MASALAH KEPERAWATAN
A. Berkata
Jujur
Berkata jujur yaitu mengatakan hal
yang benar. Memberikan informasi dan memberikan jawaban yang benar sesuai
dengan pertanyaan atau memberikan penjelasan informasi sesungguhnya.
Dalam konteks berkata jujur ada istilah
yang disebut desepsi yang artinya membuat orang lain tidak percaya terhadap
suatu hal yang tidak benar, meniru atau membohongi. Berkata bohong merupakan
tindakan desepsi dimana seseorang dituntut untuk membenarkan sesuatu yang
diyakini salah. Tindakan desepsi secara etika tidak dibenarkan.
Kejujuran merupakan prinsip etis
yang mendasar. Berkata jujur bersifat tidak mutlak, sehingga desepsi pada
keadaan tertentu diperbolehkan. Berkata jujur hal yang penting dalam hubungan
saling percaya perawat dan klien.
Contoh Kasus
Berkata Jujur
Tuan dan nyonya Harun yang berusia
65 dan 60 tahun, pada hari minggu pergi mengunjungi anaknya dengan mobil
pribadi. Mobil tersebut dikemudikan sendiri oleh suaminya yang berusia 65
tahun. Ditengah perjalanan, mobil tersebut mengalami kecelakaan yang
mengakibatkan Ny. Harun meninggal dunia setelah dibawa kerumah sakit. Sedangkan
Tn. Harun tidak sadarkan diri setelah 2 hari dirawat Tn. Harun
baru sadarkan diri lalu bertanya kepada perawat yang bertugas tentang
keberadaan istrinya .Bila perawat berterus terang mengatakan bahwa istrinya
telah meninggal, maka ia akan khawatir dampak nya terhadap kesehatan Tn. Harun karena secara
klinis, keadaan fisik atau mental Tn. Harun masih sangat lemah. Bila perawat
tidak mengatakan sebenarnya, hal ini berarti perawat tidak jujur ataupun
berbohong.
Hal-hal seperti itu sangat dilematis
bagi perawat.disattu sisi perawat harus berkata jujur, disisi lain perawat
dituntut untuk menjadi pembela bagi hak-hak Tn. Harun yang masih lemah kondisi
fisik maupun mentalnya. Dalam hal ini, kejujuran dapat
berakibat fatal bagi diri Tn. Harun.
Dari kasus ini dapat dilihat bahwa
perawat mengalami konflik. Perawat harus berkata jujur atau harus berbohong.
Perawat harus berkata secara bijakasana bahwa kesehatan Tn. Harun lebih
penting untuk dipertahankan. Perawat juga harus mempertahankan
pendapatnya, baik terhadap keluarga pasien, petugas lain maupun teman sejawat.
Menurut Free, secara professional
perawat mempunyai kewajiban tidak melakukan hal yang merugikan klien dan
desepsi mungkin mempunyai manfaat untuk meningkatkan kerjasama dan kesehatan
klien.
B. AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired
Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan
infeksi sindrom yang timbul
karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV .Virusnya sendiri bernama Human
Immunodeficiency Virus HIV yaitu virus
yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini
akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada
dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar
bisa disembuhkan.
HIV dan virus-virus sejenisnya
umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran
mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan
dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang
terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin,
atau menyusui, serta
bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Hukuman sosial bagi
penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita
penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut
tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam
merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
Perawat bertanggung jawab dalam
merawat klien AIDS. Perawat yang merawat penderita AIDS mengalami berbagai
stress pribadi termasuk takut tertular, serta emosi pada klien fase terminal.
Contoh Kasus
HIV/AIDS
Tn. P adalah seorang sopir bus antar provinsi. Ia
telah bekerja selama 20 tahun sebagai seorang sopir. Akhir-akhir ini Tn. P
sering demam, diare, dan menderita sariawan yang tidak sembuh-sembuh sudah
hampir 2 bulan, berat badan turun lebih dari 5 Kg. Tn P tidak menganggap serius
penyakitnya sehingga dia hanya berusaha minum obat warung dan belum sembuh juga
akhirnya keluarganya membawa Tn. P ke RS. Tn. P meminta kepada Ners Ratna
untuk segera memberitahu hasil pemeriksaannya. Dari hasil pemeriksaan yang
dilakukan Tn. P positif menderita HIV.
Ners Ratna yang merawat Tn.P kebetulan sudah bekerja selama 10 tahun di bangsal B20 ini. Keluarga meminta Ners Ratna untuk tidak memberitahukan mengenai penyakit ini kepada pasien ataupun kepada para pembesuknya. Keluarga takut kalau pasien di beritahu keluarga takut Tn.P akan frustasi, tidak bisa menerima kondisinya, dan akan dikucilkan oleh masyarakat. Ners Ratna mengalami dilema etik dimana di satu sisi dia harus memenuhi permintaan keluarga namun di sisi lain Ners Ratna harus memberitahukan kondisi yang dialami oleh Tn. P.
Ners Ratna yang merawat Tn.P kebetulan sudah bekerja selama 10 tahun di bangsal B20 ini. Keluarga meminta Ners Ratna untuk tidak memberitahukan mengenai penyakit ini kepada pasien ataupun kepada para pembesuknya. Keluarga takut kalau pasien di beritahu keluarga takut Tn.P akan frustasi, tidak bisa menerima kondisinya, dan akan dikucilkan oleh masyarakat. Ners Ratna mengalami dilema etik dimana di satu sisi dia harus memenuhi permintaan keluarga namun di sisi lain Ners Ratna harus memberitahukan kondisi yang dialami oleh Tn. P.
Jika dilihat dari pengalaman Ns.
Ratna masa lalu dimana pasien mengalami dampak psikologis yang berat. Sehingga
perawat berniat untuk membicarakan hal ini pada keluarga untuk menindak lanjuti
dengan pendekatan informasi seperti apa yang harus diberikan pada Tn. P supaya
Tn. P tidak terlalu merasa kaget dan rendah diri sehingga pasien dapat membantu
dalam proses penyembuhannya.
Kemungkinan lain yang terjadi. Perawat mencoba meminta
kepada keluarga pasien untuk tetap memberikan informasi kepada Tn. P karena hal
ini akan berdampak pada proses penyembuhan dan dampak psikologisnya.
Bila keluarga pasien tetap tidak setuju dan tetap nekat dengan keputusannya maka perawat sebaiknya:
Bila keluarga pasien tetap tidak setuju dan tetap nekat dengan keputusannya maka perawat sebaiknya:
·
Tetap
berusaha menerangkan kepada keluarga tentang dampak dan resiko apabila pasien
tidak mengetahui kondisi kesehatannya
·
Perawat
membuat perjanjian dengan keluarga bahwa dampak yang akan ditimbulkan dari
keputusan tersebut diluar tanggungjawab perawat
Perawat melakukan pendekata dari
hati ke hati . Hal ini dapat melunakkan hati keluarga pasien supaya tidak ada
masalah perampasan hak pasien. Tindakan ini dilakukan dengan harapan dapat
mencegah masalah tidak terjadi lagi. Perawat perlu menghubungi tim etik RS.
No comments:
Post a Comment