BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dokumentasi merupakan catatan
otentik dalam penerapan manajemen asuhan keperawatan profesional. Perawat
profesional diharapkan dapat menghadapi tuntutan tanggung jawab dan tanggung
gugat terhadap segala tindakan yang dilaksanakan. Kesadaran masyarakat terhadap
hukum semakin meningkat sehingga dokumentasi yang lengkap dan jelas sangat
dibutuhkan.
Komponen penting dalam pendokumentasian adalah komunikasi, proses
keperawatan dan standar asuhan keperawatan. Efektifitas dan efisiensi sangat
bermanfaat dalam mengumpulkan informasi yang relevan serta akan meningkatkan
kualitas dokumentasi keperawatan.
Salah satu bentuk kegiatan
keperawatan adalah dokumentasi keperawatan profesional yang akan tercapai
dengan baik apabila sistem pendokumentasian dapat dilakukan dengan benar.
Kegiatan pendokumentasia meliputi ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan
mendokumenasikan proses keperawatan sesuai dengan standar asuhan keperawatan.
Konsep solusi terhadap masalah
diatas perlu disusun standar dokumentasi keperawatan agar dapat digunakan
sebagai pedoman bagi perawat dengan harapan asuhan keperawatan yang dihasilkan
mempunyai efektifitas dan efisiensi.
B.
Tujuan
-
Mengetahui Standar Asuhan Keperawatan Di Rumah
Sakit
-
Mempelajari Cara Pendokumentasian Askep Pada
Anak
-
Mempelajari Kasus Askep Pada Anak
BAB II
STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT
BERDASARKAN : SK Dirjen Yan Med No :YM. 00.03.2.6.7637
Standar 1 : Falsafah Keperawatan
Dalam
melaksanakan asuhan keperawatan perawat berkeyakinan bahwa :
Manusia adalah
individu yang memiliki kebutuhan biopsikososial dan spiritual yang unik.
Kebutuhan ini harus selalu dipertimbangkan dalam setiap pemberian asuhan
keperawatan.
Keperawatan
adalah bantuan bagi umat manusia yang bertujuan untuk meningkatkan derajat
kesehatan secara optimal kepada semua yang membutuhkan dengan tidak membedakan
bangsa, suku, agama, kepercayaan, dan statusnya di setiap tempat pelayanan
kesehatan.
Tujuan asuhan
keperawatan dapat dicapai melalui usaha bersama dari semua anggota tim
kesehatan dan pasien atau keluarga.
Dalam
memberikan asuhan keperawatan perawat menggunakan proses keperawatan dengan
lima tahapan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan pasien atau keluarga.
Perawat
bertanggung jawab dan bertanggung gugat, memiliki wewenang melakukan asuhan
keperawatan secara utuh berdasarkan standar asuhan keperawatan.
Pendidikan
keperawatan berkelanjutan harus dilaksanakan secara terus-menerus untuk
pertumbuhan dan perkembangan staf dalam pelayanan keperawatan.
Standar 2 : Tujuan Asuhan Keperawatan
Meliputi :
Memberi
bantuan yang paripurna dan efektif kepada semua orang yang memerlukan pelayanan
kesehatan, sesuai dengan sistem kesehatan nasional.
Menjamin bahwa
semua bantuan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasien dan mengurangi atau
menghilangkan kesenjangan.
Mengembangkan
standar asuhan keperawatan yang ada.
Memberi
kesempatan kepada semua tenaga perawatan untuk mengembangkan tingkat kemampuan
profesionalnya.
Memelihara
hubungan kerja yang efektif dengan semua anggota tim kesehatan.
Melibatkan
pasien dalam perencanaan dan pelaksanaan pelayanan kesehatan.
Menciptakan
iklim yang menunjang proses belajar mengajar dalam kegiatan pendidikan bagi
perkembangan tenaga keperawatan.
Menunjang
program pendidikan berkelanjutan bagi pertumbuhan dan perkembangan pribadi
tenaga keperawatan.
Standar 3 : Pengkajian Keperawatan
Meliputi :
Pengumpulan
data dengan kriteria kelengkapan data, sistematis, menggunakan format aktual
dan valid.
Pengelompokan
data dengan kriteria data biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.
Perumusan
masalah dengan kriteria kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan
pola fungsi kehidupan.
Standar 4 : Diagnosis Keperawatan
Meliputi :
Status
kesehatan dibandingkan dengan norma untuk menentukan kesenjangan.
Diagnosis
keperawatan dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan
pasien.
Diagnosis
keperawatan dibuat dengan wewenang perawat.
Komponen
diagnosis keperawatan terdiri dari masalah, penyebab, gejala atau tanda (PES)
atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE).
Diagnosis
keperawatan aktual untuk perumusan status kesehatan pasien yang sudah nyata
terjadi.
Diagnosis
keperawatan potensial untuk perumusan masalah status kesehatan pasien yang
kemungkinan besar akan terjadi, apabila tidak dilakukan upaya pencegahan.
Standar 5 : Perencanaan Keperawatan
Meliputi :
Prioritas
masalah dengan kriteria masalah yang mengancam kehidupan yang merupakan
prioritas pertama, masalah-masalah yang mengancam kesehatan seseorang adalah
prioritas kedua, masalah-masalah yang mempengaruhi perilaku merupakan prioritas
ketiga.
Tujuan asuhan
keperawatan dengan kriteria, tujuan dirumuskan secara singkat dan jelas.
Disusun berdasarkan diagnosis keperawatan, spesifik pada diagnosis keperawatan
dapat diukur, realistik atau dapat dicapai menggunakan komponen yang terdiri
dari subjek perilaku pasien, kondisi pasien dan kriteria tujuan.
Standar 6 : Intervensi Keperawatan
Meliputi :
a. Memenuhi kebutuhan oksigen diantaranya :
1) Memberikan
oksigen, dengan kriteria menyiapkan lingkungan bebas asap rokok dan membatasi
pengunjung, menyiapkan pasien, kelengkapan alat, penggunaan alat secara tepat
dan benar, dosis sesuai dengan program pengobatan, cara pemberian tepat guna,
pemberian masker oksigen pada bayi matanya ditutup dengan kasa dan observasi
tanda vital selama pemberian oksigen.
2) Menyiapkan
pasien praoperasi tracheostomi dengan kriteria memberi formulir persetujuan
operasi kepada pasien atau keluarga
diisi dan ditanda tangani, mencukur daerah yang akan dioperasi, memberi kompres
desinfektan pada daerah yang akan dioperasi, memberikan obat sesuai dengan
program pengobatan, mengganti pakaian pasien dengan menyiapkan pakaian khusus
dan observasi tanda vital.
3) Menyiapkan
pasien untuk pemasangan WSD (water seal drainage) dengan kriteria memberi
formulir persetujuan operasi kepada pasien atau keluarga untuk diisi dan
ditanda tangani, mencukur daerah inter costae yang akan dipasang WSD, memberi
obat sebelum pemasangan WSD sesuai dengan program pengobatan, mengganti pakaian
pasien dengan pakaian khusus dan observasi tanda vital.
