Saturday, February 18, 2017

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA TENTANG ISOLASI SOSIAL

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA
TENTANG
ISOLASI SOSIAL

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Menurut Depkes RI (2000), kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gagasan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku maladaptive da mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial.
Menurut Balitbang (2007), merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagai rasa, pikiran dan kegagalan. Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup berbagai pengalaman.
Isolasi sosial adalah salah satu gangguan jiwa yang banyak terjadi di masyarakat yang disebabkan oleh beberapa faktor. Maka dari itu perlu kita ketahui lebih dalam tentang apa itu gangguan jiwa pada isolasi sosial, dan bagaimana penanganannya.

B.     Tujuan
-          Mengetahui Defenisi Isolasi Sosial
-          Mempelajari Rentang Respon Isolasi Sosial
-          Mengetahui Penyebab Isolasi Sosial
-          Mengetahui Tanda Dan Gejala Isolasi Sosial
-          Mengetahui Cara Pengobatan Isolasi Sosial
-          Mempelajari Format Pengkajian Isolasi Sosial











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Defenisi

Menurut Depkes RI (2000), kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gagasan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku maladaptive da mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial.
Menurut Balitbang (2007), merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagai rasa, pikiran dan kegagalan. Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup berbagai pengalaman.
Menurut Stuart dan Sundeen (1998), kerusakan interaksi sosial adalah satu gangguan kepribadian yang tidak fleksibel, tingkat maladaptive, dan mengganggu fungsi individu dalam hubungan sosialnya.
Menurut Townsend (1998), kerusakan interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seseorang berpartisipasi dalam pertukaran sosial dengan kuantitas dan kualitas yang tidak efektif. Klien yang mengalamai kerusakan interaksi sosial  mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain salah satunya mengarah pada menarik diri.
Menurut Rawlins, 1993 dikutip Keliat (2001), menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain.

B.     Penyebab

Terjadinya gangguan ini dipengaruhi oleh factor presdiposisi diantaranya perkembangan dan sosial budaya. Kegagalan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya pada orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, lebih menyukai berdiam diri, menghindar diri dari orang lain, dan kegiatan sehari-hari terabaikan.


C.    Pohon Masalah

Pathway Isolasi Sosial
 












Sumber: (Keliat, 2006)

D.    Faktor Predisposisi

1. Faktor Tumbuh Kembang
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial.
Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini tidak dipenuhi maka akan menghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapat menimbulkan masalah.

Tahapan perkembangan
Tugas
Masa bayi
Menetapkan rasa percaya
Masa bermain
Mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri
Masa pra sekolah
Belajar menunjukkan inisiatif, rasa tanggung jawab dan hati nurani
Masa sekolah
Belajar berkompetisi, bekerjasama dan berkompromi
Masa pra remaja
Menjalin hubungan intim dengan teman sesama jenis kelamin
Masa remaja
Menjadi intim dengan teman lawaan jenis atau bergantung
Masa dewasa muda
Menjadi saling bergantung antara orang tua dan teman mencari pasangan menikah dan mempunyai anak
Masa tengah baya
Belajar menerima hasil kehidupan yang sudah di lalui
Masa dewasa tua
Berduka karena kehilangan dan mengembangkan perasaan keterikatan dengan budaya
Sumber: Stuart dan Sundeen (1995), hlm. 346 dikutip dalam fitria (2009)

2. Faktor Komunikasi Dalam Keluarga
Ganguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan (Double bind) yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga.

3. Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini di sebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, diamana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, berpenyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.

4. Faktor Biologis
Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan dalam hubungan sosial adalah otak, misalnya pada klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, serta perhubungan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbic dan daerah kortikal.

E.     Faktor Presipitasi

Terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat di timbulkan oleh faktor internal dan eksternal seseorang. Faktor stressor presipitasi dapat di kelompokan sebagai berikut:
1.    Faktor Eksternal
Contohnya adalah stressor soaial budaya, yaitu stree yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya seperti keluarga.

