Saturday, February 18, 2017

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. M DENGAN POST OPERASI SECTIO CAESAREA DIRUANG RAWAT INAP KEBIDANAN RUMAH SAKIT ACHMAD MOECHTAR BUKITTINGGI TAHUN 2015

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. M DENGAN POST OPERASI SECTIO
CAESAREA DIRUANG RAWAT INAP KEBIDANAN RUMAH SAKIT
ACHMAD MOECHTAR BUKITTINGGI
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah sehingga kami dapat meyelesaikan tugas akhir praktek klinik keperawatan maternitas II ini tepat pada waktunya.
            Dalam penyelesaian tugas ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, antara lain dosen dan pembimbing puskesmas serta teman - teman yang tidak dapat disebutkan satu persatu namanya, yang telah banyak memberikan sumbangan, masukan, dukungan, dalam penyelesaian tugas akhir ini. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya.
            Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tugas akhir ini belum sempurna. Untuk itu segala saran dan kritikan yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan dari semua pihak, demi kesempurnaan bagi penulisan berikutnya.
            Semoga dengan adanya tugas akhir ini akan dapat memberikan manfaat yang besar bagi penulis khususnya dan bagi pembaca semua pada umumnya.

Bukittinggi, Desember 2015

        Penulis




















DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I     : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang...................................................................................... 1
B.     Tujuan.................................................................................................... 2
C.     Manfaat................................................................................................. 3

BAB II   : TINJAUAN TEORITIS      
I.       Konsep Dasar
A.    Definisi................................................................................................... 4
B.     Anatomi Fisiologi................................................................................... 4
C.     Etiologi................................................................................................... 7
D.    Patofisiologi/WOC................................................................................. 9
E.     Manifestasi Klinis................................................................................... 12
F.      Pemeriksaan Diagnostik......................................................................... 12
G.    Penatalaksanaan...................................................................................... 13
H.    Komplikasi.............................................................................................. 14
II.       Asuhan Keperawatan
A.    Pengkajian.............................................................................................. 14
B.     Diagnosa Keperawatan........................................................................... 18
C.     Intervensi................................................................................................ 19
D.    Implementasi.......................................................................................... 26
E.     Evaluasi.................................................................................................. 26

BAB III : TINJAUAN KASUS
A.    Pengkajian.............................................................................................. 27
B.     Diagnosa Keperawatan........................................................................... 33
C.     Intervensi................................................................................................ 34
D.    Implementasi.......................................................................................... 38
E.     Evaluasi.................................................................................................. 38

BAB IV : PEMBAHASAN
A.    Pengkajian.............................................................................................. 42
B.     Diagnosa Keperawatan........................................................................... 43
C.     Intervensi................................................................................................ 45
D.    Implementasi.......................................................................................... 45
E.     Evaluasi.................................................................................................. 46

BAB V : PENUTUP
A.    Kesimpulan............................................................................................. 47
B.     Saran....................................................................................................... 48

DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Angka kematian langsung pada operasi sectio caesaria (SC) adalah 5,8 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kesakitan sekitar 27,3% dibandingkan dengan persalinan normal hanya sekitar 9 per 1000 kejadian. WHO (World Health Organization) menganjurkan operasi SC hanya sekitar 10 – 15% dari jumlah total kelahiran. Anjuran WHO tersebut tentunya didasarkan pada analisis resiko – resiko yang muncul akibat SC. Baik resiko bagi ibu maupun bayi (Nakita, 2009).
Sectio caesaria berarti bahwa bayi dikeluarkan dari uterus yang utuh melalui operasi pada abdomen. Di Negara – Negara maju, frekuensi operasi SC berkisar antara 1,5% sampai dengan 7% dari semua persalinan (Sarwono, 1999). Angka sectio caesaria meningkat dari 5% pada 25 tahun yang lalu menjadi 15%. Peningkatan ini sebagian disebabkan oleh “mode”, sebagian karena ketakutan timbul perkara jika tidak dilahirkan bayi yang sempurna, sebagian lagi karena pola kehamilan, wanita menunda kehamilan anak pertama dan membatasi jumlah anak (Jensen, 2002).
Di Negara berkembang seperti di Indonesia kejadian operasi SC yang semakin banyak issue, tetapi masih ada suatu indikator yang dijadikan patokan masyarakat. Dari data yang ada pada tahun 1975, di jaman operasi SC masih jarang dilakukan, angka kematian ibu yang melahirkan sekitar 30 orang setiap 1000 orang ibu yang melahirkan. Melalui keseriusan pemerintah untuk menekan angka kematian ibu terus di upayakan sehingga pada tahun 1996 mencanangkan “ Gerakan Sayang Ibu (GSI)“ dan mematok angka 2,25% dari semua persalinan sebagai target nasional untuk menurunkan angka kematian itu pada akhir tahun 1999 (Cindy, dkk, 2005).
Dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan pada masyarakat perlu dikembangkan, salah satunya adalah pelayanan keperawatan pada ibu post partum. Umumnya pada beberapa negara berkembang seperti Indonesia, angka kematian ibu yang mengalami persalinan masih tinggi. Penyebab terbesar kematian ibu pada persalinan adalah karena komplikasi dan perawatan pasca persalinan yang tidak baik. Oleh karena itu, pelayanan keperawatan pada ibu post partum sangat diperlukan dan perlu mendapatkan perhatian yang utama untuk menurunkan angka kematian ibu post partum akibat komplikasi.
Perawat harus memahami hal tersebut, harus mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien post operasi SC. Melakukan pengkajian pada pasien, menentukan diagnosa yang bisa atau yang mungkin muncul, menyusun rencana tindakan, dan mengimplementasikan rencana tersebut, serta mengevaluasi hasilnya. Pasien post operasi tidak hanya membutuhkan obat – obatan dari dokter saja, tetapi sangat penting mendapatkan asuhan keperawatan yang memadai selama perawatan di rumah sakit.

B.     Tujuan
a.      Tujuan Umum
Setelah melakukan praktek  di RSUD. Dr. Achmad Moechtar diharapkan mahasiswa D-III Keperawatan STIKes Perintis Sumbar mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan pada Ny. M dengan Post Partum Sectio Caesaria.
b.      Tujuan Khusus
1.      Mahasiswa mampu melakukan Pengkajian pada Ny. M dengan post partum Sectio Caesaria di Rumah Sakit Dr. Achmad Moechtar Bukittinggi.
2.      Mahasiswa mampu menegakkkan Diagnosa keperawatan pada Ny. M dengan post partum Sectio Caesaria di Rumah Sakit Dr. Achmad Moechtar Bukittinggi.
3.      Mahasiswa mampu melakukan Intervensi keperawatan pada Ny. M dengan post partum Sectio Caesaria di Rumah Sakit Dr. Achmad Moechtar Bukittinggi.
4.      Mahasiswa mampu melakukan Implementasi keperawatan pada Ny. M dengan post partum Sectio Caesaria di Rumah Sakit Dr. Achmad Moechtar Bukittinggi.
5.      Mahasiswa mampu melakukan Evaluasi keperawatan pada Ny.M dengan post partum Sectio Caesaria di Rumah Sakit Dr. Achmad Moechtar Bukittinggi
6.      Mahasiswa mampu melakukan Pendokumentasian keperawatan pada Ny. M dengan post partum Sectio Caesaria di Rumah Sakit Dr. Achmad Moechtar Bukittinggi.

