MAKALAH
KEPERAWATAN JIWA
TENTANG
ISOLASI
SOSIAL
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Menurut
Depkes RI (2000), kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gagasan
interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel
menimbulkan perilaku maladaptive da mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan
sosial.
Menurut
Balitbang (2007), merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi dengan
orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai
kesempatan untuk berbagai rasa, pikiran dan kegagalan. Klien mengalami
kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang
dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian, dan tidak
sanggup berbagai pengalaman.
Isolasi
sosial adalah salah satu gangguan jiwa yang banyak terjadi di masyarakat yang
disebabkan oleh beberapa faktor. Maka dari itu perlu kita ketahui lebih dalam
tentang apa itu gangguan jiwa pada isolasi sosial, dan bagaimana penanganannya.
B.
Tujuan
-
Mengetahui Defenisi Isolasi Sosial
-
Mempelajari Rentang Respon Isolasi Sosial
-
Mengetahui Penyebab Isolasi Sosial
-
Mengetahui Tanda Dan Gejala Isolasi Sosial
-
Mengetahui Cara Pengobatan Isolasi Sosial
-
Mempelajari Format Pengkajian Isolasi Sosial
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Defenisi
Menurut Depkes RI (2000), kerusakan interaksi sosial merupakan suatu
gagasan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel
menimbulkan perilaku maladaptive da mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan
sosial.
Menurut Balitbang (2007), merupakan upaya menghindari suatu hubungan
komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak
mempunyai kesempatan untuk berbagai rasa, pikiran dan kegagalan. Klien
mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang
dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian, dan tidak
sanggup berbagai pengalaman.
Menurut Stuart dan Sundeen (1998), kerusakan interaksi sosial adalah satu
gangguan kepribadian yang tidak fleksibel, tingkat maladaptive, dan mengganggu
fungsi individu dalam hubungan sosialnya.
Menurut Townsend (1998), kerusakan interaksi sosial adalah suatu keadaan
dimana seseorang berpartisipasi dalam pertukaran sosial dengan kuantitas dan
kualitas yang tidak efektif. Klien yang mengalamai kerusakan interaksi
sosial mengalami kesulitan dalam
berinteraksi dengan orang lain salah satunya mengarah pada menarik diri.
Menurut Rawlins, 1993 dikutip Keliat (2001), menarik diri merupakan
percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan
dengan orang lain.
B.
Penyebab
Terjadinya gangguan ini dipengaruhi oleh factor
presdiposisi diantaranya perkembangan dan sosial budaya. Kegagalan dapat
mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya pada orang lain, ragu,
takut salah, pesimis, putus asa terhadap orang lain, tidak mampu merumuskan
keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku tidak
ingin berkomunikasi dengan orang lain, lebih menyukai berdiam diri, menghindar
diri dari orang lain, dan kegiatan sehari-hari terabaikan.
C.
Pohon
Masalah
![]() |
Sumber: (Keliat, 2006)
D.
Faktor
Predisposisi
1. Faktor
Tumbuh Kembang
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang
harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial.
Bila
tugas-tugas dalam perkembangan ini tidak dipenuhi maka akan menghambat fase
perkembangan sosial yang nantinya akan dapat menimbulkan masalah.
|
Tahapan
perkembangan
|
Tugas
|
|
Masa bayi
|
Menetapkan
rasa percaya
|
|
Masa
bermain
|
Mengembangkan
otonomi dan awal perilaku mandiri
|
|
Masa pra
sekolah
|
Belajar
menunjukkan inisiatif, rasa tanggung jawab dan hati nurani
|
|
Masa
sekolah
|
Belajar berkompetisi,
bekerjasama dan berkompromi
|
|
Masa pra
remaja
|
Menjalin
hubungan intim dengan teman sesama jenis kelamin
|
|
Masa
remaja
|
Menjadi
intim dengan teman lawaan jenis atau bergantung
|
|
Masa
dewasa muda
|
Menjadi
saling bergantung antara orang tua dan teman mencari pasangan menikah dan
mempunyai anak
|
|
Masa
tengah baya
|
Belajar
menerima hasil kehidupan yang sudah di lalui
|
|
Masa
dewasa tua
|
Berduka
karena kehilangan dan mengembangkan perasaan keterikatan dengan budaya
|
Sumber: Stuart dan Sundeen (1995), hlm. 346 dikutip
dalam fitria (2009)
2. Faktor
Komunikasi Dalam Keluarga
Ganguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya
gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam
berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan (Double bind) yaitu suatu
keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan
dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang
menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga.
