MAKALAH
SERVICE EXCELLENT
TENTANG
KONSEP UTAMA SERVICE EXCELLENT
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dasar Rumah Sakit dibangun adalah
untuk memberikan pelayanan kepada pasien. Dalam perkembangan waktu, sebagaimana
juga dengan industri jasa lainnya, salah satu syarat utama agar rumah sakit
dapat survive adalah bila mampu memberi pelayanan prima pada pelanggannya.
Tuntutan pelanggan terhadap perbagai aspek pelayanan di Rumah Sakit/Klinik
dirasakan semakin meningkat, antara lain dengan semakin meningkatnya arus
pasien yang berobat ke luar negeri. Dengan berlakunya era perdagangan bebas,
maka kedudukan Rumah Sakit/Klinik milik Bangsa Indonesia akan terancam oleh Rumah
Sakit/Klinik milik negara-negara asing yang mulai meyerbu negara kita. Hal ini
merupakan tantangan yang sangat berat bagi pengelola Rumah Sakit/klinik di
Indonesia. Salah satu solusi dalam meningkatkan daya saing Rumah Sakit/Klinik
adalah dengan melakukan tindakan nyata dalam meningkatkan pelayanan di rumah
sakit baik yang bersifat medik maupun non medik, terutama yang bersifat
Customer Oriented , yang salah satunya adalah bagaimana petugas kesehatan
memebrikan pelayanan prima kepada pasien dan keluarga sehingga dengan adanya
pelayanan prima ini pasien maupun keluarga akan merasa puas dan nyaman
dengan pelayanan yang diberikan,
sehingga mereka akan menjadi sumber ”voice of mouth” yang positif.
Steven Tjong menyatakan bahwa
pelayanan prima dilakukan dengan memberi layanan luar biasa setiap kali
berinteraksi dengan pelanggan. Dalam menanggani pelanggan harus melibatkan
hati, seperti saat jatuh cinta, akan memberikan yang terbaik kepada yang
tercinta. Sedapat mungkin dilibatkan semua panca indera, sehingga saat saat
berucap yang terdengar adalah pujian, saat mendengar kritikan serasa pujian,
saat melihat timbul perasaan senang luar biasa bila dapat membuat dia
tersenyum, saat bergandingan tangan menyelesaikan masalah semua terasa ringan
dan setiap tarikan napas memiliki kesamaan dan keteraturan. Apabila melayani
dengan sepenuh hati seperti diatas maka akan terasa ”bahagiamu adalah
bahagiaku”.
B.
Tujuan
a. Tujuan
Umum
Tujuan umum makalah ini adalah untuk
mengetahui konsep dasar Service Excellent dalam keperawatan
b. Tujuan
Khusus
1. Mahasiswa
memahami defenisi service excellent
2. Mahasiswa
memahami unsur pokok service excellent
3. Mahasiswa
memahami tujuan service excellent
4. Mahasiswa
memahami pelayanan prima bidang kesehatan
5. Mahasiswa
memahami dimensi kualitas pelayanan prima di rumah sakit
6. Mahasiswa
memahami prinsip pelayanan prima di rumah sakit
7. Mahasiswa
memahami tahapan pelayanan prima di rumah sakit
8. Mahasiswa
memahami perilaku layanan prima di rumah sakit
9. Mahasiswa
memahami tindakan nyata pelayanan prima di rumah sakit
10. Mahasiswa
memahami modal dasar perawat dalam pelayanan prima
11. Mahasiswa
memahami hal – hal yang perlu dikembangkan perawat dalam pelayanan prima
12. Mahasiswa
memahami upaya memperbaiki pelayanan kesehatan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Defenisi
Pelayanan prima terdiri dari kata
pelayanan dan prima. Pelayanan Secara etimologis, Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Dahlan, dkk., 1995:646) menyatakan pelayanan ialah ”usaha melayani kebutuhan
orang lain”. Pelayanan pada dasarnya adalah kegiatan yang ditawarkan kepada
konsumen atau pelanggan yang dilayani, yang bersifat tidak berwujud dan tidak
dapat dimiliki.
Pengertian lebih luas disampaikan
Daviddow dan Uttal (Sutopo dan Suryanto, 2003:9) bahwa pelayanan merupakan
usaha apa saja yang mempertinggi kepuasan pelanggan.
