MAKALAH
ETIKA KEPERAWATAN
TENTANG
TEORI
MARTHA E.ROGERS DAN CALISTA ROY
![]() |
OLEH
:
FUADIL
ULUM
PROGRAM
STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN PERINTIS PADANG
TAHUN
2016
DAFTAR
ISI
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang........................................................................................................... 1
B.
Tujuan........................................................................................................................ 1
BAB II TINJAUAN
TEORITIS
I.
TEORI
MARHA E.ROGERS
A.
Definisi keperawatan Menurut Martha
E.Rogers.............................................. 2
B.
Asumsi Dasar..................................................................................................... 2
C.
Prinsip-prinsip Hemodinamika.......................................................................... 3
D.
Menggunakan Prinsip-prinsip Roger
dalam Proses Keperawatan..................... 4
E.
Hubungan teori keperawatan Martha
E. Rogers dengan Praktik Keperawatan 4
F.
Hubungan Teori Keperawatan Martha
E. Rogers dengan Pendidikan Keperawatan 5
G.
Kelemahan Rogers tentang homeodinamik....................................................... 5
II.
TEORI
SISTER CALISTA ROY
A.
Model Konsep Dan Teori Keperawatan
Sister Calista Roy.............................. 6
B.
Konsep adaptasi Roy......................................................................................... 6
III. Perbandingan Callista Roy dan
Martha Rogers................................................ 10
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................................ 11
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Model konseptual
mengacu pada ide-ide global mengenai individu, kelompok situasi atau kejadian
tertentu yang berkaitan dengan disiplin yang spesifik. Teori-teori yang
terbentuk dari penggabungan konsep dan pernyataan yang berfokus lebih khusus
pasa suatu kejadian dan fenomena dari suatu disiplin ilmu. Model konseptual
keperawatan dikembangkan atas pengetahuan para ahli keperawatan tentang
keperawatan yang bertolak dari paradigma keperawatan. Model konseptual dalam
keperawatan dapat memungkinkan perawat untuk menerapkan cara perawat bekerja
dalam batas kewenangan sebagai seorang perawat. Perawat perlu memahami konsep
ini sebagai kerangka konsep dalam memberikan asuhan keperawatan dalam praktek
keperawatan atau sebagai filosofi dalam dunia pendidikan dan kerangka kerja
dalam riset keperawatan.
B.
Tujuan
Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut :
a. Mengetahui
pengertian dan konsep dasar model keperawatan E.Rogers dan Callista Roy
b. Mengetahui
kelebihan dan kelemahan konsep dan teori model praktek E.Rogers dan Callista
Roy.
BAB
II
TINJAUAN
TEORITIS
I.
TEORI
MARTHA E.ROGERS
A.
Definisi
keperawatan Menurut Martha E.Rogers
Martha Elizabeth
Roger lahir pada tanggal 12 Mei 1914 di Dallas, Texas. Roger menjelaskan bahwa keperawatan
merupakan profesi yang menggabungkan unsur ilmu pengetahuan dan seni. Kaitannya
dengan proses ke hidupan manusia
bahwa ilmu keperawatan merupakan ilmu pengetahuan empiris yang menggambarkan,
menerangkan, dan memprediksi proses kehidupan manusia. Oleh sebab
itu,keperawatan bersifat unik karena merupakan satu-satunya ilmu pengetahuan
yang berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan manusia.Disebutkan juga bahwa
praktik keperawatan profesional merupakan praktik yang bersifat
kreatif,imajinatif,dan eksis untuk melayani individu.praktik keperawatan
profesional tidak memiliki fungsi dependen,melainkan bersifat kolaboratif.
B.
Asumsi
Dasar
Dasar teori
Rogers adalah ilmu tentang asal usul manusia dan alam semesta seperti
antropologi, sosiologi, agama, filosofi, perkembangan sejarah dan mitologi.
Teori Rogers berfokus pada proses kehidupan manusia secara utuh. Ilmu
keperawatan adalah ilmu yang mempelajari manusia, alam dan perkembangan manusia
secara langsung. Menurut Rogers ( 1970) ada lima dasar asumsi tentang manusia,
yaitu:
1. Manusia
merupakan makhluk yang memiliki kepribadian unik, antara satu dan lainnya berbeda di beberapa bagian. Secara signifikan
mempunyai sifat-sifat yang khusus jika semuanya jika dilihat secara bagian
perbagian ilmu pengetahuan dari suatu subsistem tidak efektif bila seseorang
memperhatikan sifat-sifat dari sistem kehidupan manusia. Manusia akan terlihat
saat bagiannya tidak dijumpai.
