Saturday, February 18, 2017

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CEDERA KEPALA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CEDERA KEPALA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Cedera kepala dapat mengakibatkan malapetaka besar bagi seseorang. Sebagian masalah merupakan  akibat langsung dari cedera dan banyak lainnya terjadi sekinder akibat cedera. Otak di lindungi dari cedera oleh rambut, kulit dan tulang yang membungkusnya. Tanpa perlindungan ini, otak yang lembut (yang membuat kita seperti adanya) akan mudah sekali terkena cedera dan mengalami kerusakan. Selain itu, begitu rusak neuron tidak dapat di perbaiki lagi(Sylvia Anderson,2005:1171).
Cedera kepala meliputi trauma kulit kepala, tengkorak dan otak. Cedera kepala paling sering dan penyakit neurologic yang serius diantara penyakit neurologic dan merupakan proporsi epidemic sebagai hasil kecelakaan jalan raya. Diperkirakan 100.000 orang meninggal setiap tahun  akibat cedera kepala, dan lebih dari 700.000 orang mengalami cedera cukup berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Pada kelompok ini, antara 50.000 orang dan 90.000 orang setiap tahun mengalami penurunan intelektual atau tingkah laku yang menghambat kembalinya mereka menuju kehidupan normal. Dua pertiga dari kasus ini berusia di bawah 30 tahun, dengan jumlah laki-laki lebih banyak dari wanita. Adanya kadar alcohol dalam darah deteksi lebih dari 50% pasien cedera kepala yang di terapi di ruang darurat. Lebih dari setengah dari semua pasien cedera kepalanberat mempunyai signifikan terhadap cedera bagian tubuh lainnya. Adanya syok hipovolemik pada pasien cedera kepala biasanya karena cedera bagian tubuh lainnya. Resiko utama pasien yang mengalami cedera kepala adalah kerusakan otot akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera dan menyebabkan peningkatan tekanan intracranial.(Smeltzer dan Suzanne, 2001:2209).
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (Mansjoer, 2007: 3). Di dunia diperkirakan sebanyak 1,2 juta jiwa nyawa melayang setiap tahunnya sebagai akibat kecelakaan bermotor, diperkirakan sekitar 0,3-0,5% mengalami cedera kepala. Di Indonesia diperkirakan lebih dari 80% pengendara kendaraan mengalami resiko kecelakaan. 18% diantaranya mengalami cedera kepala dan kecederaan permanen, tingginya angka kecelakaan lalu lintas tidak terlepas dari makin mudahnya orang untuk memiliki kendaraan bermotor dan kecelakaan manusia(Shell,2008).









B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan cedera kepala
2.      Tujuan Khusus
a.       Mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi, dan klasifiksi kasus cedera kepala
b.      Mengetahui data-data dasar pengkajian yang diperlukan dalam proses keperawatan
c.       Mampu menyusun langkah-langkah dalam proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

C.    Manfaat
1.      Bagi Penulis / Pemakalah
Sebagai bahan untuk mengembangkan pengetahuan tentang cedera kepala dan melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan cedera kepala.

2.      Bagi Pembaca
Sebagai bahan referensi dan menambah pengetahuan  tentang cedera kepala dan Asuhan keperawatan pada klien dengan cedera kepala.
























BAB II
TINJAUAN TEORITIS

I.     Konsep Dasar
A.    Defenisi
Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan (accelerasi) dan perlambatan (decelerasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta rotasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan (Doenges, 1989). Kasan (2000) mengatakan cidera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak.
Cedera kepala menurut Suriadi & Rita (2001) adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. Sedangkan menurut Satya (1998), cedera kepala adalah keadaan dimana struktur lapisan otak dari lapisan kulit kepala tulang tengkorak, durameter, pembuluh darah serta otaknya mengalami cidera baik yang trauma tumpul maupun trauma tembus.

