Saturday, February 18, 2017

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TRAUMA MEDULLA SPINALIS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TRAUMA MEDULLA SPINALIS


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Medula spinalis merupakan bagian lanjutan dari medula oblongata yang menjulur ke arah kaudal melalui foramen magnum lalu berakhir di antara vertebra lumbal pertama dan kedua. Fungsi medula spinalis yaitu mengadakan komunikasi antara otak dan semua bagian tubuh dan bergerak refleks. Cedera medula spinalis dapat diartikan sebagai suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada daerah medula spinalis. Kerusakan medula spinalis pada daerah lumbal  mengakibatkan  paralisis otot-otot pada kedua anggota gerak bawah, serta gangguan spinkter pada uretra dan rectum. Berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan di bawah lesi, cedera medula spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan inkomplet. Pembagian ini penting untuk menenetukan prognosis dan penanganan selanjutnya (Brunner dan Suddarth, 2001).
Cedera medula spinalis paling umum terjadi pada usia usia 16 sampai 30 tahun, sehingga termasuk salah satu penyebab gangguan fungsi saraf yang sering menimbulkan kecacatan permanen pada usia produktif. Kelainan ini sering mengakibatkan penderita harus terus berbaring di tempat tidur atau duduk di kursi roda karena paraplegia. Di antara kelompok usia ini, kejadian lebih sering pada laki-laki (82%) dari pada wanita (18%). Penyebab paling umum adalah kecelakaan kendaraan bermotor  (MVCs: 39%), jatuh (22%), tindakan kekerasan (25%), dan olahraga 7%. Sekitar 20% dari orang tua yang mengalami CMS adalah karena jatuh (Morton, 2005).
Data epidemiologik dari berbagai negara menyebutkan bahwa angka kejadian CMS sekitar 11,5-53,4 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Angka ini belum termasuk data jumlah penderita yang meninggal pada saat terjadinya cedera akut (Islam, 2006).
Pusat Data Nasional Cedera Medula Spinalis (The National Spinal Cord Injury Data Research Centre) memperkirakan terdapat 10.000 kasus baru CMS setiap tahunnya di Amerika Serikat. Insidensi paralisis komplet akibat kecelakaan diperkirakan 20 per 100.000 penduduk (Pinzon, 2007).
Data dari bagian rekam medik RSUP Fatmawati dari Januari-Juni 2003, angka kejadian fraktur berjumlah 165 termasuk di dalamnya 20 pasien menderita cedera medula spinalis (12,5%).
Pasien yang mengalami cedera medula spinalis bone loss pada L2-L3 membutuhkan perhatian lebih dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan mobilisasi. Pasien beresiko mengalami komplikasi cedera spinal seperti syok spinal, trombosis vena profunda, dan hiperfleksia autonomik. Oleh karena itu, sebagai perawat sangat perlu untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien cedera medula spinalis lumbal dengan cara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sehingga masalah dapat teratasi dan pasien dapat terhindar dari kemungkinan masalah yang buruk.

B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Melalui makalah ini, penulis ingin menelaah mengenai asuhan keperawatan pada pasien dengan cedera medula spinalis yang holistik.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi, dan klasifiksi kasus cedera medula spinalis
b.      Mengetahui data-data dasar pengkajian yang diperlukan dalam proses keperawatan
c.       Mampu menyusun langkah-langkah dalam proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.






























BAB II
TINJAUAN TEORITIS

       I.       KONSEP DASAR
A.    Defenisi
Medulla spinalis (spinal cord) merupakan bagian susunan saraf pusat yang terletak di dalam kanalis vertebralis dan menjulur dari foramen magnum ke bagian atas region lumbalis. Trauma pada medulla spinalis dapat bervariasi dari trauma ekstensi fiksasi ringan yang terjadi akibat benturan secara mendadak sampai yang menyebabkan transeksi lengkap dari medulla spinalis dengan quadriplegia (Fransiska B. Batticaca 2008).
Cedera torako-lumbal bisa disebabkan oleh trauma langsung pada torakal atau bersifat patologis seperti pada kondisi osteoporosis yang akan mengalami fraktur komprresi akibat keruntuhan tulang belakang (Arif Muttaqin 2008).
Cidera medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth 2008).
Cidera medullan spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan sering kali oleh kecelakaan lalu lintas. Apabila cedera itu mengenai daerah servikal pada lengan, badan dan tungkai mata penderita itu tidak tertolong. Dan apabila saraf frenitus itu terserang maka dibutuhkan pernafasan buatan, sebelum alat pernafasan. (diane c baughmen 2007).