2. Berasumsi
bahwa individu dan lingkungan saling tukar-menukar energi dan material satu
sama lain. Beberapa individu mendefenisikan lingkungan sebagai faktor eksternal
pada seorang individu dan merupakan satu kesatuan yang utuh dari semua hal.
3. Bahwa
proses kehidupan manusia merupakan hal yang tetap dan saling bergantung dalam
satu kesatuan ruang waktu secara terus menerus. Akibatnya seorang individu
tidak akan pernah kembali atau menjadi seperti yang diharapkan semula.
4. Perilaku
pada individu merupakan suatu bentuk kesatuan yang inovatif.
5. Manusia
bercirikan mempunyai kemampuan untuk abstrak, membayangkan, bertutur bahasa dan
berfikir, sensasi dan emosi. Dari seluruh bentuk kehidupan di dunia hanya
manusia yang mampu berfikir dan menerima dan mempertimbangkan luasnya dunia.
Menurut Martha E Roger ilmu tentang keperawatan
berhubungan langsung dengan proses kehidupan manusia dan bertujuan untuk
menjelaskan dan memperkirakan kealamiahan dan hubungannya dengan perkembangan.
Untuk memperkuat teorinya Martha E. Rogers mengkombinasikan konsep manusia
seutuhnya dengan prinsip homeodinamik yang kemudian di kemukakannya.
C.
Prinsip-prinsip
Hemodinamika
Teori menyatakan
bahwa dalam keperawatan dipergunakan prinsip hemodinamika untuk melayani
manusia, yaitu :
1. Integral
Prinsip pertama adalah integral.
badan manusia dan lingkungannya tidak dapat dipisahkan, rangkaian pertukaran proses
kehidupan terus terjadi pembaharuan interaksi antara badan manusia dan
lingkungannya. Keduanya saling berinteraksi yang konstan dan saling bertukar
dimana pembentukan keduanya ditempatkan dalam waktu yang sama. Maka, integral
adalah kelanjutan proses interaksi antara manusia dan lingkungan.
2. Resonansi
Prinsip selanjutnya, resonansi,
berbicara pada kejadian pertukaran alam antara manusia dan bidang lingkungan.
Pertukaran adalah pola manusia dan bidang lingkungan disebarkan dari gelombang
yang berpindah dari gelombang yang lebih tinggi dari frekuensi rendah ke
gelombang yang lebih pendek dari frekuensi yang lebih tinggi. Proses kehidupan
dalam badan manusia adalah simfoni dari ritme yang bergerak dalam frekuensi
tertentu. Pengalaman manusia di lingkungannya seperti segaris kompleks kesatuan
gelombang resonansi mereka dengan dunia istirahat
3. Helicy
Manusia dan lingkungan adalah
dinamis, sistem terbuka dalam pertukaran adalah hak berlanjut pada pertukaran
yang konstan antara manusia dan bidang lingkungan.Pertukaran ini juga mengalami
pembaharuan. Jika, pertukaran tidak dapat diprediksi. Akhirnya, pertukaran
langsung menuju peningkatan perbedaan dan kerumitan. Proses ini dan polanya
tidak dapat di prediksi, dinamis, dan peningkatan perbedaan.
D.
Menggunakan
Prinsip-prinsip Roger dalam Proses Keperawatan
Prinsip –
prinsip hemodinamika memberi petunjuk untuk mengetahui hubungan antara
perkembangan individu dengan alam sebagai respon sehat yang berhubungan dengan
masalah yang terjadi.
Kesuksesan
menggunakan prinsip hemodinamika perlu pertimbangan perawat dan melibatkan baik
perawat maupun klien dalam proses keperawatan. Jika sesuatu di luar individu
adalah bagian dari lingkungan maka perawat menjadi bagian dari lingkungan
klien.