2.    Faktor Internal
Contohnya adalah stressor psikologis, yaitu sress terjadi akibat anxietas atau kecemasan yang berkepanjangan dan terjadinya bersama dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Anxietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.

F.     Tanda Dan Gejala
Adapun tanda dan gejala isolasi sosial adalah sebagai berikut :
1.      Menyendiri dalam ruangan
2.      Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata
3.      Sedih, afek datar
4.      Berpikir menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak bermakna
5.      Perhatian dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya
6.      Mengekpresikan penolakan atau kesepian terhadap orang lain
7.      Tidak ada asosiasi antara ide satu dengan lainnya
8.      Menggunakan kata-kata simbolik
9.      Menggunakan kata yang tidak berarti
10. Kontak mata kurang
11.  Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun dan berdiam diri






G.    Rentang Respon

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijo9TDqbKHubfcL23oget2bXTlZdvkCIjT3TtGRXbhQkUL6r7FbL2yv3ngZPPtLzeRAjB_Dk-ZZbq3GPvNJobin_w-yvf1mWPg_D4Sa4q-RvbQVNScfQ_EY7qJgmoANkqfHM-WZN89hAQp/s400/Rentang+Respon.jpg
Rentang Respon Isolasi Sosial

Berikut ini akan dijelaskan tentang respon yang terjadi pada isolasi sosial :
a.       Respon adaptif
Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma, sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut masih dalam batas normal ketika menyelesaikan masalah. Berikut ini adalah sikap yang termasuk respon adaptif.


1)      Menyendiri, respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah terjadi di lingkungan sosialnya
2)      Otonomi, kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide, pikiran, dan perasaan dalam hubungan sosial.
3)      Bekerja sama, kemampuan individu yang saling membutuhkan satu sama lain.
4)      Interdependen, saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.

b.      Respon maladaptif
Respon maladaptif adalah respon yang menyimpang dari norma sosial dan kehidupan di suatu tempat. Berikut ini adalah perilaku yang termasuk respon maladaptif :
1)      Menarik diri, merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
2)      Ketergantungan, seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung dengan orang lain.
3)      Manipulasi, seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam
4)      Curiga, seseorang yang mengembangkan rasa curiga terhadap orang lain.
(Stuart dan Sundeen, 1998).


H.    Penatalaksanaan

1.      Penatalaksanaan Medis (Dalami, et.all, 2009 : hal.120)
Isolasi sosial termasuk dalam kelompok penyakit skizofrenia tak  tergolongkan maka  jenis penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan adalah :

·         Electro Convulsive Therapy (ECT)
Electro Convulsive Therapy (ECT) adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik digunakan pada otak dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal kepala (pelipis kiri dan kanan). Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang berlangsung 25-30 detik dengan tujuan terapeutik. Respon bangkitan listriknya di otak menyebabkan terjadinya perubahan faal dan biokimia dalam otak.
Indikasi :
a)      Depresi mayor
1)      Klien depresi berat dengan retardasi mental, waham, tidak adaperhatian lagi terhadap dunia sekelilingnya, kehilangan beratbadan yang berlebihan dan adanya ide bunuh diri yang menetap.
2)      Klien depresi ringan adanya riwayat responsif atau memberikanrespon membaik pada ECT.
3)      Klien depresi yang tidak ada respon terhadap pengobatanantidepresan atau klien tidak dapat menerima antidepresan.
b)      Maniak
            Klien maniak yang tidak responsif terhadap cara terapi yang lainatau terapi lain
            berbahaya bagi klien.
c)      Skizofrenia
      Terutama akut, tidak efektif untuk skizofrenia kronik, tetapibermanfaat pada
      skizofrenia yang sudah lama tidak kambuh
·         Psikoterapi
Membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting dalam proses terapeutik, upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang, menciptakan lingkungan yang terapeutik, bersifat empati, menerima klien apa adanya, memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah, sopan dan jujur kepada klien.