B.     Anatomi Fisiologi
Bagian susunan saraf pusatyang terletak di dalam kanalis vetebratalis bersama ganglio radiks superior  yang terdapat pada setiap foramen invetebratalis terletak berpasangan kanan dan kiri. Organ ini mengurus persyarafan tubuh, anggota badan dan bagian belakang. Dimulai dari bagian bawah mendula obloganta setinggi korpus vetebrata servikalis I, memanjang sampai ke korpus vetebrata lumbalis I dan II.
Sama halnya dengan otak berada dalam sakus araknoid yang berisi cairan otak, sakus araknoid berakhir di dalam kanalis vetebratalis dalam tulang sakrum. Dalam mendula spinalis keluar 31 syaraf, terdiri dari:
-          Servikal                 : 8 pasang
-          Torakal                  :12 pasang
-          Lumbal                  : 5 pasang
-          Sakral                    : 1 pasang
Medula spinalis mengandung zat putih dan zat kelabu yang mengecil pada bagian atas menuju kebagian bawah sampai servikal dan torakal. Pada bagian ini terdapat pelebaran dari vetebrata servikal IV samai vetebrata torakal II. Pada daerah lumbal pelbaran ini semakin kecil disebut konus mendularis. Konus ini berakhir pada vetebrata lumbalis I dan II. Akar saaf yang berasal dari lumbal bersatu menembus foramen intervertebralis.
Penyebaran semua saraf  medula spinalis dimulai dari torakal I sampai lumbal III, mempunyai cabang-cabang dalam saraf yang akan keluar membentuk pleksus dan ini akan membentuk saraf tepi (perifer) terdiri dari:
-          Pleksus servikalis, di bentuk oleh cabang-cabang saraf servikalis anterior, cabang ini bekerja sama dengan nervus vagus dan nervus aksesorius.
-          Pleksus brakialis, dibentuk oleh persatuan cabang-cabang anterior dari saraf servikal 4 dan torakal 1, saraf terpenting nervus media. Nervus ulnaris radialis mempersarafi anggota gerak atas.
-          Pleksus lumbalis, dibuat oleh serabut saraf dan torakal 12, saraf terbesar yaitu nervus femoralis dan nervus obturator.
-          Dibentuk oleh saraf dari lumbal dan sakral, saraf skiatik yang merupakan saraf terbesar keluar mempersarafi otot anggota gerak bawah.

Sumsum tulang belakang di bungkus oleh tiga selaput yaitu dura meter (selaput luar), araknoid (selaput jaingan), dan piameter (selaput dalam). Diantara dura materdan araknoid terdapat lubang disebut kandung dura mater.
Susunan tulang belakang ada dua macam zat yaitu zat putih sebelah luar dan zat kelabu sebelah dalam. Zat kelalbu dibentuk oleh sel saraf (ganglio) berkatup banyak. Di dalamnya terdapat jaringan penunjang (monoglia). Sebelah kiri-kananterdapat tiang depan (tanduk depan) dan tiang belakang (tanduk belakang). Kanalis sentralis (saluran pusat) merupakan saluran sempit berhubungandengan lubang yang terdapat di tengah otak. Zat putih (tukal) terdapat diantara berkas depan kiri dan kanan dari selaput saraf.
Fungsi medula spinalis:
-          Pusatgerakan dari otot-otot tubuh terbesar dari komu motorik atau komu ventralis.
-          Mengurus kegiatan refleks-refkleks spinalis serta refleks lutut.
-          Menghantarkan rangsangan koordinasi dari dan sendi ke serebelum.
-          Sebagai penghubung antar segmen mendula spinalis.
-          https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiITTmZzWZdkq-uBlwV5l7dUNxuqSCLWi2tOxxbNly_A95l1bcWepWgavdehALYIplZtfH_oaSLIaXudfL16wctaFf2SMqgp0-YGhn1wl9mpjfJgdCrYUKVRjwsnDNT2XQP174cPeMeyR8/s1600/2.jpgMengadakan komonokasi antar otak dan semua bagian tubuh.