C.    Manfaat
a.       Bagi Penulis / Pemakalah
      Sebagai bahan untuk mengembangkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan post partum Sectio Caesaria dan melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan post partum Sectio Caesaria.

b.      Bagi Pembaca
Sebagai bahan referensi dan menambah pengetahuan  tentang post partum Sectio Caesaria dan Asuhan keperawatan pada klien dengan post partum Sectio Caesaria.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
I.     Konsep Dasar
A.    Defenisi
Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau suatu histerektomia untuk janin dari dalam rahim ( Mochtar, 1998 ). Sedangkan Wiknjosastro (2010), mengatakan bahwa Sectio caesaria (SC) adalah membuka perut dengan sayatan pada dinding perut dan uterus yang dilakukan secara vertical atau mediana, dari kulit sampai fasia (Wiknjosastro, 2010). Pendapat lain mengatakan bahwa SC adalah pembedahan untuk mengeluarkan anak dari rongga rahim dengan mengiris dinding perut dan dinding rahim (Angraini, 2008). SC adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus persalinan buatan, sehingga janin dilahirkan melalui perut dan dinding perut serta dinding rahim agar anak lahir dengan keadaan utuh dan sehat (Harnawatiaj, 2008). Prawirohardjo (2005), berpendapat bahwa SC adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Sectio Caesarea merupakan suatu pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus.
B.     Anatomi Fisiologi
http://image.slidesharecdn.com/anatomidanfisiologi-141103080523-conversion-gate01/95/anatomi-dan-fisiologi-reproduksi-wanita-5-638.jpg?cb=1415002026Menurut Syaifuddin  ( 2009 : 312 ) , anatomi fisiologi sistem reproduksi wanita : 
-          Genitalia eksterna 

                                Gambar : Genitalia Eksterna
Genitalia  eksterna  sering  dinamakan  vulva,  yang  artinya  pembungkus  atau penutup vulva terdiri dari : 
1.      Mons pubis 
Merupakan bantalan jaringan lemak yang terletak di atas simpisis pubis 
2.      Labia mayora 
Terdiri  dari  2  buah  lipatan  kulit  dengan  jaringan  lemak  di  bawah  nya  yang berlanjut  ke  bawah  sebagai  perluasan  dari  mons  pubis  dan  menyatu  menjadi perinium 
3.      Labia minora 
Merupakan  2  buah  lipatan  tipis  kulit  yang  terletak  di  sebelah  dalam  labia mayora, labia minora tidak memiliki lemak subkutan. 
4.      Klitoris
Merupakan  tonjolan  kecil  jaringan  erektif  yang  terletak  pada  titik  temu    labia minora  di  sebelah  anterior  ,  sebagai  salah  satu  zona  erotik  yang  utama  pada wanita. 
5.      Vestibulum 
Adalah rongga yang di kelilingi oleh labia minora . 
6.      Perinium 
Struktur  ini  membentang  dari  fourchette  (  titik  temu  labia  minora  di  sebelah posterioranus 
-          https://jago105.files.wordpress.com/2013/03/lk.jpgGenitalia interna



       Gambar : Genetalia Interna
1.      Vagina 
Merupakan  saluran  fibromuskuler  elastis  yang  membentang  ke  atas  dan ke belakang dari vulva hingga uterus. Dinding anterior vagina memiliki panjang 7,5 cm dan dinding posteriornya 9 cm.
Fungsi vagina :
- Lintasan bagi spermatozoa 
- Saluran keluar bagi janin dan produk pembuahan lainnya saat persalinan
- Saluran keluar darah haid 
2.      Uterus 
Berbentuk  seperti  buah  advokat,  sebesar  telur  ayam.  Terdiri  dari  fundus  uteri, korpus  uteri  dan  serviks  uteri.  Korpus  uteri  merupakan  bagian  uterus  terbesar dan sebagai tempat janin berkembang.
Uterus terdiri dari :
- Fundus uteri
- Korpus uteri
Fungsi uterus adalah :
·         Menyediakan  tempat  yang  sesuai  bagi  ovum  yang  suadah  di  buahi  untuk menanamkan diri.
·         Jika  korpus  luteum  tidak  berdegenerasi,  yaitu  jika  korpus  luteum dipertahankan  oleh  kehamilan,  maka  estrogen  akan  terus  di  produksi sehingga  kadar  nya  tetap  berada  di  atas  nilai  ambang  perdarahan  haid  dan amenorea merupakan salah satu tanda pertama untuk kehamilan.
·         Memberikan perlindungan dan nutrisi pada embrio atau janin sampai matur.
·         Mendorong keluar janin dan plasenta pada persalinan.
·         Mengendalikan  perdarahan  dari  tempat  perlekatan  plasenta  melalui kontraksi otot-otot. 
3.      Tuba fallopi 
Disebut  juga  dengan  oviduct,  saluran  ini  terdapat  pada  setiap  sisi  uterus  dan membentang dari kornu uteri ke arah dinding lateral pelvis.
4.      Ovarium 
Merupakan kelenjar kelamin. Ada 2 buah ovarim  yang masing-masing terdapat pada  tiap  sisi  dan  berada  di  dalam  kavum  abdomen  di  belakang  ligamentum latum  dekat  ujung  fibria  tuba  falopi.Fungsi ovarium  adalah  untuk  produksi hormon dan ovulasi.
C.    Etiologi
Manuaba (2002), indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur uteri iminen, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan indikasi dari janin adalah fetal distres dan janin besar melebihi 4.000 gram. Dari beberapa faktor sectio caesarea diatas dapat diuraikan beberapa penyebab sectio caesarea sebagai berikut:
a.       CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion )
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan secara alami. Tulang-tulang panggul merupakan susunan beberapa tulang yang membentuk rongga panggul yang merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin ketika akan lahir secara alami. Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan alami sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Keadaan patologis tersebut menyebabkan bentuk rongga panggul menjadi asimetris dan ukuran-ukuran bidang panggul menjadi abnormal.
b.      PEB (Pre-Eklamsi Berat)
Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah perdarahan dan infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling penting dalam ilmu kebidanan. Karena itu diagnosa dini amatlah penting, yaitu mampu mengenali dan mengobati agar tidak berlanjut menjadi eklamsi.
c.       KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm di atas 37 minggu.
d.      Bayi Kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.
e.       Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu sulit bernafas.





f.       Kelainan Letak Janin
1.      Kelainan pada letak kepala
a)      Letak kepala tengadah
Bagian terbawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling rendah. Etiologinya kelainan panggul, kepala bentuknya bundar, anaknya kecil atau mati, kerusakan dasar panggul.
b)      Presentasi muka
Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian kepala yang terletak paling rendah ialah muka. Hal ini jarang terjadi, kira-kira 0,27-0,5 %.
c)      Presentasi dahi
Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada pada posisi terendah dan tetap paling depan. Pada penempatan dagu, biasanya dengan sendirinya akan berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala.
2.      Letak Sungsang
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yakni presentasi bokong, presentasi bokong kaki, sempurna, presentasi bokong kaki tidak sempurna (Saifuddin, 2002).
D.    Patofisiologi / WOC
Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC).
 Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul masalah defisit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. Selain itu, dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah, dan saraf - saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah risiko infeksi.

                                 


PATHWAY SC

(Chepalo Pelvik Disproportion) (PreEklamsi Berat) (Ketuban Pecah Dini) (Bayi Kembar) (Faktor Hambatan Jalan Lahir) (Kelainan Letak Janin)

Tindakan SC
 


                   Anestesi                                                                                                                                                                                     Insisi
                                                                                                              
            Penurunan saraf
                  simpatis                                                                                                                          Perdarahan                                                                                                                                                                                   Luka
 

               Kondisi diri                                                                                                                      Regenerasi sel                                                                                                                                                      
                 menurun                                                                                                                          darah merah
 

MK :
Intoleransi Aktivitas
 
                                                                                                                                                       Penurunan Hb
MK :
Gangguan
Rasa nyaman
 
                               Ketidakmampuan
Eleminasi                                                                                                  Penurunan suplai
                                                                                                                                                     O2 dan Sirkulasi
MK :
Konstipasi
 
 

MK :
Gangguan
Pola tidur
 
MK :
Resiko cidera
 
                                                                                                                                                      

MK :
Kurang Pengetahuan
 
 



Sumber : 1. Prawirohardjo, 2005
   2. Manuaba (2002)


E.     Manifestasi Klinis
Persalinan dengan Sectio Caesaria , memerlukan perawatan yang lebih koprehensif yaitu: perawatan post operatif dan perawatan post partum.Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges (2001),antara lain :
a.       Nyeri akibat ada luka pembedahan
b.      Adanya luka insisi pada bagian abdomen
c.       Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
d.      Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea tidak banyak)
e.       Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800ml
f.       Emosi labil / perubahan emosional dengan mengekspresikan ketidakmampuan menghadapi situasi baru
g.      Biasanya terpasang kateter urinarius
h.      Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
i.        Pengaruh anestesi dapat menimbulkan mual dan muntah
j.        Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
k.      Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka bisanya kurang paham prosedur
l.        Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan.