·         Terapi Okupasi
Adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan meningkatkan harga diri seseorang.

2.      Penatalaksanaan Keperawatan
Terapi Modalitas Keperawatan yang dilakukan adalah:
a)      Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
·         Pengertian : TAK merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama.
·         Tujuan : Membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif.
·         Terapi aktivitas kelompok yang digunakan untuk pasien dengan isolasi sosial adalah TAK Sosialisasi dimana klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada di sekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal, kelompok dan massa.

b)      Prinsip Perawatan Isolasi Sosial
·         Psikoterapeutik
1)      Bina hubungan saling percaya
2)      Buat kontrak dengan pasien memperkenalkan nama perawat pada waktu interaksi dan tujuan.
3)      Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama klien, untuk menunjukan penghargaan yang tulus.
4)      Jelaskan pada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan kepada orang lain yang tidak berkepentingan.


c)      Berkomunikasi dengan pasien secara jelas dan terbuka
1)      Bicarakan dengan pasien tentang sesuatu yang nyata dan pakai istilah yang sederhana.
2)      Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraan dengan perawat.
3)      Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai, jelas dan teratur.
4)      Tunjukan sikap empatidan memberi kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya.

d)     Kenali dan dukung kelebihan klien
Tunjukkan dan cari penyelesaian masalah (koping) yang bisa digunakan klien, cara
menceritakan perasaannya kepada orang lain yang terdekat/dipercaya.
1)      Bahas dengan klien tentang koping yang konstruktif
2)      Dukung koping klien yang konstruktif
3)      Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang konstruktif.


e)      Bantu klien mengurangi ansietasnya ketika hubungan interpersonal
(1)   Batasi jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal terapi.
(2)   Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin.
(3)   Temani klien beberapa saat dengan duduk di sampingnya.
(4) Libatkan klien dalam berinteraksi dengan orang lain secarabertahap.
(5) Libatkan klien dalam aktifitas kelompok.

f)       Pendidikan kesehatan
1)      Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan klien selain kata-kata seperti menulis, menangis, menggambar, berolahraga atau bermain musik.
2)      Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan menarik diri.
3)      Jelaskan dan anjurkan pada keluarga untuk tetap mengadakan hubungan dengan klien.
4)      Anjurkan kepada keluarga agar mengikutsertakan klien dalam kegiatan di masyarakat.



g)      Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)
1)      Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai dapat melaksanakan secara mandiri.
2)      Bimbing klien berpakaian yang rapi.
3)      Batasi kesempatan untuk tidur, sediakan sarana informasi dan hiburan seperti majalah, surat kabar, radio dan televisi.
4)      Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien.

h)      Lingkungan terapeutik
1)      Pindahkan barang-barang yang dapat membahayakan klien maupun orang lain di lingkungan.
2)      Cegah agar klien tidak berada di dalam ruang sendiri dalam jangka waktu yang lama.
3)      Beri rangsangan sensorik seperti suara musik, gambar hiasan di ruangan.




