B.
Unsur
Pokok Service Excellent
Menurut Barata (2004), pelayanan
prima terdiri dari 6 unsur pokok, antara lain :
1. Kemampuan
(Ability)
Meliputi kemampuan dalam bidang kerja yang
di tekuni, melaksanakan komunikasi yang efektif, mengembangkan motivasi dan
menggunakan puplic relations sebagai instrument dalam membina hubungan ke dalam
dan keluar organisasi atau perusahaan.
2. Sikap
(Attitude)
Meliputi melayani pelanggan dengan
berfikir positip sehat dan logis dan melayani pelanggan dengan sikap selalu
menghargai
3. Penampilan
(Appearance)
Penampilan (appearance) adalah penampilan seseorang, baik yang
bersifat fisik saja maupun non fisik, yang mampu merefleksikan kepercayaan diri
dan kredibilitas dari pihak lain.
4. Perhatian
(Attention)
Pehatian (attention) adalah kepedulian
penuh terhadap pelanggan baik yang berkaitan dengan perhatian akan kebutuhan
dan keinginan pelanggan maupun pemahaman atas saran dan kritiknya. Meliputi
mengamati dan menghargai kepada para pelanggannya an mencurahkan perhatian
penuh kepada para pelanggan.
5. Tindakan
(Action)
Tindakan (action) adalah berbagai kegiatan
nyata yang harus di lakukan dalam memberikan layanan kepada pelanggan. Meliputi
mencatat kebutuhan pelayanan, menegaskan kembali kebutuhan pelayanan, mewujudkan
kebutuhan pelanggan, menyatakan terima kasih dengan harapan pelanggan masih mau
kembali setia untuk memanfaatkan pelayanan.
6. Tanggung
jawab (Accounttability)
Tanggung jawab (accountability) adalah
suatu sikap keberpihakan kepada pelanggan sebagai wujud kepedulian untuk
menghindarkan atau menimbulkan kerugian atau ketidak puasan pelanggan.
Menurut Tjiptono (2008) pelayanan
prima (service excellence) terdiri dari 4 unsur pokok, antara lain: kecepatan,
ketepatan, keramahan, dan kenyamanan.
Unsur-unsur melayani prima, sesuai
keputusan Menpan No. 81/1993, yaitu: kesederhanaan, kejelasan dan kepastian,
keamanan, keterbukaan, efisien, ekonomis, dan keadilan yang merata.
C.
Tujuan
Service Excellent
Tujuan memberikan pelayanan prima adalah :
1. Untuk
menimbulkan kepercayaan dan kepuasan kepada pelanggan
2. Untuk
menjaga agar pelanggan merasa dipentingkan dan diperhatikan
3. Untuk
mempertahankan pelanggan agar tetap setia menggunakan barang dan jasa yang
ditawarkan.
4. Untuk
memberikan pelayanan yang bermutu tinggi kepada pelanggan.
5. Untuk
menimbulkan keputusan dari pihak pelanggan agar segera membeli barang/jasa yang
6. Untuk
menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap pelanggan terhadap barang/jasa yang
ditawarkan.
7. Untuk
menghindari terjadinya tuntutan-tuntutan yang tidak perlu dikemudian hari
terhadap produsen.
D.
Pelayanan
Prima Bidang Kesehatan
Dalam instruksi Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.828/MENKES/VII/1999 tentang Pelaksanaan Pelayanan Prima Bidang Kesehatan,
dijelaskan bahwa:
Berdasarkan aspek – aspek kesederhanaan, kejelasan, kepribadian,
keamanan, efisiensi, ekonomis, keadilan, ketepatan waktu, kebersihan, kinerja
dan juga sikap perilaku, maka pelaksanaan pelayanan prima bidang kesehatan
perlu memperhatikan hal – hal sebagai berikut :
1. Mengupayakan
paparan yang jelas melalui papan informasi atau petunjuk yang mudah dipahami
dan diperoleh pada setiap tempat / lokasi pelayanan sesuai dengan
kepentingannya menyangkut prosedur / tata cara pelayanan, pendaftaran,
pengambilan sample atau hasil pemeriksaan, biaya / tarif pelayanan serta jadwal
/ waktu pelayanan.