F.     Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan post partum menurut Siswosudarmo,2008 :
a.      Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
b.      Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
c.       Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
d.      Urinalisis / kultur urine
e.       Pemeriksaan elektrolit.

G.    Penatalaksanaan
Penatalakanaan yang diberikan pada pasien Post SC menurut (Prawirohardjo, 2007) diantaranya:
1.      Penatalaksanaan secara medis
a.       Analgesik diberikan setiap 3 – 4 jam atau bila diperlukan seperti Asam Mefenamat, Ketorolak, Tramadol.
b.      Pemberian tranfusi darah bila terjadi perdarahan partum yang hebat.
c.       Pemberian antibiotik seperti Cefotaxim, Ceftriaxon dan lain-lain. Walaupun pemberian antibiotika sesudah Sectio Caesaria efektif dapat dipersoalkan, namun pada umumnya pemberiannya dianjurkan.
d.      Pemberian cairan parenteral seperti Ringer Laktat dan NaCl.
2.      Penatalaksanaan secara keperawatan
a.       Periksa dan catat tanda – tanda vital setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan 30 menit pada 4 jam kemudian.
b.      Perdarahan dan urin harus dipantau secara ketat
c.       Mobilisasi
Pada hari pertama setelah operasi penderita harus turun dari tempat tidur dengan dibantu paling sedikit 2 kali. Pada hari kedua penderita sudah dapat berjalan ke kamar mandi dengan bantuan.
d.      Pemulangan
Jika tidak terdapat komplikasi penderita dapat dipulangkan pada hari kelima setelah operasi
H.    Komplikasi
Kemungkinan komplikasi dilakukannya pembedahan SC menurut Wiknjosastro (2002) :
1.      Infeksi puerperal
Komplikasi yang bersifat ringan seperti kenaikan suhu tubuh selama beberapa hari dalam masa nifas yang bersifat berat seperti peritonitis, sepsis.
2.      Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteria uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri.
3.      Komplikasi lain seperti luka kandung kemih, kurang kuatnya jaringan parut pada dinding uterus sehingga bisa terjadi ruptur uteri pada kehamilan berikutnya.

II.  Asuhan Keperawatan Teoritis
A.    Pengkajian
Pada pengkajian klien dengan sectio caesaria, data yang dapat ditemukan meliputi distress janin, kegagalan untuk melanjutkan persalinan, malposisi janin, prolaps tali pust, abrupsio plasenta dan plasenta previa.
1.      Identitas atau biodata klien
Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status perkawinan, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor register  , dan diagnosa keperawatan.
2.      Keluhan utama
Biasanya klien mengeluh sakit perut, perdarahan, nyeri pada luka jahitan, takut bergerak.

3.      Riwayat kesehatan
a)      Riwayat kesehatan dahulu:
Penyakit kronis atau menular dan menurun sepoerti jantung, hipertensi, DM, TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau abortus.
b)      Riwayat kesehatan sekarang :
Riwayat pada saat sebelun inpartu di dapatka cairan ketuban yang keluar pervaginan secara sepontan kemudian tidak di ikuti tanda-tanda persalinan.
c)      Riwayat kesehatan keluarga:
Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM, HT, TBC, penyakit kelamin, abortus, yang mungkin penyakit tersebut diturunkan kepada klien.
4.      Pola-pola fungsi kesehatan
a)      pola persepsi dan tata leksana hidup sehat
Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan cara pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga kebersihan tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan dirinya
b)      Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari keinginan untuk menyusui bayinya.
c)      Pola aktifitas
Pada pasien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya, terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat lelah, pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami kelemahan dan nyeri.

d)     Pola eleminasi
Pada pasien pos partum sering terjadi adanya perasaan sering /susah kencing selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema dari trigono, yang menimbulkan inveksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi karena penderita takut untuk melakukan BAB.
e)      Istirahat dan tidur
Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
f)       Pola hubungan dan peran
Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan orang lain.
g)      Pola penagulangan stres
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas
h)      Pola sensori dan kognitif
Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka janhitan dan nyeri perut akibat involusi uteri, pada pola kognitif klien nifas primipara terjadi kurangnya pengetahuan merawat bayinya
i)        Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi  perubahan konsep diri antara lain dan body image dan ideal diri
j)        Pola reproduksi dan sosial
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas.
5.      Pemeriksaan fisik
a)      Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat adanya cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan
b)      Leher
Kadang-kadang ditemukan adanya penbesaran kelenjar tioroid, karena adanya proses menerang yang salah
c)      Mata
Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kunuing
d)     Telinga
Biasanya bentuk telingga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya, adakah cairan yang keluar dari telinga.
e)      Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang ditemukan pernapasan cuping hidung
f)       Dada
Terdapat adanya pembesaran payu dara, adanya hiper pigmentasi areola mamae dan papila mamae
g)      Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa nyeri. Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.



h)      Genitalia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan menandakan adanya kelainan letak anak.
i)        Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena ruptur
j)        Ekstermitas
Pemeriksaan odema untuk mrlihat kelainan-kelainan karena membesarnya uterus, karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal.
k)      Tanda-tanda vital
Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi cepat, pernafasan meningkat, suhu tubuh turun.

B.     Diagnosa Keperawatan Dengan SC
Diagnosa yang mungkin muncul menurut ( doengoes marylin, 2001 ):
1.      Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan post op SC
2.      Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan trauma pembedahan post op SC.
3.      Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan/ luka post op
4.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi penyakit
5.      Resiko terjadinya cidera berhubungan dengan vasospasme dan peningkatan tekanan darah
6.      Konstipasi berhubungan dengan ketidakmampuan eleminasi
7.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kondisi diri menurun
8.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri atau ketidaknyamanan, proses persalinan dan kelahiran melelahkan.