4) Menyiapkan
pasien untuk pemasangan endotrakheal tube dengan kriteria menyiapkan
endotracheal tube steril dengan ukuran yang tepat, mengatur posisi pasien dan
melakukan observasi tanda vital.
5) Melakukan
resusitasi dengan kriteria menyiapkan kelengkapan alat resusitasi, memberikan
alas yang keras atau papan resusitasi (resusitation back) pada daerah punggung,
mengatur posisi pasien, membantu atau melaksanakan resusitasi, melakukan
observasi tanda vital dan respons pasien.
b. Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit :
1) Memberikan
makan peroral dengan kriteria menyiapkan lingkungan, memeriksa ulang, mengatur
posisi pasien, membantu pasien sesuai dengan kondisinya, melakukan observasi
nafsu makan dan mencatat porsi makan yang dihabiskan.
2) Memberi
minum peroral dengan kriteria memeriksa ulang jumlah dan jenis minuman,
membantu pasien minum, melakukan observasi respons pasien dan mencatat jumlah
cairan yang diminum.
3) Memberi
makan dengan melalui naso gastric dengan kriteria menyiapkan NGT dengan ukuran
yang tepat, memeriksa ulang diet, mengatur posisi, mengukur NGT yang akan
dimasukkan, melakukan tes ketepatan masuknya NGT dan difiksasi, memasukkan
makanan melalui corong secara pelan dan hati-hati dan melakukan observasi.
4)
Melaksanakan terapi parenteral dengan memberi cairan melalui infus dengan
kriteria melengkapi alat dan infus set sesuai dengan umur dan kondisi,
memeriksa jenis cairan, mengatur posisi, mendesinfektan kulit pada lokasi
pemasangan infus, membebaskan selang infus dari udara, memeriksa ketepatan
masuknya jarum dalam vena dan difiksasi, memasang kasa steril di bawah dan di
atas jarum, mengatur tetesan cairan sesuai dengan program pengobatan, melakukan
observasi dan mencatat pemasukan.
c. Memenuhi kebutuhan eliminasi :
1) Membantu
memperlancar buang air kecil dengan kriteria memeriksa keadaan kandung kencing,
melatih untuk buang air kecil, memenuhi kebutuhan cairan yang cukup dan
melakukan observasi keinginan buang air kecil.
2) Membantu
buang air kecil dan buang besar dengan kriteria menyiapkan lingkungan,
kelengkapan alat yang bersih dan kering, memasang pispot atau urinal sehingga
pasien merasakan nyaman, mencatat kelainan urine atau feces dan melakukan
observasi.
3) Melakukan
kateterisasi dengan kriteria menyiapkan lingkungan, kelengkapan alat
kateterisasi steril, ukuran kateter sesuai dengan umur, mengatur posisi dorsal
recumbent, melakukan desinfeksi pada meatus, mengoleskan pelumas steril pada
ujung kateter, memasukkan kateter dengan hati-hati, mencatat jumlah serta
kelainan urine dan melakukan observasi.
4) Memasang
kateter menetap dengan kriteria menyiapkan lingkungan, kelengkapan alat dan
douwer kateter steril, ukuran douwer kateter sesuai dengan umur, mengatur
posisi dorsal recumbent, melakukan desinfeksi pada meatus, mengoleskan pelumas
steril pada ujung kateter, memasukkan keteter dengan hati-hati, melakukan
fiksasi keteter, memasang urine bag, membersihkan daerah genital secara teratur
pagi, sore, dan malam, melakukan observasi pasien, tanda-tanda infeksi, jumlah,
kelainan dan kelancaran aliran urine.
5)
Membersihkan huknah rendah dengan kriteria menyiapkan lingkungan, kelengkapan
alat, ukuran canule recti sesuai dengan umur, suhu cairan sesuai dengan suhu
normal, mengatur posisi sim miring ke kiri, mengoleskan pelumas pada ujung
canule, mengeluarkan udara dari selang, tinggi irigator 30 cm dari tubuh
pasien, melakukan observasi pasien dan mencatat hasil huknah.
6) Memberikan
huknah tinggi dengan kriteria menyiapkan lingkungan, kelengkapan alat, ukuran
canule sesuai dengan umur, suhu cairan sesuai dengan suhu tubuh normal,
mengatur posisi sim miring ke kanan, mengoleskan pelumas pada ujung canule,
mengeluarkan udara dari selang, tinggi irigator 50 cm dari tubuh pasien,
melakukan observasi dan mencatat hasil huknah.
7) Memberikan
glyserin dengan spuit dengan kriteria menyiapkan lingkungan, kelengkapan alat,
suhu glyserin sesuai dengan suhu tubuh normal, mengatur posisi sim, mengoleskan
pelumas pada ujung canule, mengeluarkan udara dari glyserin spuit, memasukkan
canule ke dalam rectum dengan hati-hati, melakukan observasi pasien dan
mencatat hasil pemberian glyserin.
d. Memenuhi kebutuhan keamanan :
1) Menjaga
keselamatan pasien yang gelisah di tempat tidur dengan kriteria kelengkapan
alat sesuai dengan umur dan kondisi pasien, memasang alat pengaman dan pasien
tetap merasa nyaman dan aman dan observasi pasien.
2) Mencegah
infeksi nosokomial dengan kriteria melaksanakan teknik aseptik dan antiseptik,
menjaga kebersihan dari kesehatan lingkungan.
3) Menjaga
keselamatan pasien yang dibawa dengan brancar atau rollstoel dengan kelengkapan
alat, mendorong brancar atau rollstoel dengan hati-hati, observasi respons
pasien.
4) Mencegah
kecelakaan pada alat listrik dengan kriteria kelengkapan alat, memeriksa
voltage listrik setempat, menggunakan alat secara tepat dan benar dan observasi
pasien.
5) Mencegah
kecelakaan pada penggunaan alat yang mudah meledak dengan kriteria kelengkapan
dan kondisi alat, menggunakan alat secara tepat dan benar, memahami petunjuk
penggunaan alat, menyimpan alat ditempat yang aman.
6) Mencegah
kekeliruan pemberian obat dengan kriteria tulisan dan kode pada label atau
etiket harus jelas, warna tulisan tidak mudah berubah, label atau etiket
dipasang pada tempat yang mudah dibaca, memasang label atau etiket pada tempat
obat, meletakkan obat pada tempat yang ditentukan.
e. Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan fisik :
1) Memandikan
pasien dengan kriteria kelengkapan alat, menyiapkan lingkungan, menyiapkan
pasien, memandikan pasien secara sistematis, melakukan observasi.
2) Mengganti
pakaian pasien dengan kriteria kelengkapan pakaian, mengganti pakaian sesuai
dengan kondisi dengan membuka pakaian dimulai dari bagian tangan, kaki yang
sehat, mengenakan pakaian dimulai dari bagian tangan, kaki yang sakit dan melakukan
observasi.