C.    Etiologi
Penyebab dari cidera medulla spinalis  (Arif Mutaqin 2008).
1.      Kecelakaan otomobil, industri
Kecelakaan  yang hebat dapat menyebabkan suatu benturan dari organ tubuh salah satu yang terjadi adalah  cidera tulang belakang secara langsung yang mengenai tulang belakang dan melampui batas kemampuan tulang belakang dalam  melindungi saraf –saraf yang berada didalamnya.
2.      Terjatuh, olahraga
Peristiwa jatuh karena suatu kegiatan  merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya cidera salah satunya karena  kegiatan olahraga yang berat contohnya adalah olahraga motor  GP , lari, lompat.
3.      Luka tusuk, tembak
Luka tusuk pada abdomen atau tulang belakang dapat dikatakan menjadi faktor terjadinya cidera karena terjadi suatu perlukaan atau insisi luka tusuk atau luka tembak.
4.      Tumor
Tumor merupakan  suatu bentuk peradangan. jika terjadi  komplikasi pada daerah tulang belakang spinal. Ini merupakan bentuk cidera tulang belakang.

D.    Patofisiologi/WOC
Menurut (Fransisca B. Batticaca 2008). Cedera medulla spinalis kebanyakan terjadi sebagai akibat cedera pada vertebra. Medulla spinalis yang mengalami cedera biasanya  berhubungan dengan akselerasi, deselerasi, atau kelainan yang diakibatkan oleh berbagai tekanan yang mengenai tulang belakang. Tekanan cedera pada medulla spinalis mengalami kompresi, tertarik, atau merobek jaringan. Lokasi cedera umumnya mengenai C1 dan  C2,C4, C6,  dan T11 atau L2. Mekanisme terjadinya cedera medulla spinalis:
Fleksi-rotasi, dislokasi, dislokasi fraktur, umumnya mengenai serviikal pada C5 dan C6. Jika mengenai spina torakolumbar, terjadi pada T12 dan L1. Fraktur lumbal adalah fraktur yang terjadi pada daerah tulang belakang bagian bawah. Bentuk cidera ini mengenai ligament, fraktur vertebra, kerusakan pembuluh darah, dan mengakibatkan iskemia pada medulla spinalis.
Hiperekstensi. Jenis cedera ini umumnya mengenai klien dengan usia dewasa yang memiliki perubahan degenerative vertebra, usia muda yang mendapat kecelakaan lalu lintas saat mengendarai kendaraan, dan usia muda yang mengalami cedera leher saat menyelam. Jenis cidera ini medulla spinalis bertentangan dengan ligementum flava dan mengakibatkan kontusio kolom dan dislokasi vertebra. Transeksi lengkap dari medulla spinalis dapat mengikuti cedera hiperekstensi. Lesi lengkap dari medulla spinalis mengakibatkan kehilangan pergerakan volunteer menurun pada daerah lesi dan kehilangan fungsi refleks pada isolasi medulla spinalis.
Kompresi. Cedera kompresi sering disebabkan karena jatuh atau melompat dari ketinggian, dengan posisi kaki atau bokong (duduk). Tekanan mengakibatkan fraktur vertebra dan menekan medulla spinalis. Diskus dan fragmen tulang dapat masuk ke medulla spinalis. Lumbal dan toraks vertebra umumnya akan mengalami cedera serta menyebabkan edema dan perdarahan. Edema pada medulla spinalis mengakibatkan kehilangan fungsi sensasi.