I.       Format Pengkajian

Konsep dasar asuhan keperawatan kesehatan jiwa pada klien dengan isolasi sosial
1.      Pengkajian
Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor presipitasi, penilaian stressor , sumber koping yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengajian ,tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi pengkajian meliputi :
a.       Identitas Klien
Meliputi nama klien , umur , jenis kelamin , status perkawinan, agama, tangggal, MRS , informan, tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien.
b.      Keluhan Utama
Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada , berdiam diri dikamar ,menolak interaksi dengan orang lain ,tidak melakukan kegiatan sehari – hari , dependen
c.       Faktor predisposisi
Kehilangan , perpisahan , penolakan orang tua ,harapan orang tua yang tidak realistis ,kegagalan / frustasi berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial. Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi , kecelakaan dicerai suami , putus sekolah ,PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan , tituduh kkn, dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.
2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Resiko perubahan sensori persepsi halusinasi
b.      Isolasi sosial
c.       Gangguan konsep diri : harga diri
3.      Rencana Tindakan Keperawatan Isolasi sosial menarik diri
a.       Tujuan umum
Tidak terjadi isolasi sosial menarik diri
b.      Tujuan khusus
1)      Membina hubungan saling percaya
2)      Menyebutkan penyebab menarik diri
3)      Menyebutkan euntungan bergaul dengan orang lain
4)      Melakukan hubungan sosial (secara bertahap)
5)      Mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain
6)      Memberdayakan system pendukung
7)      Mengunakan obat dengan tepat dan benar
c.       Intervensi keperawatan
1)      Bina hubungan saling percaya
a)      Beri salam atau pangil nama
b)      Sebutkan nama perawat sambil jabat tangan
c)      Jelaskan maksud tujuan interaksi
d)     Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat
e)      Beri rasa aman dan sikap empati
f)       Lakukan kontak singkat tapi sering
2)      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
a)      Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien mulai dari bagian tubuh yang masih berfungsi dengan baik
b)      Setiap bertemu klien hindari memberikan penilaia yang negative
3)      Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
a)      Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
b)      Diskusikan pula kemampua yang dapat dilnjutkan pengunaannya setelah pulang sesuai dengan kondisi sakit
4)      Klien dapat menetapkan atau merenanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
a)       Rencanakan bersama klien tentang aktifitas yang akan dilakukan sesuai dengan kemampuan klien
b)      Tingkatkan kegiatan sesuai toleransi klien
c)      Beri contoh cara pelaksanaanpada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
5)      Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi dan kemampun klien
a)      Beri kesempatan pada klien untu mencoba kegiatan yang telah direncanakan
b)      Beri pujian atas keberhasilan
c)      Diskusikan tentang pelaksanaan dirumah



6)      Klien dapat memamfaatkan system pendukung yang ada
a)      Beri pendidika kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan isolasi sosial
b)      Bantu kluarga untuk menyiapkan lingkungan dirumah
7)      Mengunakan obat yang tepat dan benar
a)      Bantu klien mengunakan obat dengan pirinsip 5 benar (obat, cara, dosis, waktu, klien)
b)      Anjurkan klien membicaakan efek samping obat yang dirasakan

Format Pengkajian Pasien Isolasi Sosial
Hubungan sosial
a.       Orang yang berarti bagi pasien :................................................................
b.      Peran serta dalam kegiatan kelompok atau masyarakat :.........................
c.       Hambatan berhubungan dengan orang lain :............................................
Masalah keperawatan :..........................................................................................
a.       Pasien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain.
b.      Pasien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
c.       Pasien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
d.      Pasien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
e.       Pasien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
f.       Pasien merasa tidak berguna.
g.      Pasien tidak yakin dalam melangsungkan hidup.

Pertanyaan –pertanyaan berikut ini dapat anda tanyakan pada saat wawancara untuk mendapatkan data subjektif:
a.       Bagaimana pendapat pasien terhadap orang-orang disekitarnya (keluarga atau tetangga) ?
b.      Apakah pasien memiliki teman dekat? Jika ada, siapa teman dekatnya?
c.       Apa yang membuat pasien tidak memiliki orang yang terdekat dengannya?
d.      Apa yang pasien inginkan dari orang-orang disekitarnya?
e.       Apakah ada perasaan tidak aman yang dialami oleh pasien?
f.       Apa yang menghambat hubungan yang harmonis antara pasien dan orang sekitarnya?
g.      Apakah pasien merasakan bahwa waktu begitu lama berlalu?
h.      Apakah pernah ada perasaan ragu untuk dapat melanjutkan hidup?

Tanda dan gejala isolasi sosial yang didapat melalui observasi .
a.    Tidak memiliki teman dekat.
b.    Menarik diri.
c.    Tidak komunikatif.
d.   Tindakan berulang dan tidak bermakna.
e.    Asyik dengan pikirannya sendiri.
f.     Tidak ada kontak mata.
g.    Tampak sedih, afek tumpul.
Pendokumentasian asuhan keperawatan dilakukan pada setiap tahap proses keperawatan yang meliputi dokumentasi pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi tindakan keperawatan, dan evaluasi.

