Saturday, February 18, 2017

ASKEP ENDOKARDITIS


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Endokarditis pertama kali ditemukan oleh Rivera tahun 1946. Endokarditis di bagi menjadi dua yaitu endokarditis infektif dan endokarditis non infektif. Prevalensi paling sering terjadi pada kelainan katup oleh karena rhematik, dan ini sering terjadi pada negara sedang berkembang. Juga pada anak-anak yang dilakukan operasi jantung untuk mengkoreksi kelainan jantung kongenital.
           
Pada pasien endokarditis tanpa penyakit jantung sebelumnya kejadian ini sering pada ABE (Akut Bakterial Endokarditis) terutama anak-anak di bawah 2 tahun, dan pecandu narkotik. Resiko yang lain untuk terjadinya endokarditis, terutama pada pasen dengan kelainan kongenital pada jantungnya. Pada negara berkembang insiden endokarditis 1,6 – 4,3 diantara 100.000 penduduk. Angka kematian 20%-40%, meskipun diberikan antibiotik yang cukup. Komplikasi neurologis endokarditis berkisar 20%-40%, hal ini akan mempertinggi angka kematian (41%-86%). Maka perlu diketahui gejala klinik secara dini dari endokarditis,maupun komplikasi neurologisnya dengan harapan angka kematiannya dapat ditekan.

B.     Tujuan
a.      Tujuan Umum
Tujuan umum makalah ini adalah untuk mengetahui tentang Asuhan Keperawatan pada klien dengan endokarditis.
b.      Tujuan Khusus

1.      Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dengan endokarditis.
2.      Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada klien dengan endokarditis.
3.      Mahasiswa mampu menyusun intervensi keperawatan pada klien    dengan endokarditis.
4.      Mahasiswa mampu menerapkan implementasi keperawatan pada klien dengan endokarditis.
5.      Mahasiswa mampu mengevaluasi implementasi keperawatan yang telah dilaksanakan pada klien dengan endokarditis.
6.      Mahasiswa mampu mendokumentasikan keperawatan yang telah dilaksanakan pada klien dengan endokarditis.

C.    Manfaat Penulisan Makalah
Adapun manfaat dari makalah ini adalah : 
1.   Hasil makalah ini dapat kita gunakan sebagai sumber pengetahuan tentang endokarditis.
2.   Hasil makalah ini dapat memberikan kontribusi bagi penelitian kesehatan dan ilmu keperawatan
3.   Hasil makalah ini dapat memberikan  masukan bagi ilmu keperawatan tentang tingkat pengetahuan kita tentang penyakit endokarditis, sehingga apabila diperlukan dapat kita lakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang kesehatan mata khusunya endokarditis.










BAB II
PEMBAHASAN
A.    Defenisi
            Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. (wajan yuni udjianti,keperawatan kardiovaskuler hal,126)
            Endokarditis tidak hanya terjadi pada endokard dan katub yang telah mengalami kerusakan, tetapi juga pada endokar dan katub yang sehat, misalnya penyalahgunaan narkotik perintravena atau penyakit kronik. Perjalanan penyakit ini bisa; akut, sub akut, dan kronik, tergantung pada virulensi mikroorganisme dan daya tahan penderita. Infeksi subakut hampir selalu berakibat fatal, sedangkan hiperakut/akut secara klinis tidak pernah ada, karena penderita meninggal terlebih dahulu yang disebabkan karena sepsis. Endokarditis kronik hampir tidak dapat dibuat diagnosanya, karena gejalanya tidak khas (buku saku KMB burner & suddart)
Endokarditis Infektif adalah infeksi pada endokardium (selaput jantung) dan katup jantung . (internet google)

B.     Etiologi 
                        Ada beberapa yang menjadi penyebab dari penyakit endokarditis ini dan biasanya adalah adanya kelainan penyakit jantung itu sendiri. Beberapa faktor predisposisi atau pun faktor pencetusnya diantaranya yaitu :
  1. Penyakit jantung rematik.
  2. Penyakit jantung bawaan. Dan termasuk dalam penyakit jantung bocor di dalamnya.
  3. Katub jantung prostetik. Biasanya pada pasien yang telah menjalani operasi bedah jantung dalam ranggak mengganti katup jantung dengan menggunakan katup jantung prostetik.
  4. Penyakit jantung sklerotik.
  5. Prolaps katub mitral (MVP / Mitral Valve Prolaps ).
  6. Post operasi jantung.
  7. Miokardiopati hipertrofi obstruksi.


Endokarditis paling banyak disebabkan oleh
         streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang hidupnya menyukai didalam saluran napas bagian atas. Sebelum ditemukan antibiotik, maka 90 - 95 % endokarditis infeksi disebabkan oleh strptokokus viridans, tetapi sejak adanya pemberian antibiotik dan juga dalam hal ini khususnya adalah antibiotik streptokokus viridans 50 % penyebab infeksi endokarditis yang merupakan 1/3 dari sumber infeksi.
         Penyebab lain dari infeksi endokarditis yang lebih patogen yaitu stapilokokus aureus yang menyebabkan infeksi endokarditis subakut.
         Penyebab lainnya adalah Streptokokus fekalis, stapilokokus, bakteri gram negatif aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan kandida

C.    Anatomi Fisiologi

            Jantung merupakan salah satu organ vital bagi kelangsungan hidup kita, Jantung terletak di dalam rongga mediastinum dari rongga dada diantara kedua paru, Jantung juga dilapisi oleh selaput yang mengitari jantung yang disebut perikardium.
Untuk lebih jelas mengenai gambaran posisi jantung bisa dilihat pada gambar dibawah ini :


Perikardium terdiri dari dua lapisan, Yaitu :
a.    Perikardium parietalis yaitu lapisan luar melekat pada tulang dada dan paru.
b.    Perikardium viseralis/ epikardium  yang merupakan  lapisan permukaan jantungitu  sendiri.