B.     Anatomi Fisiologi
1.      Anatomi dan Fisiologi Kepala
a.       Kulit Kepala
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu; skin atau kulit, connective tissue atau jaringan penyambung, aponeurosis atau galea aponeurotika, loose conective tissue atau jaringan penunjang longgar dan pericranium .
b.      Tengkorak
Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Tulang kranium terdiri dari 3 lapisan :lapisanluar, etmoid dan lapisan dalam. Lapisan luar dan dalam merupakan struktur yang kuat sedangkan etmoid merupakan struktur yang menyerupai busa. Lapisan dalam membentuk rongga/fosa; fosa anterior didalamnya terdapat lobus frontalis, fosa tengah berisi lobus temporalis, parientalis,oksipitalis, fosa posterior berisi otak tengah dan sereblum.
Kalvaria khususnya diregio temporal adalah tipis, namun disini dilapisi oleh otot temporalis.Basis cranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi.





https://yayanakhyar.files.wordpress.com/2008/04/belibis_a-17_lapisan-kepal.jpg?w=500













Gambar1. Lobus Kranium

c.       Meningen.
Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan yaitu :
1.      Dura mater
Dura mater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan endosteal dan lapisan meningeal. Dura mater merupakan selaput yang keras, terdiri atas jaringan ikat fibrisa yang melekat erat pada permukaan dalam dari kranium. Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di bawahnya, maka terdapat suatu ruang potensial (ruang subdura) yang terletak antara dura mater dan arachnoid, dimana sering dijumpai perdarahan subdural. Pada cedera otak, pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat.
Arteri-arteri meningea terletak antara dura mater dan permukaan dalam dari kranium (ruang epidural). Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan menyebabkan perdarahan epidural. Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis (fosa media).
2.      Selaput Arakhnoid
Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang. Selaput arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater sebelah luar yang meliputi otak. Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang potensial, disebut spatium subdural dan dari pia mater oleh spatium subarakhnoid yang terisi oleh liquor serebrospinalis. Perdarahan sub arakhnoid umumnya disebabkan akibat cedera kepala.
3.      Pia mater
Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri. Pia mater adarah membrana vaskular yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyri dan masuk kedalam sulci yang paling dalam. Membrana ini membungkus saraf otak dan menyatu dengan epineuriumnya. Arteri-arteri yang masuk kedalam substansi otak juga diliputi oleh pia mater.

d.      Otak
Otak merupakan suatu struktur gelatin yang mana berat pada orang dewasa sekitar 14 kg. Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu; Proensefalon (otak depan) terdiri dari serebrum dan diensefalon, mesensefalon (otak tengah) dan rhombensefalon (otak belakang) terdiri dari pons, medula oblongata dan serebellum.
Fisura membagi otak menjadi beberapa lobus. Lobus frontal berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi motorik dan pusat ekspresi bicara. Lobus parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang. Lobus temporal mengatur fungsi memori tertentu. Lobus oksipital bertanggungjawab dalam proses penglihatan. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem aktivasi retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewapadaan. Pada medula oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik. Serebellum bertanggungjawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan.

e.       Cairan serebrospinalis
Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus khoroideus dengan kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. CSS mengalir dari dari ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III, akuaduktus dari sylvius menuju ventrikel IV. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior. Adanya darah dalam CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan takanan intrakranial. Angka rata-rata pada kelompok populasi dewasa volume CSS sekitar 150 ml dan dihasilkan sekitar 500 ml CSS per hari.

C.    Etiologi
1.      Menurut Hudak dan Gallo (1996 : 108) mendiskripsikan bahwa penyebab cedera kepala adalah karena adanya trauma yang dibedakan menjadi 2 faktor yaitu :
a.       Trauma primer
Terjadi karena benturan langsung atau tidak langsung (akselerasi dan    deselerasi)
b.      Trauma sekunder
Terjadi akibat dari trauma saraf (melalui akson) yang meluas, hipertensi intrakranial, hipoksia, hiperkapnea, atau hipotensi sistemik.

2.      Trauma akibat persalinan
3.      Kecelakaan, kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil, kecelakaan pada saat olahraga.
4.      Jatuh
5.      Cedera akibat kekerasan.