C.    Intervensi Keperawatan

No
Diagnosa
NOC
NIC
1
Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan post op SC
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri berkurang dengan indicator:
·         Pain Level,
·         Pain control,
·         Comfort level
ü  Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
ü  Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
ü  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
ü  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
ü  Tanda vital dalam rentang normal
Pain Management
·         Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
·         Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
·         Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
·         Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
·         Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
·         Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
·         Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
·         Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
·         Kurangi faktor presipitasi nyeri
·         Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
·         Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
·         Ajarkan tentang teknik non farmakologi
·         Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
·         Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
·         Tingkatkan istirahat
·         Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
·         Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration
·         Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
·         Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
·         Cek riwayat alergi
·         Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu
·         Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
·         Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
·         Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur
·         Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
·         Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
·         Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
2
Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan trauma pembedahan post op SC.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri berkurang dengan indicator:
·         Pain Level,
·         Pain control,
·         Comfort level
ü  Klien tampak rileks
ü  Klien terlihat istirahat
·         Tentukan karakteristik dan lokasi
ketidaaknyamanan.
·         Perhatikan isyarat verbal dan non verbal
seperti meringis, kaku dan gerakan melindungi atau terbatas. 
·         Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab ketidaknyamanan dan intervensi yg tepat
·         Evaluasi tekanan darah (TD) dan nadi: perhatikan perubahan prilaku (bedakan antara kegelisahan karena kehilangan darah berlebihan dan arena nyeri)
·         Perhatikan nyeri tekan uterus dan adanya/ karakteristik nyeri penyerta: perhatikan infuse oksitosin pasca operasi. 
·         Ubah posisi klien, kurangi rangsangan yang berbahaya, dan berikan gosokan punggung. Anjurkan penggunaan teknik pernapasan dan relaksasi dan distraksi. Seperti dipelajari pada kelas melahirkan anak anjurkan keberadaan dan partisipasi pasangan bila tepat.
·         Lakukan latihan nafas dalam dan batuk dengan menggunakan prosedur-prosedur pembebatan dengan tepat, 30 menit setelah pemberian analgesic
Kolaborasi
·         Berikan analgesic setiap 3-4 jam, berlanjut dari rute IV / intramuslular sampai ke rute oral.
·         Berikan obat pada klien yang menyusui 48-60 menit sebelum menyusui.
·         Tinjau ulang / pantau penggunan analgesia yang dikontrol pasien  (PCA) sesuai indikasi.
3
Risiko infeksi b.d tindakan invasif, paparan lingkungan patogen
Setelah dilakuakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan resiko infeksi terkontrol dengan indicator:
·         Immune Status
·         Knowledge : Infection control
·         Risk control
ü  Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
ü  Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya,
ü  Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksiJumlah leukosit dalam batas normal
ü  Menunjukkan perilaku hidup sehat
Infection Control (Kontrol infeksi)
·         Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
·         Pertahankan teknik isolasi
·         Batasi pengunjung bila perlu
·         Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
·         Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
·         Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan
·         Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
·         Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
·         Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
·         Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
·         Tingktkan intake nutrisi
·         Berikan terapi antibiotik bila perlu
·         Infection Protection (Proteksi Terhadap Infeksi)
·         Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
·         Monitor hitung granulosit, WBC
·         Monitor kerentanan terhadap infeksi
·         Batasi pengunjung
·         Saring pengunjung terhadap penyakit menular
·         Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
·         Pertahankan teknik isolasi k/p
·         Berikan perawatan kuliat pada area epidema
·         Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
·         Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
·         Dorong masukkan nutrisi yang cukup
·         Dorong masukan cairan
·         Dorong istirahat
·         Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
·         Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
·         Ajarkan cara menghindari infeksi
·         Laporkan kecurigaan infeksi
·         Laporkan kultur positif
4
Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi penyakit
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tingkat pengetahuan meningkat dengan indicator :
·         Knowledge increase
ü  Mampu menjelaskan patologi penyakit


·         Kaji  kesiapan  dan  motivasi  klien untuk belajar. Bantu klien / pasangan dalam  mengidentifikasi  kebutuhan-kebutuhan
·         Berikan  rencana  penyuluhan tertulis dengan menggunakan format yang  standarisasi  atau ceklis,dokumentasi  informasi  yang diberikan dan respon klien.
·         Berikan  informasi  yang berhubungan  dengan  perubahan fisiologis  dan  psikologis  yang normal  berkenaan  dengan  kelahiran sesar  dan  kebutuhan  berkenaan dengan periode pascapartum
·         Diskusikan rencana-rencana untuk penatalaksanaan  dirumah  : membantu pekerjaan rumah, susunan fisik rumah,pengaturan tidur bayi. 
·         Berikan  atau  kuatkan  informasi yang  berhubungan  dengan pemeriksaan pascapartum lanjutan.
5
Resiko terjadinya cidera berhubungan dengan vasospasme dan peningkatan tekanan darah
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan menurunkan faktor-faktor resiko dan perlindungan diri dengan indicator :
·         klien  bebas  dari komplikasi
·         Tinjau ulang catan prenatal  dan intra partal terhadap faktor-faktor yang mempredisposisikan klien pada komplikasi.catat kadar HB dan kehilangan darah operatif.
·         Pantau TD,nadi,dan suhu.catat kulit dingin, basah: nadi lemah dan halus : perubahan prilaku : pelambatan pengisian kapiler : atau sianosis.
·         Inspeksi balutan terhadap pendarahan berlebihan. Catat tanggal drainase pada balutan beritahu dokter bila rembesan berlanjut
·         Perhatikan karakter dan jumlah aliran lokhea dan konsistgensi fundus.
·         Pantau masukan cairan dan haluaran urin perhatikan penampilan warna, konsistensi dan berat jenis urin.
·         Anjurkan latihan kaki/pergelangan kaki dan ambulasi dini.
6
Konstipasi berhubungan dengan ketidakmampuan eleminasi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan eleminasi klien lancar dengan indicator :
·         Bising usus kembali normal
·         Pola komunikasi kembali normal
·         Auskultasi terhadap adanya bising usus  pada  keempat  kuadran  setiap  4 jam setelah kelahiran sesarea
·         Palpasi abdomen, perhatikan distensi atau ketidaknyamanan
·         Anjurkan cairan oral yang adekuat bila  masukan  oral  sudah  mulai kembali.  Anjurkan  peningkatan  diet makanan  kasar  dan  buah-buahan dan sayuran dan bijinya.
·         Anjurkan  latihan  kaki  dan pengencangan abdominal, tingkatkan ambulasi dini
·          Identifikasi  aktifitas-aktifitas dimana  klien  dapat menggunakannnya  dirumah  untuk merangsang kerja usus.
·         KolaborasiBerikan analgesic 30 menit sebelum ambulasi
·         Beikan pelunak feses atau katartik ringan.
















D.    Implementasi 
Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan  yang  spesifik( Nursalam,2001).
Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan berguna untuk memenuhi kebutuhan klien mencapai tujuan yang diharapkan secara optimal.
Pelaksanaan tindakan keperawatan  harus diikuti oleh pencatatan  yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam  proses  keperawatan. Dokumentasi tindakan keperawatan ini berguna untuk komunikasi antar tim kesehatan sehingga memungkinkan pemberian tindakan keperawatan yang berkesinambungan.

E.     Evaluasi
Evaluasiadalah  stadium  pada  proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan  (Brooker, 2001).





















BAB III
TINJAUAN KASUS

I.       PENGKAJIAN
A.    Identitas Klien                                                     Penanggung Jawab
Nama Klien           : Ny. M                                    Nama               : Tn. F
Umur                     : 30 Tahun                               Umur               : 32 Tahun
Suku/Bangsa         : Minang                                  Suku/Bangsa   : Minang
Agama                   : Islam                                     Agama             : Islam
Pendidikan                        : SMU                                     Pendidikan      : SMU
Pekerjaan               : IRT                                        Pekerjaan         : Wiraswasta
Alamat                   : Kamang Magek-Agam          Alamat                        : Kamang Magek
Tgl Masuk             : 10 Desember 2015
Tanggal Pengkajian : 14 Desember 2015

B.     Status Perkawinan
Jumlah Perkawaninan        : 1 ( perkawinan pertama )
Lama Kawin                      : ± 7 Tahun

II.    RIWAYAT KESEHATAN
A.    Riwayat Kesehatan Sekarang
a.      Keluhan Utama
Saat dikaji pada tanggal 14 Desember 2015 jam 11.05 WIB, klien mengatakan masih merasakan nyeri pada daerah luka bekas operasi, nyeri dirasakan dalam skala 5 dari ( 1-10 ), frekuensi ketika duduk, klien juga mengatakan susah tidur dan tidurnya kurang, klien mengatakan tidurnya ±4 jam sehari, dan klien bertanya-tanya tentang proses penyembuhan luka operasinya ( Klien post operasi SC pada tanggal 10 Desember 2015 ).
b.      Keluhan Lain
Klien mengatakan tidak ada keluhan lain yang dirasakannya.
c.       Penyakit Yang Diderita
Klien mengatakan tidak ada penyakit yang dideritanya.

B.     Riwayat Kesehatan Terdahulu
Klien mengatakan ini adalah kehamilan yang kedua, persalinan pertama pada 11 Januari 2010 dengan kelahiran spontan, dan tidak ada masalah selama kehamilan dan persalinan.