3) Memelihara
kebersihan mulut dengan menyikat gigi, membersihkan mulut dan memelihara gigi
palsu.
4) Mengganti
alat tenun tempat tidur tanpa memindahkan pasien dengan kriteria kelengkapan
alat, mengganti alat tenun sesuai dengan kondisi dan observasi respons pasien.
5) Mencuci
rambut dengan kriteria kelengkapan alat, menyiapkan lingkungan, menutup telinga
dan mata pasien, mengeringkan dan menyisir rambut dan melakukan observasi
pasien.
6) Menyisir
rambut dengan kriteria kelengkapan alat, menyisir rambut yang panjang dimulai
dari ujung dan melakukan observasi.
7) Memotong
kuku dengan kriteria kelengkapan alat, merendam jari tangan dan kaki dalam air
hangat, memotong kuku dengan alat pemotong kuku sesuai dengan lingkungan
anatomis dan observasi pasien.
f. Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur :
1) Membantu
pasien untuk istirahat dan tidur dengan kriteria mengatur posisi yang tepat,
mengatur ventilasi dan pencahayaan, mencegah kebisingan suara, memperhatikan
kebersihan lingkungan, mengatur pelaksanaan
pengobatan atau tindakan keperawatan, mengatur kunjungan dokter, mencegah tamu
di luar jam kunjungan dan melakukan observasi pasien.
g. Memenuhi kebutuhan gerak dan kesehatan jasmani :
1) Mengatur
posisi baring pasien antara lain posisi fowler, trendelenburg, SIM, dorsal
recumbent, lithotomi, genu pectoral.
2)
Melaksanakan mobilisasi dini sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien dengan
kriteria melatih pasien mengangkat tangan dan kaki, melatih gerak pasif dengan
mengangkat dan menekuk tangan atau kaki secara berulang, melakukan observasi.
3)
Melaksanakan ambulasi dini dengan kriteria melatih pasien memenuhi kebutuhannya
sendiri, melatih pasien duduk, turun dari tempat tidur, berdiri dan berjalan
secara bertahap, melatih pasien menggunakan alat bantu, motivasi pasien
menggunakan alat bantu, motivasi pasien untuk latihan gerak dan observasi
pasien.
4) Mencegah
kemungkinan terjadinya komplikasi pada pasien tirah baring lama dengan kriteria
memotivasi pasien untuk latihan gerak, mengatur posisi baring secara
bergantian, memelihara pakaian pasien dan alat tenun tetap bersih dan kering.
h. Memenuhi kebutuhan spiritual :
1) Membantu
pasien beribadah dengan kriteria membantu menyiapkan alat ibadah, membantu
pasien melaksanakan ibadah, membantu pasien menghubungi pemuka agama,
mendampingi pasien saat mendapatkan bimbingan spiritual.
2) Memberi
pelayanan mental spiritual kepada pasien yang gawat atau terminal dengan
kriteria menyiapkan lingkungan, membantu menyiapkan alat-alat ibadah, membantu
melaksanakan ibadah, membantu menghubungi pemuka agama, mendampingi pasien saat
mendapatkan bimbingan spiritual, menunjukkan sikap empati, simpati dan mencatat
dan menyampaikan pesan pasien kepada keluarga atau lainnya.
3) Memberi
pelayanan mental spiritual kepada pasien yang menghadapi sakaratul maut dengan
menyiapkan lingkungan, memberikan kesempatan keluarga berdoa, menunjukkan sikap
empati dan simpati, melakukan observasi setiap 15 menit dan memberi kesempatan
keluarga mendampingi pasien.
i. Memenuhi kebutuhan emosional :
1)
Melaksanakan program orientasi dengan kriteria memberi penjelasan kepada pasien
baru atau keluarga tentang peraturan rumah sakit, memberi penjelasan kepada
pasien atau keluarga tentang penggunaan fasilitas, observasi perilaku pasien
atau keluarga dan memperkenalkan pasien kepada perawat dan pasien lain.
2)
Melaksanakan komunikasi terapeutik dengan kriteria memanggil pasien sesuai
dengan nama dan statusnya, menggunakan bahasa yang dimengerti pasien,
menampilkan sikap yang ramah dan sopan memperhatikan dan mendengarkan keluhan
pasien, memotivasi pasien untuk mengemukakan perasaannya.
3) Menyiapkan
mental pasien pra operasi dengan kriteria memberi kesempatan kepada pasien
untuk bertemu dengan keluarga, memberi kesempatan kepada pasien atau keluarga
untuk berdoa.
j. Memenuhi kebutuhan komunikasi :
1) Secara
langsung atau dengan lisan dengan kriteria menampilkan sikap sopan dan ramah
menggunakan bahasa yang dapat dimengerti, menyampaikan informasi secara jelas,
lengkap dan tepat waktu dan observasi respons pasien.
2) Secara
tidak langsung atau tertulis dengan kriteria menggunakan kertas bersih, tulisan
jelas, mudah dibaca dan observasi respons pasien.
3) Menggunakan
isyarat dengan kriteria memahami isyarat pasien dan memberi respons dengan
isyarat yang dipahami pasien.
k. Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis :
1) Mengukur suhu badan di aksila,
di mulut, di rectum
2) Menghitung pernafasan
3) Menghitung denyut nadi
4) Mengukur tekanan darah
5) Menghindari
kemungkinan terjadinya alergi obat dengan kriteria mengetahui riwayat
penggunaan obat, melakukan tes pada pertama kali pemberian obat tertentu,
observasi respons pasien dan memberi identitas obat penyebab alergi pada kartu
obat.
l. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses penyembuhan :
1)
Melaksanakan pemberian obat melalui peroral, parenteral, subcutan, intra
muskular dan intra vena.
m. Memenuhi kebutuhan penyuluhan :
1) Memberikan
penyuluhan secara individual dengan kriteria mengidentifikasi kebutuhan
penyuluhan, melaksanakan penyuluhan sesuai dengan kebutuhan, menggunakan bahasa
yang dapat dimengerti.
n. Memenuhi kebutuhan rehabilitas :
1) Melatih pasien menggerakkan
anggota tubuh di tempat tidur
2) Melatih pasien turun dari tempat
tidur
3) Melatih pasien berjalan
4) Melatih
pasien menggunakan alat bantu
5) Melatih
pasien menggunakan tongkat penyangga
Standar 7 : Evaluasi Keperawatan
Meliputi :
1) Setiap tindakan keperawatan dilakukan
evaluasi.
2) Evaluasi hasil menggunakan indikator
peubahan fisiologis dan tingkah laku pasien.
3) Hasil evaluasi segera dicatat dan
dikomunikasikan untuk diambil tindakan selanjutnya.
4) Evaluasi melibatkan pasien, keluarga, dan
tim kesehatan.
Standar 8 : Catatan Asuhan Keperawatan :
Meliputi :
1) Catatan dilakukan selama pasien dirawat
inap, rawat jalan dan kamar tindakan.