3. Faktor
Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan
suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini di
sebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, diamana setiap anggota
keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, berpenyakit kronis, dan
penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.
4. Faktor
Biologis
Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya
gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya
gangguan dalam hubungan sosial adalah otak, misalnya pada klien skizofrenia
yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal
pada otak seperti atropi otak, serta perhubungan ukuran dan bentuk sel-sel
dalam limbic dan daerah kortikal.
E.
Faktor
Presipitasi
Terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat di timbulkan oleh faktor
internal dan eksternal seseorang. Faktor stressor presipitasi dapat di
kelompokan sebagai berikut:
1. Faktor Eksternal
Contohnya adalah stressor soaial
budaya, yaitu stree yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya seperti
keluarga.
2. Faktor Internal
Contohnya adalah stressor
psikologis, yaitu sress terjadi akibat anxietas atau kecemasan yang berkepanjangan
dan terjadinya bersama dengan keterbatasan kemampuan individu untuk
mengatasinya. Anxietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan
orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.
F.
Tanda
Dan Gejala
Adapun
tanda dan gejala isolasi sosial adalah sebagai berikut :
1.
Menyendiri dalam ruangan
2.
Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata
3.
Sedih, afek datar
4.
Berpikir menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak bermakna
5.
Perhatian dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya
6.
Mengekpresikan penolakan atau kesepian terhadap orang lain
7.
Tidak ada asosiasi antara ide satu dengan lainnya
8.
Menggunakan kata-kata simbolik
9.
Menggunakan kata yang tidak berarti
10. Kontak mata kurang
11.
Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun dan
berdiam diri
G.
Rentang
Respon
Berikut ini akan
dijelaskan tentang respon yang terjadi pada isolasi sosial :
a. Respon adaptif
Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma,
sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku. Dengan kata lain individu
tersebut masih dalam batas normal ketika menyelesaikan masalah. Berikut ini
adalah sikap yang termasuk respon adaptif.
1)
Menyendiri, respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah
terjadi di lingkungan sosialnya
2)
Otonomi, kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide, pikiran, dan
perasaan dalam hubungan sosial.
3)
Bekerja sama, kemampuan individu yang saling membutuhkan satu sama lain.
4)
Interdependen, saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam
membina hubungan interpersonal.
b. Respon maladaptif
Respon maladaptif adalah respon yang menyimpang dari norma sosial dan
kehidupan di suatu tempat. Berikut ini adalah perilaku yang termasuk respon
maladaptif :
1)
Menarik diri, merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan
dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
2)
Ketergantungan, seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga
tergantung dengan orang lain.
3)
Manipulasi, seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu
sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam
4)
Curiga, seseorang yang mengembangkan rasa curiga terhadap orang lain.
(Stuart dan
Sundeen, 1998).
H.
Penatalaksanaan
1.
Penatalaksanaan Medis (Dalami, et.all, 2009 : hal.120)
Isolasi sosial termasuk dalam
kelompok penyakit skizofrenia tak tergolongkan maka jenis
penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan adalah :
· Electro Convulsive Therapy (ECT)
Electro Convulsive Therapy
(ECT) adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik digunakan pada otak
dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal kepala
(pelipis kiri dan kanan). Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang
berlangsung 25-30 detik dengan tujuan terapeutik. Respon bangkitan listriknya
di otak menyebabkan terjadinya perubahan faal dan biokimia dalam otak.
Indikasi :
a) Depresi mayor
1) Klien depresi berat dengan retardasi mental, waham, tidak adaperhatian lagi
terhadap dunia sekelilingnya, kehilangan beratbadan yang berlebihan dan adanya
ide bunuh diri yang menetap.
2) Klien depresi ringan adanya riwayat responsif atau memberikanrespon membaik
pada ECT.