Keperawatan
bekerja dengan klien bukan untuk untuk klien. Ini meliputi proses keperawatan
dengan menunjukkan bahwa perawat memperhatikan manusia secara keseluruhan,
tidak cukup satu aspek, satu masalah, atau terbatas pada pemenuhan kebutuhannya
saja.
E.
Hubungan
teori keperawatan Martha E. Rogers dengan Praktik Keperawatan
Malinski (1986)
mencatat ada tujuh trend yang ada dalam praktik keperawatan, yang kesemuanya
berdasar pada konsep teori yang di kemukakan Martha E Rogers.
1. Pemberian
kewenangan penuh dalam hubungan perawat klien
2. Menerima
perbedaan sebagai sesuatu yang wajar
3. Penyesuaian
terhadap pola
4. Menggunakan
modalitas gelombang seperti lampu musik, pergerakan dalam proses penyembuhan.
5. Menunjukkan
suatu perubahan yang positif
6. Memperluas
fase pengkajian dalam proses keperawatan
7. Menerima
hubungan yang menyeluruh dalam hidup.
F.
Hubungan
Teori Keperawatan Martha E. Rogers dengan Pendidikan Keperawatan
Pada tahun 1963,
Rogers mencetuskan ide untuk mendirikan kembali program undergraduated dan
graduated dalam pendidikan keperawatan. Hal ini adalah di lakukannya sebagai
refleksi terhadap evolusi perubahan dalam ilmu keperawatan. Konsistensi
terhadap definisi yang ia berikan untuk keperawatan bahwa keperawatan adalah
profesi yang di pelajari, unik serta memiliki batang tubuh pengetahuan, maka ia
sangat menganjurkan bagi perawat untuk menempuh pendidikan dalam keperawatan.
G.
Kelemahan
Rogers tentang homeodinamik
Walaupun
prinsip-prinsip homeodinamik konsisten dengan tujuan universal, ada
keterbatasan utama pelaksanaan prinsip-prinsip universal. Banyak orang
mengalami kesulitan untuk memahami prinsip-prinsipnya. Meskipun asumsi dasar
yang diberikan dan prinsip-prinsip yang ditetapkan, sistem tetap abstrak.
Persyaratan belum cukup untuk dioperasionalkan untuk menyediakan pemahaman yang
jelas. Kesulitan definisi pengoperasian konsep serta membawa keabstrakan konsep
dan hubungan ke tingkat empiris untuk pengujian yang mengganggu banyak ilmuwan
perawat (Kim, 1986). Definisi operasional diperlukan untuk pengembangan
hipotesis bahwa tes konsep teoritis dan untuk pemilihan instrumen yang memadai
akan mengukur konsep-konsep yang terlibat (Hardy, 1974).
Pada tahap dalam
perkembangan ilmu keperawatan, instrumen yang cukup akan menilai manusia dalam
totalitas mereka tidak ada. Tanpa instrumen tersebut, kemampuan menggunakan
atau menguji sistem abstrak sepenuhnya adalah hampir tidak mungkin.
Selanjutnya, ketidakmampuan untuk cukup menggunakan atau menguji sistem yang
membuat kesuksesan mengimplementasikan kesulitan keperawatan. Dengan demikian,
penggunaan prinsip-prinsip homeodynamics di dalamnya adalah totalitas terbatas.
II.
TEORI
SISTER CALISTA ROY
A.
Model
Konsep Dan Teori Keperawatan Sister Calista Roy
Sister
Calissta Roy yang lahir di Los Angeles pada tanggal 14 Oktober 1939,
Mendefinisikan bahwa keperawatan merupakan suatu analisa proses dan tindakan
sehubungan dengan perawatan sakit atau potensial seseorang untuk sakit. Sesuai
dengan model Roy, tujuan dari keperawatan adalah membantu seseorang untuk
beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri, fungsi peran,
dan hubugan interdependensi selama sehat dan sakit (mariner-Tomery,1994).
Roy
mengkombinasikan teori adaptasi Helson dengan definisi dan pandangan terhadap
manusia sebagai sistem yang adaptif. Selain konsep-konsep tersebut, Roy juga mengadaptasi
nilai “ Humanisme” dalam model konseptualnya berasal dari konsep A.H. Maslow
untuk menggali keyakinan dan nilai dari manusia. Menurut Roy humanisme dalam
keperawatan adalah keyakinan, terhadap kemampuan koping manusia dapat
meningkatkan derajat kesehatan.