2) Catatan digunakan sebagai bahan informasi,
komunikasi dan laporan
3) Catatan dilakukan segera setelah tindakan
dilaksanakan
4) Penulisan catatan harus jelas dan ringkas
serta menggunakan istilah yang baku.
Catatan mengacu kepada
pelaksanaan proses keperawatan.
BAB III
Cara
Pendokumentasian Askep Pada Anak
I. Pengertian Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan
adalah suatu catatan yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dari segala
macam tuntutan, yang berisi data lengkap, nyata dan tercatat bukan hanya
tentang tingkat kesakitan dari pasien, tetapi juga jenis / tipe, kualitas dan
kuantitas pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien.(Fisbach 1991)
II. Proses Dokumentasi Keperawatan
1. Pengkajian
Keperawatan
1) Definisi
2) Kegiatan Dalam Pengkajian
a. Pengumpulan atau koleksi data
· Tahap
wawancara
· Observasi
· Pemeriksaan
fisik
Format Pengumpulan Data
Identitas pasien
§ Nama
anak :
§ Umur :
§ Suku/bangsa :
§ Status
perkawinan :
§ Agama :
§ Pendidikan :
§ Alamat :
§ Diagnose
medis :
§ Sumber
biaya :
§ Nama
ayah :
§ Pekerjaan
ayah :
§ Nama
ibu :
§ Pekerjaan
ibu :
§ Tanggal
waktu datang : ……..orang yang dihubungi…..telepon….
§ Diterima
dari…..Rumah sakit ….. datang sendiri……lain-lain.
b. Validasi data
Meyakinkan
apakah data yang telah dikumpulkan nyata benar atau meragukan
c. Organisasi data
Mengelompokan
data ke dalam kelompok informasi yang dapat membantu dalam mengidentifikasi
pola kesehatan atau penyakit
d. Identifikasi pola atau masalah
Membuat kesan
awal tentang pola informasi dan penambahan data yang diperlukan untuk mengisi
kekurangan, dalam upaya menggambarkan masalah keperawatan lebih jelas.
3) Koleksi Data
a. Ruang
lingkup koleksi data
v Mengidentifikasi informasi tentang : nama, umur,
jenis kelamin, pekerjaan, dll
v Persepsi pasien tehradap sakit atau gejala klinis
yang dirasakan
v Stressor yang
mempengaruhi kesehatan pasien dan cara penanganannya
v Gaya hidup dan
pengaruh sakit terhadap ADL
v Faktor social budaya
yang mempengaruhi kesehatan
v Tingkat perkembangan
dan kebutuhan
b. Ruang
Lingkup koleksi data
· Kebutuhan dasar fisiologik
dan psikologik
· Sumber-sumber kekuatan
· Kekurangan / kelemahan /
keterbatasan fisik
· Kemampuan intelektual, motivasi, dan ketermapilan
belajar
· Harapan pasien terhadap
perawatan
· Pengalamanan yang lalu
tentang pelayanan kesehatan
4) Jenis Data
a) Data
Objektif
· Disebut
juga tanda (sign)
· Diperoleh
berdasarkan observasi atau pemeriksaan
· Contoh
: hasil pengukuran tanda vital (Td, N, RR, S) Bb pemeriksaan laboratorium
b) Data
Subjektif
· Disebut
juga gejala (symptom)
· Ungkapan atau pernyataan pasien / keluarga
tentang yang dirasakan
· Contoh
: pasien merasa nyeri, khawatir
c) Karakteristik
data yang baik
· Lengkap
· Akurat
dan nyata
· Relevan
d) Pengorganisasian
Data
a. Mengelompokan data
berdasarkan kerangka kerja yang dapat membantu mengidentifikasi masalah
keperawatan
b. Metode
pengorganisasian data :
· Berdasarkan
hirarki kebutuhan “Maslow”
· Berdasarkan pola
fungsi kesehatan “Gordon”
o Pola persepsi
terhadap kesehatan – manajemen kesehatan
o Pola aktivitas
dan latihan
o Pola nutrisi –
metabolik
o Pola istirahat
dan tidur
o Pola eliminasi
o Pola kognigtif
– perseptual
o Pola konsep
diri
o Pola koping
o Pola seksual –
reproduksi
o Pola peran –
berhubungan
o Pola nilai dan
kepercayaan
2. Diagnosa
Keperawatan
Definisi :
· keputusan
klinis tentang respon individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah
kesehatan/proses hidup yang aktual maupun potensial (NANDA).
· Perawat
menginterpretasi dan membuat keputusan tentang data yang telah dikumpulkan.
· Pernyataan singkat dan jelas tentang
masalah kesehatan pasien.
Kegiatan dalam diagnose
keperawatan
· Analisa
data
· Identifikasi
masalah
· Formulasi
diagnosa
Contoh pencatatan analisa data:
|
No
|
Hari/tgl/jam
|
Data keperawatan
|
Standar normal
|
Masalah
|
|
1
|
Senin/21-11-2011/pkl.08.00 Wita
(berisi hari,tgl,jam pemberian asuhan
keperawatan)
|
DS = haus
DO =
- mukosa
bibir kering
- turgor
kulit menurun
(berisi data bermasalah yang
ditemukan pada pasien)
|
- Tidak
haus
- Mukosa
bibir lembab
- Turgor
kulit elastic
(berisi data normal)
|
Kurangnya volume cairan
(berisi masalah keperawatan
yg ditemukan pada pasien)
|
Proses pemecahaan masalah
mencakup :
v Identifikasi
masalah, gangguan kesehatan atau kebutuhan pelayanan keperawatan
v Mencari dan
menentukan penyebab permasalahan
v Menentukan tanda dan gejala dari masalah
Petunjuk penulisan diagnosa
keperawatan meliputi :
1) Pemakaian
PE dan PES : untuk format diagnosa aktual, kecuali ketika
petugas yang berbeda mengambil tindakan segera
(untuk contoh, tanda dan gejala pencatatan, sebelum dan sesudah diagnosa)
a) Yakinkan
masalah penyebab utama dalam diagnosa sejalan dengan etiologi, contoh perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.
b) Tulis
pernyataan supaya permasalahan dan etiologi menunjukkan spesifikasi dan hasil
yang berbeda.
c) Jika
penyebab tidak dapat ditentukan menentukan problem dan dokumentasi yang tak
dikenal etiologinya maka diagnosa keperawatan bisa dituliskan pernyataan
komunikasi verbal untuk pasien yang tidak diketahui etiologinya.
2) Catat
diagnosa keperawatan potensial dalam sebuah problem/format etiologi.
3) Pemakaian
terminologi tetap dengan diagnosa keperawatan karnagan Nanda sehubungan dengan
(diantara problem dan etiologi) dan dibanding dengan (diantara etiologi, sign
dan sympton) tergantung bahasa, jika masalah tidak selesai menurut nanda.
4) Merujuk
pada daftar yang dapat diterima, bentuk diagnosa keperawatan untuk catatan
standar dalam saku atau ringkasan.
