ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TRAUMA MEDULLA SPINALIS
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Medula spinalis
merupakan bagian lanjutan dari medula oblongata yang menjulur ke arah kaudal
melalui foramen magnum lalu berakhir di antara vertebra lumbal pertama dan
kedua. Fungsi medula spinalis yaitu mengadakan komunikasi antara otak dan semua
bagian tubuh dan bergerak refleks. Cedera medula spinalis dapat diartikan
sebagai suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada
daerah medula spinalis. Kerusakan medula spinalis pada daerah lumbal mengakibatkan
paralisis otot-otot pada kedua anggota gerak bawah, serta gangguan
spinkter pada uretra dan rectum. Berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang
dipertahankan di bawah lesi, cedera medula spinalis dapat dibagi menjadi
komplet dan inkomplet. Pembagian ini penting untuk menenetukan prognosis dan
penanganan selanjutnya (Brunner dan Suddarth, 2001).
Cedera medula
spinalis paling umum terjadi pada usia usia 16 sampai 30 tahun, sehingga
termasuk salah satu penyebab gangguan fungsi saraf yang sering menimbulkan
kecacatan permanen pada usia produktif. Kelainan ini sering mengakibatkan
penderita harus terus berbaring di tempat tidur atau duduk di kursi roda karena
paraplegia. Di antara kelompok usia ini, kejadian lebih sering pada laki-laki
(82%) dari pada wanita (18%). Penyebab paling umum adalah kecelakaan kendaraan
bermotor (MVCs: 39%), jatuh (22%),
tindakan kekerasan (25%), dan olahraga 7%. Sekitar 20% dari orang tua yang
mengalami CMS adalah karena jatuh (Morton, 2005).
Data
epidemiologik dari berbagai negara menyebutkan bahwa angka kejadian CMS sekitar
11,5-53,4 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Angka ini belum termasuk data
jumlah penderita yang meninggal pada saat terjadinya cedera akut (Islam, 2006).
Pusat Data
Nasional Cedera Medula Spinalis (The National Spinal Cord Injury Data Research
Centre) memperkirakan terdapat 10.000 kasus baru CMS setiap tahunnya di Amerika
Serikat. Insidensi paralisis komplet akibat kecelakaan diperkirakan 20 per
100.000 penduduk (Pinzon, 2007).
Data dari bagian
rekam medik RSUP Fatmawati dari Januari-Juni 2003, angka kejadian fraktur
berjumlah 165 termasuk di dalamnya 20 pasien menderita cedera medula spinalis
(12,5%).
Pasien yang
mengalami cedera medula spinalis bone loss pada L2-L3 membutuhkan perhatian
lebih dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan mobilisasi. Pasien beresiko
mengalami komplikasi cedera spinal seperti syok spinal, trombosis vena
profunda, dan hiperfleksia autonomik. Oleh karena itu, sebagai perawat sangat
perlu untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien
cedera medula spinalis lumbal dengan cara promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif sehingga masalah dapat teratasi dan pasien dapat terhindar dari
kemungkinan masalah yang buruk.
B.
Tujuan
1.
Tujuan
Umum
Melalui makalah
ini, penulis ingin menelaah mengenai asuhan keperawatan pada pasien dengan
cedera medula spinalis yang holistik.
2. Tujuan
Khusus
a.
Mengetahui
definisi, etiologi, patofisiologi, dan klasifiksi kasus cedera medula spinalis
b.
Mengetahui
data-data dasar pengkajian yang diperlukan dalam proses keperawatan
c.
Mampu
menyusun langkah-langkah dalam proses keperawatan yang meliputi pengkajian,
diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
I.
KONSEP
DASAR
A.
Defenisi
Medulla spinalis (spinal cord) merupakan bagian
susunan saraf pusat yang terletak di dalam kanalis vertebralis dan menjulur
dari foramen magnum ke bagian atas region lumbalis. Trauma pada medulla
spinalis dapat bervariasi dari trauma ekstensi fiksasi ringan yang terjadi
akibat benturan secara mendadak sampai yang menyebabkan transeksi lengkap dari
medulla spinalis dengan quadriplegia (Fransiska B. Batticaca 2008).
Cedera torako-lumbal bisa disebabkan oleh trauma
langsung pada torakal atau bersifat patologis seperti pada kondisi osteoporosis
yang akan mengalami fraktur komprresi akibat keruntuhan tulang belakang (Arif
Muttaqin 2008).
Cidera medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi
neurologis yang disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner
& Suddarth 2008).
Cidera medullan spinalis adalah suatu kerusakan
fungsi neurologis yang disebabkan sering kali oleh kecelakaan lalu lintas.
Apabila cedera itu mengenai daerah servikal pada lengan, badan dan tungkai mata
penderita itu tidak tertolong. Dan apabila saraf frenitus itu terserang maka
dibutuhkan pernafasan buatan, sebelum alat pernafasan. (diane c baughmen 2007).
B.
Anatomi
Fisiologi
Bagian susunan saraf pusatyang terletak di dalam
kanalis vetebratalis bersama ganglio radiks superior yang terdapat pada setiap foramen
invetebratalis terletak berpasangan kanan dan kiri. Organ ini mengurus
persyarafan tubuh, anggota badan dan bagian belakang. Dimulai dari bagian bawah
mendula obloganta setinggi korpus vetebrata servikalis I, memanjang sampai ke
korpus vetebrata lumbalis I dan II.
Sama halnya dengan otak berada dalam sakus araknoid
yang berisi cairan otak, sakus araknoid berakhir di dalam kanalis vetebratalis
dalam tulang sakrum. Dalam mendula spinalis keluar 31 syaraf, terdiri dari:
-
Servikal : 8 pasang
-
Torakal :12 pasang
-
Lumbal : 5 pasang
-
Sakral : 1 pasang
Medula
spinalis mengandung zat putih dan zat kelabu yang mengecil pada bagian atas
menuju kebagian bawah sampai servikal dan torakal. Pada bagian ini terdapat
pelebaran dari vetebrata servikal IV samai vetebrata torakal II. Pada daerah
lumbal pelbaran ini semakin kecil disebut konus mendularis. Konus ini berakhir
pada vetebrata lumbalis I dan II. Akar saaf yang berasal dari lumbal bersatu
menembus foramen intervertebralis.
Penyebaran
semua saraf medula spinalis dimulai dari
torakal I sampai lumbal III, mempunyai cabang-cabang dalam saraf yang akan
keluar membentuk pleksus dan ini akan membentuk saraf tepi (perifer) terdiri
dari:
-
Pleksus servikalis, di bentuk oleh cabang-cabang
saraf servikalis anterior, cabang ini bekerja sama dengan nervus vagus dan
nervus aksesorius.
-
Pleksus brakialis, dibentuk oleh persatuan
cabang-cabang anterior dari saraf servikal 4 dan torakal 1, saraf terpenting
nervus media. Nervus ulnaris radialis mempersarafi anggota gerak atas.
-
Pleksus lumbalis, dibuat oleh serabut saraf dan
torakal 12, saraf terbesar yaitu nervus femoralis dan nervus obturator.
-
Dibentuk oleh saraf dari lumbal dan sakral, saraf
skiatik yang merupakan saraf terbesar keluar mempersarafi otot anggota gerak
bawah.
Sumsum tulang belakang di bungkus oleh tiga selaput
yaitu dura meter (selaput luar), araknoid (selaput jaingan), dan piameter
(selaput dalam). Diantara dura materdan araknoid terdapat lubang disebut
kandung dura mater.
Susunan tulang belakang ada dua macam zat yaitu zat
putih sebelah luar dan zat kelabu sebelah dalam. Zat kelalbu dibentuk oleh sel
saraf (ganglio) berkatup banyak. Di dalamnya terdapat jaringan penunjang
(monoglia). Sebelah kiri-kananterdapat tiang depan (tanduk depan) dan tiang
belakang (tanduk belakang). Kanalis sentralis (saluran pusat) merupakan saluran
sempit berhubungandengan lubang yang terdapat di tengah otak. Zat putih (tukal)
terdapat diantara berkas depan kiri dan kanan dari selaput saraf.
Fungsi medula spinalis:
-
Pusatgerakan dari otot-otot tubuh terbesar dari
komu motorik atau komu ventralis.
-
Mengurus kegiatan refleks-refkleks spinalis
serta refleks lutut.
-
Menghantarkan rangsangan koordinasi dari dan
sendi ke serebelum.
-
Sebagai penghubung antar segmen mendula
spinalis.
-
Mengadakan komonokasi antar otak
dan semua bagian tubuh.
Mengadakan komonokasi antar otak
dan semua bagian tubuh.
C.
Etiologi
Penyebab dari cidera medulla spinalis
(Arif Mutaqin 2008).
1. Kecelakaan
otomobil, industri
Kecelakaan yang hebat dapat
menyebabkan suatu benturan dari organ tubuh salah satu yang terjadi adalah cidera tulang belakang secara langsung yang
mengenai tulang belakang dan melampui batas kemampuan tulang belakang
dalam melindungi saraf –saraf yang berada
didalamnya.
2. Terjatuh,
olahraga
Peristiwa jatuh karena suatu kegiatan
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya cidera salah
satunya karena kegiatan olahraga yang
berat contohnya adalah olahraga motor GP
, lari, lompat.
3. Luka
tusuk, tembak
Luka tusuk pada abdomen atau tulang belakang dapat dikatakan menjadi
faktor terjadinya cidera karena terjadi suatu perlukaan atau insisi luka tusuk
atau luka tembak.
4. Tumor
Tumor merupakan suatu bentuk
peradangan. jika terjadi komplikasi pada
daerah tulang belakang spinal. Ini merupakan bentuk cidera tulang belakang.
D.
Patofisiologi/WOC
Menurut (Fransisca B. Batticaca 2008). Cedera medulla
spinalis kebanyakan terjadi sebagai akibat cedera pada vertebra. Medulla
spinalis yang mengalami cedera biasanya berhubungan dengan akselerasi, deselerasi,
atau kelainan yang diakibatkan oleh berbagai tekanan yang mengenai tulang
belakang. Tekanan cedera pada medulla spinalis mengalami kompresi, tertarik,
atau merobek jaringan. Lokasi cedera umumnya mengenai C1 dan C2,C4, C6,
dan T11 atau L2. Mekanisme terjadinya cedera medulla spinalis:
Fleksi-rotasi, dislokasi, dislokasi fraktur, umumnya
mengenai serviikal pada C5 dan C6. Jika mengenai spina torakolumbar, terjadi
pada T12 dan L1. Fraktur lumbal adalah fraktur yang terjadi pada daerah tulang
belakang bagian bawah. Bentuk cidera ini mengenai ligament, fraktur vertebra,
kerusakan pembuluh darah, dan mengakibatkan iskemia pada medulla spinalis.
Hiperekstensi. Jenis cedera ini umumnya mengenai
klien dengan usia dewasa yang memiliki perubahan degenerative vertebra, usia
muda yang mendapat kecelakaan lalu lintas saat mengendarai kendaraan, dan usia
muda yang mengalami cedera leher saat menyelam. Jenis cidera ini medulla
spinalis bertentangan dengan ligementum flava dan mengakibatkan kontusio kolom
dan dislokasi vertebra. Transeksi lengkap dari medulla spinalis dapat mengikuti
cedera hiperekstensi. Lesi lengkap dari medulla spinalis mengakibatkan
kehilangan pergerakan volunteer menurun pada daerah lesi dan kehilangan fungsi
refleks pada isolasi medulla spinalis.
Kompresi. Cedera kompresi sering disebabkan karena
jatuh atau melompat dari ketinggian, dengan posisi kaki atau bokong (duduk).
Tekanan mengakibatkan fraktur vertebra dan menekan medulla spinalis. Diskus dan
fragmen tulang dapat masuk ke medulla spinalis. Lumbal dan toraks vertebra
umumnya akan mengalami cedera serta menyebabkan edema dan perdarahan. Edema
pada medulla spinalis mengakibatkan kehilangan fungsi sensasi.
WOC : Sumber Fransisca B. Batticaca 2008
![]() |
|||
![]() |
|||
E.
Manifestasi
Klinis
Mekanisme cedera (Arif muttaqin 2008)
1. Fleksi
Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada
vertebra. Vertebra mengalami tekanan berbentuk remuk yang dapat menyebabkan
kerusakan atau tanpa kerusakan ligament posterior, maka fraktur bersifat tidak
stabil dan dapat terjadi subluksasi.
2. Fleksi
dan rotasi
Trauma jenis ini merupakan jenis trauma fleksi yang bersama-sama dengan
rotasi. Terdapat strain dari ligament dan kapsul, juga ditemukan fraktur faset.
Pada keadaan ini terjadi pergerakan ke depan/ dislokasi vertebra di atasnya.
Semua fraktur dislokasi bersifat tidak stabil.
3. Kompresi
vertical
Suatu trauma vertical yang secara langsung mengenai vertebra yang akan
menyebabkan kompresi aksial. Nucleus pulposus akan memecahkan permukaan serta
badan vertebra dan menyebabkan vertebra menjdi rekah (pecah). Pada trauma ini
elemen posterior masih intak sehingga fraktur yang terjadi bersifta stabil.
4. Hiperekstensi
atau retrofleksi
Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasi distraksi dan
ekstensi. Keadaan ini sering ditemukan pada vertebra servikal dan jarang pada
vertebra torako-lumbal. Ligamen anterior dan diskus dapat mengalami kerusakan
atau terjadi fraktur pada arkus neuralis. Fraktur ini biasanya bersifat stabil.
5. Fleksi
lateral
Kompresi atau distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan menyebabkan
fraktur pada komponen lateral, yaitu pedikel, foramen vertebra, dan sendi
faset.
6. Fraktur-dislokasi
Suatu trauma yang menyebabkan terjdinya fraktur tulang belakang dan
terjadi dislokasi pada ruas tulang belakang.
F.
Pemeriksaan
Diagnostik
1.
Sinar X spinal
Menentukan lokasi dan jenis cedera tulan (fraktur, dislokasi), unutk
kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi
2. CT
Scant
Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun struktura.
3. MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi
4. Mielografi.
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor
putologisnya tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub anakhnoid
medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelah mengalami luka
penetrasi).
5. Foto
ronsen torak, memperlihatkan keadan paru (contoh : perubahan pada diafragma,
atelektasis)
6. Pemeriksaan
fungsi paru (kapasitas vita, volume tidal) : mengukur volume inspirasi maksimal
khususnya pada pasien dengan trauma servikat bagian bawah atau pada trauma torakal
dengan gangguan pada saraf frenikus /otot interkostal).
7. GDA
: Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi (Arif muttaqin
2008).
G.
Penatalaksanaan
1.
Kegawatdaruratan
a. Mempertahankan
ABC (Airway, Breathing, Circulation)
b. Mengatur
posisi kepala dan leher untuk mendukung airway : head tilt, chin lip, jaw
thrust. Jangan memutar atau menarik leher ke belakang (hiperekstensi),
mempertimbangkan pemasangan intubasi nasofaring.
c. Stabilisasi
tulang servikal dengan manual support, gunakan neck collar, imobilisasi lateral
kepala, meletakkan papan di bawah tulang belakang.
d. Stabililisasi
tulang servikal sampai ada hasil pemeriksaan rontgen
e. Menyediakan
oksigen tambahan.
f. Memonitor
tanda-tanda vital meliputi RR, AGD (PaCO2), dan pulse oksimetri.
g. Menyediakan
ventilasi mekanik jika diperlukan.
h. Memonitor
tingkat kesadaran dan output urin untuk menentukan pengaruh dari hipotensi dan
bradikardi.
i.
Meningkatkan aliran balik vena ke jantung.
1) Berikan
antiemboli
2) Tinggikan
ekstremitas bawah
3) Gunakan
baju antisyok.
j.
Meningkatkan tekanan darah
1) Monitor
volume infuse
2) Berikan
terapi farmakologi ( vasokontriksi)
k. Berikan
atropine sebagai indikasi untuk meningkatkan denyut nadi jika terjadi gejala
bradikardi.
l.
Memberikan obat-obatan untuk menjaga, melindungi
dan memulihkan spinal cord : steroid dengan dosis tinggi diberikan dalam
periode lebih dari 24 jam, dimulai dari 8 jam setelah kejadian.
m. Memantau
status neurologi pasien untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien.
n. Memasang
NGT untuk mencegah distensi lambung dan kemungkinan aspirasi jika ada indikasi.
o. Memasang
kateter urin untuk pengosongan kandung kemih.
2. Medis
Penatalaksanaan medis pada penderita trauma medulla spinalias adalah
sebagai berikut :
a. Konservatif
Penatalaksanaan konservatif terdiri atas :
1) Penatalaksanaan
Perkemihan, yaitu dengan pemasangan kateter urine dengan tujuan mempertahankan
sedikitnya 30 cc/jam.
2) Penatalaksanaan
Pernafasan, dengan menggunakan ventilator mekanis, mengajarkan tehnik batuk
efektif untuk membantu membersihkan jalan nafas.
3) Latihan
Usus, tujuan dari latihan usus ini adalah untuk mempertahankan dan mencapai
kontinensia usus.
4) Perawatan
Kulit, dengan menggunakan krim / lotion, menggunakan alas untuk mencegah
lembabnya kulit di bawah permukaan tubuh, menggunakan sepatu yang cukup dengan
ukuran kaki untuk menghindari benturan dan gesekan kaki, memakai kaos kaki yang
terbuat dari bahan katun dan melakukan masase dengan teratur.
5) Obat-obatan,
Pemberian farmakoterapi pada penderita Trauma Medulla Spinalis adalah pemberian
kortikosteroid dosis tinggi khususnya metil prednison untuk memperbaiki
prognosis dan mengurangi kecacatan bila diberikan dalam 8 jam cedera. Kemudian
pemberian steroid dosis tinggi seperti Mannitol (diberikan untuk menurunkan
edema), Dextran (diberikan untuk mencegah tekanan darah menurun dan memperbaiki
aliran daerah kapiler).
6) Reduksi
dan Traksi Skeletal, Penatalaksanaan Trauma medulla spinalis memerlukan
immobilisasi dan reduksi dislokasi (memperbaiki posisi normal) dan stabilisasi
columna vertebra.
b. Operatif
Penatalaksanaan tindakan operatif pada penderita trauma medulla spinalis
adalah Laminectomy. (Hudak and Gall dalam Moellate 2009)
H.
Komplikasi
(Fransisca B. Batticaca 2008).
-
Neurogenik shock.
-
Hipoksia.
-
Gangguan paru-paru
-
Instabilitas spinal
-
Orthostatic Hipotensi
-
Ileus Paralitik
-
Infeksi saluran kemih
-
Kontraktur
-
Dekubitus
-
Inkontinensia blader
-
Konstipasi
II.
Asuhan
Keperawatan Teoritis
A. Pengkajian
a. Aktifitas
/Istirahat
Kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok pada bawah lesi. Kelemahan
umum /kelemahan otot (trauma dan adanya kompresi saraf).
b. Sirkulasi
Hipotensi, Hipotensi posturak, bradikardi, ekstremitas dingin dan pucat.
c. Eliminasi
Retensi urine, distensi abdomen, peristaltik usus hilang, melena, emisis
berwarna seperti kopi tanah /hematemes
d. Intregitas
ego
Berhubungan dengan tingkat ego dari kecemasan pasien
e. Takut,
cemas, gelisah, menarik diri.
Tingkat stres seseorang mempengarui kesehatan seseorang
f. Makanan
/cairan
Mengalami distensi abdomen, peristaltik usus hilang (ileus paralitik)
g. Higiene
h. Sangat
ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari (bervariasi)
i.
Neurosensori
Kelumpuhan, kelemahan (kejang dapat berkembang saat terjadi perubahan
pada syok spinal). Kehilangan sensasi (derajat bervariasi dapat kembali normal
setelah syok spinal sembuh).
Kehilangan tonus otot /vasomotor, kehilangan refleks /refleks asimetris
termasuk tendon dalam. Perubahan reaksi pupil, ptosis, hilangnya keringat
bagian tubuh yang terkena karena pengaruh trauma spinal.
j.
Nyeri /kenyamanan
Mengalami deformitas, postur, nyeri tekan vertebral.
k. Pernapasan
Pernapasan dangkal /labored, periode apnea, penurunan bunyi napas, ronki,
pucat, sianosis.
l.
Keamanan
Suhu yang berfluktasi *(suhu tubuh ini diambil dalam suhu kamar).
m. Seksualitas
Ereksi tidak terkendali (priapisme), menstruasi tidak teratur.
(Marikyn E. Doengoes, 2008; 338-339)
n. Keadaan
umum : (Arif muttaqin 2008)
Pada keadaan cidera tulang belakang umumnya tidak mengalami penurunan
kesadaran. Adanya perubahan pada
tanda-tanda vital, meliputi bradikardi dan hipotensi.
o
B1 (BREATHING)
Perubahan pada sistem pernapasan
bergantung pada gradasi blok saraf parasimpatis klien mengalami kelumpuhan otot
otot pernapasan dan perubahan karena adanya kerusakan jalur simpatetik
desending akibat trauma pada tulang belakang sehingga mengalami terputus
jaringan saraf di medula spinalis, pemeriksaan fisik dari sistem ini akan
didapatkan hasil sebagai berikut
inspeksi umum didapatkan klien batuk peningkatan produksi sputum, sesak
napas.dst
o
B2 (BLOOD)
Pengkajian pada sistem kardiovaskuler didapatkan rejatan syok hipovolemik yang sering terjadi pada klien cedera tulang
belakang. Dari hasil pemeriksaan didapatkan tekanan darah menurun nadi
bradikardi dan jantung berdebar-debar. Pada keadaan lainnya dapat meningkatkan hormon
antidiuretik yang berdampak pada kompensasi tubuh.
o
B3 (BRAIN)
Pengkajian ini meliputi tingkat kesadaran, pengkajian fungsi serebral dan
pengkajian saraf kranial.
Pengkajian tingkat kesadaran : tingkat keterjagaan klien dan respon terhadap
lingkungan adalah indikator paling sensitif
untuk disfungsi sistem persyarafan.
Pengkajian fungsi serebral : status mental observasi penampilan, tingkah
laku nilai gaya bicara dan aktivitas motorik klien
Pengkajian sistem motorik : inspeksi umum didapatkan kelumpuhan
pada ekstermitas bawah, baik bersifat paralis, paraplegia, maupun quadriplegia.
Pengkajian sistem sensori : ganguan sensibilitas pada klien cedera medula spinalis sesuai dengan segmen yang
mengalami gangguan.
o
B4 (BLADDER)
Kaji keadaan urine meliputi warna ,jumlah,dan karakteristik urine,
termasuk berat jenis urine. Penurunan jumlah urine dan peningkatan
retensi cairan dapat terjadi akibat menurunnya perfusi pada ginjal. Bila
terjadi lesi pada kauida ekuina kandung kemih dikontrol oleh pusat (S2-S4)
atau dibawah pusat spinal kandung kemih
akan menyebabkan interupsi hubungan antara kandung kemih dan pusat spinal.
o
B5 (BOWEL)
Pada keadaan syok spinal,
neuropraksia sering didapatkan adanya ileus paralitik, dimana klinis
didapatkan hilangnya bising usus,
kembung,dan defekasi, tidak ada. Hal ini merupakan gejala awal dari tahap syok spinal yang akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu.
o
B6 (BONE)
Paralisis motorik dan paralisis organ internal bergantung pada ketinggian
lesi saraf yang terkena trauma. Gejala gangguan motorik sesuai dengan distribusi segmental dari saraf yang
terkena.disfungsi motorik paling umum adalah
kelemahan dan kelumpuhan.pada saluran ekstermitas bawah. Kaji warna kulit, suhu,
kelembapan, dan turgor kulit dst.
B.
Diagnosa
Keperawatan
1.
Ketidak efektifan pola pernapasan yang berhubungan
dengan kelemahan /paralisis otot-otot abdomen dan intertiostal dan
ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi.
2.
Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan
dengan kerusakan fungsi motorik dan sesorik.
3.
Resiko terhadap kerusakan integritas kulit
yang berhubungan dengan penurunan immobilitas, penurunan sensorik.
4.
Retensi urine yang berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk berkemih secara spontan.
5.
Konstipasi berhubungan dengan adanya atoni
usus sebagai akibat gangguan autonomik.
6.
Nyeri yang berhubungan dengan pengobatan
immobilitas lama, cedera psikis dan alat traksi
(Diane C.
Boughman, 2008 : 90)
C.
Intervensi
|
No
|
Diagnosa
|
Tujuan / KH
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Ketidak efektifan pola
pernapasan yang berhubungan dengan kelemahan /paralisis otot-otot abdomen dan
intertiostal dan ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi.
|
Tujuan : Meningkatkan
pernapasan yang adekuat
Kriteria hasil : Batuk efektif,
pasien mampu mengeluarkan seket, bunyi napas normal, jalan napas bersih,
respirasi normal, irama dan jumlah pernapasan, pasien, mampu melakukan
reposisi, nilai AGD : PaO2 > 80 mmHg, PaCO2 = 35-45 mmHg, PH = 7,35 – 7,45
|
a)
Kaji kemampuan batuk dan reproduksi sekret
b)
Pertahankan jalan nafas (hindari fleksi leher,
brsihkan sekret)
c)
Monitor warna, jumlah dan konsistensi sekret,
lakukan kultur
d)
Lakukan suction bila perlu
e)
Auskultasi bunyi napas
f)
Lakukan latihan nafas
g)
Berikan minum hangat jika tidak kontraindikasi
h)
Berikan oksigen dan monitor analisa gas darah
i)
Monitor tanda vital setiap 2 jam dan status
neurologi
|
a)
Hilangnya kemampuan motorik otot intercosta
dan abdomen berpengaruh terhadap kemampuan batuk.
b)
Menutup jalan nafas.
c)
Hilangnya refleks batuk beresiko menimbulkan
pnemonia.
d)
Pengambilan secret dan menghindari aspirasi.
e)
Mendeteksi adanya sekret dalam paru-paru.
f)
Mengembangkan alveolu dan menurunkan prosuksi
sekret.
g)
Mengencerkan secret
h)
Meningkatkan suplai oksigen dan mengetahui
kadar oksigen dalam darah.
i)
Mendeteksi adanya infeksi dan status
respirasi.
|
|
2
|
Kerusakan mobilitas fisik yang
berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik dan sesorik.
|
Tujuan: Memperbaiki mobilitas
Kriteria Hasil : Mempertahankan
posisi fungsi dibuktikan oleh tak adanya kontraktur, footdrop, meningkatkan
kekuatan bagian tubuh yang sakit /kompensasi, mendemonstrasikan teknik
/perilaku yang memungkinkan melakukan kembali aktifitas.
|
a) Kaji
fungsi-fungsi sensori dan motorik pasien setiap 4 jam.
b) Ganti
posisi pasien setiap 2 jam dengan memperhatikan kestabilan tubuh dan
kenyamanan pasien.
c) Beri
papan penahan pada kaki
d) Lakukan
ROM Pasif setelah 48-72 setelah cedera 4-5 kali /hari
e) Monitor
adanya nyeri dan kelelahan pada pasien.
f) Konsultasikan
kepada fisiotrepi untuk latihan dan penggunaan otot seperti splints
|
a) Menetapkan
kemampuan dan keterbatasan pasien setiap 4 jam.
b) Menetapkan
kemampuan dan keterbatasan pasien setiap 4 jam.
c) Mencegah
terjadinya foodrop
d) Meningkatkan
stimulasi dan mencehag kontraktur.
e)
Menunjukan adanya aktifitas yang berlebihan.
f)
Memberikan pancingan yang sesuai.
|
D.
Implementasi
Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan
untuk mencapai tujuan yang spesifik( Nursalam,2001). Tahap pelaksanaan
dimulai setelah rencana tindakan disusun dan berguna untuk memenuhi kebutuhan
klien mencapai tujuan yang diharapkan secara optimal.
Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu
kejadian dalam proses keperawatan. Dokumentasi tindakan keperawatan
ini berguna untuk komunikasi antar tim kesehatan sehingga memungkinkan
pemberian tindakan keperawatan yang berkesinambungan.
E.
Evaluasi
Evaluasi adalah
stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan
dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi
tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari hasil
pembahasan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa cedera medulla spinalis
adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada
daerah medulla spinalis. Penyebabnya antara lain trauma dan kelainan pada
vertebra (seperti atrofo spinal, fraktur patologik, infeksi, osteoporosis,
kelainan congenital, dan gangguan vascular). Instabilitas pada vertebra
mengakibatkan penekanan saraf di medulla spinalis sehingga terjadi gangguan.
Hal ini
menyebabkan gangguan fungsi organ-organ yang hipersarafi yaitu usus, genetalia,
urinaria, rectum, dan ekstremitas bawah. Penatalaksanaan ditujukan untuk
mencegah akibat lanjut dari cedera tersebut.
B.
Saran
Selayaknya seorang
mahasiswa keperawatan dan seorang perawat dalam setiap pemberian asuhan
keperawatan termasuk dalam asuhan keperawatan cedera medulla spinalis
menggunakan konsep yang sesuai dengan kebutuhan dasar manusia yang bersifat
holistic yang meliputi aspek biopsikospiritual dan semoga makalah ini dapat
digunakan sebagai titik acuh khalayak umum.


No comments:
Post a Comment