Diagnosis keperawatan
Selanjutnya, setelah pengkajian dilakukan dan didokumentasikan, masalah keperawatan dirumuskan dan diagnosis keperawatan ditegakkan. Berdasarkan pengkajian tersebut, masalah keperawatan yang dirumuskan adalah isolasi sosial.

Tindakan keperawatan
Setalah dibuat perumusan masalah dan diagnosis keperawatan ditegakkan, perawat dapat melakukan tindakan keperawatan pada pasien dan keluarga.
a.       Tindakan keperawatan pada pasien
1.      Tujuan keperawatan
a)  Pasien dapat membina hubungan saling percaya.
b)  Pasien dapat menyadari penyebab isolasi sosial.
c)  Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain.
     2. Tindakan keperawatan                                
                        a)  Membina hubungan saling percaya
                        untuk membina hubungan saling percaya dengan pasien isolasi sosial kadang membutuhkan waktu yang lama dan interaksi yang singkat serta sering karena tidak mudah bagi pasien untuk percaya pada orang lain. Oleh karena itu, perawat harus konsisten bersikap teraupetik terhadap pasien. Selalu memepati janji adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan. Pendekatan yang konsisten akan membuahkan hasil. Jika pasien sudah percaya dengan perawat, program asuhan keperawatan lebih mungkin dilaksanakan. Membina hubungan saling percaya dapat dilakukan dengan cara :
                        1) Ucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien.
     2) Berkenalan dengan pasien: perkenalkan nama lengkap dan nama panggilan perawat serta tanyakan nama lengkap dan nama panggilan pasien.
                        3) Tanyakan perasaan dan keluhan pasien saat ini.
     4) Buat kontrak asuhan : apa yang akan perawat lakukan bersama pasien, berapa lama akan dikerjakan, dan tempat pelaksanaan kegiatan.
     5) jelasakan bahwa perawat akan merahasiakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi.
                             6) tunjukkan sikap empati terhadap pasien setiap saat.
                             7) penuhi kebutuhan dasar pasien jika mungkin.
                       
                        b) membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial dengan cara :
                             1) tanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
                             2) tanyakan penyebab pasien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.

                   c) bantu pasien untuk mengenal manfaat berhubungan dengan orang lain dengan cara mendiskusikan manfaat jika pasien memilki banyak teman.
                  
                   d) membantu pasien mengenal kerugian tidak berhubungan dengan cara sebagai berikut:
     1) diskusikan kerugian jika pasien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain.
                             2) jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik pasien.

                        e) membantu pasien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.
              Perawat tidak mungkin secara drastis mengubah kebiasaan pasien dalam berinteraksi dengan orang lain karena kebiasaan tersebut telah terbentuk dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu, perawat dapat melatih pasien berinteraksi secra bertahap. Mungkin pada awalnya, pasien hanya akan akrab dengan perawat, tetapi setelah itu perawat harus membiasakan pasien untuk dapat berinteraksi secara bertahap dengan orang-orang disekitarnya. Perawata dapat melatih pasien berinteraksi dengan cara berikut :
      a.       Memberikan kesempatan pasien mempraktikkan cara berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan dihadapan anda.
      b.      Mulailah bentu pasien berinteraksi dengan satu orang (paien, perawat atau keluarga).
      c.       Jika pasien sudah menujukkan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan dua, tiga, empat orang dan seterusnya.
      d.      Berilah pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh pasien.
      e.       Dengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi dengan orang lain. Mungkin pasien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya. Berilah dorongan agar pasien tetap semangat meningkatkan interaksinya.


Strategi pelaksana

Hari                                                  : Senin , 21 Mei 2012
Pertemuan                                        : 1
Sp/Dx                                               : 1/ Isolasi Sosial
Ruangan                                           : Saraswati
Nama Klien                                      : Ny S

Sp 1 : membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial, membantu pasien mengenal manfaat berhubungan dengan orang lain, dan mengajarkan pasien berkenalan.