C.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan di keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular maupun penyakit keturunan.
a.       Penyakit Keturunan
Tidak ada riwayat penyakit keturunan

b.      Kelahiran Kembar
Tidak ada riwayat kelahiran kembar

III. RIWAYAT KEHAMILAN & PERSALINAN
A.    P1 G2 A0 H1
Masa Gestasi                     : 39-40 Minggu
Kelainan Selama Hamil     : Tidak ada kelaianan selama hamil

B.     Tanggal Persalinan            : 10 Desember 2015 jam 17.15 selesasi jam 18.00 WIB
HPHT                                : 8 Maret 2015, Perkiraan Partus 15 Desember 2015
Jenis Persalinan                 : SC
Lama Persalinan                : 45 Menit
Perdarahan                                    : Tidak ada perdarahan selama kehamilan
Penyulit Dalam Persalinan: Tidak ada kesulitan selama persalinan
Anak                                  : Hidup
PB                                     : PB : 48,6 cm             BB : 3200 gram
Kelainan Bawaan              : Tidak ada kelainan bawaan
APGAR Score                  : 7/8

C.    Rawat Gabung                  : Ya, klien rawat gabung
Alasan                               : Karena klien post SC

IV. DATA NUTRISI
A.    Makan Dalam Sehari                     : 3x Sehari
B.     Jenis Makanan                               : MB ( Nasi )
C.     Makanan/Minuman Tambahan      : Tidak ada makanan/minuman tambahan
D.    Nafsu Makan                                 : Nafsu makan baik
E.     Makanan Pantangan                      : Klien tidak ada makanan pantangan
F.      Tambahan Vitamin                        : Tidak ada tambahan vitamin

V.    DATA ELIMINASI
BAK :  Sudah ada
                        Frekuensi         : 2-3x Sehari   
                        Keluhan           : Tidak ada keluhan BAK

            BAB :  Sudah ada
                        Frekuensi         : 1x Sehari
                        Keluhan           : Tidak ada keluhan BAB

VI. DATA ISTIRAHAT
Tidur Dalam Sehari     : ± 4 Jam Sehari
Keluhan                       : Klien mengatakan tidurnya kurang karena nyeri post SC


VII.DATA AKTIVITAS
Kemampuan Ambulasi            : Baik
Keluhan                                   : Tidak ada keluhan

VIII.  DATA PSIKOSOSIAL
A.    Bonding
Sangat positif / score 10-12

B.     Taking In
-          Berorientasi pada diri sendiri
-          Klien tidak takut/tidak ketergantungan dengan orang lain
Taking Hold
-          Klien tertarik pada bayinya
Letting Go
-          Klien mampu merawat dirinya sendiri

C.    Post Partum Blues
-          Klien merasa nyeri setelah operasi, skala 5 ( 1-10 ), frekuensi ketika duduk

D.    Pengetahuan Ibu Tentang
-     Perawatan Bayi              : Klien tahu cara merawat bayinya
-     Teknik Menyusui           : Klien tahu cara menyusui dengan benar
-     Asi Ekslusif                   : Klien tahu harus memberikan ASI Ekslusif pada
                                            bayinya sampai 6 bulan
-     Perawatan Payudara      : Klien tahu bagaimana cara merawat payudaranya
-     Senam Nifas                  : Klien tahu dan pernah mengikuti senam nifas
-     Kebutuhan Seksual        : ( Tidak Dikaji )
-     Tanda2 Komplikasi         : Klien tidak tahu tanda-tanda komplikasi SC

E.     Tanggapan Ibu Tentang
-     Penggunaan Alat KB     : Klien tahu cara menggunakan alat KB tapi belum
                                            ingin ber KB
-     Waktu Pemakaian          : Klien tahu waktu menggunakan KB
-     Tanggapan Suami          : Tidak terkaji

F.     Tanggapan Keluarga Terhadap Kelahiran Bayi
-          Keluarga merasa senang dan menerima kelahiran bayi klien

G.    Kebiasaan / Adat Istiadat Yang Berkaitan Dengan Masa Nifas
-          Tidak ada kebiasaan / adat istiadat yang berkaitan dengan masa nifas klien

IX. PEMERIKASAAN FISIK
1.      Keadaan Umum    : Sedang
Kesadaran             : Composmentis ( E6 V4 M5 )
TD : 100/70 mmHg, RR : 19x/m, N : 82x/m
Konjungtiva          : Tidak anemis
Sclera                     : Tidak ikhterik

Pemeriksaan Lab   : Hb : 12,0 g/dl  {N (W 12,0-14,0)}
                                Ht : 35,5 % ( 37,00-43,0 )
                                Leuko : 20,19 + (10^3/uL) (5,0-10,0)

2.      Keadaan Payudara            : Puting susu menonjol, ASI ada
3.      Abdomen
-          Involusio Uterus          : Normal, tidak ada masalah
-          TFU                             : 3 jari dibawah proc. Xyphoideus, kontraksi : baik
-          Diastasis Recti             : Normal, tidak ada masalah
-          Kandung Kemih          : Normal, tidak ada masalah
-          Bising Usus                 : Tympani
4.      Vulva/Perineum/Rectum
a.       Lochea             : ada, jumlah >500 ml, bau khas
b.      Kebersihan      : Bersih
c.       Oedema           : Tidak ada, Varices tidak ada, Haemoroid tidak ada.
d.      Luka Jahitan    : Ada, daerah abdomen post op, keadaan luka : kering, bersih
5.      Tungkai Bawah
-          Tromboplebitis            : Tidak ada
-          Oedema                       : Tidak ada

X.  RENCANA PULANG
-       Tanggal Perkiraan Pulang                 : 16 Desember 2015
-       Sumber Yang Tersedia/Orang          : Ada
-       Financial                                           : Mampu
-       Bantuan Yang Dibutuhkan               : Tidak ada

XI.    Data Fokus
DS :
-          Klien mengatakan masih merasakan nyeri pada daerah luka bekas operasi
-          Klien mengatakan nyeri terasa ketika duduk
-          Klien mengatakan nyeri dalam skala 5 dari rentang 1-10
-          Klien mengatakan susah tidur
-          Klien mengatakan gelisah saat tidur
-          Klien mengatakan tidurnya kurang
-          Klien mengatakan tidurnya ±4 jam sehari
-          Klien menanyakan proses penyembuhan lukanya
-          Klien menanyakan komplikasi dari SC

DO :
-          Tedapat luka post op SC di abdomen
-          Klien operasi SC tanggal 10 Desember 2015 jam 17.15 WIB
-          Klien terlihat meringis menahan nyeri ketika duduk
-          Skala nyeri 5
-          Frekuensi nyeri ketika duduk
-          Klien terlihat lemas
-          Klien terlihat mengantuk
-          TD : 100/70 mmHg, RR : 19x/m, Nadi : 82x/m
-          Klien bertanya-tanya tentang penyembuhan lukanya
-          Klien tidak tahu komplikasi SC
-          Ht : 35,5 % ( N : 37,0 - 43,0 )
-          Leuko : 20,19+{10^3/uL} ( N : 5,0-10,0 )

XII.      ANALISA DATA
No
DATA FOKUS
ETIOLOGI
MASALAH
1
DS :
-  Klien mengatakan masih merasakan nyeri pada daerah luka bekas operasi
-  Klien mengatakan nyeri terasa ketika duduk
-  Klien mengatakan nyeri dalam skala 5 dari rentang 1-10
DO :
-  Tedapat luka post op SC di abdomen
-  Klien operasi SC tanggal 10 Desember 2015 jam 17.15 WIB
-  Klien terlihat meringis menahan nyeri ketika duduk
-  Skala nyeri 5
-  Frekuensi nyeri ketika duduk
-  TD : 100/70 mmHg,
-  RR : 19x/m,
-  N : 82x/m
-  Ht : 35,5 % ( N : 37,0 - 43,0 )
-  Leuko : 20,19+{10^3/uL} ( N : 5,0-10,0 )


Trauma pasca pembedahan post op SC.
Gangguan rasa nyaman  ( nyeri ).
2
DS :
-  Klien mengatakan masih merasakan nyeri pada daerah luka bekas operasi
-  Klien mengatakan nyeri terasa ketika duduk
-  Klien mengatakan nyeri dalam skala 5 dari rentang 1-10
DO :
-  Tedapat luka post op SC di abdomen
-  Klien operasi SC tanggal 10 Desember 2015 jam 17.15 WIB
-  Klien terlihat meringis menahan nyeri ketika duduk
-  Skala nyeri 5
-  Frekuensi nyeri ketika duduk