Diantara kedua lapisan ini terdapat cairan perikardium sebayak 50 cc yang berfungsi sebagai pelumas saat jantung berkontraksi sehingga tidak menimbulkan gesekan pada 2 lapisan tersebut. Organ jantung itu sendiri terdiri dari 3 lapisan Yaitu :
a.    Lapisan luar (epikardium).
b.    Lapisan tengah (Miokardium).
c.    Lapisan dalam (endokardium).



Perhatikan gambar berikut :

Dibagian dalam jantung terdiri dari 4 ruang yang disebut :
a.    Atrium yang  terdiri dari bagian kanan dan kiri.
b.    Ventrikel juga terdiri daribagian  kanan dan kiri.

Berikut gambar ruang dibagian dalam dari jantung :




Katup atrioventrikuler
Katup ini terletak diantar arium dan ventrikel :
a.    Trikuspid, terletak antara atrium kanan dan ventrikel kanan, terdiri dari 3 daun katup.
b.    Bikuspid (Mitral), terletak antara atrium dan ventrikel kiri, terdiri dari 2 daun katup.



Katup Semilunar
a.    Katup Pulmonal terletak pada arteri pulmonalis dan memisahkan pembuluh ini dari ventrikel kanan.
b.    Katup Aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta

D.    Patofisiologi
Endokarditis paling banyak disebabkan oleh streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran napas bagian atas. Sebelum ditemuklan antibiotik, maka 90 - 95 % endokarditis infeksi disebabkan oleh strptokokus viridans, tetapi sejak adanya antibiotik streptokokus viridans 50 % penyebab infeksi endokarditis yang merupakan 1/3 dari sumber infeksi. Penyebab lain dari infeksi endokarditis yang lebih patogen yaitu stapilokokus aureus yang menyebabkan infeksi endokarditis subakut. Penyebab lainnya adalah streptokokus fekalis, stapilokokus, bakteri gram negatif aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan kandida.


Faktor-faktor prediposisi dan faktor pencetus:
Faktor predisposisi diawali dengan penyakit-penyakit kelainan jantung dapat berupa penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, katub jantung prostetik, penyakit jantung sklerotik, prolaps katub mitral, post operasi jantung, miokardiopati hipertrof obstruksi.
Endokarditi infeksi sering timbul pada penyakit jantung rematik dengan fibrilasi dan gagal jantung. Infeksi sering pada katub mitral dan katub aorta. Penyakit jantung bawaan yang terkena endokarditis adalah penyakit jantung bawaan tanpa ciyanosis, dengan deformitas katub dan tetralogi fallop. Bila ada kelainan organik pada jantung, maka sebagai faktor predisposisi endokarditis infeksi adalah akibat pemakaian obat imunosupresif atau sitostatik, hemodialisis atau peritonial dialisis, serosis hepatis, diabetis militus, penyakit paru obstruktif menahun, penyakit ginjal, lupus eritematosus, penyakit gout, dan penyalahan narkotik intravena.
Faktor pencetus endokarditis infeksi adalah ekstrasi gigi atau tindakan lain pada gigi dan mulut, kateterisasi saluran kemih, tindakan obstretrik ginekologik dan radang saluran pernapasan.
Kuman paling sering masuk melalui saluran napas bagian atas selain itu juga melalui alat genital dan saluran pencernaan, serta pembuluh darah dan kulit. Endokard yang rusak dengan permukaannya tidak rata mudah sekali terinfeksi dan menimbulakan vegetasi yang terdiri atas trombosis dan fibrin. Vaskularisasi jaringan tersebut biasanya tidak baik, sehingga memudahkan mikroorganisme berkembang biak dan akibatnya akan menambah kerusakan katub dan endokard, kuman yang sangat patogen dapat menyebabkan robeknya katub hingga terjadi kebocoran. Infeksi dengan mudah meluas ke jaringan sekitarnya, menimbulkan abses miokard atau aneurisme nekrotik. Bila infeksi mengenai korda tendinae maka dapat terjadi ruptur yang mengakibatkan terjadinya kebocoran katub.
WOC :



E.     Manifestasi Klinis
Sering pasien tidak mengetahui dengan jelas sejak kaluhan penyakitnya timbul. Pada beberapa pasien, manifestasi penyakit menjadi jelas sesudah cabut gigi, infeksi saluran nafas atau tindakan lain. Keluhan umum yang sering diderita adalah demam, lemah, letih, lesu, keringat malam banyak, anoreksia, berat badan menurun dan sakit sendi. Bila terjadi emboli akan timbul keluhan seperti paralisis, sakit dada, sakit perut, hematuria, buta mendadak, sakit pada jari tangan, dan kakidan sakit pada kulit.
Gejala klinis Endokarditis bervariasi dari yang ringan sampai yang berat :
1.      Endokarditis sub akut
            Gejala timbul kurang lebih dua minggu sesudah inkubasi. Keluhan penderita seperti keluhan infeksi yang umum antara lain panas yang terlalu tinggi, sakit kepala, nafsu makan kurang, lemas, berat badan turun. Timbulnya gejala karena komplikasi seperti gagal jantung, gagal emboli pada organ tubuh yang terkena misalnya gejala neorologi, sakit dada, sakit diperut kiri atas, hematuria, tanda iskemia diekstremitas.

2.      Endokarditis akut
Gejala timbul lebih berat dalam waktu yang lebih singkat. Tanda- tanda yang dapat dilihat pada endokarditis bermacam- macam. Pasien merupakan gejala yang paling umum pada endokarditis. Pada pemeriksaan fisik jantung sering ditemukan adanya bising tidak menghilangkan kemungkinan adanya endokarditis.
Tanda- tanda karena kelainan vaskuler seperti :
         ptechiae, bercak pada kulit atau mukosa yang kelihatan pucat.
         splinter hemoraghes bercak kemerahan dibawah kulit.
         osler node, nodus berwarna gelap yang menonjol dan sakit, terdapat pada kulit,              tangan atau kaki, terutama pada ujung jari kaki.
         janeway lesion, bercak kemerahan pada telapak tangan atau kaki, tanda-tanda pada mata berupa ptekie konjungtiva, perdaarahan, kebutaan, tanda endoflamitis. Semua tanda-tanda yang disebutkan diatas tidak selalu ada pada penderita endokarditis.
            Elektrokardiogram tergantung dari kelaian dasar pada penyakit jantung. Adanya gangguan konduksi menunjukkan kemungkinan terjadi abses atau endokarditis. Gambaran foto roentgen tergantung dari kelainan dasar pada jantung. Bila ada gagal jantung akan ditemukan pembesaran jantung. Dan tanda terdengar diparu.

F.   Pemeriksaan Penunjang
A.    Laboratorium
            Leukosit dengan jenis netrofil, anemia normokrom normositer, LED meningkat, immunoglobulin serum meningkat, uji fiksasi anti gama globulin positf, total hemolitik komplemen dan komplemen C3 dalam serum menurun, kadar bilirubin sedikit meningkat.
            Pemeriksaan umum urine ditemukan maka proteinuria dan hematuria secara mikroskopik. Yang penting adalah biakan mikro organisme dari darah . Biakan harus diperhatikan darah diambil tiap hari berturut-turut dua / lima hari diambil sebanyak 10 ml dibiakkan dalam waktu agak lama (1 - 3 minggu) untuk mencari mikroorganisme yang mungkin berkembang agak lambat. biakkan bakteri harus dalam media yang sesuai. NB: darah diambil sebelum diberi antibiotik . Biakan yang positif uji resistansi terhadap antibiotic.

B.     Echocardiografi
      Diperlukan untuk:
• melihat vegetasi pada katub aorta terutama vegetasi yang besar ( > 5 mm)
• melihat dilatasi atau hipertrofi atrium atau ventrikel yang progresif
• mencari penyakit yang menjadi predisposisi endokarditis ( prolap mitral, fibrosis, dan calcifikasi katub mitral )
• penutupan katub mitral yang lebih dini menunjukkan adanya destrruktif katub aorta dan merupakan indikasi untuk melakukan penggantian katub.






G.      Penatalaksanaan
1.      Medis
v  Tirah baring
v  Farmakoterapi: antibiotic(penicillin, streptomycin vancomycyn, gentamicyn)
            Penderita dirawat di rumah sakit dan mendapatkan antibiotic intravena dosis tinggi selama minimal 2 minggu. Pemberian antibiotik saja tidak cukup pada infeksi katub buatan. Mungkin perlu dilakukan pembedahan jantung untuk memperbaiki atau mengganti katub yang rusak dan membuang vegetasi. Sebagai tindakan pencegahan, kepada penderita kelainan katub jantung, setiap akan menjalani tindakan gigi maupun pembedahan sebaiknya diberikan antibiotik.
            Pengobatan akan berhasil baik bila dimulai sedini mungkin, obat tepat (terutama sesuai dengan uji resistensi) valid, dan waktu yang cukup. Pengobatan empiris untuk endokarditis akut adalah dengan nafisilin 2g/ 4 jam, ampisilin 2g/ 4 jam dan gntamisin 1,5 mg/kg BB 8/ jam. Sedangkan untuk endokarditis sub akut cukup dengan ampisilin dan gematisin. Pada orang dewasa atau anak- anak dengan endokarditis disertai kelainan jantung reumatik dan bawaan dapat diberi pinisilin G 2,4- 6 juta unit/hari diteruskan selama 4 minggu. Penisilin diberi secara parenteral selama 2 minggu dan selanjutya diberi parenteral atau oral (penisislin V). dap[at ditambahkan streptomicyn 0,5 mg tiap 12 jam selama 2 minggu. Pada orang tua atau wanita setelah tindakan stentri dan ginekologis dapat diberi penisilin G 1,2- 2,4 juta unit/ hari parenteral ditambah gentamicyn 3-5 mg/ kg BB yang dibagi dalam 2 -3 dosis. Ampisilin dapat dipakai dengan dosis 6-12 g sehari. Lama pengobatan minimal 4-6 minggu. Bila kuman resisten terhadap penisilin, dapat dipakai sefalotin 1,5 g tiap 3 jam iv atau nafsin 1,5 g tiap 4 jam, oksasilin 12g/ hari atau vankomisin tiap 6 jam atau eritromisin 0,5 g tiap 8 jam. Endokarditis yang disebabkan oleh jamur biasanya fatal, doberikan amfotetisin B 0,5-1,2 mg/ hari iv dan flurositosin 150 mg/ kg BB per oral.
            Resiko mortalitas dan morbiditas tinggi pada tindakan bedah yang terlalu awal, Tapi apabila pembedahan terlambat dilakukan, pasien dapat meninggal karena hemidinamik yang buruk atau komplikasi berat. Indikasi bedah adalah gagal jantung yang tidak dapat diatasi dengan obat- obatan, septikimia yang tidak berespon dengan pengobatan antibiotik, perluasan infeksi intrakardiak, endokarditis pada lesi jantung bawaan, dan endokarditis karena jamur.
            Profilaksis antibiotik diperlukan pada tindakan yang memungkinkan terjadinya bakterimia, misalnya operasi atau pencabutan gigi, American heart association merekomendasikan pemberian amoksisilin 3g secara oral pada 1 ajm sebelum prosedur, diikuti 1,5g pada 6 jam setelah dosis inisial. Bila pasien alergi terhadap penisilin, dapat diberiakan 800mg klindamisin oral 1 ajm sebelum prosedur, diikuti pemberian berikutnya 6 jam setelah dosis inisial.