D.    Patofisiologi
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi cerebral.
Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik. Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 - 60 ml/menit/100 gr. jaringan otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output dan akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi
Menurut Long (1996) trauma kepala terjadi karena cidera kepala, kulit kepala, tulang kepala, jaringan otak. Trauma langsung bila kepala langsung terluka. Semua itu berakibat terjadinya akselerasi, deselerasi dan pembentukan rongga. Trauma langsung juga menyebabkan rotasi tengkorak dan isinya, kekuatan itu bisa seketika/menyusul rusaknya otak dan kompresi, goresan/tekanan. Cidera akselerasi terjadi bila kepala kena benturan dari obyek yang bergerak dan menimbulkan gerakan. Akibat dari akselerasi, kikisan/konstusio pada lobus oksipital dan frontal batang otak dan cerebellum dapat terjadi. Sedangkan cidera deselerasi terjadi bila kepala membentur bahan padat yang tidak bergerak dengan deselerasi yang cepat dari tulang tengkorak.
Pengaruh umum cidera kepala dari tengkorak ringan sampai tingkat berat ialah edema otak, deficit sensorik dan motorik. Peningkatan  TIK  terjadi dalam rongga tengkorak (TIK normal 4-15 mmHg). Kerusakan selanjutnya timbul masa lesi, pergeseran otot.
Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena memar pada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau hemoragi. Sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera. Konsekuensinya meliputi hiperemi (peningkatan volume darah) pada area peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua menimbulkan peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi.
Genneralli dan kawan-kawan memperkenalkan cedera kepala “fokal” dan “menyebar” sebagai kategori cedera kepala berat pada upaya untuk menggambarkan hasil yang lebih khusus. Cedera fokal diakibatkan dari kerusakan fokal yang meliputi kontusio serebral dan hematom intraserebral, serta kerusakan otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan massa lesi, pergeseran otak atau hernia. Cedera otak menyebar dikaitkan dengan kerusakan yang menyebar secara luas dan terjadi dalam empat bentuk yaitu: cedera akson menyebar, kerusakan otak hipoksia, pembengkakan otak menyebar, hemoragi kecil multipel pada seluruh otak. Jenis cedera ini menyebabkan koma bukan karena kompresi pada batang otak tetapi karena cedera menyebar pada hemisfer serebral, batang otak, atau dua-duanya.
Sedangkan patofisiologi menurut Markum (1999). trauma pada kepala menyebabkan tengkorak beserta isinya bergetar, kerusakan yang terjadi tergantung pada besarnya getaran makin besar getaran makin besar kerusakan yang timbul, getaran dari benturan akan diteruskan menuju Galia aponeurotika sehingga banyak energi yang diserap oleh perlindungan otak, hal itu menyebabkan pembuluh darah robek sehingga akan menyebabkan haematoma epidural, subdural, maupun intracranial, perdarahan tersebut juga akan mempengaruhi pada sirkulasi darah ke otak menurun sehingga suplay oksigen berkurang dan terjadi hipoksia jaringan akan menyebabkan odema cerebral.
Akibat dari haematoma diatas akan menyebabkan distorsi pada otak, karena isi otak terdorong ke arah yang berlawanan yang berakibat pada kenaikan T.I.K (Tekanan Intra Kranial) merangsang kelenjar pituitari dan steroid adrenal sehingga sekresi asam lambung meningkat akibatnya timbul rasa mual dan muntah dan anaroksia sehingga masukan nutrisi kurang (Satya, 1998).


















https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwnU4kF3jF8QP9zXpRWV4Ma9aUMYLT24Y86NAf6kwy9_YN9N-Wl_c4M7vSTtbm-l84asZ2JYB6pz0P2BZoLndETeNpeqVrx0-OecbBAS_GFJJbf3R28ybjTrPfnDt5MWwn5WJhOwWfv4M/s1600/patofis-cedera-kepala.jpgWOC




















E.     Manifestasi Klinis
Menurut Long (1996) tanda dan gejala cedera kepala adalah sebagai berikut :
1.      Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih
2.      Kebingungan
3.      Pucat
4.      Mual dan muntah
5.      Pusing
6.      Nyeri kepala hebat
7.      Terdapat hematoma
8.      Kecemasan
9.      Sukar untuk dibangunkan
10.  Bila fraktur, mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal.






F.     Pemeriksaan Diagnostik
1.       CT-Scan (dengan atau tanpa kontras)
Mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak. Catatan : Untuk mengetahui adanya infark/iskemia jangan dilekukan pada 24 - 72 jam setelah injuri.
2.      MRI
Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
3.       Cerebral Angiography
Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi edema, perdarahan dan trauma.
4.      EEG (Elektroencepalograf)
Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis
5.      X-Ray
Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis(perdarahan/edema), fragmen tulang.
6.      BAER
Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil
7.      PET
Mendeteksi perubahan aktivitas  metabolisme otak

8.      CSF, Lumbal Pungsi
Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid dan untuk mengevaluasi/mencatat peningkatan tekanan cairan serebrospinal.
9.      ABGs
Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah  pernapasan (oksigenisasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial
10.  Kadar Elektrolit
Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrkranial
11.  Screen Toxicologi
Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan kesadaran



G.    Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien dengan trauma kepala adalah sebagai berikut:
1.      Observasi 24 jam
2.      Jika pasien masih muntah sementara dipuasakan terlebih dahulu.
Makanan atau cairan, pada trauma ringan bila muntah-muntah, hanya cairan infus dextrosa 5 %, amnifusin, aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan), 2 - 3 hari kemudian diberikan makanan lunak.
3.      Berikan terapi intravena bila ada indikasi.
4.      Pada anak diistirahatkan atau tirah baring.
5.      Terapi obat-obatan.
a.       Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai dengan berat ringanya trauma.
b.      Terapi hiperventilasi (trauma kepala berat), untuk mengurangi vasodilatasi.
c.       Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20 % atau glukosa 40 % atau gliserol 10 %.
d.      Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisillin) atau untuk infeksi anaerob diberikan metronidasol.
e.       Pada trauma berat. karena hari-hari pertama didapat penderita mengalami penurunan kesadaran dan cenderung terjadi retensi natrium dan elektrolit maka hari-hari pertama (2-3 hari) tidak terlalu banyak cairan. Dextosa 5 % 8 jam pertama, ringer dextrosa 8 jam kedua dan dextrosa 5 % 8 jam ketiga. Pada hari selanjutnya bila kesadaran rendah makanan diberikan melalui nasogastric tube (2500 - 3000 TKTP).
6.      Pembedahan bila ada indikasi.

H.    Komplikasi
1.      Hemorrhagie
2.      Infeksi
3.      Edema serebral dan herniasi




      II.          Asuhan Keperawatan Teoritis
A.    Pengkajian
a.      Identitas klien
Nama, umur, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, golongan darah, pendidikan terakhir, agama, suku, status perkawinan, pekerjaan, TB/BB, alamat
b.      Identitas Penanggung jawab
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, hubungan dengan klien, pendidikan terakhir, pekerjaan, alamat.
c.       Riwayat kesehatan :
Tingkat kesadaran/GCS (< 15), konvulsi, muntah, dispnea / takipnea, sakit kepala, wajah simetris / tidak, lemah, luka di kepala, paralise, akumulasi sekret pada saluran napas, adanya liquor dari hidung dan telinga dan kejang.
Riwayat penyakit dahulu haruslah diketahui baik yang berhubungan dengan sistem persarafan maupun penyakit sistem sistemik lainnya. demikian pula riwayat penyakit keluarga terutama yang mempunyai penyakit menular.
Riwayat kesehatan tersebut dapat dikaji dari klien atau keluarga sebagai data subyektif. Data-data ini sangat berarti karena dapat mempengaruhi prognosa klien.
d.      Pengkajian persistem
1.      Keadaan umum
2.      Tingkat kesedaran : composmetis, apatis, somnolen, sopor, koma
3.      TTV
4.      Sistem Pernapasan
Perubahan pola napas, baik irama, kedalaman maupun frekuensi, nafas bunyi ronchi.
5.      Sistem Kardiovaskuler
Apabila terjadi peningkatan TIK, tekanan darah meningkat, denyut nadi bradikardi kemudian takikardi.
6.      Sistem Perkemihan
Inkotenensia, distensi kandung kemih
7.      Sistem Gastrointestinal
Usus mengalami gangguan fungsi, mual/muntah dan mengalami perubahan selera
     
8.      SistemMuskuloskeletal
Kelemahan otot, deformasi
9.      Sistem Persarafan
Gejala    : kehilangan kesadaran, amnesia, vertigo, syncope, tinitus, kehilangan pendengaran, perubahan penglihatan, gangguan pengecapan .
Tanda     : perubahan kesadaran sampai koma, perubahan status mental, perubahan pupil, kehilangan pengindraan, kejang, kehilangan sensasi sebagian tubuh.
a.       Nervus cranial
N.I                   : Penurunan daya penciuman                                                    
N.II                 : Pada trauma frontalis terjadi penurunan    penglihatan
N.III, N.IV, N.VI          : penurunan lapang pandang, refleks cahaya menurun, perubahan ukuran pupil, bola mta tidak dapat mengikuti perintah, anisokor.
N.V                 : Gangguan mengunyah
VII, N.XII       : Lemahnya penutupan kelopak mata, hilangnya rasa pada 2/3 anterior lidah
N.                                                            VIII                 : Penurunan pendengaran dan keseimbangan tubuh
                                                                N.IX , N.X , N.XI jarang ditemukan

b.      Skala Koma glasgow (GCS)
NO
KOMPONEN
NILAI
HASIL
1
VERBAL
1
Tidak berespon
2
Suara tidak dapat dimengerti, rintihan
3
Bicara kacau/kata-kata tidak tepat/tidak nyambung dengan pertanyaan
4
Bicara membingungkan, jawaban tidak tepat
5
Orientasi baik
2
MOTORIK
1
Tidak berespon
2
Ekstensi abnormal
3
Fleksi abnormal
4
Menarik area nyeri
5
Melokalisasi nyeri
6
Dengan perintah
3
Reaksi membuka mata (EYE)
1
Tidak berespon
2
Rangsang nyeri
3
Dengan perintah (rangsang suara/sentuh)
4
Spontan

c.       Fungsi motorik
Setiap  ekstremitas  diperiksa dan dinilai dengan skala berikut yang digunakan  secara internasional :
RESPON
SKALA
Kekuatan normal
5
Kelemahan sedang
4
Kelemahan berat (antigravity)
3
Kelemahan berat (not antigravity)
2
Gerakan trace
1
Tak ada gerakan
0
B.     Diagnosa Keperawatan
a.      Bersihan jalan napas tidak efektif b.d akumulasi cairan
b.      Pola napas tidak efektif b.d kerusakan pusat pernapasan di medula oblongata
c.       Perubahan perfusi jaringan serebral b.d hiposksia
d.      Perubahan persepsi sensori b.d defisit neorologis.
e.       Gangguan rasa nyaman nyeri b.d peningkatan TIK.
f.       Kerusakan mobilitas fisik b.d imobilitas.
g.      Resti injury b.d kejang.








C.    Intervensi

No
Diagnosa
Tujuan / KH
Intervensi
Rasional
1
Bersihan jalan napas tidak efektif b.d akumulasi cairan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan klien dapat mempertahanakan patensi napas dengan kriteria hasil :
a.   Bunyi napas vesikuler
b.   Tidak ada spuntum
c.   Masukan cairan adekuat.

-   Kaji kepatenen jalan napas
-   Beri posisi semi fowler.
-   Lakukan penghisapan lendir dengan hati-hati selama 10-15 menit.Catat  sifat-sifat, warna dan bau sekret. Lakukan bila tidak ada retak pada tulang basal dan robekan dural.
-   Berikan posisi semi pronelateral/miring atau terlentang setiap dua jam.
-   Pertahankan masukan cairan sesuai kemampuan klien.  Berikan bronkodilator IV dan aerosol sesuai indikasi
-   Ronki,mengi
menunjukan aktivitas sekret yang dapat menimbulkan penggunaan otot-otot asesoris dan meningkatkan kerja pernapasan.
- Membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan.
- Pengisapan dan membersihkan jalan napas dan akumulasi dari sekret. Dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari terjadinya iritasi  saluran dan reflek vagal.
-    Posisi semi prone dapat membantu keluarnya sekret dan mencegah aspirasi. Mengubah posisi untuk merangsang mobilisi sekret dari saluran pernapasan.
-   Membantu mengencerkan sekret, meningkatkan pengeluaran sekret.
-    Meningkatkan ventilasi dan membuang sekret serta relaksasi otot halus/spsponsne bonkus.
2
Pola napas tidak efektif b.d kerusakan pusat pernapasan di medula oblongata
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan klien mempunyai pola pernapasan yang efektif dengan kriteria hasil:
a.   Pola napas nomal (irama teratur, RR = 16-24 x/menit).
b.  Tidak ada pernapasan cuping hidung.
c.   Pergerakan dada simetris.
d. Nilai GDA normal.
PH darah = 7,35-7,45.
PaO2 = 80-100 mmHg.
PaCO2 = 35-45 mmHg.
HCO3- = 22-26 m.Eq/L
Ppantau frekuensi, irama dan kedalaman pernapasan. Catat ketidak teraturan pernapasan.

