Saturday, February 18, 2017

KOMUNIKASI EFEKTIF DENGAN METODE S-BAR

MAKALAH DOKUMENTASI KEPERAWATAN
TENTANG
KOMUNIKASI EFEKTIF DENGAN METODE S-BAR

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Komunikasi yang tidak efektif akan menimbulkan risiko kesalahan dalam pemberian asuhan keperawatan. Sebagai contoh kesalahan dalam pemberian obat ke pasien, kesalahan melakukan prosedur tindakan perawatan. Mencegah terjadinya risiko kesalahan pemberian asuhan keperawatan maka perawat harus melaksanakan sasaran keselamatan pasien : komunikasi efektif di Instalasi Rawat Inap. Komunikasi efektif dapat dilakukan antar teman sejawat (dokter dengan dokter/ perawat dengan perawat) dan antar profesi (perawat dengan dokter).

Kualitas suatu rumah sakit sebagai institusi yang menghasilkan produk teknologi jasa kesehatan sudah tentu tergantung juga pada kualitas pelayanan medis dan pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien (Tjiptono,2001).  Menurur Walker, Evan dan Robbson (2003), komunikasi efektif dalam praktik keperawatan profesional merupakan unsur utama bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan dalam mencapai hasil yang optimal. Kegiatan keperawatan yang memerlukan komunikasi efektif adalah saat serah terima tugas (handover) dan komunikasi lewat telepon,

B.     Tujuan
-          Mengetahui Pengertian Dari Komunikasi Dengan Metode S-BAR
-          Mengetahui Tujuan Dari Komunikasi Dengan Metode S-BAR
-          Mengetahui Cara Mengaplikasikan Komunikasi Dengan Metode S-BAR









BAB II
ISI
KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN METODE S-BAR
A.    Defenisi
Komunikasi S-BAR adalah komunikasi dengan menggunakan alat yang logis untuk mengatur informasi sehingga dapat ditransfer kepada orang lain secara akurat dan efisien. Komunikasi dengan menggunakan alat terstruktur S-BAR (Situation, Background, Assesment, Recomendation) untuk mencapai ketrampilan berfikir kritis, dan menghemat waktu. (NHS, 2012).
S-BAR adalah metode terstruktur untuk mengkomunikasikan informasi penting yang membutuhkan perhatian segera dan tindakan berkontribusi terhadap eskalasi yang efektif dan meningkatkan keselamatan pasien. SBAR juga dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan serah terima antara shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau berbeda. Melibatkan semua anggota tim kesehatan untuk memberikan masukan ke dalam situasi pasien termasuk memberikan rekomendasi. SBAR memberikan kesempatan untuk diskusi antara anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya.

B.     Tujuan Komunikasi Efektif S-BAR
Dengan berkomunikasi secara efektif dapat menjalin saling pengertian dengan teman sejawat perawat atau perawat dengan dokter karena komunikasi memiliki manfaat, antara lain adalah :
1.      Tersampaikannya gagasan atau pemikiran kepada orang lain dengan jelas sesuai dengan yang dimaksudkan.
2.      Adanya saling kesefahaman dalam suatu permasalahan, sehingga terhindar dari salah persepsi.
3.      Memberikan sesuatu pesan kepada pihak tertentu, dengan maksud agar pihak yang diberi informasi dapat memahaminya. 


C.    Keuntungan Komunikasi Efektif S-BAR
1.      Kekuatan perawat berkomunikasi secara efektif
2.      Dokter percaya pada analisa perawat karena menunjukkan perawat paham akan kondisi pasien
3.      Memperbaiki komunikasi = memperbaiki keamanan pasien

D.    Pengaplikasian Komunikasi Metode S-BAR
Metode SBAR sama dengan SOAP yaitu Situation, Background, Assessment, Recommendation. Komunikasi efektif SBAR dapat diterapkan oleh semua tenaga kesehatan, sehingga dokumentasi tidak terpecah sendiri-sendiri. Diharapkan dokumentasi catatan perkembangan pasien terintegrasi dengan baik. sehingga tenaga kesehatan lain dapat mengetahui perkembangan pasien.

E.     Penjabaran S-BAR
1.      Situation : Bagaimana situasi yang akan dibicarakan/ dilaporkan?
§  Mengidentifikasi nama diri petugas dan pasien.
§  Diagnosa medis
§  Apa yang terjadi dengan pasien yang memprihatinkan

2.      Background : Apa latar belakang informasi klinis yang berhubungan dengan situasi?
§  Obat saat ini dan alergi
§  Tanda-tanda vital terbaru
§  Hasil laboratorium : tanggal dan waktu tes dilakukan dan hasil tes sebelumnya untuk perbandingan
§  Riwayat medis
§  Temuan klinis terbaru

3.      Assessment : berbagai hasil penilaian klinis perawat
§  Apa temuan klinis?
§  Apa analisis dan pertimbangan perawat
§  Apakah masalah ini parah atau mengancam kehidupan?

4.      Recommendation : apa yang perawat inginkan terjadi dan kapan?
§  Apa tindakan / rekomendasi yang diperlukan untuk memperbaiki masalah?
§  Apa solusi yang bisa perawat tawarkan dokter?
§  Apa yang perawat butuhkan dari dokter untuk memperbaiki kondisi pasien?
§  Kapan waktu yang perawat harapkan tindakan ini terjadi?