3) Klien depresi yang tidak ada respon terhadap pengobatanantidepresan atau
klien tidak dapat menerima antidepresan.
b) Maniak
Klien maniak yang tidak responsif terhadap cara terapi yang lainatau terapi
lain
berbahaya bagi klien.
c) Skizofrenia
Terutama akut, tidak efektif untuk skizofrenia
kronik, tetapibermanfaat pada
skizofrenia
yang sudah lama tidak kambuh
· Psikoterapi
Membutuhkan waktu yang
relatif cukup lama dan merupakan bagian penting dalam proses terapeutik, upaya
dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang, menciptakan
lingkungan yang terapeutik, bersifat empati, menerima klien apa adanya,
memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap
ramah, sopan dan jujur kepada klien.
· Terapi Okupasi
Adalah suatu ilmu dan seni
untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau tugas
yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan
meningkatkan harga diri seseorang.
2.
Penatalaksanaan Keperawatan
Terapi Modalitas Keperawatan
yang dilakukan adalah:
a) Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
·
Pengertian : TAK merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada
sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama.
·
Tujuan : Membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku
yang destruktif dan maladaptif.
·
Terapi aktivitas kelompok yang digunakan untuk
pasien dengan isolasi sosial adalah TAK Sosialisasi dimana klien dibantu untuk
melakukan sosialisasi dengan individu yang ada di sekitar klien. Sosialisasi
dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal, kelompok dan massa.
b) Prinsip Perawatan Isolasi Sosial
·
Psikoterapeutik
1) Bina hubungan saling percaya
2)
Buat kontrak dengan pasien memperkenalkan nama perawat pada waktu interaksi dan
tujuan.
3)
Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama klien, untuk menunjukan
penghargaan yang tulus.
4)
Jelaskan pada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan
kepada orang lain yang tidak berkepentingan.
c) Berkomunikasi dengan pasien secara jelas
dan terbuka
1)
Bicarakan dengan pasien tentang sesuatu yang nyata dan pakai istilah yang
sederhana.
2)
Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraan dengan perawat.
3)
Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai, jelas dan teratur.
4)
Tunjukan sikap empatidan memberi
kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya.
d) Kenali dan dukung kelebihan klien
Tunjukkan dan cari penyelesaian masalah (koping) yang bisa digunakan klien,
cara
menceritakan perasaannya kepada orang lain yang terdekat/dipercaya.
1)
Bahas dengan klien tentang koping yang konstruktif
2)
Dukung koping klien yang konstruktif
3)
Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang konstruktif.
e) Bantu klien mengurangi ansietasnya ketika
hubungan interpersonal
(1) Batasi
jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal terapi.
(2) Lakukan
interaksi dengan klien sesering mungkin.
(3) Temani
klien beberapa saat dengan duduk di sampingnya.
(4) Libatkan klien dalam
berinteraksi dengan orang lain secarabertahap.
(5) Libatkan klien dalam
aktifitas kelompok.
f) Pendidikan kesehatan
1)
Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan klien selain kata-kata
seperti menulis, menangis, menggambar, berolahraga atau bermain musik.
2)
Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan menarik diri.
3)
Jelaskan dan anjurkan pada keluarga untuk tetap mengadakan hubungan dengan
klien.
4)
Anjurkan kepada keluarga agar mengikutsertakan klien dalam kegiatan di
masyarakat.
g) Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)
1)
Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai dapat melaksanakan secara
mandiri.
2)
Bimbing klien berpakaian yang rapi.
3)
Batasi kesempatan untuk tidur, sediakan sarana informasi dan hiburan seperti
majalah, surat kabar, radio dan televisi.
4)
Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien.
h) Lingkungan terapeutik
1)
Pindahkan barang-barang yang dapat membahayakan klien maupun orang lain di
lingkungan.
2)
Cegah agar klien tidak berada di dalam ruang sendiri dalam jangka waktu yang
lama.
3)
Beri rangsangan sensorik seperti suara musik, gambar hiasan di ruangan.
I. Format Pengkajian
Konsep
dasar asuhan keperawatan kesehatan jiwa pada klien dengan isolasi sosial
1.
Pengkajian
Pengelompokan data pada pengkajian
kesehatan jiwa berupa faktor presipitasi, penilaian stressor , sumber koping
yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengajian ,tulis tempat klien dirawat dan
tanggal dirawat isi pengkajian meliputi :
a. Identitas Klien
Meliputi nama klien , umur , jenis
kelamin , status perkawinan, agama, tangggal, MRS , informan, tangggal
pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien.
b. Keluhan Utama
Keluhan biasanya berupa menyediri
(menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada , berdiam diri
dikamar ,menolak interaksi dengan orang lain ,tidak melakukan kegiatan sehari –
hari , dependen
c. Faktor
predisposisi
Kehilangan , perpisahan , penolakan
orang tua ,harapan orang tua yang tidak realistis ,kegagalan / frustasi
berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial. Terjadi
trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi , kecelakaan dicerai suami ,
putus sekolah ,PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban
perkosaan , tituduh kkn, dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak
menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.