2.  Catat kompetensi reflek GAG dan kemampuan untuk melindungi jalan napas sendiri.
3.  Tinggikan kepala tempat tidur sesuai indikasi.
4.  Anjurkan kllien untuk bernapas dalam dan batuk efektif.
5.  Beri terapi O2 tambahan..  Pantau analisa gas darah, tekanan oksimetri.
- Perubahan dapat menandakan awitan komplikasi pulmo atau menandakan luasnya keterlibatan otak. Pernapasan lambat, periode aprea dapat menandakan perlunya ventilasi mekanis.
-   Kemampuan mobilisasi penting untuk pemeliharaaan jalan napas. Kehilangan reflek batuk menandakan perlunya jalan napas buatan/intubasi.
-   Untuk memudahkan ekspansi paru dan menurunkan adanya kemugkinan lidah jatuh menutupi jalan napas.
-   Mencegah atau menurunkan atelektasis.
-   Memaksimalkan O2 pada darah arteri dan membantu dalam mencegah hipoksia.
-   Menentukan kecukupan pernapasan, keseimbangan asam basa

D.    Implementasi
Implementasi adalah insiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.Tahap tindakan di susun dan berguna untuk memenuhi kebutuhan klien mencapai tujuan yang diharapkan secaraoptimal.
Pelaksanaan tindakan keperawatan haru ikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.
Dokumentasi tindakan keperawatan ini berguna untuk komunikasi antar tim kesehata sehingga memungkinkan pemberian tindakan keperawatan yang berkesinambungan.

E.     Evaluasi
Evaluasi aladah stadium akhir pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (Mansjoer, 2007: 3). Di dunia diperkirakan sebanyak 1,2 juta jiwa nyawa melayang setiap tahunnya sebagai akibat kecelakaan bermotor, diperkirakan sekitar 0,3-0,5% mengalami cedera kepala. Di Indonesia diperkirakan lebih dari 80% pengendara kendaraan mengalami resiko kecelakaan. 18% diantaranya mengalami cedera kepala dan kecederaan permanen, tingginya angka kecelakaan lalu lintas tidak terlepas dari makin mudahnya orang untuk memiliki kendaraan bermotor dan kecelakaan manusia(Shell,2008).

B.     Saran
Selayaknya seorang mahasiswa keperawatan dan seorang perawat dalam setiap pemberian asuhan keperawatan termasuk dalam asuhan keperawatan cedera kepala menggunakan konsep yang sesuai dengan kebutuhan dasar manusia yang bersifat holistic yang meliputi aspek biopsikospiritual dan semoga makalah ini dapat digunakan sebagai titik acuh khalayak umum.


















DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M. 1989. Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Car. 2 nd ed. Philadelpia : F.A. Davis Company.
Long; B and Phipps W. 1985. Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach. St. Louis : Cv. Mosby Company.
Asikin, Z. 1991. Simposium Keperawatan Penderita Cedera Kepala.  Panatalaksanaan Penderita dengan Alat Bantu Napas. Jakarta.
Harsono. 1993. Kapita Selekta Neurologi. Jogjakarta : Gadjah Mada University Press
Saanin, S dalam Neurosurgeon. mailto:%20saanin@padang.wasantara.net.id
Cecily, L & Linda A. 2000. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Hudak & Gallo. 1996. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik, Volume II. Jakarta: EGC.
Iskandar. 2004. Cedera Kepala. Jakarta Barat: PT. Bhuana Ilmu Populer.
Suriadi & Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi I. Jakarta: CV Sagung Seto
Suzanne CS & Brenda GB. 1999. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi 8. Volume 3. Jakarta: EGC
Bajamal, A. 1999. Penatalaksanaan Cidera Otak Karena Trauma. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Bedah Saraf. Surabaya.
Umar, K. 1998. Peran Ilmu Bedah Saraf Dalam Penanganan Cidera Kepala Surabaya : Airlangga Univ. Press.
Umar, K. 2000. Penanganan Cidera Kepala Simposium. Tretes : IKABI.
Vincent, J. 1996. Pharmacology of Oxygen and Effect of Hypoxi. Germany





No comments:

Post a Comment