5) Mulai
pernyataan diagnosa dengan mengubah redaksinya ke dalam keadaan diagnosa
keperawatan.
6) Pastikan
data mayor dan penunjang data minor karakteristik pendefinisian diperoleh
doumentasi bagian pengkajian pasien untuk menegakan diagnosa keperawatan.
7) Pernyataan
awal dalam perencanaan keperawatan didaftar masalah dan nama dokumentasi dalam
catatan perawatan. Pemakaian masing-masing diagnosa keperawatan sebagai
petunjuk untuk membuat catatan perkembangan.
8) Hubungkan
pada tiap – tiap diagnosa keperawatan bila merujuk dan memberikan laporan
perubahan.
9) Setiap
pergantian jaga perawat, gunakan diagnosa keperawatan sebagai pedoman untuk
pengkajian, tindakan dan evaluasi.
PES ( Problem, Etiologi, Sign /
Symptom)
Contoh Penulisan Diagnosa :“Gangguan Nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan mual dan muntah “
3. Perencanaan
Prinsip:
1. Memahami
konsep dan karakterisik tumbuh kembang anak.
2. Memahami
hubungan anak dengan pengasuh
3.Melibatkan keluarga
4.
Orientasi
5. Menciptakan
lingkungan yang kondusif
6. Meminimalkan
trauma fisik
7. Universal
precaution
8. Membantu
keperluan pasien
Langkah-langkah
perencanaan:
1. Menetukan
prioritas
a) Hirarki
maslow:
1) kebutuhan fisiologis
2) keamanan/keselatan
3) mencintai dan memiliki
4) aktualisasi diri
b) kebutuhan
richard kalish
1) kebutuhan
bertahan hidup (makanan,udara,air,suhu,istirahat,eliminasi,nyeri)
2) kebutuhan
stimulasi(sek,aktivitas,eksplorasi)
3) keamanan
(keselamatan, keamanan,perlindungan,harga diri,aktualisasi diri
2. Menentukan
tujuan dan outcome
a. spesifik:
tidak menimbulkan arti ganda
b. measurable:
tujuan dapat diukur
c. achievable:tujuan
harus dapat dicapai
d. reasonable:
tujuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilimiah
e. time: memakai
waktu marathon yaitu format 24 jam
3. Rencana
tindakan
Desain spesifik intervensi untuk
membantu pasien dlm mencapai out come.
Ø Dx.kep aktual,intervensi
untuk:
1. mengurangi/membatasi faktor
penyebab dari masalah.
2. meningkatkan status kesehatan
pasien.
3. memonitor status kesehatan.
Ø Tinggi,intervensi
untuk :
1. mengurangi/membatasi faktor
risiko.
2. mencegah masalah yg akan timbul.
3. memonitor waktu terjadinya.
Ø Dx.kep kolaboratif,intervensi
untuk :
1. Memonitor perubahan status
kesehatan.
2. mengelola
perubahan status kesehatan terhdp intervensi keperawatan dan medis.
Pentingnya dokumentasi rencana
asuhan keperawatan :
1. Berisikan informasi yang penting dan jelas
2. Sebagai alat komunikasi antara perawat dan
perawat
3. Memudahkan melaaksanakan maslah
keperawatan yang bekelanjutan.
4. Dokumentasi yang ekslusif untuk pencatatan
hasil yang diharapkan untuk pasien.
Tujuan dokumentasi tahap perencanaan :
1. Sebagai kerangka kerja dalam implementasi
keperawatan
2. Merupakan inti dokumentasi keperawatan
yang berorientasi pada maslah
3. Sebagai
referensi dalam melkukan modifikasi rencana keperawatan
4. Sarana
komunikasi tim keperawatan dalam pendelegasian tugas /instruksi keperawatan
5. Sebagai
landasan ilmiahyang logis dan sistimatis dalam mengerjakan asuhan
keperawatankepada pasien
6. Agar
semua rencan tindakan dapat dipilih disesuaikan kondisi pasien sehingga
efektif.
Hal-hal yang didokumentasikan pada tahap
perencanaan :
1. Seperangkat
tujuan dan kriteria hasil sesuai dengan prioritas masalah.
2. Tindakan
keperawatan mandiri diprioritaskan kemudian tindakan keperawatan kolaborasi.
3. Pendidikan kesehatan kepada pasien dan
atau kepada keluarga.
4. Rencana tindakan harus logis dan
operasional
5. Berikan tanda tangan dan nama jelas
Contoh pencatatan perencanaan:
|
No
|
Hari/ Tanggal/Jam
|
DX.Kep
|
Tujuan / outcome
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Senin/21-11-2011/pkl.08.00Wita
(berisi hari,tgl,jam pemberian asuhan
keperawatan)
|
Kekurangan volume cairan (KVC)
Berhubungan dengan
Haluaran berlebih
(berisi hasil diagnosis keperawatan)
|
Setelah dilakukan askep 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan cairan pasien
terpenuhi dengan outcome :
- Mukosa bibir
lembab
- Turgor klit
elastis
- TD 120/80
mmHg
(berisi tujuan yang ingin dicapai)
|
(berisi bentuk asuhan yang direncanakan
diberikan kepada pasien)
|
Untuk menentukan intervensi selanjutnya.
|
4. Implementasi Keperawatan
Defenisi
a. Perawat
b. Perawat
dan pasien
c. Perawat
dan keluarga
d. Perawat,
pasien dan keluarga
e. Tenaga
non keperawatan lain
Kegiatan yang dilakukan :
1. Melanjutkan pengumpulan data dan
pengkajian.
Pada saat melakukan kegiatan perawat tetap
menjalankan pengkajian dan pengumpulan data. Contoh : Saat melakukan prosedur
memandikan pasien ditempat tidur atau saat melakukan backrub, perawat akan
memperoleh data tentang status fisik seperti kondisi kulitnyadan kemampouan
pergerakannya.
2. Melaksanakan
intervensi keperawatan
3. Mendokumentasikan
asuhan keperawatan
4. Memberikan
laporan keperawatan secara verbal
5. Mempertahankan
rencana asuhan
Tujuan Dokumentasi Pelaksanaan
1. Mengevaluasi kondisi kesehatan pasien
dalam periode yang singkat (evaluasi formatif) setelah tindakan dilakukan.
2. Mengetahui jumlah tenaga/jenis tenaga
kesehatan yang terlihat langsung memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien.
3. Mengetahui jenis tindakan keperawatan yang
telah diberikan.
4. Mengetahui pendidikan kesehatan yang telah
diberikan.