2.
Diagnosa Keperawatan
a. Resiko
perubahan sensori persepsi halusinasi
b. Isolasi sosial
c. Gangguan konsep
diri : harga diri
3.
Rencana Tindakan Keperawatan Isolasi
sosial menarik diri
a. Tujuan umum
Tidak terjadi isolasi sosial menarik
diri
b. Tujuan khusus
1)
Membina hubungan saling percaya
2)
Menyebutkan penyebab menarik diri
3)
Menyebutkan euntungan bergaul dengan orang lain
4)
Melakukan hubungan sosial (secara bertahap)
5)
Mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain
6)
Memberdayakan system pendukung
7)
Mengunakan obat dengan tepat dan benar
c. Intervensi
keperawatan
1)
Bina hubungan saling percaya
a) Beri salam atau
pangil nama
b) Sebutkan nama perawat
sambil jabat tangan
c) Jelaskan maksud
tujuan interaksi
d) Jelaskan tentang kontrak
yang akan dibuat
e) Beri rasa aman dan
sikap empati
f)
Lakukan kontak singkat tapi sering
2) Klien
dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
a)
Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien mulai dari bagian
tubuh yang masih berfungsi dengan baik
b) Setiap bertemu klien
hindari memberikan penilaia yang negative
3)
Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
a)
Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
b)
Diskusikan pula kemampua yang dapat dilnjutkan pengunaannya setelah pulang
sesuai dengan kondisi sakit
4)
Klien dapat menetapkan atau merenanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki
a) Rencanakan bersama klien tentang aktifitas
yang akan dilakukan sesuai dengan kemampuan klien
b) Tingkatkan kegiatan
sesuai toleransi klien
c)
Beri contoh cara pelaksanaanpada klien untuk mencoba kegiatan yang telah
direncanakan
5)
Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi dan kemampun klien
a)
Beri kesempatan pada klien untu mencoba kegiatan yang telah direncanakan
b) Beri pujian atas
keberhasilan
c) Diskusikan tentang
pelaksanaan dirumah
6)
Klien dapat memamfaatkan system pendukung yang ada
a)
Beri pendidika kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan
isolasi sosial
b) Bantu kluarga untuk
menyiapkan lingkungan dirumah
7)
Mengunakan obat yang tepat dan benar
a)
Bantu klien mengunakan obat dengan pirinsip 5 benar (obat, cara, dosis, waktu,
klien)
b) Anjurkan klien
membicaakan efek samping obat yang dirasakan
Format
Pengkajian Pasien Isolasi Sosial
Hubungan
sosial
a. Orang yang
berarti bagi pasien
:................................................................
b. Peran serta dalam
kegiatan kelompok atau masyarakat :.........................
c. Hambatan
berhubungan dengan orang lain :............................................
Masalah
keperawatan
:..........................................................................................
a.
Pasien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain.
b.
Pasien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
c.
Pasien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
d.
Pasien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
e.
Pasien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
f.
Pasien merasa tidak berguna.
g.
Pasien tidak yakin dalam melangsungkan hidup.
Pertanyaan –pertanyaan berikut ini
dapat anda tanyakan pada saat wawancara untuk mendapatkan data subjektif:
a.
Bagaimana pendapat pasien terhadap orang-orang disekitarnya (keluarga atau
tetangga) ?
b.
Apakah pasien memiliki teman dekat? Jika ada, siapa teman dekatnya?
c.
Apa yang membuat pasien tidak memiliki orang yang terdekat dengannya?
d.
Apa yang pasien inginkan dari orang-orang disekitarnya?
e.
Apakah ada perasaan tidak aman yang dialami oleh pasien?
f.
Apa yang menghambat hubungan yang harmonis antara pasien dan orang sekitarnya?
g.
Apakah pasien merasakan bahwa waktu begitu lama berlalu?
h.
Apakah pernah ada perasaan ragu untuk dapat melanjutkan hidup?
Tanda dan
gejala isolasi sosial yang didapat melalui observasi .
a.