WOC : Sumber Fransisca B. Batticaca 2008
 






























E.     Manifestasi Klinis
Mekanisme cedera (Arif muttaqin 2008)
1.      Fleksi
Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada vertebra. Vertebra mengalami tekanan berbentuk remuk yang dapat menyebabkan kerusakan atau tanpa kerusakan ligament posterior, maka fraktur bersifat tidak stabil dan dapat terjadi subluksasi.
2.      Fleksi dan rotasi
Trauma jenis ini merupakan jenis trauma fleksi yang bersama-sama dengan rotasi. Terdapat strain dari ligament dan kapsul, juga ditemukan fraktur faset. Pada keadaan ini terjadi pergerakan ke depan/ dislokasi vertebra di atasnya. Semua fraktur dislokasi bersifat tidak stabil.
3.      Kompresi vertical
Suatu trauma vertical yang secara langsung mengenai vertebra yang akan menyebabkan kompresi aksial. Nucleus pulposus akan memecahkan permukaan serta badan vertebra dan menyebabkan vertebra menjdi rekah (pecah). Pada trauma ini elemen posterior masih intak sehingga fraktur yang terjadi bersifta stabil.
4.      Hiperekstensi atau retrofleksi
Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasi distraksi dan ekstensi. Keadaan ini sering ditemukan pada vertebra servikal dan jarang pada vertebra torako-lumbal. Ligamen anterior dan diskus dapat mengalami kerusakan atau terjadi fraktur pada arkus neuralis. Fraktur ini biasanya bersifat stabil.
5.      Fleksi lateral
Kompresi atau distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan menyebabkan fraktur pada komponen lateral, yaitu pedikel, foramen vertebra, dan sendi faset.
6.      Fraktur-dislokasi
Suatu trauma yang menyebabkan terjdinya fraktur tulang belakang dan terjadi dislokasi pada ruas tulang belakang.

F.     Pemeriksaan Diagnostik
1.      Sinar X spinal
Menentukan lokasi dan jenis cedera tulan (fraktur, dislokasi), unutk kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi
2.      CT Scant
Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun struktura.
3.      MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi
4.      Mielografi.
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor putologisnya tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub anakhnoid medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelah mengalami luka penetrasi).

5.      Foto ronsen torak, memperlihatkan keadan paru (contoh : perubahan pada diafragma, atelektasis)
6.      Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vita, volume tidal) : mengukur volume inspirasi maksimal khususnya pada pasien dengan trauma servikat bagian bawah atau pada trauma torakal dengan gangguan pada saraf frenikus /otot interkostal).
7.      GDA : Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi (Arif muttaqin 2008).

G.    Penatalaksanaan
1.      Kegawatdaruratan
a.       Mempertahankan ABC (Airway, Breathing, Circulation)
b.      Mengatur posisi kepala dan leher untuk mendukung airway : head tilt, chin lip, jaw thrust. Jangan memutar atau menarik leher ke belakang (hiperekstensi), mempertimbangkan pemasangan intubasi nasofaring.
c.       Stabilisasi tulang servikal dengan manual support, gunakan neck collar, imobilisasi lateral kepala, meletakkan papan di bawah tulang belakang.
d.      Stabililisasi tulang servikal sampai ada hasil pemeriksaan rontgen
e.       Menyediakan oksigen tambahan.
f.       Memonitor tanda-tanda vital meliputi RR, AGD (PaCO2), dan pulse oksimetri.
g.      Menyediakan ventilasi mekanik jika diperlukan.
h.      Memonitor tingkat kesadaran dan output urin untuk menentukan pengaruh dari hipotensi dan bradikardi.
i.        Meningkatkan aliran balik vena ke jantung.
1)      Berikan antiemboli
2)      Tinggikan ekstremitas bawah
3)      Gunakan baju antisyok.
j.        Meningkatkan tekanan darah
1)      Monitor volume infuse
2)      Berikan terapi farmakologi ( vasokontriksi)
k.      Berikan atropine sebagai indikasi untuk meningkatkan denyut nadi jika terjadi gejala bradikardi.
l.        Memberikan obat-obatan untuk menjaga, melindungi dan memulihkan spinal cord : steroid dengan dosis tinggi diberikan dalam periode lebih dari 24 jam, dimulai dari 8 jam setelah kejadian.
m.    Memantau status neurologi pasien untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien.
n.      Memasang NGT untuk mencegah distensi lambung dan kemungkinan aspirasi jika ada indikasi.
o.      Memasang kateter urin untuk pengosongan kandung kemih.



2.      Medis
Penatalaksanaan medis pada penderita trauma medulla spinalias adalah sebagai berikut :
a.       Konservatif
Penatalaksanaan konservatif terdiri atas :
1)      Penatalaksanaan Perkemihan, yaitu dengan pemasangan kateter urine dengan tujuan mempertahankan sedikitnya 30 cc/jam.
2)      Penatalaksanaan Pernafasan, dengan menggunakan ventilator mekanis, mengajarkan tehnik batuk efektif untuk membantu membersihkan jalan nafas.
3)      Latihan Usus, tujuan dari latihan usus ini adalah untuk mempertahankan dan mencapai kontinensia usus.
4)      Perawatan Kulit, dengan menggunakan krim / lotion, menggunakan alas untuk mencegah lembabnya kulit di bawah permukaan tubuh, menggunakan sepatu yang cukup dengan ukuran kaki untuk menghindari benturan dan gesekan kaki, memakai kaos kaki yang terbuat dari bahan katun dan melakukan masase dengan teratur.
5)      Obat-obatan, Pemberian farmakoterapi pada penderita Trauma Medulla Spinalis adalah pemberian kortikosteroid dosis tinggi khususnya metil prednison untuk memperbaiki prognosis dan mengurangi kecacatan bila diberikan dalam 8 jam cedera. Kemudian pemberian steroid dosis tinggi seperti Mannitol (diberikan untuk menurunkan edema), Dextran (diberikan untuk mencegah tekanan darah menurun dan memperbaiki aliran daerah kapiler).
6)      Reduksi dan Traksi Skeletal, Penatalaksanaan Trauma medulla spinalis memerlukan immobilisasi dan reduksi dislokasi (memperbaiki posisi normal) dan stabilisasi columna vertebra.
b.      Operatif
Penatalaksanaan tindakan operatif pada penderita trauma medulla spinalis adalah Laminectomy. (Hudak and Gall dalam Moellate  2009)