2. Setiap
aturan tentang prosedur / tata cara / petunjuk seperti yang tersebut diatas
harus dilaksanakan secara tepat, konsisten, konsekuen sesuai dengan peraturan
perundang – undangan yang berlaku.
3. Hak
dan kewajiban pemberi atau penerima pelayanan diatur secara jelas setiap
persyaratan yang diwajibkan dalam rangka menerima pelayanan harus mudah
diperoleh dan berkaitan langsung dengan kepentingan pelayanan serta tidak
menambah beban masyarakat penerima pelayanan.
4. Tersedia
loket informasi dan kotak saran bagi penerima pelayanan yang mudah dilihat /
dijumpai pada setiap tempat pelayanan. Saran yang masuk harus selalu dipantau
dan dievaluasi, bila perlu diberi tanggapan atau tindak lanjut dalam rangka
upaya perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan.
5. Penanganan
proses pelayanan sedapat mungkin dilakukan oleh petugas yang berwenang atau
kompeten, mampu terampil dan professional sesuai spesifikasi tugasnya. Setiap
pelaksanaan pemberian pelayanan dan hasilnya harus dapat menjamin perlindungan
hukum dan dapat dijadikan alat bukti yang sah.
6. Selalu
diupayakan untuk menciptakan pola pelayanan yang tepat sesuai dengan sifat dan
jenis pelayanan yang bersangkutan dengan mempertimbangkan efisiensi dan
efektivitas dalam pelaksanaannya.
7. Biaya
atau tarif pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhitungkan
kemampuan masyarakat. Hendaknya diupayakan untuk mengatur mekanisme pungutan
biaya yang memudahkan pembayarannya dan tidak menimbulkan biaya tinggi.
Pengendalian dan pengawasan pelaksanaannya harus dilaksanakan dengan cermat,
sehingga tidak terdapat titipan pungutan oleh instansi lain.
8. Pemberian
pelayanan dilakukan secara tertib, teratur dan adil, tidak membedakan status
social masyarakat. Cakupan / jangkauan pelayanan diupayakan seluas mungkin
dengan distribusi yang merata.
9. Kebersihan
dan sanitasi lingkungan tempat dan fasilitas pelayanan harus selalu dijamin
melalui pelaksanaan pembersihan secara rutin dan penyediaan fasilitas
pembuangan sampah / kotoran secukupnya sesuai dengan kepentingannya.
10. Selalu
diupayakan agar petugas memberikan pelayanan dengan sikap ramah dan sopan serta
berupaya meningkatkan kinerja pelayanan secara optimal dengan kemampuan
pelayanan yang tersedia dalam jumlah dan jenis yang cukup.
E.
Dimensi
Kualitas Pelayanan Prima Di Rumah Sakit
Menurut Burhanuddin Gamrin, SKM dan M. Joeharno, SKM, dimensi pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut:
1. Jumlah
Petugas
Jumlah petugas merupakan salah satu aspek
yang menunjang pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Keadaan petugas yang
kurang menyebabkan penyelenggaraan pelayanan dilaksanakan tidak maksimal dan
kurang memenuhi kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan. Selain itu,
petugas sendiri akan mengalami kewalahan dalam menjalankan tugasnya yang pada
nantinya akan menurunkan tingkat kemampuan kerja yang diberikan petugas kepada
pasien di rumah sakit.
2. Ketanggapan
petugas (Responsiveness)
Ketanggapan petugas berhubungan dengan
aspek kesigapan dari petugas dalam memenuhi kebutuhan pasien akan pelayanan
yang dinginkan. Tingkat kesigapan dari petugass kesehatan dalam memberikan
pelayanan merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi penilaian pasien atas
mutu pelayanan yang diselenggarakan.
3. Kehandalan
petugas (Reliability)
Kehandalan berhubungan dengan tingkat
kemampuan dan keterampilan yang dimiliki petugas dalam menyelenggarakan dan
memberikan pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Tingkat kemampuan dan
keterampilan yang kurang dari tenaga kesehatan tentunya akan memberikan
pelayanan yang kurang memenuhi kepuasan pasien sebagai standar penilaian
terhadap mutu pelayanan.
4. Ketersediaan
dan kelengkapan fasilitas
Fasilitas merupakan sarana bantu bagi
instansi dan tenaga kesehatan dalam menyelenggarakan pelayanan kepada pasien di
rumah sakit. Keadaan fasilitas yang memadai akan membantu terhadap
penyelenggaraan pelayanan kepada pasien.
F.
Prinsip
Pelayanan Prima Di Rumah Sakit
Bentuk bentuk pelayanan prima yang seharusnya diberikan kepada masyarakat
yang berjumlah puluhan/bahkan ratusan orang setiap hari oleh Rumah Sakit,
secara teknis berbeda satu sama lain. Dari sekian ribu pelayanan itu, hanya
sedikit yang terhitung sebagai pelayanan prima, karena memenuhi beberapa
prinsip, yaitu:
1. Mengutamakan
Pelanggan (Pasien)
Pelanggan (pasien), sebenarnya adalah pemilik
dari pelayanan yang diberikan di Rumah Sakit. Tanpa pelanggan pelayanan tidak
pernah ada, dan pelanggan memiliki kekuatan untuk menghentikan atau meneruskan
pelayanan itu.
Mengutamakan Pelanggan diartikan sebagai
berikut:
a. Prosedur
pelayanan seharusnya disusun demi kemudahan dan kenyamanan pelanggan (pasien),
bukan untuk memperlancar pekerjaan petugas Rumah Sakit.
b. Jika
pelayanan ada pelanggan internal dan pelanggan external, maka harus ada
prosedur yang berbeda dan terpisah keduanya. Pelayanan bagi pelanggan external
harus diutamakan dari pada pelanggan internal.
c. Jika
pelayanan memiliki pelanggan tak langsung selain langsung, maka dipersiapkan
jenis-jenis layanan yang sesuai untuk keduanya. Pelayanan bagi pelayan tak
langsung perlu lebih diutamakan.
2. Sistem
yang Efektif
Proses pelayanan perlu dilihat sebagai
sebuah system yang nyata, yaitu tatanan yg memadukan hasil-hasil kerja dari
berbagai unit dalam organisasi Rumah Sakit. Jika perpaduan itu cukup baik,
pelanggan (pasien) tidak merasakan bahwa mereka telah berhadapan dengan
beberapa unit yang berbeda. Dari segi design pengembangan, setiap pelayanan
selayaknya memiliki prosedur yang memungkinkan perpaduan hasil kerja dapat
mencapai batas maximum.
Pelayanan juga perlu dilihat sebagai
sebuah system lunak (soft system), yaitu sebuah tatanan yang mempertemukan
manusia yang Satu dengan yang lain. Pertemuan itu tentu melibatkan
sentuhan-sentuhan emosi, perasaan, harapan, keinginan, harga diri, nilai, sikap
dan perilaku. Agar kita dapat merebut hati konsumen, proses pelayanan sebagai
“soft system” harus berjalan efektif, artinya mampu mengungkit munculnya
kebanggaan pada diri petugas dan membentuk citra positif di mata pelanggan.
3. Nilai
semangat melayani dengan hati
a. Semangat
sebagai abdi Tuhan.
Ketika kita melayani orang lain sebenarnya
kita sedang melayani para utusan Tuhan yang dikirimkan secara khusus ke rumah
sakit kita. Kita akan melayani mereka dengan penuh cinta kasih bila kita merasa
sebagai hamba yang dikasihiNya, tanpa merasa kita sebagai hamba yang dikasihi
Allah maka mustahil kita mampu mengasihi orang lain
b. Semangat
tanpa pamrih.
Ketika melayani, kita harus memberikannya
secara tulus. Jangan melayani karena ada motif-motif tertentu. Memperoleh
keuntungan materi, biar lebih dikenal orang atau keinginan menonjolkan diri.
Jadi, ketika ada orang yang sedang membutuhkan sesuatu, kita berusaha melayani
orang tersebut dengan penuh keikhlasan sebisa kita, bukan semau kita.
c. Semangat
tidak pilih-pilih.
Pelayanan yang baik diberikan untuk semua
orang tanpa memandang tingkat ekonomi, jabatan, suku, agama atau jenis kelamin.
Kita juga diharapkan tidak pilih-pilih terhadap pelayanan yang kita lakukan.
Meski pelayanan itu bukan yang disukai tetapi kita tetap mengerjakannya dengan
senang hati.
d. Semangat
memberi
Melayani berarti memberikan sesuatu bukan
mendapatkan sesuatu. Jangan pernah berpikir, kita akan mendapat apa dari
pelayanan yang kita berikan lebih-lebih berharap keuntungan. Sebab jika
demikian yang terjadi, kita hanyalah pedagang, yang selalu menghitung untung dan
rugi.
4. Perbaikan
Berkelanjutan
Konsumen juga pada hakikatnya belajar
mengenali kebutuhan dirinya dari proses pelayanan petugas Rumah Sakit.
Berdasarkan catatan petugas Rumah Sakit, semakin baik mutu pelayanan yang
diberikan, kadang-kadang akan menghasilkan konsumen yang semakin sulit untuk
dipuaskan, karena tuntutannya yang semakin tinggi dan meluas.
5. Memberdayakan
Pelanggan
Memberdayakan pelanggan berarti menawarkan
jenis-jenis layanan yang dapat digunakan sebagai sumber daya atau perangkat
tambahan oleh pelanggan untuk menyelesaikan persoalan hidupnya sehari-hari.
Ketiga jenis pelayanan diatas memiliki peran yang sama penting dalam
menciptakan citra keprimaan dari seluruh rangkaian proses pelayanan.
6. Pelayanan
Menurut Prioritas Pengembangan
Para petugas Rumah Sakit semuanya sudah
memahami bahwa memuaskan pelanggan memang tidak mudah, dan untuk merebut hati
pelanggan perlu melakukan pengembangan dengan menambah beberapa jenis layanan
baru yang lebih menarik. Hanya saja pengembangan itu perlu terencana dengan
baik agar diperoleh hasil yang optimum.
G.
Tahapan
Pelayanan Prima Di Rumah Sakit
Proses pelayanan di Rumah sakit bukan saja meliputi kegiatan- kegiatan
pada saat pasien bertatap muka secara langsung dengan petugas pelayanan
(perawat dan dokter).
Pelayanan prima adalah pelayanan paripurna, sebelum petugas bertatap muka
dengan pasien mereka harus mempersiapkan banyak hal, seperti menata ruangan,
menyiapkan bahan dan peralatan, menyiapkan arsip/record pasien. Setelah selesai
tatap muka dengan pelanggan, petugas masih harus berbenah, merekam data
pelayanan, menyusun laporan, menyimpan arsip, mengganti peralatan, dll.
Dengan demikian, berdasarkan tahapan pelayanan, pelayanan di Rumah Sakit
dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
1.
Pelayanan pratransaksi: kegiatan pelayanan
sebelum melakukan tatap muka dengan pasien.
2.
Pelayanan saat transaksi: kegiatan pelayanan
pada saat tatap muka dengan pasien.
3.
Pelayanan Pasca Transaksi: kegiatan pelayanan
sesudah tatap muka dengan pasien.
H.
Perilaku
Layanan Prima Di Rumah Sakit
1. Self
Esteem : Penghargaan terhadap diri sendiri. Dengan pandai menghargai dirinya
sendiri, akan berpikiran dan bertindak positif terhadap orang lain, sehingga
pandai menghargai pelanggan (pasien) dengan baik.
2. Exceed
Expectations (melampaui harapan) : Memberikan pelayanan dengan melebihi apa
yang diharapkan pelanggan (mematuhi dan melebihi standar) secara konsisten.
3. Ricovery
(pembenahan) : Adanya keluhan pelanggan jangan dianggap sebagai suatu beban
masalah namun suatu peluang untuk memperbaiki atau meningkatkan diri. Apa
masalahnya, dengarkan pelanggan, kumpulkan data, bagaimana pemenuhan
standarnya.
4. Vision
(visi) : Pelayanan yang prime berkaitan erat dengan visi organisasi. Dengan
budaya kerja atau budaya organisasi (Corporate Culture) atau Budaya mutu
(Quality Culture) dalam pelayanan prima, visi, impian akan dapat diwujudkan
sepenuhnya seperti yang diharapkan.
5. Improve
(Perbaikan atau peningkatan) : Peningkatan mutu pelayanan secara terus menerus
(Continous Improvement) dalam memberikan kepuasan kepada pelanggan agar tidak
ditinggalkan. Karena para pesaing ingin berusaha meningkatkan diri untuk
menarik hati pelanggan. Meningkatkan diri dapat dengan pendidikan dan latihan
sebagai modal, membuat standar pelayanan lebih tinggi, menyesuaikan tuntutan
lingkungan dan pelnggan, dan merencanakan pelayanan yang baik bersama karyawan
sejak awal.
6. Care
(perhatian) : Perhatian atau perlakuan terhadap pelanggan dengan baik dan
tulus. Memenuhi kebutuhannya, memperlakukannya dengan baik, menjaga dan
memenuhi standar mutu sesuai dengan standar ukuran yang diharapkan.
7. Empower
(Pemberdayaan) : Memberdayakan agar karyawan mampu bertanggung jawab dan
tanggap terhadap persoalan dan tugasnya dalam upaya peningkatan pelayanan yang
bermutu.
I.
Tindakan
Nyata Pelayanan Prima Di Rumah Sakit
1. Menyapa
dan memberi salam kepada pasien
2. Ramah
dan senyum manis kepada pasien
3. Cepat
dan tepat waktu dalam bertindak
4. Mendengar
dengan sabar dan aktif keluhan pasien
5. Penampilan
yang rapi dan bangga akan penampilan
6. Terangkan
apa yang anda lakukan
7. Jangan
lupa mengucapkan terima kasih
8. Perlakukan
teman sekerja seperti pelanggan
9. Mengingat
nama pelanggan
J.
Modal
Dasar Perawat Dalam Pelayanan Prima
Beberapa modal dasar perawat dalam melaksanakan pelayanan prima (Tauchid,
2001):
1. Profesional
dalam bidang tugasnya.
Keprofesionalan perawat dalam memberikan
pelayanan dilihat dari kemampuan perawat berinspirasi, menjalin kepercayaan
dengan pasien, mempunyai pengetahuan yang memadai dan kapabilitas terhadap
pekerjaan (Priharjo, 1995).
2. Mempunyai
kemampuan dalam berkomunikasi.
Keberhasilan perawat dalam membentuk
hubungan dan situasi perawatan yang baik antara lain ditentukan oleh
kemampuannya berhubungan dengan orang lain, berkomunikasi dan bekerja sama
(Gunarsa, 1995).
3. Memegang
teguh etika profesi
Asuhan keperawatan yang professional
sangat tergantung pada bagaimana perawat dalam melaksanakan tugas-tugasnya
selaku tenaga profesional berusaha memegang teguh etika profesi.
4. Mempunyai
emosi yang stabil
Seorang perawat diharapkan mempunyai emosi
yang masak, stabil dalam menjalankan profesinya. Jika perawat dalam menjalankan
tugasnya diiringi dengan ketenangan, tanpa adanya gejolak emosi, maka akan
memberikan pengaruh yang besar pada diri pasien.
5. Percaya
Diri
Kepercayaan diri menjadi modal bagi
seorang perawat karena perawat dituntut untuk bersikap tegas, tidak boleh
ragu-ragu dalam melaksanakan dan memenuhi kebutuhan pasien (Gunarsa, 1995).
6. Bersikap
wajar
Sikap yang wajar dan tidak dibuat-buat
akan memberikan makna yang besar bagi pasien bahwa perawat dalam melaksanakan
tugasnya berdasarkan ketentuan keperawatan dan profesionalismenya.
7. Berpenampilan
memadai
Perawat dengan penampilan yang bersih,
seragam yang bersih, dengan penampilan yang segar dalam melakukan tugas-tugas
perawatan diharapkan mampu mengubah suasana hati pasien (Gunarsa, 1995).
K.
Hal –
Hal Yang Perlu Dikembangkan Perawat Dalam Pelayanan Prima
1. Komunikasi
Efektif
Dalam melaksanakan tugasnya, perawat senantiasa melakukan komunikasi dengan
pasien. Oleh karena itu perawat dituntut untuk mampu melakukan komunikasi
secara efektif agar pasien dapat menerima informasi yang diberikan oleh perawat
dengan tepat. Selain dengan pasien, komunikasi juga dilakukan antar paramedis.
Komunikasi yang baik antar paramedis tidak hanya memperbaiki pelayanan yang
diterima pasien tetapi juga menjaga pasien dari bahaya potensial akibat salah
komunikasi (Sarafino, 1990).
2. Mendengarkan
Aktif
Mendengarkan secara aktif mempunyai makna
bahwa mendengar bukan untuk menjawab akan tetapi mendengar untuk mengerti dan
memahami. Dengan demikian jika perawat dalam mendengarkan keluhan pasien
tentang penyakitnya, maka perawat akan dapat mengerti bahwa apa yang dikeluhkan
merupakan kondisi yang sebenarnya, sehingga respon yang diberikan perawat
terasa tepat dan benar bagi pasien, karena ekspresi yang muncul baik verbal
maupun non verbal dari perawat sesuai dengan keluhan dan kondisi pasien.
3. Empati
Empati merupakan kemampuan dan kesediaan
untuk mengerti, memahami dan ikut merasakan
apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan dan apa yang diinginkan pasien.
Di dalam empati perawat diharapkan akan mengerti dunia pasien, alam pikiran
pasien atau internal frame of reference. Di dalam empati perawat harus masuk ke
dalam alur pemikiran dan perasaan pasien tanpa terbawa oleh pasien.
L.
Upaya
Memperbaiki Pelayanan Kesehatan
Menurut Fahriadi, SKM, M.KM ada beberapa hal yang harus kita tanamkan
dalam pikiran kita agar bisa memberikan pelayanan yang prima. Yaitu tentang
pentingnya pasien bagi para tenaga kesehatan. Hal tersebut adalah sebagai
berikut:
1.
Pelanggan (pasien) adalah tamu kita yang
terpenting di tempat kerja, dia tidak
tergantung kepada kita, tapi kitalah yang tergantung kepada mereka.
2.
Kita tidak memberikan pertolongan dengan
melayaninya, Dialah yang memberikan pertolongan dengan memberi kesempatan
bekerja pada kita yaitu dengan melayani kepentingannya.
3.
Keluhan pasien adalah suatu pemberian hadiah
yang harus diterima dengan tulus (Complaint is a give).
4.
Lakukanlah apa yang dapat anda lakukan
dengan apa yang anda miliki ditempat anda berada.
Upaya yang bisa di lakukan oleh pihak
rumah sakit adalah membentuk tim untuk menyelediki bagaimana pelayanan
kesehatan di rumah sakit tersebut. Lalu mengevaluasinya dan memberikan tindak
lanjut
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pelayanan prima merupakan
terjemahan istilah ”excellent service” yang secara harfiah berarti pelayanan
terbaik atau sangat baik. Disebut sangat baik atau terbaik karena sesuai dengan
standar pelayanan yang berlaku atau dimiliki instansi pemberi pelayanan.
Hakekat pelayanan publik adalah pemberian pelayanan prima kepada masyarakat
yang merupakan perwujudan kewajiban aparatur pemerintah sebagai abdi
masyarakat.
Secara sederhana, pelayanan prima
(excellent service) dapat diartikan sebagai suatu pelayanan yang terbaik dalam
memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan.
Dengan kata lain, pelayanan prima
merupakan suatu pelayanan yang memenuhi standar kualitas. Pelayanan yang
memenuhi standar kualitas adalah suatu pelayanan yang sesuai dengan harapan dan
kepuasan pelanggan/masyarakat.
B.
Saran
Untuk
mendapatkan manfaat yang sempurna dari makalah yang kelompok buat ini, hendaknya pembaca memberikan kritik dan saran serta melakukan
pengkajian ulang (diskusi) terhadap penulisan sehingga kelompok terhindar dari
kekeliruan.
DAFTAR
PUSTAKA
PDF JURNAL PSIKOLOGI oleh Hadjam, M Noor Rochman. 2001.
Efektivitas
Pelayanan Prima Sebagai Upaya Meningkatkan Pelayanan Di Rumah Sakit (Perspektif
Psikologi). Yogyakarta : Penerbit UGM
http://www.pelayanan-prima-pelayanan-prima.html
http://www.makalah-pelayanan-prima-service_15.html
http://www.pelayanan-prima-sebuah-rumah-sakit.html
http://seaparadisee.blogspot.co.id/2014/05/pelayanan-prima-rumah-sakit.html
No comments:
Post a Comment