Tidak memiliki teman dekat.
b.
Menarik diri.
c.
Tidak komunikatif.
d.
Tindakan berulang dan tidak bermakna.
e.
Asyik dengan pikirannya sendiri.
f.
Tidak ada kontak mata.
g.
Tampak sedih, afek tumpul.
Pendokumentasian asuhan keperawatan
dilakukan pada setiap tahap proses keperawatan yang meliputi dokumentasi
pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi tindakan
keperawatan, dan evaluasi.
Diagnosis keperawatan
Selanjutnya, setelah pengkajian
dilakukan dan didokumentasikan, masalah keperawatan dirumuskan dan diagnosis
keperawatan ditegakkan. Berdasarkan pengkajian tersebut, masalah keperawatan
yang dirumuskan adalah isolasi sosial.
Tindakan keperawatan
Setalah dibuat perumusan masalah dan
diagnosis keperawatan ditegakkan, perawat dapat melakukan tindakan keperawatan
pada pasien dan keluarga.
a.
Tindakan keperawatan pada pasien
1.
Tujuan keperawatan
a) Pasien dapat membina hubungan saling percaya.
b) Pasien dapat menyadari penyebab isolasi
sosial.
c) Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain.
2. Tindakan
keperawatan
a) Membina hubungan saling percaya
untuk membina hubungan
saling percaya dengan pasien isolasi sosial kadang membutuhkan waktu yang lama
dan interaksi yang singkat serta sering karena tidak mudah bagi pasien untuk
percaya pada orang lain. Oleh karena itu, perawat harus konsisten bersikap
teraupetik terhadap pasien. Selalu memepati janji adalah salah satu upaya yang
dapat dilakukan. Pendekatan yang konsisten akan membuahkan hasil. Jika pasien
sudah percaya dengan perawat, program asuhan keperawatan lebih mungkin
dilaksanakan. Membina hubungan saling percaya dapat dilakukan dengan cara :
1) Ucapkan salam setiap
kali berinteraksi dengan pasien.
2) Berkenalan dengan pasien: perkenalkan
nama lengkap dan nama panggilan perawat serta tanyakan nama lengkap dan nama
panggilan pasien.
3) Tanyakan perasaan dan
keluhan pasien saat ini.
4) Buat kontrak asuhan : apa yang akan
perawat lakukan bersama pasien, berapa lama akan dikerjakan, dan tempat
pelaksanaan kegiatan.
5) jelasakan bahwa perawat akan
merahasiakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi.
6)
tunjukkan sikap empati terhadap pasien setiap saat.
7) penuhi
kebutuhan dasar pasien jika mungkin.
b) membantu
pasien mengenal penyebab isolasi sosial dengan cara :
1)
tanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
2)
tanyakan penyebab pasien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.
c) bantu pasien
untuk mengenal manfaat berhubungan dengan orang lain dengan cara mendiskusikan
manfaat jika pasien memilki banyak teman.
d) membantu pasien
mengenal kerugian tidak berhubungan dengan cara sebagai berikut:
1) diskusikan kerugian jika pasien hanya
mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain.
2)
jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik pasien.
e) membantu
pasien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.
Perawat tidak mungkin secara
drastis mengubah kebiasaan pasien dalam berinteraksi dengan orang lain karena
kebiasaan tersebut telah terbentuk dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu,
perawat dapat melatih pasien berinteraksi secra bertahap. Mungkin pada awalnya,
pasien hanya akan akrab dengan perawat, tetapi setelah itu perawat harus
membiasakan pasien untuk dapat berinteraksi secara bertahap dengan orang-orang
disekitarnya. Perawata dapat melatih pasien berinteraksi dengan cara berikut :
a.
Memberikan kesempatan pasien mempraktikkan cara berinteraksi dengan orang lain
yang dilakukan dihadapan anda.
b. Mulailah
bentu pasien berinteraksi dengan satu orang (paien, perawat atau keluarga).
c. Jika
pasien sudah menujukkan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan dua, tiga,
empat orang dan seterusnya.
d. Berilah
pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh pasien.
e.
Dengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi dengan orang lain.
Mungkin pasien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya. Berilah
dorongan agar pasien tetap semangat meningkatkan interaksinya.