2.      Keperawatan
             Tindakan keperawatan diberikan berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab perawat secara profesional sebagaimana terdapat dalam standar praktek keperawatan yaitu sebagai berikut:
1.      Independent
2.      Dependent
3.      Interdepend

H.      Komplikasi
a.    Komplikasi Endokarditis :
Diantara berbagai manifestasi klinik dari endokarditis komplikasi neurologi merupakan hal yang penting karena sering terjadi, merupakan komplikasi neurologik. Dapat melalui 3 cara:
1.      penyumbatan dari pembuluh darah oleh emboli yang berasal dari vegetasi endokardial
2.      infeksi meningen, jaringan otak, dinding pembuluh darah karena septik emboli atau bakterimia
3.      reaksi immunologis
Melalui mekanisme tersebut dapat menyebabkan:
1. infark atau infark berdarah
2. pendarahan intra serebral, SAB, perdarahan subdural
3. prose desak ruang, seperti abses atau mycotic aneurysma
4. perubahan fungsi otak karena berbagai factor

Bila terjadi emboli akan akan mengakibatkan:
a.       Gejala neurologik fokal bila mengenal hanya satu pembuluh darah
b.      lebih dari satu pembluh darah tergantung dari istemianya apakah dapat membaik sebelum terjadi kerusakan yang permanen maka gejalanya mirip TIA, atau bila berlanjut menyebabkan kerisakan jaringan otak dan terjadi proses supurasi.

Hal tersebut mengakibatkan:
1. septik atau septic meningitis
2. absces, mikro absces otak
3. meningoencephalitis

            Bila dinding arteri atau vasa vaserum terkena maka akan terjadi aneurisma, yang akan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah yang bersangkutan. Berbagai factor yang dapat menimbulkan kelainan neurologis yaitu: Hipoksia, ganguan metabolisme, pengaruh obat- obatan, pengaruh toksis dari infeksi systemic, reaksi imunitas terhadap pembuluh darah, proliferatif endarteritis.
b.    Komplikasi dapat terjadi disemua organ bila terjadi emboli infektif
1.      Gagal jantung
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah gagal jantung sedang sampai berat dan kemtian terjadi 85% dari 95 kasus
2.     Emboli
Emboli terjadi pada 13-35% endokarditis infektif subakut dan 50-60% pada penderita endokarditis akut. Emboli arteri sering terjadi pada otak, paru, arteri koronaria, limpa, ginjal ekstrimitas, usus, mata dll.
3.         Aneurisma nekrotik
Terjadi pada 3-5% endokarditis infektif dan akan mengalami perdarahan


4.         Gangguan neurologik
Ditemukan pada 40-50% endokarditis infektif. Ganguan bisa berupa, gangguan kesadaran, gangguan jiwa(psikotik) meningo ensepalitis steril. Kelainan pada pembuluh darah otak 80% disebabkan infark dan 20% karena perdarahan otak.




























B.    ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
      A. Pengkajian
Data Demografi/ identitas
a.    Umur (usia > tua)
1)   Murmur jantung
2)   Aritmia
3)   Tekanan darah mneingkat
4)   Nadi perifer cenderung lemah
5)   Intoleransi aktivitas
b.    Suku bangsa
1)   Pekerjaan
a)    Pekerja berat
b)   Stress tinggi
2)   Lingkungan/ tempat tinggal
a)    Mempengaruhi pola hidup dan konsumsi makanan.

Pengkajian data dasar
a.    Riwayat atau adanya factor- factor resiko:
1)   Penyakit jantung bawaan
2)   Riwayat bedah jantung
3)   Pemakaian obat-obatan intravena yang sembarangan
4)   Prosedue diagnosa kardiovaskuler sebelumnya yang bersifat invasif

b.    Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajian status kardiovaskuler dan survei umum kemungkinan menunjukkan :
1)   Tiga kelompok besar anemia, demam intermitten dan murmur systole(dengan stenosis aorta infusiensi tricuspid atau infusiensi mitral) atau murmur diastolic (dengan isufiensi aorta stenosis tricuspid atau stenosis mitral)
2)   Atralgia
3)   Anoreksia dan kehilangan berat badan
4)   Lelah
5)   Spelenomegali
6)   Lesi vaskuler
a)    Nodus osler (nyeri, adanya nodul merah dikulit)
b)   Lesi janeways (datar, tidak ada nyeri, bintik- bintik merah yang ditemukan ditelapak kaki dan ditelapak tangan yang menjadi pusat karena tekanan)
7)   Ptekia
8)   Gejala gagal jantung