H.    Komplikasi
(Fransisca B. Batticaca 2008).
-          Neurogenik shock.
-          Hipoksia.
-          Gangguan paru-paru
-          Instabilitas spinal
-          Orthostatic Hipotensi
-          Ileus Paralitik
-          Infeksi saluran kemih
-          Kontraktur
-          Dekubitus
-          Inkontinensia blader
-          Konstipasi
    II.       Asuhan Keperawatan Teoritis
A.    Pengkajian
a.       Aktifitas /Istirahat
Kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok pada bawah lesi. Kelemahan umum /kelemahan otot (trauma dan adanya kompresi saraf).
b.      Sirkulasi
Hipotensi, Hipotensi posturak, bradikardi, ekstremitas dingin dan pucat.
c.       Eliminasi
Retensi urine, distensi abdomen, peristaltik usus hilang, melena, emisis berwarna seperti kopi tanah /hematemes
d.      Intregitas ego
Berhubungan dengan tingkat ego dari kecemasan pasien
e.       Takut, cemas, gelisah, menarik diri.
Tingkat stres seseorang mempengarui kesehatan seseorang
f.       Makanan /cairan
Mengalami distensi abdomen, peristaltik usus hilang (ileus paralitik)
g.      Higiene
h.      Sangat ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari (bervariasi)
i.        Neurosensori
Kelumpuhan, kelemahan (kejang dapat berkembang saat terjadi perubahan pada syok spinal). Kehilangan sensasi (derajat bervariasi dapat kembali normal setelah syok spinal sembuh).
Kehilangan tonus otot /vasomotor, kehilangan refleks /refleks asimetris termasuk tendon dalam. Perubahan reaksi pupil, ptosis, hilangnya keringat bagian tubuh yang terkena karena pengaruh trauma spinal.
j.        Nyeri /kenyamanan
Mengalami deformitas, postur, nyeri tekan vertebral.
k.      Pernapasan
Pernapasan dangkal /labored, periode apnea, penurunan bunyi napas, ronki, pucat, sianosis.
l.         Keamanan
Suhu yang berfluktasi *(suhu tubuh ini diambil dalam suhu kamar).
m.    Seksualitas
Ereksi tidak terkendali (priapisme), menstruasi tidak teratur.
(Marikyn E. Doengoes, 2008; 338-339)
n.      Keadaan umum : (Arif muttaqin 2008)
Pada keadaan cidera tulang belakang umumnya tidak mengalami penurunan kesadaran. Adanya perubahan pada  tanda-tanda vital, meliputi bradikardi dan hipotensi.
o   B1 (BREATHING)
Perubahan  pada sistem pernapasan bergantung pada gradasi blok saraf parasimpatis klien mengalami kelumpuhan otot otot pernapasan dan perubahan karena adanya kerusakan jalur simpatetik desending akibat trauma pada tulang belakang sehingga mengalami terputus jaringan saraf di medula spinalis, pemeriksaan fisik dari sistem ini akan didapatkan  hasil sebagai berikut inspeksi umum didapatkan klien batuk peningkatan produksi sputum, sesak napas.dst
o   B2 (BLOOD)
Pengkajian  pada sistem  kardiovaskuler didapatkan  rejatan syok hipovolemik  yang sering terjadi pada klien cedera tulang belakang. Dari hasil pemeriksaan didapatkan tekanan darah menurun nadi bradikardi dan jantung berdebar-debar. Pada keadaan  lainnya dapat meningkatkan hormon antidiuretik yang berdampak pada kompensasi tubuh.
o   B3 (BRAIN)
Pengkajian ini meliputi tingkat kesadaran, pengkajian fungsi serebral dan pengkajian saraf kranial.
Pengkajian  tingkat  kesadaran : tingkat  keterjagaan klien dan respon terhadap lingkungan adalah indikator paling sensitif  untuk disfungsi sistem persyarafan.
Pengkajian fungsi serebral : status mental observasi penampilan, tingkah laku nilai gaya bicara dan aktivitas motorik klien
Pengkajian  sistem  motorik : inspeksi umum didapatkan kelumpuhan pada ekstermitas bawah, baik bersifat paralis, paraplegia, maupun quadriplegia.
Pengkajian  sistem  sensori : ganguan  sensibilitas pada klien cedera  medula spinalis sesuai dengan segmen  yang  mengalami gangguan.
o   B4 (BLADDER)
Kaji keadaan urine meliputi warna ,jumlah,dan karakteristik urine, termasuk berat jenis urine. Penurunan jumlah urine dan  peningkatan  retensi cairan dapat terjadi akibat menurunnya perfusi pada ginjal. Bila terjadi lesi pada kauida ekuina kandung kemih dikontrol oleh pusat (S2-S4) atau  dibawah pusat spinal kandung kemih akan menyebabkan interupsi hubungan antara kandung kemih dan pusat spinal.
o   B5 (BOWEL)
Pada keadaan  syok spinal, neuropraksia sering didapatkan adanya ileus paralitik, dimana klinis didapatkan  hilangnya bising usus, kembung,dan defekasi, tidak ada. Hal ini merupakan gejala awal dari  tahap syok spinal yang  akan berlangsung  beberapa hari sampai beberapa minggu.
o   B6 (BONE)
Paralisis motorik dan paralisis organ internal bergantung pada ketinggian lesi saraf yang terkena trauma. Gejala gangguan motorik sesuai dengan  distribusi segmental dari saraf yang terkena.disfungsi motorik paling umum adalah  kelemahan  dan  kelumpuhan.pada saluran  ekstermitas bawah. Kaji warna kulit, suhu, kelembapan, dan turgor kulit dst.



B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Ketidak efektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan kelemahan /paralisis otot-otot abdomen dan intertiostal dan ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi.
2.      Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik dan sesorik.
3.      Resiko terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan penurunan immobilitas, penurunan sensorik.
4.      Retensi urine yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk berkemih secara spontan.
5.      Konstipasi berhubungan dengan adanya atoni usus sebagai akibat gangguan autonomik.
6.      Nyeri yang berhubungan dengan pengobatan immobilitas lama, cedera psikis dan alat traksi
(Diane C. Boughman, 2008 : 90)





























C.    Intervensi

No
Diagnosa
Tujuan / KH
Intervensi
Rasional
1
Ketidak efektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan kelemahan /paralisis otot-otot abdomen dan intertiostal dan ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi.