Orientasi
“selamat pagi! Saya suster HS. Saya senag dipanggil suster H. Saya perawat diruang mawar ini.”
“siapa nama anda? Senang dipanggil apa?”
“apa keluhan S hari ini? Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman S? Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau diruang tamu? Mau berapa lama, S? Bagaimana kalau 15 menit?”




Kerja
(jika pasien baru)
“siapa saja yang tinggal serumah dengan S? Siapa yang paling dekat dengan S? Siapa yang jarang dengan S? Siapa yang jarang bercakap-cakap dengan S? Apa yang membuat S jarang bercakap-cakap dengannya?”
(jika paien sudah lama dirawat)
“apa yang S rasakan selama S dirawat disini? S merasa sendirian? Siapa saja yang S kenal diruangan ini?”
Apa saja kegiatan yang biasa S lakukan dengan teman yang S kenal?”
“apa yang menghambat S dalam berteman atau bercakap-cakap dengan pasien yang lain?”
“menurut S, apa saja manfaatnya kalau kita memiliki teman? Wah benar, ada teman bercakap-cakap. Apa lagi? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Nah, apa kerugiannya kalu S tidak memiliki teman? Ya, apa lagi? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa). Nah, banyak juga ruginya tidak punya teman ya? Jadi, apakah S belajar bergaul dengan orang lain?”
“bagus, bagaimana kalau sekarang kita belajar berkenalan dengan orang lain?”
“begini lho S, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita, nama panggilan yang kita suka, asal kita, dan hobi kita. Contohnya : nama saya SN, senang dipanggil S, asal saya dari kota X, hobi memasak.”
“ayo S coba! Misalnya saya belum kenal dengan S, coba berkenalan dengan saya! Ya, bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali!”
“setelah S berkenalan dengan orang tersebut, S bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang menyenangkan S bicarakan, misalnya tentang cuaca, tentang hobi, tentang keluarga, pekerjaan, dan sebagainya.”

Terminasi
“bagaiman perasaan S setelah kita latihan berkenalan?”
“S tadi sudah mempraktikkan cara berkenalan dengan baik sekali. Selanjutnya S dapat mengingat-ngingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada sehingga S lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. S mau mempraktikkan ke orang lain? Bagaimana kalau S mencoba berkenalan dengan teman saya, perawat N. Bagaimana, S mau kan?’’
“baiklah, sampai jumpa!”


Hari                                                  : Selasa , 22 Mei 2012
Pertemuan                                        : 2
Sp/Dx                                               : 2/ Isolasi Sosial
Ruangan                                           : Saraswati
Nama Klien                                      : Ny S

SP 2 pasien : mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan orang pertama [perawat]).

Orientasi
“selamat pagi S! Bagaimana perasaan S hari ini?”
“sudah diingat-ingat lagi pelajaran kita tentang berkenalan? Coba sebutkan lagi sambil bersalaman dengan suster!”
“bagus sekali, S masih ingat. Nah, seperti janji saya, saya akan mengajak S mencoba berkenalan dengan teman saya, perawat N. Tidak lama kok, sekitar 10 menit.”
“ayo kita temui perawat N disana!’’

Kerja
(bersama-sama S, perawat mendekati perawat N)
“selamat pagi perawat N, S ingin berkenalan dengan N. Baiklah S, S bisa berkenalan dengan perawat N seperti yang kita praktikkan kemarin.” (pasien mendemonstrasikan cara berkenalan dengan perawat N : memberi salam, menyebutkan nama, menanyakan nama perawat, dan seterusnya).
“ada lagi yang S ingin tanyakan kepada perawat N? Coba tanyakan tentang kaluarga perawat N!”
“jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, S dapat menyudahi perkenalan ini. Lalu S bisa buat janji untuk bertemu lagi dengan perawat N, misalanya jam 1 siang nanti.”
“baiklah perawat N, karena S sudah selesai berkenalan, saya dan S akan kembali keruangan S. Selamat pagi!” (bersama pasien, perawat H meninggalkan perawata N untuk melakukan terminasi dengan S ditempat lain.”

Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah berkenalan dengan perawat N?”
“S tampak bagus sekali saat berkenalan tadi.”
“pertahankan terus apa yang sudah S lakukan tadi. Jangan lupa untuk menanyakan topik supaya perkenalan berjalan lancar, misalnya menanyakan keluarga, hobi, dan sebagainya. Bagaimana, mau coba dengan perawat lain? Mari kita masukkan kedalam jadwal. Mau berapa kali sehari? Bagaimana kalau 2 kali. Baik, nanti S coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya, mau jam berapa? Jam 10? Sampai besok!”

Hari                                                  : Rabu , 23 Mei 2012
Pertemuan                                        : 3
Sp/Dx                                               : 3/ Isolasi Sosial
Ruangan                                           : Saraswati
Nama Klien                                      : Ny S

SP 3 pasien : melatih pasien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan orang kedua).

Orientasi
“selamat pagi S! Bagaimana perasaan S hari ini?”
“apakah S bercakap-cakap dengan perawat N kemarin siang (jika jawaban pasien ya, perawat dapat melanjutkan komunikasi berikutnya dengan pasien lain).”
“bagaimana perasaan S setelah bercakap-cakap dengan perawat N kemarin siang?”
“bagus sekali S menjadi senang punya teman lagi!”
“kalau begitu S ingin punya banyak teman lagi?”
“bagaimana kalau sekarang kita berkenalan lagi dengan teman seruangan S yang lain, yaitu O. Seperti biasa, kira-kira 10 menit. Mari kita temui dia diruang makan.”

Kerja
(bersama-sama S, perawat mendekati pasien lain)
“selamat pagi, ini ada pasien saya yang ingin berkenalan.”
“baiklah S, S sekarang bisa berkenalan dengannya seperti yang telah S lakukan sebelumnya.” (pasien mendemonstrasikan cara berkenalan : memberi salam, menyebutkan nama, nama panggilan, asal, hobi, dan menanyakan hal yang sama).”
“ada lagi yang S ingin tanyakan kepada O? Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, S bisa sudahi perkenalan ini. Lalu S bisa buat janji bertemu lagi, misalnya bertemu lagi jam 4 sore nanti (S membuat janji untuk bertemu kembali dengan O).”
“baiklah O, karena S sudah selesai berkenalan, saya dan S akan kembali keruangan S. Selamat pagi (bersam pasien perawat meninggalkan O untuk melakukan terminasi dengan S ditempat lain).”

Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah berkenalan dengan O?”
“dibandingkan kemarin pagi, S tampak lebih baik ketika berkenalan dengan O. Pertahankan apa yang sudah S lakukan tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali dengan O jam 4 sore nanti.”
“selanjutnya, bagaiman jika kegiatan berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang lain kita tambahkan lagi dengan orang lain sebanyak tiga kali, jam 10 pagi, jam 1 siang, dan jam 8 malam, S bisa bertemu dengan N, dan tambah dengan orang lain lagi secara bertahap. Bagaimana S, setuju kan?”
“baiklah, besok kita ketemu lagi untuk membicarakan pengalaman S. Pada jam yang sama dan tempat yang sama ya.”
“sampai besok!”


















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

            Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Klien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain. Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun komunikasi dengan orang lain.
























DAFTAR PUSTAKA

Direja, A .2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Nuha medika : Yogyakarta
Kusumawati, farida, 2010.Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Salemba Medika : Jakarta
Yosep, iyus. 2009. Keperawatan jiwa , Refrika Aditama : Bandung 
Dalami,Ermawati. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa. Cv.Trans info Media: Jakarta
http://margakuciptaaskepjiwaisos.blogspot.com/
http://thinkgoodone.blogspot.com/2012/09/isolasi-sosial.html




No comments:

Post a Comment