Trauma jaringan / luka post op
Resiko infeksi
3
DS :
-  Klien mengatakan susah tidur
-  Klien mengatakan gelisah saat tidur

-  Klien mengatakan tidurnya kurang

-  Klien mengatakan tidurnya ±4 jam sehari
DO :
-  Klien terlihat lemas
-  Klien terlihat mengantuk
-  TD : 100/70 mmHg, RR : 19x/m, Nadi : 82x/m

Agen injuri fisik (luka insisi operasi)
Gangguan pola tidur
4
DS :
-  Klien menanyakan proses penyembuhan lukanya
-  Klien menanyakan komplikasi dari SC
DO :
-  Klien bertanya-tanya tentang penyembuhan lukanya
-  Klien tidak tahu komplikasi SC

Kurangnya sumber informasi
Kurang pengetahuan tentang perawatan ibu nifas dan perawatan post operasi



XIII.  Diagnosa Keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b/d trauma pasca pembedahan post op SC.
2.      Resiko infeksi b/d Trauma jaringan / luka post op
3.      Gangguan pola tidur b/d Agen injuri fisik (luka insisi operasi)
4.      Kurang pengetahuan tentang perawatan ibu nifas dan perawatan post operasi b/d Kurangnya sumber informasi








































XIV.       Rencana Keperawatan

No
Diagnosa
NOC
NIC
1
Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b/d  trauma pembedahan post op SC.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri berkurang dengan indicator:
·         Pain Level,
·         Pain control,
·         Comfort level
ü  Klien tampak rileks
ü  Klien terlihat istirahat
·         Tentukan karakteristik dan lokasi
ketidaaknyamanan.
·         Perhatikan isyarat verbal dan non verbal
seperti meringis, kaku dan gerakan melindungi atau terbatas. 
·         Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab ketidaknyamanan dan intervensi yg tepat
·         Evaluasi tekanan darah (TD) dan nadi: perhatikan perubahan prilaku (bedakan antara kegelisahan karena kehilangan darah berlebihan dan arena nyeri)
·         Perhatikan nyeri tekan uterus dan adanya/ karakteristik nyeri penyerta: perhatikan infuse oksitosin pasca operasi. 
·         Ubah posisi klien, kurangi rangsangan yang berbahaya, dan berikan gosokan punggung. Anjurkan penggunaan teknik pernapasan dan relaksasi dan distraksi. Seperti dipelajari pada kelas melahirkan anak anjurkan keberadaan dan partisipasi pasangan bila tepat.
·         Lakukan latihan nafas dalam dan batuk dengan menggunakan prosedur-prosedur pembebatan dengan tepat, 30 menit setelah pemberian analgesic


Kolaborasi
·         Berikan analgesic setiap 3-4 jam, berlanjut dari rute IV / intramuslular sampai ke rute oral.
·         Berikan obat pada klien yang menyusui 48-60 menit sebelum menyusui.
Tinjau ulang / pantau penggunan analgesia yang dikontrol pasien  (PCA) sesuai indikasi.
2
Resiko infeksi b/d Trauma jaringan / luka post op
Setelah dilakuakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan resiko infeksi terkontrol dengan indicator:
·         Immune Status
·         Knowledge : Infection control
·         Risk control
ü  Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
ü  Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya,
ü  Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksiJumlah leukosit dalam batas normal
ü  Menunjukkan perilaku hidup sehat
Infection Control (Kontrol infeksi)
·         Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
·         Pertahankan teknik isolasi
·         Batasi pengunjung bila perlu
·         Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
·         Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
·         Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan
·         Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
·         Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
·         Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
·         Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
·         Tingktkan intake nutrisi
·         Berikan terapi antibiotik bila perlu
·         Infection Protection (Proteksi Terhadap Infeksi)
·         Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
·         Monitor hitung granulosit, WBC
·         Monitor kerentanan terhadap infeksi
·         Batasi pengunjung
·         Saring pengunjung terhadap penyakit menular
·         Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
·         Pertahankan teknik isolasi k/p
·         Berikan perawatan kuliat pada area epidema
·         Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
·         Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
·         Dorong masukkan nutrisi yang cukup
·         Dorong masukan cairan
·         Dorong istirahat
·         Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
·         Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
·         Ajarkan cara menghindari infeksi
·         Laporkan kecurigaan infeksi
·         Laporkan kultur positif
3
Gangguan pola tidur b/d Agen injuri fisik (luka insisi operasi)
NOC
v  Axniety Control
v  Comfort Level
v  Pain Level
v  Rest : Extend and Pattern
v  Sleep : Extend and Pattern

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan gangguan pola tidur pasien teratasi dengan kriteria hasil :
v  Jumlah jam tidur dalam batas normal
v  Pola tidur, kualitas dalam batas normal
v  Perasaan fresh sesudah tidur/istirahat
v  Mampu mengidentifikasi hal-hal yang meningkatkan tidur
NIC :
Sleep Enhancement
·         Determinasi efek-efek medikasi terhadap pola tidur
·         Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat
·         Fasilitasi untuk mempertahankan aktivitas sebelum tidur (membaca)
·         Ciptakan lingkungan yang nyaman
·         Kolaborasi pemberian obat tidur

4
Kurang pengetahuan tentang perawatan ibu nifas dan perawatan post operasi b/d Kurangnya sumber informasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pengetahuan klien tentang perawatan ibu nifas dan perawatan bayi akan meningkat dengan kriteria hasil :
·         Mampu menjelaskan tentang perawatan ibu nifas dan perawatan bayi.



Pendidikan kesehatan
·         Kaji tingkat pengetahuan klien.
·         Jelaskan tentang cara perawatan ibu nifas dan perawatan bayi dengan bahasa yang sederhana
·         Diskusikan tentang perubahan gaya hidup pada pasien yang mungkin dibutuhkan.
·         Klarifikasi informasi yang diberikan oleh tim kesehatan lain sebelum informasi kita berikan.









XV.          Implementasi & Evaluasi
No
Hari / Tanggal
Diagnosa
Jam
Implementasi
Evaluasi
Paraf
1
Selasa / 15 Desember 2015
Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b/d  trauma pembedahan post op SC.
09.00
1.  Menentukan karakteristik dan lokasi dan ketidaaknyamanan. Memperhatikan isyarat verbal dan non verbal seperti meringis, kaku dan gerakan melindungi atau terbatas.
2.  Memberikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat. 
3.  Mengevaluasi tekanan darah (TD) dan nadi: Memperhatikan perubahan prilaku (membedakan antara kegelisahan karena kehilangan darah berlebihan dan karena nyeri)
4.  Menganjurkan penggunaan teknik pernapasan dan relaksasi dan distraksi.
5.  Menganjurkan keberadaan dan partisipasi pasangan bila tepat.
6.  Berkolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai indikasi
S:
-   Klien  mengatakan luka  masih terasa nyeri
-   Klien mengatakan terasa nyeri ketika duduk
-   Klien mengatakan skala nyeri 3

O :
-   Skala nyeri 3
-   Tekanan  darah 100/70 mmHg, N : 82x/i RR : 20x/i

A :  Masalah  teratasi sebagian

P  :  Implementai dilanjutkan

2
Selasa / 15 Desember 2015
Resiko infeksi b/d Trauma jaringan / luka post op
09.30
1.    Membersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
2.    Mempertahankan teknik isolasi
3.    Membatasi pengunjung
4.    Menginstruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
5.    Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
6.    Mempertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
7.    Memonitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
8.    Mendorong pasien untuk istirahat
9.    Meginstruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
10.                   Mengajarkan cara menghindari infeksi
11.                   Melaporkan kecurigaan bila terjadi infeksi
S :
-   Klien mengatakan luka sudah mulai kering
-   Klien mengatakan tidak ada tanda infeksi
-   Klien mengatakan masih merasakan nyeri
O :
-   Luka terlihat sudah kering
-   Tidak ada tanda infeksi

A : Masalah teratasi sebagian

P : Implementasi dipertahankan

3
Selasa / 15 Desember 2015
Gangguan pola tidur b/d Agen injuri fisik (luka insisi operasi)
10.00
1.    Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat
2.    Memfasilitasi untuk mempertahankan aktivitas sebelum tidur (membaca)
3.    Menciptakan lingkungan yang nyaman
4.    Kolaborasi pemberian obat tidur

