Saturday, February 18, 2017

MASALAH KEPERAWATAN

MASALAH KEPERAWATAN
A.    Berkata Jujur
Berkata jujur yaitu mengatakan hal yang benar. Memberikan informasi dan memberikan jawaban yang benar sesuai dengan pertanyaan atau memberikan penjelasan informasi sesungguhnya.
Dalam konteks berkata jujur ada istilah yang disebut desepsi yang artinya membuat orang lain tidak percaya terhadap suatu hal yang tidak benar, meniru atau membohongi. Berkata bohong merupakan tindakan desepsi dimana seseorang dituntut untuk membenarkan sesuatu yang diyakini salah. Tindakan desepsi secara etika tidak dibenarkan.
Kejujuran merupakan prinsip etis yang mendasar. Berkata jujur bersifat tidak mutlak, sehingga desepsi pada keadaan tertentu diperbolehkan. Berkata jujur hal yang penting dalam hubungan saling percaya perawat dan klien.
Contoh Kasus Berkata Jujur
Tuan dan nyonya Harun yang berusia 65 dan 60 tahun, pada hari minggu pergi mengunjungi anaknya dengan mobil pribadi. Mobil tersebut dikemudikan sendiri oleh suaminya yang berusia 65 tahun. Ditengah perjalanan, mobil tersebut mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Ny. Harun meninggal dunia setelah dibawa kerumah sakit. Sedangkan Tn. Harun tidak sadarkan diri setelah 2 hari dirawat Tn. Harun baru sadarkan diri lalu bertanya kepada perawat yang bertugas tentang keberadaan istrinya .Bila perawat berterus terang mengatakan bahwa istrinya telah meninggal, maka ia akan khawatir dampak nya terhadap kesehatan Tn. Harun karena secara klinis, keadaan fisik atau mental Tn. Harun masih sangat lemah. Bila perawat tidak mengatakan sebenarnya, hal ini berarti perawat tidak jujur ataupun berbohong.
Hal-hal seperti itu sangat dilematis bagi perawat.disattu sisi perawat harus berkata jujur, disisi lain perawat dituntut untuk menjadi pembela bagi hak-hak Tn. Harun yang masih lemah kondisi fisik maupun mentalnya. Dalam hal ini, kejujuran dapat berakibat fatal bagi diri Tn. Harun.
Dari kasus ini dapat dilihat bahwa perawat mengalami konflik. Perawat harus berkata jujur atau harus berbohong. Perawat harus berkata secara bijakasana bahwa kesehatan Tn. Harun lebih penting  untuk dipertahankan. Perawat juga harus mempertahankan pendapatnya, baik terhadap keluarga pasien, petugas lain maupun teman sejawat.
Menurut Free, secara professional perawat mempunyai kewajiban  tidak melakukan hal yang merugikan klien dan desepsi mungkin mempunyai manfaat untuk meningkatkan kerjasama dan kesehatan klien.
B.     AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV .Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus HIV yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
Perawat bertanggung jawab dalam merawat klien AIDS. Perawat yang merawat penderita AIDS mengalami berbagai stress pribadi termasuk takut tertular, serta emosi pada klien fase terminal.
Contoh Kasus HIV/AIDS
Tn. P adalah seorang sopir bus antar provinsi. Ia telah bekerja selama 20 tahun sebagai seorang sopir. Akhir-akhir ini Tn. P sering demam, diare, dan menderita sariawan yang tidak sembuh-sembuh sudah hampir 2 bulan, berat badan turun lebih dari 5 Kg. Tn P tidak menganggap serius penyakitnya sehingga dia hanya berusaha minum obat warung dan belum sembuh juga akhirnya keluarganya membawa Tn. P ke RS.  Tn. P meminta kepada Ners Ratna untuk segera memberitahu hasil pemeriksaannya. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Tn. P positif menderita HIV.
Ners Ratna yang merawat Tn.P kebetulan sudah bekerja selama 10 tahun di bangsal B20 ini. Keluarga meminta Ners Ratna untuk tidak memberitahukan mengenai penyakit ini kepada pasien ataupun kepada para pembesuknya. Keluarga takut kalau pasien di beritahu keluarga takut Tn.P akan frustasi, tidak bisa menerima kondisinya, dan akan dikucilkan oleh masyarakat. Ners Ratna mengalami dilema etik dimana di satu sisi dia harus memenuhi permintaan keluarga namun di sisi lain Ners Ratna harus memberitahukan kondisi yang dialami oleh Tn. P.

Jika dilihat dari pengalaman Ns. Ratna masa lalu dimana pasien mengalami dampak psikologis yang berat. Sehingga perawat berniat untuk membicarakan hal ini pada keluarga untuk menindak lanjuti dengan pendekatan informasi seperti apa yang harus diberikan pada Tn. P supaya Tn. P tidak terlalu merasa kaget dan rendah diri sehingga pasien dapat membantu dalam proses penyembuhannya.
Kemungkinan lain yang terjadi. Perawat mencoba meminta kepada keluarga pasien untuk tetap memberikan informasi kepada Tn. P karena hal ini akan berdampak pada proses penyembuhan dan dampak psikologisnya.
Bila keluarga pasien tetap tidak setuju dan tetap nekat dengan keputusannya maka perawat sebaiknya:
·         Tetap berusaha menerangkan kepada keluarga tentang dampak dan resiko apabila pasien tidak mengetahui kondisi kesehatannya
·         Perawat membuat perjanjian dengan keluarga bahwa dampak yang akan ditimbulkan dari keputusan tersebut diluar tanggungjawab perawat
Perawat melakukan pendekata dari hati ke hati . Hal ini dapat melunakkan hati keluarga pasien supaya tidak ada masalah perampasan hak pasien. Tindakan ini dilakukan dengan harapan dapat mencegah masalah tidak terjadi lagi. Perawat perlu menghubungi tim etik RS.



No comments:

Post a Comment