Strategi
pelaksana
Hari :
Senin , 21 Mei 2012
Pertemuan : 1
Sp/Dx :
1/ Isolasi Sosial
Ruangan :
Saraswati
Nama Klien : Ny S
Sp 1 :
membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal penyebab isolasi
sosial, membantu pasien mengenal manfaat berhubungan dengan orang lain, dan
mengajarkan pasien berkenalan.
Orientasi
“selamat pagi! Saya suster HS. Saya
senag dipanggil suster H. Saya perawat diruang mawar ini.”
“siapa nama
anda? Senang dipanggil apa?”
“apa keluhan S hari ini? Bagaimana
kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman S? Mau dimana kita
bercakap-cakap? Bagaimana kalau diruang tamu? Mau berapa lama, S? Bagaimana
kalau 15 menit?”
Kerja
(jika pasien baru)
“siapa saja yang tinggal serumah
dengan S? Siapa yang paling dekat dengan S? Siapa yang jarang dengan S? Siapa
yang jarang bercakap-cakap dengan S? Apa yang membuat S jarang bercakap-cakap
dengannya?”
(jika paien sudah lama dirawat)
“apa yang S rasakan selama S dirawat
disini? S merasa sendirian? Siapa saja yang S kenal diruangan ini?”
Apa saja kegiatan yang biasa S
lakukan dengan teman yang S kenal?”
“apa yang menghambat S dalam
berteman atau bercakap-cakap dengan pasien yang lain?”
“menurut S, apa saja manfaatnya
kalau kita memiliki teman? Wah benar, ada teman bercakap-cakap. Apa lagi?
(sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Nah, apa kerugiannya kalu S tidak
memiliki teman? Ya, apa lagi? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa). Nah,
banyak juga ruginya tidak punya teman ya? Jadi, apakah S belajar bergaul dengan
orang lain?”
“bagus, bagaimana kalau sekarang
kita belajar berkenalan dengan orang lain?”
“begini lho S, untuk berkenalan
dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita, nama panggilan yang kita suka,
asal kita, dan hobi kita. Contohnya : nama saya SN, senang dipanggil S, asal
saya dari kota X, hobi memasak.”
“ayo S coba! Misalnya saya belum
kenal dengan S, coba berkenalan dengan saya! Ya, bagus sekali! Coba sekali
lagi. Bagus sekali!”
“setelah S berkenalan dengan orang
tersebut, S bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang menyenangkan S
bicarakan, misalnya tentang cuaca, tentang hobi, tentang keluarga, pekerjaan,
dan sebagainya.”
Terminasi
“bagaiman perasaan S setelah kita
latihan berkenalan?”
“S tadi sudah mempraktikkan cara
berkenalan dengan baik sekali. Selanjutnya S dapat mengingat-ngingat apa yang
kita pelajari tadi selama saya tidak ada sehingga S lebih siap untuk berkenalan
dengan orang lain. S mau mempraktikkan ke orang lain? Bagaimana kalau S mencoba
berkenalan dengan teman saya, perawat N. Bagaimana, S mau kan?’’
“baiklah, sampai jumpa!”
Hari :
Selasa , 22 Mei 2012
Pertemuan : 2
Sp/Dx :
2/ Isolasi Sosial
Ruangan :
Saraswati
Nama Klien : Ny S
SP 2 pasien : mengajarkan pasien
berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan orang pertama [perawat]).
Orientasi
“selamat pagi S! Bagaimana perasaan
S hari ini?”
“sudah diingat-ingat lagi pelajaran
kita tentang berkenalan? Coba sebutkan lagi sambil bersalaman dengan suster!”
“bagus sekali, S masih ingat. Nah,
seperti janji saya, saya akan mengajak S mencoba berkenalan dengan teman saya,
perawat N. Tidak lama kok, sekitar 10 menit.”
“ayo kita temui perawat N disana!’’
Kerja
(bersama-sama S, perawat mendekati
perawat N)
“selamat pagi perawat N, S ingin
berkenalan dengan N. Baiklah S, S bisa berkenalan dengan perawat N seperti yang
kita praktikkan kemarin.” (pasien mendemonstrasikan cara berkenalan dengan
perawat N : memberi salam, menyebutkan nama, menanyakan nama perawat, dan
seterusnya).
“ada lagi yang S ingin tanyakan
kepada perawat N? Coba tanyakan tentang kaluarga perawat N!”
“jika tidak ada lagi yang ingin
dibicarakan, S dapat menyudahi perkenalan ini. Lalu S bisa buat janji untuk
bertemu lagi dengan perawat N, misalanya jam 1 siang nanti.”