B.
Konsep
adaptasi Roy.
Model Konseptual Adaptasi roy, ada empat elemen
penting yang termasuk dalam model adaptasi keperawatan adalah manusia,
Lingkungan; kesehatan; keperawatan. Unsur keperawatan terdiri dari dua bagian
yaitu tujuan keperawatan dan aktivitas keperawatan, juga termasuk dalam elemen
penting pada konsep adaptasi.
1. Manusia
Dalam model adaptasi keperawatan,
manusia dijelaskan sebagai suatu sistem yang hidup, terbuka dan adaptif yang
dapat mengalami kekuatan dan zat dengan perubahan lingkungan. Sebagai sistem
adaptif manusia dapat digambarkan dalam istilah karakteristik sistem, Jadi
manusia dilihat sebagai satu kesatuan yang saling berhubungan antar unit
fungsional secara keseluruhan atau beberapa unit fungsional untuk beberapa
tujuan. Sebagai suatu sistem manusia juga dapat digambarkan dengan istilah
input, proses control dan umpan balik serta output.
Input pada manusia sebagai suatu
sistem adaptasi adalah dengan menerima masukan dari lingkungan luar dan
lingkungan dalam diri individu itu sendiri. Input atau stimulus termasuk
variable standar yang berlawanan yang umpan baliknya dapat dibandingkan.
Variabel standar ini adalah stimulus internal yang mempunyai tingkat adaptasi
dan mewakili dari rentang stimulus manusia yang dapat ditoleransi dengan
usaha-usaha yang biasanya dilakukan.
Proses control manusia sebagai
suatu sistem adaptasi adalah mekanisme koping yang telah diidentifikasi yaitu :
subsistem regulator dan subsistem kognator. Regulator dan kognator adalah
digambarkan sebagai aksi dalam hubunganya terhadap empat efektor cara adaptasi
yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi.
a) Model
Fungsi Fisiologi.
Fungsi fisiologi berhubungan dengan
struktur tubuh dan fungsinya. Roy mengidentifikasi sembilan kebutuhan dasar
fisiologis yang harus dipenuhi untuk mempertahankan integritas, yang dibagi
menjadi dua bagian, model fungsi fisiologis tingkat dasar yang terdiri dari 5
kebutuhan dan fungsi fisiologis dengan proses yang kompleks terdiri dari 4
bagian yaitu :
1) Oksigenasi
: Kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan prosesnya, yaitu ventilasi, pertukaran
gas dan transpor gas (Vairo,1984 dalam Roy 1991).
2) Nutrisi
: Mulai dari proses ingesti dan asimilasi makanan untuk mempertahankan fungsi,
meningkatkan pertumbuhan dan mengganti jaringan yang injuri. (Servonsky, 1984
dalam Roy 1991).
3) Eliminasi
: Yaitu ekskresi hasil dari metabolisme dari instestinal dan ginjal. (
Servonsky, 1984 dalam Roy 1991).
4) Aktivitas
dan istirahat : Kebutuhan keseimbangan aktivitas fisik dan istirahat yang
digunakan untuk mengoptimalkan fungsi fisiologis dalam memperbaiki dan
memulihkan semua komponen-komponen tubuh. (Cho,1984 dalam Roy, 1991).
5) Proteksi/
perlindungan : Sebagai dasar defens tubuh termasuk proses imunitas dan struktur
integumen ( kulit, rambut dan kuku) dimana hal ini penting sebagai fungsi
proteksi dari infeksi, trauma dan perubahan suhu. (Sato, 1984 dalam Roy 1991).
6) The
sense / perasaan : Penglihatan, pendengaran, perkataan, rasa dan bau
memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungan . Sensasi nyeri penting
dipertimbangkan dalam pengkajian perasaan.( Driscoll, 1984, dalam Roy, 1991).
7) Cairan
dan elektrolit. : Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalamnya termasuk air,
elektrolit, asam basa dalam seluler, ekstrasel dan fungsi sistemik. Sebaliknya
inefektif fungsi sistem fisiologis dapat menyebabkan ketidakseimbangan
elektrolit. (Parly, 1984, dalam Roy 1991).
8) Fungsi
syaraf / neurologis : Hubungan-hubungan neurologis merupakan bagian integral
dari regulator koping mekanisme seseorang. Mereka mempunyai fungsi untuk
mengendalikan dan mengkoordinasi pergerakan tubuh, kesadaran dan proses emosi
kognitif yang baik untuk mengatur aktivitas organ-organ tubuh (Robertson, 1984
dalam Roy, 1991).
9) Fungsi
endokrin : Aksi endokrin adalah pengeluaran horman sesuai dengan fungsi
neurologis, untuk menyatukan dan mengkoordinasi fungsi tubuh. Aktivitas
endokrin mempunyai peran yang signifikan dalam respon stress dan merupakan dari
regulator koping mekanisme ( Howard & Valentine dalam Roy,1991).
b) Model
Konsep Diri
Model konsep diri berhubungan
dengan psikososial dengan penekanan spesifik pada aspek psikososial dan
spiritual manusia. Kebutuhan dari konsep diri ini berhubungan dengan integritas
psikis antara lain persepsi, aktivitas mental dan ekspresi perasaan. Konsep
diri menurut Roy terdiri dari dua komponen yaitu the physical self dan the
personal self.
1) The
physical self, yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya berhubungan dengan
sensasi tubuhnya dan gambaran tubuhnya. Kesulitan pada area ini sering terlihat
pada saat merasa kehilangan, seperti setelah operasi, amputasi atau hilang
kemampuan seksualitas.
2) The
personal self, yaitu berkaitan dengan konsistensi diri, ideal diri, moral- etik
dan spiritual diri orang tersebut. Perasaan cemas, hilangnya kekuatan atau
takut merupakan hal yang berat dalam area ini.
c) Model
fungsi peran
Mode fungsi peran mengenal pola –
pola interaksi sosial seseorang dalam hubungannya dengan orang lain, yang
dicerminkan dalam peran primer, sekunder dan tersier. Fokusnya pada bagaimana
seseorang dapat memerankan dirinya dimasyarakat sesuai kedudukannya
d) Mode
Interdependensi
Interdependensi yaitu keseimbangan
antara ketergantungan dan kemandirian dalam menerima sesuatu untuk dirinya.
Ketergantungan ditunjukkan dengan kemampuan untuk afiliasi dengan orang lain.
Kemandirian ditunjukkan oleh kemampuan berinisiatif untuk melakukan tindakan
bagi dirinya. Interdependensi dapat dilihat dari keseimbangan antara dua nilai
ekstrim, yaitu memberi dan menerima.
2. Lingkungan
Lingkungan digambarkan sebagai
dunia di dalam dan di luar manusia. Lingkungan merupakan masukan (input) bagi
manusia sebagai sistem yang adaptif sama halnya lingkungan sebagai stimulus
eksternal dan internal. Lebih lanjut stimulus itu dikoelompokkan menjadi tiga
jenis stimulus yaitu : fokal, konstektual, dan residual. Lebih luas lagi
lingkungan didefinisikan sebagai segala kondisi, keadaan disekitar dan
mempengaruhi keadaan, perkembangan dan perilaku manusia sebagai individu ata
kelompok.
3. Kesehatan.
Dalam model adaptasi keperawatan,
konsep sehat dihubungkan dengan konsep adaptasi. Adaptasi yang bebas energi
dari koping yang inefektif dan mengizinkan manusia berespon terhadap stimulus
yang lain. Pembebasan energi ini dapat meningkatkan penyembuhan dan
mempertinggi kesehatan. Hal ini adalah pembebasan energi yang menghubungkan
konsep adaptasi dan kesehatan.
4. Keperawatan
Roy (1983) menggambarkan
keperawatan sebagai disiplin ilmu dan praktek. Sebagai ilmu, keperawatan
mengobservasi, mengklasifikasikan dan menghubungkan proses yang secara positif
berpengaruh pada status kesehatan.
Tujuan dari adaptasi adalah
membantu perkembangan aktivitas keperawatan yang digunakan pada proses
keperawatan meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan , tujuan, intervensi
dan evaluasi.
Roy merekomendasikan pengkajian
dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
a) Tahap
I : Pengkajian Perilaku.