Tujuan : Meningkatkan pernapasan yang adekuat

Kriteria hasil : Batuk efektif, pasien mampu mengeluarkan seket, bunyi napas normal, jalan napas bersih, respirasi normal, irama dan jumlah pernapasan, pasien, mampu melakukan reposisi, nilai AGD : PaO2 > 80 mmHg, PaCO2 = 35-45 mmHg, PH = 7,35 – 7,45

a)             Kaji kemampuan batuk dan reproduksi sekret




b)            Pertahankan jalan nafas (hindari fleksi leher, brsihkan sekret)
c)             Monitor warna, jumlah dan konsistensi sekret, lakukan kultur
d)            Lakukan suction bila perlu

e)             Auskultasi bunyi napas

f)             Lakukan latihan nafas


g)            Berikan minum hangat jika tidak kontraindikasi
h)            Berikan oksigen dan monitor analisa gas darah
i)              Monitor tanda vital setiap 2 jam dan status neurologi
a)      Hilangnya kemampuan motorik otot intercosta dan abdomen berpengaruh terhadap kemampuan batuk.
b)      Menutup jalan nafas.



c)      Hilangnya refleks batuk beresiko menimbulkan pnemonia.




d)     Pengambilan secret dan menghindari aspirasi.
e)      Mendeteksi adanya sekret dalam paru-paru.
f)       Mengembangkan alveolu dan menurunkan prosuksi sekret.
g)      Mengencerkan secret




h)      Meningkatkan suplai oksigen dan mengetahui kadar oksigen dalam darah.
i)        Mendeteksi adanya infeksi dan status respirasi.

2
Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik dan sesorik.

Tujuan: Memperbaiki mobilitas

Kriteria Hasil : Mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tak adanya kontraktur, footdrop, meningkatkan kekuatan bagian tubuh yang sakit /kompensasi, mendemonstrasikan teknik /perilaku yang memungkinkan melakukan kembali aktifitas.

a)      Kaji fungsi-fungsi sensori dan motorik pasien setiap 4 jam.
b)      Ganti posisi pasien setiap 2 jam dengan memperhatikan kestabilan tubuh dan kenyamanan pasien.



c)      Beri papan penahan pada kaki        
d)     Lakukan ROM Pasif setelah 48-72 setelah cedera 4-5 kali /hari
e)      Monitor adanya nyeri dan kelelahan pada pasien.  
f)       Konsultasikan kepada fisiotrepi untuk latihan dan penggunaan otot seperti splints                                                                                              

a)      Menetapkan kemampuan dan keterbatasan pasien setiap 4 jam.
b)      Menetapkan kemampuan dan keterbatasan pasien setiap 4 jam.






c)      Mencegah terjadinya foodrop
d)     Meningkatkan stimulasi dan mencehag kontraktur.

e)      Menunjukan adanya aktifitas yang berlebihan.

f)       Memberikan pancingan yang sesuai.











D.    Implementasi
Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan  yang  spesifik( Nursalam,2001). Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan berguna untuk memenuhi kebutuhan klien mencapai tujuan yang diharapkan secara optimal.
Pelaksanaan tindakan keperawatan  harus diikuti oleh pencatatan  yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam  proses  keperawatan. Dokumentasi tindakan keperawatan ini berguna untuk komunikasi antar tim kesehatan sehingga memungkinkan pemberian tindakan keperawatan yang berkesinambungan.
E.     Evaluasi
Evaluasi adalah  stadium  pada  proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan  (Brooker, 2001).






























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari hasil pembahasan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa cedera medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis. Penyebabnya antara lain trauma dan kelainan pada vertebra (seperti atrofo spinal, fraktur patologik, infeksi, osteoporosis, kelainan congenital, dan gangguan vascular). Instabilitas pada vertebra mengakibatkan penekanan saraf di medulla spinalis sehingga terjadi gangguan.
Hal ini menyebabkan gangguan fungsi organ-organ yang hipersarafi yaitu usus, genetalia, urinaria, rectum, dan ekstremitas bawah. Penatalaksanaan ditujukan untuk mencegah akibat lanjut dari cedera tersebut.

B.     Saran
Selayaknya seorang mahasiswa keperawatan dan seorang perawat dalam setiap pemberian asuhan keperawatan termasuk dalam asuhan keperawatan cedera medulla spinalis menggunakan konsep yang sesuai dengan kebutuhan dasar manusia yang bersifat holistic yang meliputi aspek biopsikospiritual dan semoga makalah ini dapat digunakan sebagai titik acuh khalayak umum.


No comments:

Post a Comment