c.    Pemeriksaan diagnostik
1)   Kultur darah positif untuk infeksi organisme
2)   JDL menunjukkan leukositosis, Hb, hematokrit, dan SDM dibawah batas normal
3)   Laju sedimen eritrosit(ESR) meningkat, menggambarkan adanya peradangan
4)    Urinelasis AU menunjukkan hematuria dan proteunaria positif
5)   Sinar X dada mendeteksi gagal jantung kongestif dan hipertropi jantung
6)  EKG untuk mengkaji gagal jantung dan aritmia
7)   Ekokardiogram untuk menentukan luasnya kerusakan katup
8)   Enzim jantung: CPK mungkin tinggi, tetapi isoenzim MB tidak ada
9)    Angiografi: dapat menunjukkan stenosis katup dan regurtasi/ penurunan       gerak dinding
10)   Sinar X dada: dapat menunjukan pembesaran jantung, infiltrsi pulmonal
11)   JDL : dapat menunjukkan infeksi akut/ kronis anemia
12)    Kultur darah: dilakukan untuk mengisolasi bakteri, virus, dan jamur penyebab
13)  LED: umumnya meningkat
14)  Titer ASO: peninggian pada demam reumatik(kemungkinan    pencetus)
15) Titer ANA: positif pada penyakit antonium missal: SLE(kemungkinan pencetus)
16)    Perikardiosintesis: cairan pericardial dapat diperiksa untuik etiologi, infeksi, seperti bakteri, tuberkolosis, infeksi virus, atau jamur, SLE, penyakit rheumatoid, keganasan
d.   Kajian perasaan pasien dan masalah- masalah tentang kondisi sesudah distress cardiopulmonal

B. Diagnosa Keperawatan
a.    Nyeri (akut) dapat dihubungkan dengan:
1)        Inflamasi miokardium atau perikardium
2)        Efek- efek sistemik dari infeksi
3)        Iskemia jaringan(miokardium)
Kemungkinan di buktikan dengan:
1)        Nyeri dada, penyebaran ke leher/ punggung
2)        Nyeri sendi
3)        Nyeri meningkat dengan inspirasi dalam, gerakan aktivitas, posisi
4)        Demam, menggigil
b.    Intoleransi aktivitas dapat berhubungan dengan:
1)        Inflamasi dan degenerasi sel-sel otot moikard
2)        Pembatasan pengisian jantung/ kontraksi ventrikel,penurunan curah jantung
3)        Toksin dari organisme penginfeksi
Kemungkinan dibuktikan oleh:
1)        Keluhan kelemahan/ keletihan/ dispnea dengan aktivitas
2)        Perubahan dalam tanda- tanda karena aktivitas
3)        Tanda- tanda GJK
c.   Curah jantung, penurunan, resiko tinggi terhadap factor resiko dapat meliputi :
1)        Akumulasi cairan dalam kantung perikardia (perikarditis)
2)        Stenosis/ insufisiensi katup
3)        Penurunan atau konstriksi fungsi ventrikel
4)        Degenerasi otot jantung
Kemungkinan dapat dibuktikan oleh:
1)   Tidak dapat diterapkan adanya tanda- tanda dan gejala- gejala membuat diagnosa aktual
d.   Perfusi jaringan, perubahan, resiko tinggi terhadap faktor resiko meliputi:
           1)    Emboli trombus/ vegetasi katup sekunder terhadap endokarditis
Kemungkinan dibuktikan oleh:
1)   Tidak diterapkan adanya tanda- tanda dan gejala- gejala membuat diagnosa aktual
e.    kurang pengetahuan tentang kondisi/ pengobatan dapat di hubungkan dengan :
1)        Kurang informasi tentang proses penyakit, cara untuk mencegah pengulangan atau komplikasi
Kemungkinan di hubungkan dengan:
1)        Permintaan informasi
2)        Kegagalan membaik
3)        Terulangnya/ komplikasi yang dapat dicegah

C. Intervensi Keperawatan
a.    Diagnosa keperawatan: Nyeri (akut) dapat dihubungkan dengan :
1)         Inflamasi miokardium atau pericardium
2)         Efek- efek sistemik dari infeksi
3)         Iskemia jaringan(miokardium)

INTERVENSI / TINDAKAN
RASIONAL
Mandiri :
Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan awitan dan factor pemberat atau penurun. Perhatikan penunjuk nonverbal dari ketidak nyamanan. Misalnya: berbaring dengan diam atau gelisah, tegang otot, menangis.
Berikan lingkungan yang tenang dan tindakan kenyamanan. Misalnya: perubahan posisi, gosokan punggung, penggunaan kompres panas/ dingin, dukungan emosional, berikan aktivitas hiburan yang yang tepat
Kolaboratif : Berikan obat- obat sesuai indikasi: agen nonsteroid mis, indometasin(indocin); ASA(aspirin), antipiretik mis; ASA/ asetaminofen (Tylenol) steroid Berikan oksigen suplemen sesuai indikasi

Nyeri perikarditis secara khas terletak subternal dan dapat menyebar keleher dan punggung. Namun ini berbeda dari iskemia miokard/ nyeri infrak, pada nyeri ini menjadi memburuk pada inspirasi dalam, gerakan, atau berbaring dan hilang dengan duduk tegak/ membungkuk. Catatan : nyeri dada dapat atau mungkin tidak menyertai endokarditis dan miokarditis, tergantung adanya iskemia.
Tindakan ini dapat menurunkan emosional pasien.
Mengarahkan kembali perhatian, memberikan distraksi dalam tingkat aktivitas individu.
Dapat menghilangkan nyeri, menurunkan respon inflamasi
Untuk menurunkan demam dan meningkatkan kenyamanan.
Dapat diberikan untuk gejala yang lebih berat Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk ambilan untuk menurunkan ketidaknyamanan berkenaan dengan iskemia.

b.    Diagnosa keperawatan : intoleransi aktivitas dapat di hubungkan dengan :
1)        Inflamasi dan degenerasi sel- sel otot miokard
2)        Pembatasan pengisian jantung / kontraksi ventrikel, penurunan ventrikuler, penurunan curah jantung, toksin dari organisme penginfeksi.
INTERVENSI/ TINDAKAN
RASIONAL
Mandiri :
Kaji respon pasien terhadap aktivitas. Perhatikan adanya dan perubahan dalam keluhan kelemahan, keletihan, dan dispnea berkenaan dengan aktivitas. Pantau frekuensi/ irama jantung, TD, dan frekuensi pernapasan sebelum/ setelah aktivitas dan selama diperlukan. Pertahankan tirah baring selama priode demam dan sesuai indikasi. Rencanakan perawatan dengan priode istirahat/ tidur tanpa gangguan. Bantu pasien dalam program latihan progresif bertahap sesegera mungkin untuk turun dari tempat tidur, mencatat respon tanda vital dan toleransi pasien pada peningkatan aktivitas. Evaluasi respons emosional terhadap situas/ berikan dukungan.
Kolaborasi : Berikan oksigen suplemen.
Miokarditis menyebabkan inflamasi dan kemungkinan kerusakan fungsi sel- sel miokardial, sebagai akibat GJK. Penurunan pengisian dan curah jantung dapat menyebabkan pengumpulan cairan dalam kantung pericardial bila ada perikarditis. Akhirnya, endokarditis dapat terjadi dengan disfungsi katup, secara negative mempengaruhi curah jantung.
Membantu menentukan derajat dekompensasi jantung dan pulmonal. Penurunan TD, takikardia, disritmia, dan takipnea adalah indikatif dari kerusakan toleransi jantung terhadap aktivitas. Meningkatkan resolusi inflamasi selama fase akut dari perikarditis/ endokarditis. Catatan: demam meningkatkan kebuuhan dan kebutuhan oksigen, karenanya meningkatkan kebutuhan dan konsumsi oksigen, karenanya meningkatkan beban kerja jantung dan menurunkan toleransi aktivitas.
Memberikan keseimbangan dalam kebutuhan dimana aktivitas bertumpu pada jantung meningkatkan proses penyembuhan dan kemampuan koping emosional. Saat inflamasi/ kondisi dasar teratasi, pasien mungkin mampu melakukan aktifitas yang diinginkan, kecuali kerusakan miokard permanent/ terjadi komplikasi. Ansietas akan ada karena inflamasi/ infeksi dan respon jantung (fisiologis), serta derajat takut pasien serta kebutuhan ketrampilan koping emosional diakibatkan oleh potensial penyakit yang mengancam hidup (psikologis). Dorongan dan dukungan akan diperlukan untuk mengatasi frustrasi terhadap tinggal dirumah sakit yang lama. Peningkatan ketersediaan oksigen untuk ambilan miokard untuk mengimbangi peningkatan konsumsi oksigen yang terjadi dengan aktivitas.
c.    Diagnosa keperawatan : curah jantung, penurunan, risiko tinggi terhadap factor resiko dapat meliputi :
1)        Akumulasi cairan dalam kantung pericardia(perikarditis)
2)        Stenosis/ insufisiensi katup
3)        Penurunan/ kontriksi fungsi ventrikel
4)        Degenerasi otot jantung
INTERVENSI/ TINDAKAN
RASIONAL
Mandiri:
Pantau frekuensi/ irama jantung
Auskultasi bunyi jantung. Perhatikan jarak/ muffled tonus jantung, murmur, gallop S3 dan S4.
Dorong tirah baring dalam posisi semi fowler. Berikan tindakan kenyamanan, missal : gosokan punggung dan perubahan posisi, dan aktivitas hiburan dalam toleransi jantung. Dorong penggunaan teknik menejemen stres, missal: bimbingan imajinasi, latihan pernafasan. Selidiki nadi cepat, hipotensi, penyempitan tekanan nadi, peningkatan CVP/ DVJ, perubahan tonus jantung, penurunan tingkat kesadaran. Kolaborasi: Berikan oksigen suplemen. Berikan obat- obatan sesuai indikasi, missal: digitalis, diuretic. Antibiotic/ antimicrobial intravena Bantu dalam perikardiosentesis darurat.Siapkan pasien untuk pembedahan, bila diindikasikan.
Takikardia dan disritmia dapat terjadi saat jantung berupaya untuk meningkatkan curahnya berespons pada demam, hipoksia, dan asidosis karena iskemia. Memberikan deteksi dini dari terjadinya komplikasi, missal: GJK, tamponade jantung. Menurunkan kerja jantung, mrmaksimalkan curah jantung
Meningkatkan relaksasi dan mengarahkan kembali perhatian. Perilaku yang bermanfaat untuk mengontrol ansietas, meningkatkan relaksasi, menurunkan beban kerja jantung. Manifestasi klinis dari tamponade jantung yang dapat terjadi pada perikarditis bila akumulasi cairan/ eksudat dalam kantung pericardia membatasi pengisian dan curah jantung. Manivestasi klinis dari GJK yang dapat menyertai endokarditis (infeksi / disfungsi katup) atau miokarditis (disfungsi otot miokard akut). Meningkatkan ketersediaan oksigen untuk fungsi miokard dan untuk menurunkan efek metabulisme anaerob, yang terjadi sebagai akibat dari hipoksia dan asidosis. Dapat diberikan untuk meningkatkan kontraktilitas miokard dan menurunkan

kerja jantung pada adanya GJK (miokarditis). Diberikan untuk mengatasi pathogen yang teridentifikasi (endokarditi/ perikarditis, miokarditis), yang mencegah keterlibatan/ kerusakan jantung lebih lanjut. Prosedur dapat dilakukan ditempat tidur untuk menurunkan tekanan cairan disekitar jantung, yang dapat dengan cepat memperbaiki curah jantung (perikarditis). Penggantian katub mungkin perlu untuk memperbaiki curah jantung (endokarditis). Perikardektomi mungkin diperlukan karena akumulasi cairan pericardial berulang atau jaringan parut dan kontriksi fungsi jantung (perikarditis).





d.   Diagnosa keperawatan : perfusi jaringan, perubahan, risiko tinggi terhadap factor meliputi :
1)        Embolisasi thrombus / vegetasi katup sekunder terhadap endokarsitis.

INTERVENSI/ TONDAKAN
RASIONAL
Mandiri :
Observasi ekstrimitas terhadap pembekakan, eritmia.
Perhatikan nyeri tekan/ nyeri, tanda hormone positif.
Indicator yang menunjukkan embolisasi sistemik pada otak.
Ketidakaktifan/ tirah baring lama mencetuskan stasis vena., meningkatkan risiko pembentukan trombosis vena.

Observasi hematuria, disertai dengan nyeri punggung/ pinggang, oliguria.
Perhatikan keluhan nyeri pada abdomen kiri atas yang menyebar ke bahu kiri, nyeri tekan local, kekakuan abdominal.
Tingkatkan tirah baring dengan tepat.
Dorong latihan aktif/ Bantu dengan rentang gerak sesuai toleransi.
Kolaborasi:
Berikan/ lepaskan stoking antiembolisme sesuai indikasi.
Berikan antikoagulan, contoh: heparin, warfarin(coumadin).
Menandakan emboli ginjal.
Dapat menandakan emboli splenik.
Dapat membantu mencegah pembentukan atau migrasi emboli pada pasien dengan endokarsitis. Tirah baring lama (sering diperlukan untuk pasien dengan endokarditis dan miokarditis), namun, membawa risikonya sendiri tentang terjadinya fenomena tromboembolik.
Meningkatkan sirkulasi perifer dan aliran balik vena, karenanya menurunkan resiko pembentukan trombus. Penggunaannya controversial, tetapi dapat meningkatkan sirkulasi vena dan menurunkan risiko pembentukan thrombus vena supervisia l / dalam. Heparilamin dapat digunakan secara profilaksis bila pasien memerlukan tirah baring lama, mengalami sepsis atau GJK dan atau sebelum atau sesudah bedah penggantian katup. Catatan : Heparin kontraindikasi pada perikarditis dan tamponade jantung caumaden adalah obat pilihan untuk tera[pi setelah pengganti katup jangka panjang, atau adanya thrombus perifer.

e.    Diagnosa keperawatan : kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), tentang kondisi / pengobatan dapat dihubungkan dengan :
1)        Kurang informasi tentang proses penyakit, cara untuk mencegah pengeluaran pengulangan atau komplikasi.
INTERVENSI/ TINDAKAN
RASIONAL
Mandiri:
Jelaskan efek inflamasi pada jantung, secara individual pada pasien. Ajarkan untuk memperhatikan gejala sehubungan dengan komplikasi/ berulangnya dan gejala yang dilaporkan dengan segera pada pemberi perawatan, contoh demam, peningkatan nyeri dada tak biasanya, peningkatan berat badan, peningkatan toleransi terhadap aktivitas.
Anjurkan pasien/ orang terdekat tentang dosis, tujuan dan efek samping obat, kebutuhan diet/ pertimbangan khusus aktivitas yang diizinkan/ dibatasi.
Kaji ulang perlunya antibiotik jangka panjang/ terapi antimicrobial.
Diskusikan penggunaan antibiotic profilaksis.
Identifikasi tindakan pencegahan endokarditis seperti:
Pembersihan mulut dan perawatan gigi yang baik.
Hindari orang yang mengalami proses infekasi(khususnya pernafasan).
Untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan sendiri, pasien perlu memahami penyebab khusus, pengobatan, dan efek jangka panjang yang diharapkan dari kondisi inflamasi, sesuai dengan tanda/ gejala yang menunjukkan kekambuhan/ komplikasi.
Infirmasi perlu untuk meningkatkan perawatan diri, peningkatan keterlibatan pada program terapiutik, mencegah komplikasi. Perawatan dirumah sakit lama/ pemberian antibiotik IV/ antimikrobial perlu sampai kultur darah negative/ hasil darah lain menunjukkan tak ada infeksi. Pasien dengan riwayat demam reumatik berisiko tinggi untuk kambuh dan biasanya memerlukan profilaksis antibiotic jangka panjang. Pasien dengan masalah katup yang tidak mengalami riwayat demam reumatik memerlukan perlindungan antibiotic jangka pendek untuk prosedur yang menyebabkan pemindahan bakteri. tonsilektomi dan/atau adenoidektomi,

Pilih metode KB yang tepat(untuk pasien wanita)
Hindari penggunaan obat narkotik IV. Tingkatan praktek kesehatan seperti nutrisi yang baik, keseimbangan antara aktivitas/ istirahat, pantau status kesehatan sendiri dan melaporkan tanda infeksi. Berikan imunisasi, contoh vaksin influenza sesuai indikasi. Identifikasi dukungan individu/ sumber yang tersedia pasca pulang untuk memenuhi perawatan/ kebutuhan pemeliharaan di rumah. Tekankan pentingnya evaluasi perawatan medis teratur, anjurkan pasien membuat perjanjian. Identifikasi factor resiko pencetus yang dapat dikontrol pasien, contoh: penggunaan obat IV(endokarditis) dan penganan masalah.
Prosedur bedah/biopsi mukosa pernapasan, bronkoskopi, insisi/ drainase jaringan terinfeksi dan prosedur GI/GU, melahirkan. Bakteri umumnya ditemukan dimulut dapat masuk dengan mudah kesirkulasi sitemik melalui gusi. Terjadinya infeksi, khususnya pernapasan streptokokal/pneumokokal atau influenz. Meningkatkan risiko keterlibatan jantung. Penggunaan IUD telah dihubungkan dengan peningkatan risiko proses inflamasi/ infeksi pelvis.
Menurunkan resiko masuknya pathogen langsung kesistem sirkulasi. Kekuatan system imun dan tahanan terhadap infeksi. Menurunkan risiko mengalami infeksi berat yang dapat menimbulkan infeksi jantung. Ketidaktoleransian terhadap aktivitas dapat mengganggu kemampuan pasien melakukan tugas yang dibutuhkan Pemahaman alasan untuk pengawasan medis dan rencana untuk/penerimaan tanggung jawab untuk evaluasi menurunkan risiko kambuh/ komplikasi. Pasien mungkin bermotivasi dengan adanya masalah jantung untuk mencari dukungan untuk menghentikan penyalahgunaan obat/ perilaku merusak.


D.      Implementasi
Pelaksanaan pada pasien dengan penyakit endokarditis antara lain sebagai berikut:
a.    melaksanakan intervensi sesuai dengan rencana yang telah dilakukan konsulidasi.
b.    Ketrampilan interpersonal, intelektual, teknikal dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat
c.    Keamanan dan kenyamananfisik serta psikologisnya harus dilindungi
d.   Dokumentasi dan interensi serta respon klien terhadap tindakan medis dan keperawatan yang telah dilakukan.














E. Evaluasi
a.  Nyeri (akut)
     Hasil yang diharapkan:
1)     Mengidentifikasi metode yang memberi penghilangan
2)     Melaporkan nyeri hilang/ terkontrol
3)      Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas pengalih sesuai indikasi untuk situasi.

b.    Intoleransi aktivitas
Hasil yang diharapkan:
1)   Melaporkan/ menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dalam toleransi aktivitas
2)   Mendemonstrasikan penurunan tanda fisiologis intoleransi
3)   Mengungkapkan pemahaman tentang pembatasan terapiutik yang dipelukan
c.    Curah jantung, penurunan, resiko tinggi terhadap
Hasil yang diharapkan:
1)    Melaporkan/ menunjukkan penurunan episode dispnea, angina, dan disritmia.
2)   Mengidentifikasi perilaku untuk menurunkan beban kerja jantung
d.   Perfusi jaringan, perubahan, risiko tinggi terhadap
Hasil yang diharapkan :
1)    Mempertahankan/ mendemonstrasikan perfusi jaringan adekuat secara individual. Missal : mental normal, tanda vital stabil, kulit hangat dan kering, nadi perifer ada/ kuat, masukkan/ haluaran seimbangan
e.    kurang pengetahuan(kebutuhan belajar) tentang kondisi/ pengobatan
Hasil yang diharapkan:
1)   Menyatakan pemahaman tentang proses inflamasi, kebutuhan pengobatan, dan kemungkinan komplikasi
2)    Mengidentivikasi/ melakukan pola hidup yang perlu atau perubahan perilaku untuk mencegah terulangnya/ terjadinya komplikasi.


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
            Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung.mempunyai cirri yang hamper sama dengan perikarditis dan myocarditis.diagnosa keperawatannya dapat di tegakkan melalui pemeriksaan fisik dan diagnostic.penyakit ini dapat di obati dengan pengobatan medis seperti antibiotic dan antipiretik sesuai indikasi dan bakteri penyebabnya.
B.      Saran
            Penulis berharap dengan makalah ini, semoga mahasiswa dapat mengerti konsep medis pada pasien  endokarditis  dan paham bagaimana patofisiologi yang terjadi. sehingga bisa berpikir kritis dalam melakukan tindakan keperawatan.

















DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika
Joewono, Boedi Soesetyo. 2003. Ilmu Penyakit Jantung. Jakarta: Salemba Medika.
Muttaqin, Arif. 2009. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovasculer. Jakarta: Salemba Medika
Rilantono, Lily Ismuldiati . 1996. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Idonesia.
Smeltzer C suzanne, Bare Brenda G. 2002. Keperawatan Medikal Bedah.. Jakarta : EGC
Udjianti, Wajan Juni. 2010. Keperawatan Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika


No comments:

Post a Comment