Ini merupakan tahap proses
keperawatan yang bertujuan mengumpulkan data dan memutuskan klien adptif dan
maladaptive. Termasuk dalam model ini adalah kebutuhan dasar manusia apakah
dapat dipengaruhi oleh kekurangan atau kelebihan. Misalnya terlalu sedikit
oksigen, terlalu tinggi gula darah atau terlalu banyak ketergantungan. Perawat
menggunkan wawancara, observsi dan pengukuran untuk mengkaji perilaku klien
sekarang dan setiap mode. Berdasarkan pengkajian ini perawat menganalisis
apakah perilaku ini adaptif, maladaptive atau potensial maladaptive.
b) Tahap
II: Pengkajian faktor – faktor yang berpengaruh
Pada tahap ini termasuk pengkajan
stimuli yang signifikan terhadap perubahan perilaku seseorang yaitu stimuli
focal, kontekstual dan residual.
1) Identifikasi
stimuli focal.
Stimuli focal merupakan perubahan
penilaku yang dapat diobserasi. Perawat dapat melakukan pengkaian dengan
menggunakan pengkajian perilaku yaitu : Keterampilan melakukan observasi,
melakukan pengukuran dan interview.
2) Identifikasi
stimuli kontekstual
Stimuli kontekstual ini
berkontribusi terhadap penyebab terjadinya perilaku atau presipitasi oleh
stimulus focal. Sebagal contoh anak yang di rawat dirumah sakit mempunyai peran
perilaku yang inefektif yaitu tidak belajar. Focal stimulus yang dapat
dildentifikasi adalah adanya fakta bahwa anak kehilangan skedul sekolah.
Stimulus kontekstual yang dapat diidentiflkasi adalah secara internal faktor
anak menderita sakit dan faktor eksternalnya adalah anak terisolasi. Stimulasi
kontekstual dapat diidentifikasi oleh perawat melalul observasi, pengukuran,
interview dan validasi.
Menurut
Martinez, 1976 dalam Roy 1989, faktor kontekstual yang mempengaruhi mode
adaptif adalah genetic, sex, tahap perkembangan, obat, alkohol, tembakau,
konsep diri, peran fungsi, interdependensi, pola interaksi sosial, koping
mekanisme, stress emosi dan fisik religi, dan lingkungan fisik.
III.
Perbandingan
Callista Roy dan Martha Rogers
Callista Roy : dalam beradaptasi
individu homeostasis (menyesuaikan diri dengan lingkungan agar seimbang).
Martha Rogers : dalam beradaptasi
individu homeodinamik (mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan).
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Martha E. Rogers memandang perawat sebagai
ilmu dan mendukung adanya penelitian keperawatan. Oleh sebab itu keperawatan
mengembangkan pengetahuan dari ilmu – ilmu dasar dan fisiologi, begitu juga
dengan ilmu keperawatan itu sendiri, ilmu keperawatan bertujuan untuk
memberikan inti dari pengetahuan abstrak. Inti pengetahuan ilmiah keperawatan
merupakan hasil penemuan terbaru mengenai keperawatan secara humanistik.
Sedangkan model keperawatan roy lebih menekankan pada manusia secara holistik
yang memiliki mekanisme koping untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Konsep ini juga menekankan pentingnya individu untuk mempertahankan perilaku
secara adaptif dan mampu merubah perilaku yang maladaptif agar dapat
meningkatkan kesehatannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Dwidiyanti M. Aplikasi model konseptual
Keperawatan, Semarang: Akper Dep.Kes. 1987.
Roy S.C-Andrews H.A. The Roy Adaptation Model: The
Definitive Statement, California: Appleton & Large. 1991.
Ann Marriner Tomey & Martha Raile
Alligood, nursing theorist and their work. 1998: Mosby
erathenurse.blogspot.com/…/model-konseptual-keperawatan.htm.
Basford, Lynn, 2006, Teori dan Praktik
Keperawatan, EGC, Jakarta.
http://abiperawat.bogspot.com/2007/050model-adaptasi-callista-roy.html
http://dwinoviapritama.blogspot.com/2012/06/model-konsep-dan-teori-keperawatan.html
http://nursingtheories.blogspot.com/2008/07/sister-callista-roy-adaptation-theory.html

No comments:
Post a Comment