5. Dokumentasi legal intervensi keperawatan
yang telah diberikan kepada pasien dan keluarganya
Hal-hal yang perlu didokumentasikan pada tahap
implementasi :
1. Mencatat waktu dan tanggal pelaksanaan.
2. Mencatat
diagnosa keperawatan nomor berapa yang dilakukan intervensi tersebut
3. Mencatat
semua jenis intervensi keperawatan termasuk hasilnya
Contoh : Mengornpres luka dengan betadin 5 %Flasil : luka tampak
bersih, pus tidak ada, tidak berbau
4. Berikan tanda tangan dan nama jelas
perawat satu tim kesehatan yang telah melakukan intervensi
Petunjuk Pendokumentasian Pelaksaaan
(Implementasi)
1. Gunakan ballpoint tertulis jelas, tulis dengan huruf cetak bila tulisan
tidak jelas. Bila salah tidak boleh di tipp ex tetapi dicoret saja, dan ditulis
kembali diatas atau disamping.
Contoh: RR: 24 kali/menit, Seharusnya RR: 42 kali/menit
RR: 24 kali/menit, RR : 42 kali / menit
2. Jangan lupa selalu menuliskan waktu, jam pelaksanaan
Contoh : 28 Mei 2008, pukul
18.00, memonitor tanda vital
RR : 42 kali/menit
Suhu : 39 C
Nadi : 98 kali/menit
TD :140/90 mmHg
3. Jangan
membiarkan baris kosong,
tetapi buatlah garis kesamping untuk mengisi tempat yang tidak digunakan
Contoh: Mengukur suhu pasien,
hasil: suhu 39 C Hartifah, R.N
4. Dokumentasikan sesegera
mungkin setelah tindakan dilaksanakan guna menghindari kealpaan (lupa)
5. Gunakan kata kerja aktif, untuk menjelaskan apa yang dikerjakon.
Contoh : Memberikan obat tetes mata
6. Dokumentasikan bagaimana respon pasien terhadap tindakan yang dilakukan
7. Dokumentesikan aspek keamanan, kenyamanan dan
pengawasan infeksi terhadap pasien. Juga tindakan-tindakan invasive
harus dicatat.
Contoh : Memberikan kompres betadin pacia lokasi tusukan infus
8. Dokumentasikan pula modifikasi lingkungan bila itu merupakan bagian dari
tindakan keperawatan.
Contoh : Membatasi pengunjung,
agar pasien dapat istirahat
9. Dokumentasikan.persetujuan
keluarga untuk prosedur khusus dan tindakan invasif yang mempunyai resiko
tambahan.
10.Dokumentasikan semua informasi yang diberikan dan pendidikan kesehatan
yang diberikan.
11.Dokumentasikan dengan jelas, lengkap, bukan berarti semua kalimat harus
ditulis, tetapi kata‑kata kunci dan simbol-simbol / lambang-lambang sudah
bakuntuklazim dapat digunakan
Contoh: IVFD, NGT, dll
12.Spesifik hindarkan penggunaan kata yang tidak jelas,bila perlu tuliskan
ungkapan pasien untuk memperjelas maksud.
Contoh : Pasien nampak cemas
(salah). Pasien tidak dapat
tidur, sering menekuk kaki sebelah kanannya dan ia mengatakan “ingin
bertemu’.suaminya dulu sebelum mati’
13.Rujuk ke petunjuk, kebijakan dan prosedur rumah sakit untuk penggunaan
format
Manfaat Kegunaan Dokumentasi Implementasi
1.Mengkomunikesikan secara nyata tindakan‑tindakan yang telah dilakukan untuk
pasien. Hal ini penting untuk :
Menghindarkan kesalahan‑kesalahan
seperti duplikasi tindakan, yang seharusnya tidak perlu terjadiØ
Contoh : Pemberian obat sudah diberikan, tetapi tidak dicatat Sehingga
diberikan obat kembali
Quality Assurance (menjamin mutu )
yang akan menunjukkan apa yang secara nyata telah dilakukan terhadap pasien dan
bagaimana hubungannya dengan standar yang telah dibuatØ
Melihat hubungan respon‑respon
pasien dengan tindakan keperawatan yang sudah diberikan (evaluasi klinis)Ø
2. Menjadi
dasor penentuan tugas
Sistem klasifikasi pasien
didasarkan pada dokumentasi tindakan keperawatan yang sudah ada, untuk
selanjutnya digunakan dalam menentukan jurnal perawat yang harus bartugas dalam
setiap shift jaga.
3. Memperkuat
pelayanan keperawatan
Jalan keluar dari tindakan malpraktek tergantung pada dokumen-dokumen yang
ada.
· Dokumen tentang kondisi pasien
· Segala sesuatu yang telah dilakukan untuk
pasien
· Kejadian‑kejadian atau kondisi pasien
sebelum dilakukan tindakan
4. Menjadi dasar perencanaan anggaran pembelanjaan
Dokumen tentang penggunaan alat‑alat dan bahan‑bahan akan membpntu
perhitungan anggaran biaya suatu rumah sakit.
Ø Catatan Keperawatan :
§ Gunakan tinta yang jelas, menulis dengan huruf
cetak / bila tulisan tidak jelas
§ Menulis pada catatan sesegera mungkin
setelah memberikan askep
§ Menulis dengan
sebenarnya : bagaimana kapan, dimana kegiatan dilakukan
§ Selalu membuat nama jelas dan paraf
Ø Catatan meliputi :
§ Pengkajian
§ aktivitasà Intervensi
§ responà Evaluasi
Contoh pencatatan implementasi :
|
No
|
Hari / tgl/Jam
|
No. Dx
|
Tindakan keperawatan
|
Evaluasi formatif
|
Ttd
|
|
1
|
Senin
/ 21-11-2011/08.00 wita
(berisi hari,tgl,jam pemberian asuhan
keperawatan)
|
1 (berisi no diagnosis yang
diberikan tindakan keperawatan)
|
- memberikan cairan parietal Rl
20 tetes/mnt_______________
(berisi tindakan keperawatan
yang diberikan)
|
Cairan Rl 20 tetes/mnt berhasil
:
- Reaksi alergi (-)
- Suhu37o C
(berisi respon pasien segera
setelah pemberian tindakan keperawatan)
|
(berisi inisial dan tanda tangan perawat)
|
5. EVALUASI
Pengertian
§ Evaluasi
adalah membandingkan suatu hasil / perbuatna dengan standar untuk tujuan
pengambilan keputusan yang tepat sejauh mana tujuan tercapai
§ Evaluasi
keperawatan : membandingkan efek / hasil suatu tindakan keperawatan dengan
norma atau kriteria tujuan yang sudah dibuat
§ Tahap
akhir dari proses keperawatan
§ Menilai
tujuan dalam rencana perawatan tercapai atau tidak
§ Menilai
efektifitas rencana keperawatan atau strategi askep
§ Menentukan efektif / tidaknyatindakan
keperawatan dan perkembangan pasien terhadap masalah kesehatan
Tahap Dalam Evaluasi
§ standar untuk mengukur keberhasilanà Mengidentifikasi
kriteria hasil
§ Mengumpulkan dat asehubungan dengan
kriteria hasil yang telah ditetapkan. Contoh : dalam waktu 1 mg BB
naik ½ kg
§ Mengevaluasi pencapaian tujuan dengan
membandingkan data yang dikumpulkan dengan kriteria. Contoh:
setelah 1 mg perawat menimbang BB naik ¼ kg
§ Modifikasi
rencana keperawatan
Tahap Dalam Modifikasi Rencana
Keperawatan
§ Kumpulkan
data untuk menentukan apakah timbul masalah baru atau dx tidak tercapai
§ Ubah
dx keperawatan / masalah kolaboratif yang tidak tepat, kemudian ganti dengan
yang baru
§ Cek
kembali daftar dx keperawatan baru dan buat prioritas
Macam Evaluasi
1. Evaluasi formatif
§ Hasil
observasi dan analisa perawat terhadap respon pasien segera pada saat / setelah
dilakukan tindakan keperawatan
§ Ditulis
pada catatan perawatan
§ Contoh:
membantu pasien duduk semifowler, pasien dapat duduk selama 30 menit tanpa
pusing
SOAPIERÃ 2. Evaluasi Sumatif
§ Rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi
dan analisa status kesehatan sesuai waktu pada tujuan
§ Ditulis
pada catatan perkembangan
Contoh
pencatatan Evaluasi :
|
No
|
Hari/tgl/jam
|
No.
