayanan seperti : keterlambatan, kesalahan pemberian makan, kebisingan pengunjung lain, kehadiran dokter yang dikonsulkan.
2)                     Ketepatan pemberian infuse.
3)                     Ketepatan pemantauan asupan dan pengeluaran cairan.
4)                     Ketepatan pemberian obat / injeksi.
5)                     Ketepatan pelaksanaan tindakan lain,
6)                     Ketepatan dokumentasi.

·         Menggiatkan kembali standar prosedur yang ditetapkan.
·         Menggiatkan kembali tentang kedisiplinan, ketelitian, kejujuran dan kemajuan masing–masing perawatan asosiet.
·         Membantu perawat menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan.
Tahap – tahap inilah yang akan dilakukan oleh perawat – perawat ruangan ketika melakukan post conference





NURSING RUN / RONDE KEPERAWATAN
A.    Pengertian
Ronde Keperawatan (Nursing Rounds) adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang akan dilaksanakan oleh perawat disamping melibatkan klien untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan. Pada kasus tertentu harus dilakukan oleh perawat primer dan /atau perawat konselor, kepala ruangan, perawat associate yang perlu juga melibatkan seluruh anggota tim kesehatan (Nursalam, 2002).
Karakteristik ronde keperawatan adalah sebagai berikut :
-          Klien dilibatkan secara langsung.
-          Klien merupakan fokus kegiatan.
-          PA, PP dan perawat konselor melakukan diskusi bersama.
-          Perawat konselor memfasilitasi kreativitas.
-          Perawat konselor membantu mengembangkan kemampuan PA dan PP dalam meningkatkan kemampuan mengatasi masalah.

B.     Tujuan
a.       Tujuan Umum
Menyelesaikan masalah klien melalui pendekatan berpikir kritis.
b.      Tujuan Khusus
-          Menumbuhkan cara berpikir kritis dan sistematis.
-          Meningkatkan kemampuan validasi data klien.
-          Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosis keperawatan.
-          Menumbuhkan pemikiran tentang tindakkan keperawatan yang berorientasi pada masalah klien.
-          Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan keperawatan.
-          Meningkatkan kemampuan justifikasi.
-          Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja.

C.    Manfaat
1.            Masalah klien dapat teratasi
2.            Kebutuhan klien dapat terpenuhi.
3.            Terciptanya komunitas keperawatan yang profesional.
4.            Terjalinnya kerja sama antartim kesehatan.
5.            Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan dengan tepat dan benar.


D.    Kriteria Klien
Klien yang dipilih untuk dilakukan ronde keperawatan adalah klien yang memiliki kriteria sebagai berikut.
ü      Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah dilakukan tindakan keperawatan.
ü      Klien dengan kasus baru atau langka.
Metode yang biasanya digunakan adalah sebagai berikut.
1.            Alat Bantu
Alat bantu yang biasanya digunakan adalah sebagai berikut.
-          Sarana diskusi : buku dan pulpen.
-          Rekam medis/dokumentasi keperawatan klien.
-          Materi yang disampaikan secara lisan.

2.            Langkah-langkah kegiatan ronde keperawatan
Langkah – langkah dalam ronde keperawatan adalah sebagai berikut.
a)      Praronde
Menentukan kasus dan topik (masalah yang tidak teratasi dan masalah yang langka).
-          Menentukan tim ronde keperawatan.
-          Mencari sumber atau literatur.
-          Membuat proposal.
-          Mempersiapkan klien : informed consent dan pengkajian.
-          Diskusi : apa diagnosis keperawatan ?; Apa data yang mendukung ?; Bagaimana intervensi yang sudah dilakukan?; Apa hambatan yang ditemukan selama perawatan?
b)      Pelaksanaan ronde
-          Penjelasan tentang klien oleh PP yang difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan dan/atau telah dilaksanakan serta memilih prioritas yang perlu didiskusikan.
-          Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut.
-          Pemberikan justifikasi oleh PP atau peraawat konselor atau kepala ruangan tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan dilakukan.
c)      Pascaronde
-          Evaluasi, revisi, dan perbaikan.
-          Kesimpulan dan rekomendasi penegakan diagnosis dan intervensi keperawatan selanjutnya.

E.     Peran Masing-masing Anggota Tim
1.      Peran perawat primer dan perawat associate.
-          Menjelaskan data-data yang mendukung masalah klien.
-          Menjelaskan diagnosis keperawatan.
-          Menjelaskan intervensi yang dilakukan.
-          Menjelaskan hasil yang didapat.
-          Menjelaskan rasional (alasan ilmiah) tindakan yang diambil.
-          Menggali masalah – masalah klien yang belum terkaji.

2.      Peran perawat konselor
-          Memberikan justifikasi.
-          Memberikan reinforcement.
-          Memvalidasi kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan serta rasional tindakan.
-          Mengarahkan dan mengoreksi.
-          Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah dipelajari.

F.     Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi pada pelaksanaan ronde keperawatan adalah sebagai berikut.
1.      Struktur
-          Persyaratan administratif (informed consent, alat dan lainnya).
-          Tim ronde keperawatan hadir ditempat pelaksanaan ronde keperawatan.
-          Persiapan dilakukan sebelumnya.

2.      Proses
-          Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir.
-          Seluruh perserta berperan aktif dalam kegiatan ronde sesuai peran yang telah ditentukan.

3.      Hasil
-          Klien merasa puas dengan hasil pelayanan.
-          Masalah klien dapat teratasi.
-          Perawat dapat :
§  Menumbuhkan cara berpikir yang kritis.
§  Meningkatkan cara berpikir yang sistematis.
§  Meningkatkan kemampuan validitas data klien.
§  Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosis keperawatan.
§  Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berorientasi pada masalah klien.
§  Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan keperawatan.
§  Meningkatkan kemampuan justifikasi.
§  Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja.










DAFTAR PUSTAKA

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0CCkQFjAC&url=http%3A%2F%2Fardhyashshiddieqi.blogspot.com%2F2013%2F05%2Fronde-keperawatan.html&ei=KUqBVLGdDJONuASUj4HACg&usg=AFQjCNGW4DBf6bhFYEHZ-_g4iP2y2MQ98g

No comments:

Post a Comment