“baiklah perawat N, karena S sudah
selesai berkenalan, saya dan S akan kembali keruangan S. Selamat pagi!”
(bersama pasien, perawat H meninggalkan perawata N untuk melakukan terminasi
dengan S ditempat lain.”
Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah
berkenalan dengan perawat N?”
“S tampak bagus sekali saat
berkenalan tadi.”
“pertahankan terus apa yang sudah S
lakukan tadi. Jangan lupa untuk menanyakan topik supaya perkenalan berjalan
lancar, misalnya menanyakan keluarga, hobi, dan sebagainya. Bagaimana, mau coba
dengan perawat lain? Mari kita masukkan kedalam jadwal. Mau berapa kali sehari?
Bagaimana kalau 2 kali. Baik, nanti S coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya,
mau jam berapa? Jam 10? Sampai besok!”
Hari :
Rabu , 23 Mei 2012
Pertemuan : 3
Sp/Dx :
3/ Isolasi Sosial
Ruangan :
Saraswati
Nama Klien : Ny S
SP 3 pasien : melatih pasien
berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan orang kedua).
Orientasi
“selamat pagi S! Bagaimana perasaan
S hari ini?”
“apakah S bercakap-cakap dengan
perawat N kemarin siang (jika jawaban pasien ya, perawat dapat melanjutkan
komunikasi berikutnya dengan pasien lain).”
“bagaimana perasaan S setelah
bercakap-cakap dengan perawat N kemarin siang?”
“bagus sekali S menjadi senang punya
teman lagi!”
“kalau begitu S ingin punya banyak
teman lagi?”
“bagaimana kalau sekarang kita
berkenalan lagi dengan teman seruangan S yang lain, yaitu O. Seperti biasa,
kira-kira 10 menit. Mari kita temui dia diruang makan.”
Kerja
(bersama-sama S, perawat mendekati
pasien lain)
“selamat pagi, ini ada pasien saya
yang ingin berkenalan.”
“baiklah S, S sekarang bisa
berkenalan dengannya seperti yang telah S lakukan sebelumnya.” (pasien
mendemonstrasikan cara berkenalan : memberi salam, menyebutkan nama, nama
panggilan, asal, hobi, dan menanyakan hal yang sama).”
“ada lagi yang S ingin tanyakan
kepada O? Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, S bisa sudahi perkenalan
ini. Lalu S bisa buat janji bertemu lagi, misalnya bertemu lagi jam 4 sore
nanti (S membuat janji untuk bertemu kembali dengan O).”
“baiklah O, karena S sudah selesai
berkenalan, saya dan S akan kembali keruangan S. Selamat pagi (bersam pasien
perawat meninggalkan O untuk melakukan terminasi dengan S ditempat lain).”
Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah
berkenalan dengan O?”
“dibandingkan kemarin pagi, S tampak
lebih baik ketika berkenalan dengan O. Pertahankan apa yang sudah S lakukan
tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali dengan O jam 4 sore nanti.”
“selanjutnya, bagaiman jika kegiatan
berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang lain kita tambahkan lagi dengan
orang lain sebanyak tiga kali, jam 10 pagi, jam 1 siang, dan jam 8 malam, S
bisa bertemu dengan N, dan tambah dengan orang lain lagi secara bertahap.
Bagaimana S, setuju kan?”
“baiklah, besok kita ketemu lagi
untuk membicarakan pengalaman S. Pada jam yang sama dan tempat yang sama ya.”
“sampai besok!”
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Isolasi
sosial adalah keadaan dimana individu mengalami penurunan atau bahkan sama
sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Klien mungkin
merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang
berarti dengan orang lain. Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk
menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain
maupun komunikasi dengan orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Direja, A .2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.
Nuha medika : Yogyakarta
Kusumawati, farida, 2010.Buku Ajar Keperawatan Jiwa,
Salemba Medika : Jakarta
Yosep, iyus. 2009. Keperawatan jiwa , Refrika Aditama
: Bandung
Dalami,Ermawati. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan
Gangguan Jiwa. Cv.Trans info Media: Jakarta
http://margakuciptaaskepjiwaisos.blogspot.com/
http://thinkgoodone.blogspot.com/2012/09/isolasi-sosial.html


No comments:
Post a Comment