Dx
|
Evaluasi
Sumatif
|
Ttd
|
|
1
|
Rabu/23-11-2011/08.00
wita
(berisi hari,tgl,jam pemberian asuhan keperawatan)
|
1
(berisi
no diagnosis yang diberikan tindakan keperawatan)
|
DS =
haus
DO =
– Mukosa bibir lembab
- Turgor
kulit menurun
- Suhu
38o C
- TD
120/80mmHg
-
A =
tujuan tercapai sebagian
P = lanjutkan
intervensi no: 2,3…
(berisikan
apakah pelaksanaan askep berhasil ataukah tidak)
|
(berisi inisial dan tanda tangan
perawat)
|
BAB IV
LAPORAN KASUS
Bayi dg berat
badan lahir sangat rendah usia 5 hari dengan BB : 1400 gr , TB : 40 cm. Daya
hisap tidak ada, bayi diberi ASI / PASI melalui OGT 5 cc/ 3 jam .Pernafasan
pendek dan dangkal (18x/i ). Wajah,ekstermitas atas dan bawah Cyanosis. Bayi
terpasang O2 1L.
A. PENGKAJIAN
I.
Biodata
Nama :
By F
Umur :
5 hari
Jenis Kelamin :
Laki-Laki
Agama :
Islam
Suku/Bangsa :
Indonesia
Tgl masuk :
09-05-2014
Tgl pengkajian : 14-05-2014
Dx medis :BBLSR
Alamat : Simalanggang
Identitas Penanggung Jawab
Nama : Ny F
Umur : 31 th
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : IRT
Suku/Bangsa : Indonesia
Pendidikan ayah :
SMA
Pendidikan ibu :
SMA
Hub dg klien : Ibu kandung
Alamat :
Simalanggang
II.
Keluhan Utama
By dg berat badan
lahir sangat rendah usia 5 hari dengan BB : 1400 gr , TB : 40 cm. Daya hisap
tidak ada, by diberi ASI / PASI melalui OGT 5 cc/ 3 jam .
Pernafasan pendek
dan dangkal (18x/i ). Wajah,ekstermitas atas dan bawah Cyanosis.
By terpasang O2
1L.
III.
Riwayat Kesehatan
A. Riwayat
kehamilan dg kelahiran
1.
Prenatal
Jumlah kunjungan : Setiap bulan selama
kehamilan
Bidan/dokter : Bidan
Penkes yg didapat : Penjelasan tentang ibu
hamil
HPHT :
20-10-2013
Kenaikan BB selama
hamil : 10 kg
Komplikasi
kehamilan : Kontraksi + KPD ( Ketuban
Pecah Dini )
Komplikasi obat :
Tidak ada
Riwayat
hospitalisasi : Tidak ada
Gol
Darah Ibu :
B
Ibu
terkena bencana Asap trimester I dan II
2.
Intranatal
Riwayat kelahiran : 34 Minggu
Awal persalinan : 15.00 – 16.50
Lama persalinan : 1 jam 50 menit
Komplikasi
persalinan : Ketuban pecah dini
Cara melahirkan : Normal
Tempat melahirkan : Di RSI Ibni Sina Pyk
(As-syifa)
3.
Post Natal
Usaha nafas : Dengan bantuan o2 1L
Kebutuhan
resusitasi : RJP dan Suction
Apgar Score : 2/3 (sangat lemah)
Obat yg diberikan
pd neonetus : inj Cortidex 0,5
cc , inj epinefrin 0,2 mg
Interaksi ortu dg
bayi : memegang jari ibu
Trauma lahir : tidak ada
Keluar urine/feses
: ada
Tali Pusar :
Belum lepas
B. Riwayat
Imunisasi
·
Inj Neo K 1mg
·
Inj Cefotaxin 70mg
·
Inj gentamicyn 4mg
·
Inj Aminophylin 7mg
·
IUFD D.10% + Drip CA Gluconas 1 amp 1 tts/i
IV.
Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan
Umum
Kesadaran :
Delillium
Vital
Sign : RR: 18x/i N: 120x/i S: 36,8
2. Antropometri
Bb : 1400 gr Ld
: 24 cm
Pb : 40 cm
Lk : 24 cm
3. Kepala
Kebersihan : Bersih
Bentuk
kepala : Bulat
Keadaan
rambut :
Tipis
Keadaan
kulit kepala : Baik
Fontanela
anterior :
(lunak) dan tidak menonjol
Gambaran
wajah :
Simetris
4. Mata
Kebersihan : Ada secret
Peradangan : Tidak ada
Sklera : Sedikit kuning
Pupil : Isokor
Gerakan
bola mata : Baik
Konjungtiva : Pucat
5. Hidung
Kebersihan : Baik
Struktur : Simetris
Polip : Tidak ada
Perdarahan : Tidak ada
Terpasang O2 1L
6. Telinga
Kebersihan : Baik
Struktur : Simetris
Cairan : Tidak ada cairan abnormal
Tanda
Peradangan : Tidak ada
7. Mulut
Kebersihan : Agak kotor dan mukosa mulut kering
Rongga
Mulut : baik, Palatum sempurna
Daya hisap tidak ada, terpasang OGT
8. Leher
Vena
Jugularis : Tidak teraba
Arteri
Karotis : Teraba
9. Dada
Bentuk
dada :
Simetris
Pergerakan/pengembangan
torak : cepat/ dalam
Batuk :
tidak ada
Sputum :
Tidak ada
Bunyi
Nafas :
Tidak ada bunyi nafas tambahan
10. Jantung
Denyut
jantung : Hr 122x/i
Bunyi
jantung : Lup dup
11. Abdomen
Lingkar
perut : 20
cm , umbilikis keras kering
Warna
kulit :
agak ikterik
Keadaan
permukaan abdomen : turgor kulit agak
kering
Pembesaran
Abdomen : Tidak ada
12. Genitalia
Kebersihan : Bersih
Keadaan
kelamin luar : Sempurna
Anus : Paten
13. Ekstremitas
atas dan bawah
Struktur : Akral dingin + pucat atas
bawah
Kekuatan
Otot : Lemah
Trauma :
Tidak ada
14. Kulit
Kebersihan : Bersih
Struktur : Agak kering
Turgor
: Agak kering
Warna
: Biru dan
kemerahan,tangan dan kaki biru
Kelembaban : Agak kering
Lesi
: Tidak ada
15. Refleks
Menghisap : daya hisap tidak ada
Menggenggam : ada sedikit
Moro :tidak ada
Rooting : tidak ada
Tonik
neck : ada
V.