S :
-   Klien mengatakan tidurnya +/- 6 jam tadi malam
-   Klien mengatakan sudah merasa nyaman
O :
-   Klien tampak istirahat
-   Klien tampak segar

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi dilanjutkan

4
Selasa / 15 Desember 2015
Kurang pengetahuan tentang perawatan ibu nifas dan perawatan post operasi b/d Kurangnya sumber informasi

11.30
1.    Mengkaji tingkat pengetahuan klien.
2.    Menjelaskan tentang cara perawatan ibu nifas dan perawatan bayi dengan bahasa yang sederhana
3.    Mendiskusikan tentang perubahan gaya hidup pada pasien yang mungkin dibutuhkan.
4.    Mengklarifikasi informasi yang diberikan oleh tim kesehatan lain sebelum informasi kita berikan.
S :
-  Klien mengatakan sudah paham tentang cara merawat dirinya dan bayinya
O :
-  Klien mampu menjelaskan cara merawat dirinya dan bayinya

A : Masalah teratasi

P : Intervensi dipertahankan

5
Rabu / 16 Desember 2015
Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b/d  trauma pembedahan post op SC.
09.00
1.  Menentukan karakteristik dan lokasi dan ketidaaknyamanan. Memperhatikan isyarat verbal dan non verbal seperti meringis, kaku dan gerakan melindungi atau terbatas.
2.  Memberikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat. 
3.  Mengevaluasi tekanan darah (TD) dan nadi: Memperhatikan perubahan prilaku (membedakan antara kegelisahan karena kehilangan darah berlebihan dan karena nyeri)
4.  Menganjurkan penggunaan teknik pernapasan dan relaksasi dan distraksi.
5.  Menganjurkan keberadaan dan partisipasi pasangan bila tepat.
6.  Berkolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai indikasi
S:
-   Klien  mengatakan sudah merasa sedikit nyaman
-   Klien mengatakan masih terasa sedikit nyeri ketika duduk
-   Klien mengatakan skala nyeri 2

O :
-   Skala nyeri 2
-   Tekanan  darah 110/80 mmHg, N : 82x/i RR : 20x/i

A:  Masalah  teratasi sebagian,
Klien sudah diizinkan pulang

P  :  Implementai dipertahankan

6
Rabu / 16 Desember 2015
Resiko infeksi b/d Trauma jaringan / luka post op
10.00
1.    Membersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
2.    Mempertahankan teknik isolasi
3.    Membatasi pengunjung
4.    Menginstruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
5.    Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
6.    Mempertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
7.    Memonitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
8.    Mendorong pasien untuk istirahat
9.    Meginstruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
10.                   Mengajarkan cara menghindari infeksi
11.                   Melaporkan kecurigaan bila terjadi infeksi
S :
-   Klien mengatakan luka sudah mulai kering
-   Klien mengatakan tidak ada tanda infeksi
-   Klien mengatakan masih nyeri sedikit
O :
-   Luka terlihat sudah kering
-   Tidak ada tanda infeksi

A : Masalah teratasi sebagian
Klien sudah diizinkan pulang

P : Implementasi dipertahankan










BAB IV
PEMBAHASAN

Selama  kelompok  melakukan  Asuhan  Keperawatan  Pada  Ny.  M  Dengan  Post  Op Sectio  Cesarea  di  Ruang  Rawat  Inap Kebidanan  RSUD  Achmad  Mochtar  Bukittinggi  pada  tanggal  14  Desember  2015 sampai  dengan  tanggal  16 Desember  2015,  ada  beberapa  hal  yang  perlu  dibahas  dan diperhatikan.

Dalam  penerapan  asuhan  keperawatan  tersebut  kelompok  telah  berusaha  mencoba menerapkan  Asuhan  Keperawatan  Pada  Klien  Dengan  Post  Op  Sectio  Cesarea sesuai  dengan  teori-teori  yang  ada.  Untuk melihat  lebih  jelas  asuhan  keperawatan  yang  diberikan  dan  sejauh  mana keberhasilan  yang  dicapai,  akan  diuraikan  sesuai  dengan  tahap-tahap  proses keperawatan  di  mulai  dari  pengkajian,  diagnosa  keperawatan,  intervensi, implementasi, dan evaluasi.
A.    Pengkajian
Pengkajian  adalah  merupakan  tahap  yang  sistematis  dalam  pengumpulan  data tentang individu, keluarga dan kelompok
          (Carpenito & Moyet, 2007)
Dalam  melakukan  pengkajian  pada  klien  data  di  dapatkan  dari  klien  ,  beserta keluarga , catatan medis serta tenaga kesehatan lainnya. 
a.       Riwayat kesehatan sekarang
Dalam tinjauan teoritis dengan tinjauan kasus tidak ada terdapat kesenjangan pada saat dilakukan pengkajian. Pada  tinjauan  teori  biasanya  klien  mengeluh  nyeri,  luka bekas  post  op  SC,  dan  pada  tinjauan  kasus  juga  ditemukan  klien  mengatakan  nyeri, dan luka bekas post op SC.
b.      Riwayat kesehatan dahulu
Terdapat kesenjangan dalam tinjauan biasanya klien ada riwayat hipertensi  atau  penyakit  seperti  DM, jantung sedangkan berdasarkan hasil wawancara pada Ny.M tidak ditemukan adanya riwayat hipertensi maupun penyakit yang lain.
c.       Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan  fisik  pada  teoritis  dan  pada  kasus  sama  karena  pemeriksaan  fisik penting  untuk  menentukan  keadaan  pasien.  Pemeriksaan  fisik  pada  teori mengacu  pada  pemeriksaan  head  to  toe,  pemeriksaan  keadaan  umum,  tingkat kesadaran  serta  TTV  (  TD,  P,  N,  S  )  pada  kasus  kelompok  juga  melakukan pemeriksaan  head  to  toe,  pemeriksaan  kesadaran,  keadaan  umum,  serta pemeriksaan TTV ( TD, N, P, S ).

B.     Diagnosa Keperawatan
Diagnosa  keperawatan  adalah  cara  mengidentifikasi,  memfokuskan  dan mengatasi  kebutuhan  spesifik  pasien  serta  respon  terhadap  masalah  aktual  dan  resiko tinggi
       ( Doenges, 2000 : 8 ).
Pada tinjauan  teoritis  ditemukan  8  diagnosa  keperawatan  sedangkan  pada tinjauan kasus  ditemukan  4  diagnosa  keperawatan.  Diagnosa  yang  ditemukan pada teori   :
1.      Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan post op SC
2.      Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan trauma pembedahan post op SC.
3.      Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan/ luka post op
4.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi penyakit
5.      Resiko terjadinya cidera berhubungan dengan vasospasme dan peningkatan tekanan darah
6.      Konstipasi berhubungan dengan ketidakmampuan eleminasi
7.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kondisi diri menurun
8.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri atau ketidaknyamanan, proses persalinan dan kelahiran melelahkan.
           ( Doegoes marylin, 2001 ).

Sedangkan pada kasus ditemukan 4 diagnosa yaitu  :
1.      Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b/d trauma pasca pembedahan post op SC.
2.      Resiko infeksi b/d Trauma jaringan / luka post op
3.      Gangguan pola tidur b/d Agen injuri fisik (luka insisi operasi)
4.      Kurang pengetahuan tentang perawatan ibu nifas dan perawatan post operasi b/d Kurangnya sumber informasi

Diagnosa pada kasus yang tidak ditemukan di teori adalah : 
1.      Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan post op SC
2.      Resiko terjadinya cidera berhubungan dengan vasospasme dan peningkatan tekanan darah
3.      Konstipasi berhubungan dengan ketidakmampuan eleminasi
4.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kondisi diri menurun

Diagnosa  yang  lainnya  tidak  muncul pada  tinjauan  kasus  karena  tidak  ada  data pendukung pada tinjauan kasus diatas.