F.     Lanjutan
Sebelum serah terima pasien, perawat harus melakukan :
-          Perawat mendapatkan pengkajian kondisi pasien terkini.
-          Perawat mengkumpulkan data-data yang diperlukan yang berhubungan dengan kondisi pasien yang akan dilaporkan.
-          Perawat memastikan diagnosa medis pasien dan prioritas masalah keperawatan yang harus dilanjutkan.
-          Perawat membaca dan pahami catatan perkembangan terkini & hasil pengkajian perawat shift sebelumnya.
-          Perawat menyiapkan medical record pasien termasuk rencana perawat harian.













G.    Contoh Komunikasi efektif S-BAR
Situation (S) :
Nama : Tn.A umur 35 tahun, tanggal masuk 8 Desember 2013 sudah 3 hari perawatan, DPJP : dr Setyoko, SpPD, diagnosa medis : Gagal ginjal kronik.
Masalah keperawatan:
§  Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit lebih
§  Perubahan kebutuhan nutrisi kurang


Background (B) :
-          Pasien bedrest total , urine 50 cc/24 jam, balance cairan 1000 cc/ 24 jam.
-          Mual tetap ada selama dirawat, ureum 300 mg/dl.
-          Pasien program HD 2x seminggu Senin dan Kamis.
-          Terpasang infuse NaCl 10 tetes/menit
-          Dokter sudah menjelaskan penyakitnya tentang gagal ginjal kronik
-          Diet : rendah protein 1 gram
Assessment (A) :
-          Kesadaran composmentis, TD 150/80 mmHg, Nadi 100x/menit, suhu 37 0C, RR 20 x/menit, oedema pada ekstremitas bawah, tidak sesak napas, urine sedikit, eliminasi faeses baik.
-          Hasil laboratorium terbaru : Hb 9 mg/dl, albumin 3, ureum 237 mg/dl
-          Pasien masil mengeluh mual.
Recommendation (R) :
-          Awasi balance cairan
-          Batasi asupan cairan
-          Konsul ke dokter untuk pemasangan dower kateter
-          Pertahankan pemberian pemberian deuritik injeksi furosemit 3 x 1 amp
-          Bantu pasien memenuhi kebutuhan dasar pasien
-          Jaga aseptic dan antiseptic setiap melakukan prosedur
Contoh komunikasi efektif SBAR antar perawat dengan dokter lewat telepon :

Situation (S) :
-          Selamat pagi Dokter, saya Fuadil Ulum perawat Interne
-          Melaporkan pasien nama Tn A mengalami penurunan pengeluaran urine 40 cc/24 jam, mengalami sesak napas.
Background (B) :
-          Diagnosa medis gagal ginjal kronik, tanggal masuk 8 Desember 2013, program HD hari Senin-Kamis
-          Tindakan yang sudah dilakukan posisi semi fowler, sudah terpasang dower kateter, pemberian oksigen 3 liter/menit 15 menit yang lalu.
-          Obat injeksi diuretic 3 x 1 amp
-          TD 150/80 mmHg, RR 30 x/menit, Nadi 100 x/menit, oedema ekstremitas bawah dan asites
-          Hasil laboratorium terbaru : Hb 9 mg/dl, albumin 3, ureum 237 mg/dl
-          Kesadaran composmentis, bunyi nafas rongki.
Assessment (A) :
-          Saya pikir masalahnya gangguan pola nafas dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit lebih
-          Pasien tampak tidak stabil
Recommendation (R) :
-          Haruskah saya mulai dengan pemberian oksigen NRM
-          Apa advise dokter? Perlukah peningkatan diuretic atau syringe pump?
-          Apakah dokter akan memindahkan pasien ke ICU?




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Komunikasi efektif adalah unsur utama dari sasaran keselamatan pasien karena komunikasi adalah penyebab pertama masalah keselamatan pasien (patient safety). Komunikasi yang efektif yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dipahami oleh penerima mengurangi kesalahan dan meningkatkan keselamatan pasien. Maka dalam komunikasi efektif harus dibangun aspek kejelasan, ketepatan, sesuai dengan konteks baik bahasa dan informasi, alur yang sistematis, dan budaya.

Kerangka komunikasi yang efektif yang digunakan adalah komunikasi model SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation). Metode ini digunakan secara efektif saat serah terima antara shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau berbeda. SBAR juga digunakan untuk diskusi antara anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya (perawat – dokter).

B.     Saran
Dengan komunikasi efektif diharapkan tidak terjadi kesalahan dalam pemberian asuhan ke pasien. Komunikasi efektif dengan metode SBAR akan terbentuk catatan dokumentasi tidak terpecah sendiri-sendiri. Sehingga disarankan dokumentasi catatan perkembangan pasien terintegrasi dengan baik, sehingga tenaga kesehatan lain dapat mengetahui perkembangan pasien.





DAFTAR PUSTAKA
1.       Depkes RI. (2006). Panduan nasional keselamatan pasien rumah sakit (patient safety). Jakarta: Bakti Husada.

2.       Permenkes RI No 1691 (2010). Keselamatan pasien rumah sakit. Jakarta : Menteri Kesehatan RI.
                                                                                                              
3.      Materi komunikasi efektif. Diakses http://galericampuran.blogspot.com/2013/03/materi-komunikasi-efektif.html

4.      Joint Commission Accreditation of Health Organization. (2010). National patient safety goals.

5.      Rofii, Muhamad. (2013). Komunikasi efektif dengan SBAR. Disampaikan dalam pelatihan di RSUD Tugurejo Semarang tanggal 21 November 2013.


No comments:

Post a Comment