Kebutuhan Fisik dan psikososial
a)
Nutrisi
Frekuensi
: 8x
Nafsu makan
: ada, refleks menghisap tidak ada
Waktu minum ASI : /
3 jam
Jenis makanan :
ASI / PASI
Pantangan
: Tidak ada
b)
Eliminasi
( BAB & BAK )
Frekuensi : BAB: 2x BAK:4x
Warna : coklat jernih
Keluhan : tidak ada
Penggunaan obat
laxanatif : tidak ada
c) Personal hygiene
Cuci rambut :
d)
Istirahat
tidur
Bayi banyak tidur
e)
Aktifitas
By banyak tidur dan
menangis saat lapar
f)
Psikososial
Hubungan dengan
orang tua
By menggenggam jari
ibu saat diberi rangsangan
By dikunjungi setiap
hari oleh ibunya
B.
ANALISA DATA
|
NO
|
DATA
|
ETIOLOGI
|
MASALAH
|
|
1.
|
DO :
- Nafas bayi tampak sesak
- frekuensi pernafasan 60x/i
- wajah sianosis
DS : ???
|
imaturitas fungsi paru
|
Tidak efektifnya pola nafas
|
|
2.
|
DO :
- Daya isap tidak ada
- Mukosa mulut kering
- Sklera agak ikterik
- BB : 1400 gr
- ASI 5cc/ 3 jam
- bayi pasang OGT
|
daya hisap tidak ada
|
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
|
|
3.
|
- Bayi rawat inkubator
- suhu 36,4 C
- bayi lahir premature
- cyanosis pada ekstremitas
- kulit dadahangat
|
Terpapar suhu yang ekstrim.
Lapisan lemak kulit yang tipis
|
Resiko terjadinya hipotermia
|
C.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
D. RENCANA
ASUHAN KEPERAWATAN ( INTERVENSI )
|
No.
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
|
1.
|
Tidak efektifnya pola nafas
b/d
imaturitas fungsi paru .
DO :
- Nafas bayi tampak sesak
- frekuensi pernafasan 60x/i
- wajah sianosis
|
Setelah dilakukan Asuhan Keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Pola
nafas efektif.
dengan
Kriteria Hasil :
-
RR 30-60 x/mnt
-
Sianosis (-)
-
Sesak (-)
-
Ronchi (-)
-
Whezing (-)
|
|
|
2.
|
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b/d
daya hisap tidak ada.
DO :
- Daya isap tidak ada
- Mukosa mulut kering
- Sklera agak ikterik
- BB : 1400 gr
- ASI 5cc/ 3 jam
- bayi pasang OGT
|
Setelah dilakukan Asuhan Keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Nutrisi terpenuhi dengan
Kriteria hasil :
-
Reflek hisap dan menelan baik
-
Muntah (-)
-
Kembung (-)
-
BAB lancar
-
Berat badan meningkat 15 gr/hr
-
Turgor elastis.
|
|
|
3.
|
Resiko terjadinya hipotermia
b/d
lapisan lemak kulit yang tipis
DO:
- Bayi rawat inkubator
- suhu 36,4 C
- bayi lahir premature
- cyanosis pada ekstremitas
- kulit dadahangat
|
Setelah dilakukan Asuhan Keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Suhu tubuh kembali normal.
dengan
Kriteria Hasil :
-
Suhu 36-37 C.
-
Kulit hangat.
-
Sianosis (-)
-
Ekstremitas hangat.
|
|
E.
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Implementasi
= Hasilnya
Evaluasi
= Masalah Implementasi yang belum terselesaikan
|
Hari/ tgl
|
No DX
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
|
R
A
B
U
14/5
|
DX 1
|
(cepat dan dangkal)
(
(Hasilnya
???)
|
S = --------
O = Pernafasan bayi adekuat
A = Masalah ½ teratasi
P = Intervensi lanjut
|
|
|
DX 2
|
(???cc/3jam)
(+)
( ???/jam )
(Persiapkan Pemasangan OGT bila reflek hisap tidak
ada)
(Hasilnya
???)
|
S = ---------------
O = Refleks hisap lemah
A = Masalah ½ teratasi
P = Intervensi lanjut
|
|
|
DX 3
|
|
S = ------------
O = Suhu bayi normal
A = Masalah tidak terjadi
P = Intervensi di pertahankan
|
|
K
A
M
I
S
15/5
|
DX 1
|
|
S = ----------
O = Pernafasan bayi tidak sesak
A = Masalah ½ teratasi
P = Intervensi lanjut
|
|
|
DX 2
|
|
S = -----------
O = Daya hisap mulai ada
A = Masalah ½ teratasi
P = Intervensi lanjut
|
|
|
DX 3
|
|
S = --------------
O = Suhu bayi normal
A = Masalah teratasi
P = Intervensi dihentikan
|
|
J
U
M
A
T
16/5
|
DX 1
|
|
S = ----------------
O = Pernafasan bayi normal
A = Masalah teratasi
P = Intervensi di hentikan
|
|
|
DX 2
|
|
S = --------------
O = Daya hisap dan menelan mulai
baik
A = Masalah ½ teratasi
P = Intervensi lanjut
|
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dokumentasi
merupakan catatan otentik dalam penerapan manajemen asuhan keperawatan
profesional. Perawat profesional diharapkan dapat menghadapi tuntutan tanggung
jawab dan tanggung gugat terhadap segala tindakan yang dilaksanakan. Kesadaran
masyarakat terhadap hukum semakin meningkat sehingga dokumentasi yang lengkap
dan jelas sangat dibutuhkan.
Salah satu bentuk kegiatan
keperawatan adalah dokumentasi keperawatan profesional yang akan tercapai
dengan baik apabila sistem pendokumentasian dapat dilakukan dengan benar.
Kegiatan pendokumentasia meliputi ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan
mendokumenasikan proses keperawatan sesuai dengan standar asuhan keperawatan.
Konsep solusi terhadap masalah
diatas perlu disusun standar dokumentasi keperawatan agar dapat digunakan
sebagai pedoman bagi perawat dengan harapan asuhan keperawatan yang dihasilkan
mempunyai efektifitas dan efisiensi.
DAFTAR PUSTAKA
http://semaraputraadjoezt.wordpress.com/2012/04/10/cara-pendokumentasian-askep-pada-anak/
makasih kaka
ReplyDelete