C.    Intervensi Keperawatan
Intervensi  keperawatan  adalah    preskripsi  untuk  perilaku  spesifik  yang diharapkan  dari  pasien  dan  tindakan  yang  harus  dilakukan  oleh  perawat. Intervensi keperawatan  dipilih  untuk  membantu  pasien  dalam    mencapai  hasil pasien yang diharapkan dan  tujuan pemulangan ( Doenges, 2000 : 10 ).
Dalam  menyusun  rencana  tindakan  keperawatan  kepada  klien  berdasarkan prioritas masalah yang ditemukan, tidak semua rencana tindakan pada teori dapat ditegakkan  pada  tinjauan  kasus  karena  rencana  tindakan  pada  tinjauan  kasus disesuaikan  dengan  keluhan dan keadaan pasien.

D.    Implementasi
Setelah  rencana  tindakan  ditetapkan,  maka  dilanjutkan  dengan  melakukan rencana tersebut dalam bentuk nyata, dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien  post  sectio  caesarea, hal  ini  tidaklah mudah.  Terlebih  dahulu  kelompok  mengatur  strategi  agar  tindakan  keperawatan dapat  terlaksana,  yang  dimulai  dengan  melakukan  pendekatan  pada  klien  agar nantinya  klien  mau  melaksanakan  apa  yang  perawat  anjurkan,  sehingga  seluruh rencana  tindakan  keperawatan  yang  dilaksanakan  sesuai  dengan  masalah  yang dihadapi klien.
Dalam  melakukan  rencana  tindakan,  penulis  tidak  menemukan kesulitan  yang berarti, hal ini disebabkan karena :
a.       Adanya faktor perencanaan  yang baik dan sistematik sehingga memudahkan untuk melakukan tindakan keperawatan
b.      Pendekatan  yang  dilakukan  pada  klien  dan  keluarga  dengan  baik  sehingga klien  merasa  percaya  pada  kelompok  dan  mudah  dalam  pemberian  serta pelaksanaan tindakan keperawatan
c.       Adanya  kerja  sama  yang  baik  dengan  petugas  ruangan,  sehingga  penulis mendapat bantuan dalam melalaksanakan tindakan keperawatan.

E.     Evaluasi
Dari  4 diagnosa  keperawatan  yang  kelompok tegakkan  sesuai  dengan  apa  yang kelompok  temukan  dalam  melakukan  studi  kasus  dan  melakukan  asuhan keperawatan,  kurang  lebih  sudah  mencapai  perkembangan  yang  lebih  baik  dan optimal,  maka  dari  itu  dalam  melakukan  asuhan  keperawatan  untuk  mencapai hasil yang maksimal memerlukan adanya kerja sama antara kelompok dengan klien, perawat, dokter, dan tim kesehatan lainnya.
Kelompok  tidak  dapat  melihat  perkembangan  selama  3  hari  berturut-turut  karena pada hari kedua pasien sudah dibolehkan pulang.
1.      Pada  diagnosa  1  yaitu  gangguan  rasa  nyaman  (  nyeri  )  berhubungan  dengan trauma pembedahan post sc dianggap masalah sudah  teratasi sebagian karena nyeri klien sudah berkurang dan skala nyeri 3. 
2.      Pada diagnosa 2 yaitu resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan/ luka post op diangaap masalah sudah teratasi sebagian karena tidak ada tampak tanda-tanda infeksi lagi hanya luka kering.
3.      Pada  diagnosa  3  yaitu  gangguan pola tidur berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi operasi) dianggap masalah  sudah  teratasi  karena  klien sudah  mulai  tenang,  klien sudah terlihat segar, dan tidur klien dalam batas normal dan tekanan darah sudah kembali normal 110/70 mmHg.


BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Sectio  Caesarea  adalah  Masa  setelah  proses pengeluaran  janin  yang  dapat  hidup  di  luar kandungan  dari  dalam  uterus  ke dunia luar dengan menggunakan insisi pada perut.
Dari uraian diatas kelompok dapat mengambil kesimpulan :
1.      Pengkajian  asuhan  keperawatan  pada  pasien  dengan  sectio  caesarea diruang  rawat  inap  kebidanan  Rumah  Sakit  Dr.  Achmad  Mochtar Bukittinggi  tahun  2015  dapat  dilakukan  dengan  baik  dan  tidak mengalami kesulitan dalam mengumpulkan data.
2.      Pada  diagnosa  asuhan  keperawatan  pada  pasien  dengan  sectio  caesarea diruang  rawat  inap  kebidanan  Rumah  Sakit  Dr.  Achmad  Mochtar Bukittinggi  tahun  2015  dapat  dirumuskan  4  diagnosa  pada  tinjauan kasus.
3.      Pada  perencanaan  asuhan  keperawatan  pada  pasien  dengan  sectio caesarea  diruang  rawat  inap  kebidanan  Rumah  Sakit  Dr.  Achmad Mochtar  Bukittinggi tahun  2015  semua  perencanaan  dapat  diterapkan pada tinjauan kasus.
4.      Pada  implementasi  asuhan  keperawatan  pada  pasien  dengan  sectio caesarea  diruang  rawat  inap  kebidanan  Rumah  Sakit  Dr.  Achmad Mochtar  Bukittinggi  tahun  2015  hampir  semua  dapat  dilakukan,  namun ada  beberapa  rencana  tindakan  yang  kelompok  tidak  lakukan  tetapi dilakukan oleh perawat ruangan tersebut.
5.      Evaluasi  pada  pasien  dengan  sectio  caesarea  diruang  rawat  inap kebidanan  Rumah  Sakit  Dr.  Achmad  Mochtar  Bukittinggi  tahun  2015 dapat  dilakukan dan  dari  4  diagnosa  hampir  semua  masalah  teratasi  dan klien boleh pulang.

B.     Saran
a.       Bagi Mahasiswa
Diharapkan  bagi  mahasiswa  agar  dapat  mencari  informasi  dan memperluas wawasan mengenai Post Op SC dengan karena  dengan  adanya  pengetahuan  dan  wawasan  yang  luas mahasiswa  akan  mampu  mengembangkan  diri  dalam  masyarakat  dan memberikan pendidikan kesehatan bagi masyarakat mengenai SC dan  fakor  –faktor  pencetusnya  serta  bagaimana pencegahan untuk kasus tersebut.

b.      Bagi Institusi Pendidikan
Peningkatan  kualitas  dan  pengembangan  ilmu  mahasiswa  melalui  studi kasus agar dapat menerapkan asuhan keperawatan secara komprehensif.
















DAFTAR PUSTAKA

Bobak, L.J. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4 (Terjemahan).
Jakarta: EGC.
Carpenito, 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 21. Alih Bahasa :
Yasmin Asih, S.Kp. Jakarta : EGC
Cunningham, G.R. 2006. Obstetri Williams, Edisi 21, Alih Bahasa : Andry
Hartono dan Joko Suyono. Jakarta: EGC.
Doengoes, M.E. 2003. Rencana Asuhan Keperawatan. Alih Bahasa I Made
Kariasi, S.Kp. Ni Made Sumawarti, S.Kp. Jakarta: EGC.
Hutahaean, S. 2009. Asuhan Keperawatan dalam Maternitas dan Ginekologi.
Jakarta: Trans Info Media.
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika.
NANDA. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan. Alih Bahasa Budi Santoso.
Jakarta: Prima Medika.
Oxorn H dan Forte W.R. 2010. Ilmu Kebidanan: Patologi & Fisiologi Persalinan.
Editor Dr. Mohammad Hakimi, Ph.D. Yogyakarta: Yayasan Essentia
Medika (YEM).
Prawirohardjo, S. 2007. Ilmu Kebidanan. Editor Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro,
SpOG. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Saifuddin. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Editor, Gulardi Hanifa Winknjosastro, Biran Affandi, Djoko
Waspodo. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Saleha, S. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
Yongki, Mohamad Juda, Rodiyah dan Sudarti. 2010. Asuhan Pertumbuhan
Kehamilan Persalinan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Muha
Medika.


1 comment: