Saturday, February 18, 2017

ASKEP KATARAK


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang 
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi  akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau terjadi akibat  kedua-duanya (Ilyas, 2009).   Kekeruhan ini dapat mengganggu jalannya cahaya yang melewati lensa sehingga pandangan dapat menjadi kabur hingga hilang sama sekali.
 Penyebab utama katarak adalah usia, tetapi banyak hal lain yang dapat terlibat seperti trauma,  toksin, penyakit sistemik (seperti diabetes), merokok dan herediter  ( Vaughan & Asbury, 2007).
 Berdasarkan studi potong lintang prevalensi katarak pada usia 65 tahun adalah 50% dan prevalensi ini meningkat hingga 70% pada usia lebih dari 75 tahun (Vaughan & Asbury, 2007).  Katarak merupakan masalah penglihatan yang serius karena katarak dapat mengakibatkan kebutaan.Menurut WHO pada tahun 2002 katarak merupakan penyebab kebutaan yang paling utama di dunia sebesar 48% dari seluruh kebutaan di dunia . Setidaknya terdapat delapan belas juta orang di dunia menderita kebutaan akibat katarak.
 Di Indonesia sendiri berdasarkan hasil survey kesehatan indera 1993 - 1996, katarak juga penyebab kebutaan paling utama yaitu sebesar 52%.  Katarak memang dianggap sebagai penyakit  yang lumrah pada lansia. Akan tetapi, ada banyak faktor yang akan memperbesar resiko terjadinya katarak. Faktor - faktor ini antara lain  adalah paparan sinar ultraviolet yang berlebihan terutama pada negara tropis, paparan dengan radikal bebas, merokok,  defesiensi vitamin (A, C, E, niasin, tiamin, riboflavin, dan beta karoten), dehidrasi, trauma, infeksi, penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang, penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, genetik dan myopia. Beberapa faktor- faktor resiko ini tentunya ada yang   dapat dihindari masyarakat untuk mencegah percepatan terjadinya katarak , misalnya merokok.
 Hal yang menarik di sini adalah merokok merupakan faktor resiko terjadinya katarak. Tetapi banyak masyarakat yang belum mengetahui bahaya merokok terhadap kesehatan lensa mata. Kebanyakan merokok hanya dikaitkan dengan masalah pernafasan, jantung dan pembuluh darah, kanker, kehamilan, dan seksualitas. Padahal masih banyak efek samping rokok yang belum diketahui masyarakat termasuk katarak. 
WHO memperkirak an terdapat 1,25 miliar penduduk dunia adalah perokok dan dua pertiganya terdapat di negara- negara maju, dengan sekurang-  kurangnya 1 dari 4 orang dewasa adalah perokok. Berdasarkan data WHO  Report on The Global Tobacco Epidemic   2009, prevalensi perokok muda di Indonesia adalah 11,8% dan prevalensi pengguna tembakau usia muda adalah 13,5%. Sedangkan prevalensi perokok yang merokok tiap hari pada kelompok dewasa adalah 24,2% dan perokok yang tidak selalu merokok pada kelompok muda   adalah 5,6%. Besarnya resiko merokok terhadap katarak telah banyak dibuktikan di beberapa penelitian. Tana, Mihardja, dan Rif’ati (2007) mendapatkan resiko perokok mendapatkan  penyakit katarak sebesar 2,17 kali dibandingkan dengan bukan perokok. Raju, George, Ramesh, Arvind, Baskaran dan Vijaya (2006) mendapatkan OR perokok terhadap katarak sebesar 1,59. Christen dkk. (1992) melalui penelitian prospektif kohort mendapatkan RR perokok dibandingkan bukan perokok terhadap kejadian katarak sebesar 2,16. Di In donesia Pujiyanto dan Ismu (2004) mendapatkan resiko katarak pada perokok sebesar OR= 5,8 dibandingka n yang bukan perokok.
Beberapa penelitian mengemukakan bahwa faktor terpenting dari rokok yang dapat menimbulkan katarak adalah radikal bebas. Radikal beba s adalah  atom atau molekul yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan (Murray, 2003).    Selain itu peranan kadmium dan NO juga sangat besar terhadap timbulnya katarak. Radikal bebas dan NO dapat memicu terbentuknya senyawa yang akan membentuk ikatan silang antara protein dan lipid membran sehingga sel menjadi rusak. Kadmium pada rokok dapat berakumulasi di lensa sehingga menghambat kerja enzim antioksidan lensa. Ketiga zat tersebut akhirnya dapat membentuk kekeruhan pada lensa sehingga timbul katarak .
B.     Tujuan Umum
Tujuan umum makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kita tentang penyakit katarak.


C.    Manfaat Penulisan Makalah
Adapun manfaat dari makalah ini adalah : 
1.   Hasil makalah ini dapat kita gunakan sebagai sumber pengetahuan tentang katarak 
2.   Hasil makalah ini dapat memberikan kontribusi bagi penelitian kesehatan dan ilmu keperawatan
3.   Hasil makalah ini dapat memberikan  masukan bagi ilmu keperawatan tentang tingkat pengetahuan kita tentang penyakit katarak, sehingga apabila diperlukan dapat kita lakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang kesehatan mata khusunya katarak.














BAB II
PEMBAHASAN
A.KONSEP DASAR PENYAKIT KATARAK
            a. Defenisi (sumber I)
Menurut Arief mansur dkk (Kapita Selekta jilid 1) Katarak adalah istilah kedokteran untuk setiap keadaan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau dapat juga akibat dari kedua-duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina. Jumlah dan bentuk kekeruhan pada setiap lensa mata dapat bervariasi.
(sumber II)
Menurut Charlene J. Reaver dkk (KMB buku 1 hal 6)  Katarak adalah mengeruhnya lensa. Katarak bisa disebabkan karena konginental atau dapatan (acquired). Penyebab acquired cataract yang paling umum adalah pertambahan usia, meskipun mekanisme yang pasti belum diketahui. Pemakaian orticosteroid dan thorazine, DM, trauma pada mata adalah penyebab acquired cataract yang lain. Congenital cataract terjadi pada infeksi rubella pada periode kehamilan. Katarak terjadi pada kedua mata, namun biasanya satu lensa lebih parah dibandingkan yang lain. Diagnosa katarak mencakup menurunnya ketajaman penglihatan, hilangnya reflek merah dan terlihat gambaran opaque pada lensa ketika dilakukan pemeriksaan.

(sumber III)
Definisi lain katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu (Iwan,2009).

           


b.Etiologi
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas. Akan tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda.
Penyebab katarak lainnya meliputi :
  • Faktor keturunan.
  • Cacat bawaan sejak lahir. (congenital)
  • Masalah kesehatan, misalnya diabetes.
  • Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid.
  • gangguan metabolisme seperti DM (Diabetus Melitus)
  • gangguan pertumbuhan,
  • Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama.
  • Rokok dan Alkohol
  • Operasi mata sebelumnya.
  • Trauma (kecelakaan) pada mata.
  • Faktor-faktor lainya yang belum diketahui.








c.       Anatomi Fisiologi
Bola mata memiliki 3 lapisan. Bola mata memiliki 3 lapisan. Dari permukaan luar, terdapat lapisan fibrosa, yang terdiri dari sklera di belakang dan kornea di bagian depan. Lapisan kedua yaitu lapisan berpigmen dan vaskular, yang terdiri dari koroid, korpus siliaris, dan iris. Lapisan ketiga yaitu lapisan neural yang dikenal sebagai retina.  Bola mata orang dewasa normal hampir mendekati bulat, dengan diameter anteroposterior sekitar 24, 5 mm.
a.    Konjungtiva
Merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebris/tarsal) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbi). Perdarahan konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri palpebralis.
b.   Sklera
Merupakan pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar. Jaringan bersifat padat dan berwarna putih, serta bersambungan dengan kornea di sebelah anterior, dan durameter nervus optikus di posterior. Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh sebuah lapisan tipis dari jaringan elastik halus yang mengandung banyak pembuluh darah yang memasuk sklera, yang disebut sebagai episklera.
c.    Kornea
Merupakan jaringan transparan yang memiliki tebal 0,54 mm ditengah, dan 0,65 mm di tepi, serta berdiameter sekitar 11,5 mm. Sumber nutrisi kornea berasal dari pembuluh darah limbus, humor aqueous, dan air mata. Dalam axis penglihatan, kornea berperan sebagai jendela paling depan dari mata dimana sinar masuk dan difokuskan ke dalam pupil . Bentuk kornea  cembung dengan sifat yang transparan dimana  kekuatan pembiasan sinar yang masuk 80 % atau 40 dioptri ,dengan indeks bias 1, 38 .
d.   Uvea
Uvea terdiri atas iris, korpus siliaris, dan koroid. Bagian ini adalah lapisan vaskular tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sklera.
e.    Iris
Merupakan perpanjangan korpus siliaris ke anterior. Iris terletak bersambungan dengan anterior lensa, yang memisahkan bilik anterior dan blik posterior mata. Di dalam stroma iris terdapat otot sfingter dan dilator pupil. Iris juga merupakan bagian yang memberi warna pada mata. Dalam axis penglihatan, iris berfungsi mengatur jumlah sinar yang masuk kedalam bola mata dengan mengatur besar pupil menggunakan otot sfingter dan dilator pupil.
f.     Pupil
Pupil berwarna hitam pekat yang mengatur jumlah sinar masuk kedalam bola mata. Pada  pupil terdapat m.sfinger pupil yang bila berkontraksi akan mengakibatkan mengecilnya pupil  (miosis) dan m.dilatator pupil yang bila berkontriksi akan mengakibatkan membesarnya pupil (midriasis)
g.    Corpus siliaris
Membentang ke depan dari ujung anterior koroid ke pangkal iris. Corpus silliaris berperan untuk akomodasi dan menghasilkan humor aquaeus
h.   Lensa
Merupakan struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, dan transparan. Memiliki tebal sekitar 4mm dan diameter 9mm. Terletak di belakang iris. Lensa digantung oleh zonula yang menghubungkannya dengan korpus siliaris. Dalam axis penglihatan, lensa berperan untuk berakomodasi dan memfokuskan cahaya ke retina.
i.      Retina
Merupakan selembar tipis jaringan saraf yang semi transparan yang melapisi dua per tiga bagian dalam posterior dinding bola mata. Dalam aksis penglihatan, retina berfungsi untuk menangkap rangsangan jatuhnya cahaya dan akan diteruskan berupa bayangan benda sebagai impuls elektrik ke otak untuk membentuk gambaran yang dilihat. Pada retina terdapat sel batang sebagai sel pengenal sinar dan sel kerucut yang mengenal frekuensi sinar.
j.     Nervus Optikus
Saraf penglihatan yang meneruskan rangsangan listrik dari mata ke korteks visual untuk dikenali bayangannya
eye_anatomy









Anatomi dan Histologi Lensa
Lensa merupakan struktur yang transparan, bikonveks, dan kristalin terletak di antara iris dan badan kaca. Lensa memiliki ukuran diameter 9-10 mm dengan ketebalan 3,5 mm – 5 mm. Di belakang iris, lensa terfiksasi pada serat zonula yang berasal dari badan siliar. Serat zonula tersebut menempel dan menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan posterior dari kapsul lensa. Kapsul  merupakan membran dasar yang melindungi nukleus, korteks, dan epitel lensa. Permukaan anterior dan posterior lensa memiliki beda kelengkungan, dimana permukaan anterior lensa lebih melengkung dibandingkan bagian posterior. Kedua permukaan ini bertemu di bagian ekuator. Sebagai media refraksi, lensa memiliki indeks refraksi sebesar 1,39, dan memilki kekuatan hingga 15-16 dioptri. Dengan bertambahnya usia, kemampuan akomodasi lensa akan berkurang, sehingga kekuatan lensa pun akan menurun.
Struktur lensa dapat diurai menjadi :
1.    Kapsul lensa
Kapsul lensa merupakan membran dasar yang transparan. Kapsul lensa tersusun dari kolagen tipe-IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa. Kapsul berfungsi untuk mempertahankan bentuk lensa saat akomodasi. Kapsul lensa paling tebal pada bagian anterior dan posterior zona preekuator (14 um,) dan paling tipis pada bagian tengah kutub posterior (3um).
2.    Epitel anterior
Epitel anterior lensa dapat ditemukan tepat dibelakang kapsul anterior. Merupakan selapis sel kuboid yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan lensa dan regenerasi serat lensa. Pada bagian ekuator, sel ini berproliferasi dengan aktif untuk membentuk serat lensa baru.
3.    Serat lensa
Serat lensa merupakan hasil dari proliferasi epitel anterior. Serat lensa yang matur adalah serat lensa yang telah keihlangan nucleus, dan membentuk korteks dari lensa. Serat-serat yang sudah tua akan terdesak oleh serat lensa yang baru dibentuk ke tengah lensa.

lens.gif







4.    Ligamentum suspensorium (Zonulla zinnii)
Secara kasar, ligamentun suspensorium merupakan tempat tergantungnya lensa, sehingga lensa terfiksasi di dalam mata. Ligamentum suspensorium menempel pada lensa di bagian anterior dan posterior kapsul lensa. Ligamentum suspensorium merupakan panjangan dari corpus silliaris.

2.      Fisiologi Lensa
1.    Transparansi lensa
Lensa tidak memiliki pembuluh darah maupun sistem saraf. Untuk mempertahankan kejernihannya, lensa harus menggunakan aqueous humour sebagai penyedia nutrisi dan sebagai tempat pembuangan produknya. Namun hanya sisi anterior lensa saja yang terkena aqueous humour. Oleh karena itu, sel-sel yang berada ditengah lensa membangun jalur komunikasi terhadap lingkungan luar lensa dengan membangun low resistance gap junction antar sel.
2.    Akomodasi lensa
Akomodasi lensa merupakan mekanisme yang dilakukan oleh mata untuk mengubah fokus dari benda jauh ke benda dekat yang bertujuan untuk menempatkan bayangan yang terbentuk tepat jatuh di retina. Akomodasi terjadi akubat perubahan lensa oleh badan silluar terhadap serat zonula. Saat m. cilliaris berkontraksi, serat zonular akan mengalami relaksasi sehingga lensa menjadi lebih cembung dan mengakibatkan daya akomodasi semakin kuat. Terjadinya akomodasi dipersarafi ole saraf simpatik cabang nervus III. Pada penuaan, kemampuan akomodasi akan berkurang secara klinis oleh karena terjadinya kekakuan pada nukelus.
     Perubahan yang terjadi pada saat akomodasi sebagai berikut:
accomo.jpg














d.      Patofisiologi / WOC
Patofisiologi katarak senilis sangat kompleks dan belum sepenuhnya dapatdipahami. Patogenesis dari katarak diduga melibatkan interaksi kompleks antara berbagai proses fisiologis. Dengan bertambahnya umur,lensa akan mengalami perubahan menjadi lebih berat dan tebal sedangkankemampuan akomodasinya berkurang. Lapisan kortikal baru akan terus bertambahdalam pola konsentris lensa, sedangkan nukelus sentral mengalami kompresi danmengeras dalam proses yang disebut sklerosis nuklear.Beberapa mekanisme berkontribusi terhadap hilangnya secara progresif transparansi dari lensa. Epitel lensa diduga mengalami perubahan yang berkaitandengan usia, terutama penurunan densitas sel epitel lensa dan diferensiasimenyimpang dari sel serat lensa. Walaupun epitel dari lensa katarak mengalamikematian apoptosis dalam tingkat yang rendah yang tidak menyebabkan penurunanyang signifikan dalam kepadatan sel, akumulasi kehilangan epitel dalam skala kecildapat menyebabkan perubahan pembentukan serat lensa dan homeostasis yangselanjutnya dapat menyebabkan hilangnya transparansi lensa.Selanjutnya denganbertambahnya usia, penurunan tingkat di mana air dan metabolit dengan beratmolekul rendah yang larut dalam air dapat masuk ke dalam sel inti lensa melaluiepitelium dan korteks terjadi dengan penurunan berikutnya di tingkat transportasi air,nutrisi, dan antioksidan.Akibatnya kerusakan oksidatif progresif lensa yang berhubungan denganpenuaan terjadi yang selanjutnya mengarah berkembang menjadi katarak senilis.Berbagai studi menunjukkan peningkatan produk oksidasi misalnya glutathioneteroksidasi serta penurunan vitamin antioksidan dan enzim superoxida dismutasemempunyai peran penting dalam proses oksidatif dalam proses kataraktogenesis.
Klasifikasi
Ø  Berdasarkan cara didapat katarak dibagi menjadi
·         Kongenital, acquired
Ø  Berdasarkan morfologi, katarak diklasifikasikan menjadi
  • Subkapsular, inti, kortikal
Ø  Berdasarkan stadium kematangan yakni
  • Insipien, imatur, matur, hipermatur

Katarak Kongenital
Katarak kongenital adalah katarak yang ditemukan pada bayi ketika lahir. Katarak kongenital bisa merupakan penyakit keturunan (diwariskan secara autosomal dominan) atau bisa disebabkan oleh infeksi kongenital, seperti campak, berhubungan dengan penyakit anabolik, seperti galaktosemia.Faktor risiko terjadinya katarak kongenital adalah penyakit metabolik yang diturunkan, riwayat katarak dalam keluarga, infeksi virus pada ibu ketika bayi masih dalam kandungan.
Kekeruhan sebagian pada lensa yang sudah didapatkan pada waktu lahir umumnya tidak meluas dan jarang sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa.  Letak kekeruhan tergantung pada saat mana terjadi gangguan pada kehidupan janin.
Katarak kongenital tersebut dapat terjadidalam bentuk katarak lamelar atau zonular, katrak polaris posterior, polaris anterior, katrak inti (katarak nuklearis), dan katrak sutural.
Gambar : Morfologi Bentuk Katarak.
1.      Katarak Lamelar atau Zonular
Di dalam perkembangan embriologik permulaan terdapat perkembangan serat lensa maka akan terlihat bagian lensa sentral yang lebih jernih. Kemudian terdapat serat lensa keruh dalam kapsul lensa. Kekeruhan berbatas tegas dengan bagian perifer tetap bening. Katarak lamelar ini mempunyai sifat herediter dan ditransmisi secara dominan, katarak biasanya bilateral.Katarak zonular terlihat segera sesudah bayi lahir. Kekeruhan dapat menutupi seluruh celah pupil, bila tidak dilakukan dilatasi pupil sering dapat mengganggu penglihatan.Gangguan penglihatan pada katarak zonular tergantung pada derajat kekeruhan lensa.
2.      Katarak Polaris Posterior
Katarak polaris posterior disebabkan menetapnya selubung vaskular lensa. Kadang-kadang terdapat arteri hialoid yang menetap sehingga mengakibatkan kekeruhan pada lensa bagian belakang.
3.      Katarak Polaris Anterior
Gangguan terjadi pada saat kornea belum seluruhnya melepaskan lensa dalam perkembangan embrional. Hal ini juga mengakibatkan terlambatnya pembentukan bilik mata depan pada perkembangan embrional. Pada kelainan yang terdapat di dalam bilik mata depan yang menuju kornea sehingga memperlihatkan bentuk kekeruhan seperti piramid. Katarak polaris anterior berjalan tidak progresif.Katarak Polaris anterior inidapatmenimbulkan gangguan penglihatan tergantung pada derajat kekeruhan lensa.
4.      Katarak Nuklear
Katarak semacam ini jarang ditemukan dan tampak sebagai bunga karang. Kekeruhan terletak di daerah nukleus lensa. Sering hanya merupakan kekeruhan berbentuk titik-titik.Gangguan terjadi pada waktu kehamilan 3 bulan pertama. Biasanya bilateral dan berjalan tidak progresif, biasanya herediter dan bersifat dominan. Katarakiniumumnya tidak mengganggu tajam penglihatan.
5.      Katarak Sutural
Katarak sutural merupakan kekeruhan lensa pada daerah sutura fetal, bersifat statis, terjadi bilateral dan familial.Karena letak kekeruhan ini tidak tepat mengenai media penglihatan maka ia tidak akan mengganggu penglihatan.
katarak kongenital.PNG
Gambar : Katarak Kongenital
Katarak Didapat
Berbeda dengan katarak kongenital dimana kekeruhan lensa terjadi karena terganggunya pembentukan lensa, kekeruhan lensa pada acquired cataract terjadi akibat degenerasi lensa yang sudah terbentuk sebelumnya. Mekanisme pasti mengapa terjadi degenerasi tersebut masih belum jelas. Namun, faktor-faktor seperti fisikia, kimia, dan biologis yang mengganggu keseimbangan air dan elektrolit diduga berujung kepada kekeruhan lensa.

1. Katarak Senilis
Katarak senilis merupakan jenis katarak yang paling sering dijumpai. Katarak ini biasanya bilateral, namun onset nya berbeda antara mata satu dengan yang lainnya. Berdasarkan letaknya, katarak senilis dapat terjadi di kortikal (katarak halus : gambar atas kanan, atas kiri, dan tengah kiri)), nukleus (katarak kasar : gambar tengah kanan), dan subkapsular (gambar bawah kiri).
photo (7).JPG
Gambar : Lokasi-lokasi katarak.

Faktor-faktor yang berperan dalam katarak senilis antara lain faktor keturunan, radiasi UV, diet, riwayat dehidrasi, dan merokok. Sedangkan faktor-faktor yang dapat membuat onset menjadi lebih cepat adalah faktor keturunan, DM (katarak nuklear), distrofi miotonik (katarak subkapsular) dan dermatitis atopik.

Mekanisme Kekeruhan.
1. Katarak senilis kortikal. Peningkatan usia/aging dapat menyebabkan penurunan protein, asam amino, kalium yang diikuti peningkatan konsentrasi natrium dan hidrasi lensa, menyebabkan koagulasi protein yang ada di korteks.
2. Katarak senilis nuklear. Proses degeneratif yang terjadi adalah sklerosis nuklear yang berkaitan dengan dehidrasi dan penebalan nukleus. Dapat terjadi peningkatan protein tidak terlarut air.

Stadium Maturasi katarak
  1. Katarak insipien
Kekeruhan dimulai dari tepi ekuator berbentuk jaruji menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal).
  1. Katarak intumesen
Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa karena lensa degeneratif menyerap air. Lensa yang membengkak dan membesar akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal, hal ini dapat menimbulkan penyulit berupa glaukoma.
  1. Katarak imatur
Lensa sebagian keruh, belum mengenai seluruh lapisan lensa. Volume lensa bertambah akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif.
  1. Katarak matur
Kekeruhan telah mengenai seluruh lapisan lensa. Bila katarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan akan keluar sehingga ukuran lensa kembali normal dan terjadi kalsifikasi lensa. Bilik mata depan kembali normal, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh sehingga shadow test menjadi negatif.
  1. Katarak hipermatur
Massa lensa yang berdegenerasi mencair dan keluar dari kapsul lensa sehingga ukuran lensa mengecil. 
  1. Katarak Morgagni
Jika katarak hipermatur tidak dikeluarkan , akan terjadi pengerutan dan korteks telah mencair sehingga nukleus lensa akan turun dari tempatnya dalam kapsul lensa.

maturitas katarak.PNG
Gambar : Stadium Maturasi Katarak

2. Katarak Metabolik
            a. Diabetes Mellitus
Hiperglikemia dapat meningkatkan kadar glukosa di humour aqueous, sehingga glukosa dapat berdifusi ke lensa. Glukosa kemudian dimetabolisme menjadi sorbitol oleh aldose reductase. Sorbitol kemudian terakumulasi di lensa, sehingga terjadi overhidrasi osmotik sekunder. Pada derajat ringan, pengaruhnya hanya sebatas ke indeks refraktif lensa yang berkaitan dengan kadar glukosa plasma pasien. Pada fase lanjut, timbul vakuol cairan korteks.
katarak diabetik.PNG
Gambar : KatarakMetabolik
b. Dermatitis atopi
10% pasien dengan dermatitis atopi mendapatkan katarak pada dekade-2 dan -4 kehidupan. Katarak biasanya bilateral dan berkembang pesat. Gambarannya adalah plak subkapsular anterior yang padat dan berbentuk seperti tameng, dengan kapsula anterior yang kerut.

3. Katarak Sekunder
Katarak sekunder terbentuk akibat penyakit mata lainnya. Penyebab paling sering adalah uveitis anterior kronik. Penyakit ini akan menyebabkan inflamasi di intraokuler, sehingga terjadi katabolisme pada batas darah-aqueous atau darah-vitreous. Penyakit lain yang dapat memicu katarak adalah miopia tinggi. Pada kekeruhan miopia patologis, dapat terjadi kekeruhan lensa subkapsular anterior dan sklerosis nukleus.

4. Katarak Trauma
Katarak dapat terjadi akibat trauma tajam, tumpul, sengatan listrik, radiasi infra merah, dan radiasi ion.
katarak trauma.PNG
Gambar : Katarak Trauma





Gejala Klinis Katarak
Katarak berkembang secara perlahan dan tidak menimbulkan nyeri disertai gangguan penglihatan yang muncul secara bertahap.
a)      Penglihatan kabur dan berkabut
b)      Fotofobia
c)      Penglihatan ganda
d)     Kesulitan melihat di waktu malam
e)      Sering berganti kacamata
f)       Perlu penerangan lebih terang untuk membaca
g)      Seperti ada titik gelap didepan mata

Gejala Klinis katarak menurut tempat terjadinya sesuai anatomi lensa :
a.       Katarak Inti/Nuclear
·         Menjadi lebih rabun jauh sehingga mudah melihat dekat ,dan untuk melihat dekat  melepas kaca mata nya
·         Penglihatan mulai bertambah kabur atau lebih menguning , lensa akan lebih  coklat
·         Menyetir malam silau dan sukar
b.      Katarak Kortikal
·         Kekeruhan putih dimulai dari tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga mengganggu penglihatan
·         Penglihatan jauh dan dekat terganggu
·         Penglihatan merasa silau dan hilangnya penglihatan kontra
c.       Katarak Subscapular
·         Kekeruhan kecil mulai dibawah kapsul lensa, tepat jalan sinar masuk
·         Dapat terlihat pada kedua mata
·         Mengganggu saat membaca
·         Memberikan keluhan silau dan ”halo” atau warna sekitar sumber cahaya
·         Mengganggu penglihatan




















e.       Manifestasi Klinis
            Manifestasi dari gejala yang dirasakan oleh pasien penderita katarak terjadi secara progresif dan merupakan proses yang kronis. Gangguan penglihatan bervariasi, tergantung pada jenis dari katarak yang diderita pasien.
     Gejala pada penderita katarak adalah sebagai berikut :
1. Penurunan visus
2. Silau
3. Perubahan miopik
4. Diplopia monocular
5. Halo bewarna
6. Bintik hitam di depan mata
     Tanda pada penderita katarak adalah sebagai berikut:
1.    Pemeriksaan visus berkisar antara 6/9 sampai hanya persepsi cahaya
2.    Pemeriksaan iluminasi oblik
3.    Shadow test
4.    Oftalmoskopi direk
5.    Pemeriksaan sit lamp
     Derajat kekerasan nukleus dapat dilihat pada slit lamp sebagai berikut.
                                                   


                                        

f.        Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan tajam penglihatan (visual acuity). Visus pasien bergantung dari 6/9 sampai PL (perception of light) +. Visus ini merupakan salah satu penanda fase perkembangan katarak.
2.      Pemeriksaan iluminasi oblik/oblique illumination examination. Menunjukkan warna lensa pada area pupil.
3.      Pemeriksaan bayangan iris/test for iris shadow. Pemeriksaan ini mengindikasikan adanya katarak imatur. Saat cahaya menyinari pupil secara oblik, terbentuk bayangan bulan sabit pada batas pupil di iris. Saat lensa sepenuhnya buram atau transparan, maka tidak ada bayangan bulan sabit yang terbentuk.
Gambar  : Bayangan iris pada katarak imatur (A) dan matur (B)

4.      Pemeriksaan oftalmoskopi. Pada mata normal terlihat cahaya fundus kuning. Pada lensa katarak parsial akan terlihat bayangan hitam pada area merah pada daerah katarak. Pada lensa katarak yang komplit tidak terlihat apa-apa. Pemeriksaan ini juga dilakukan untuk menilai status ada tidaknya kelainan di makula, papil nervus optikus dan retina, yang bertujuan untuk menilai prognosis katarak.
Apabila funduskopi tidak dapat dilakukan, dapat dilakukan proyeksi penglihatan dan refleks cahaya tidak langsung untuk menilai apakah ada kelainan pada bagian mata selain lensa. Dapat pula dilakukan penilaian pupil (inspeksi, refleks cahaya langsung, refleks cahaya tidak langsung).
5.      Slit-lamp examination. Dilakukan pada pupil yang sepenuhnya berdilatasi. Pemeriksaan ini menunjukkan morfologi bagian lensa yang keruh (lokasi, ukuran, ketebalan, dan kekerasan nukleus).

g.      Penatalaksanaan
a)      Katarak Kongenital
Katarak kongenital merupakan katarak yang terjadi sejak bayi dalam kandungan dan segera dapat terlihat sesudah bayi lahir. Korteks dan nukleus lensa mata bayi mempunyai konsistensi yang cair. Bila kekeruhan lensa sudah demikian berat sehingga fundus bayi sudah tidak dapat dilihat pada funduskopi maka untuk mencegah ambliopia dilakukan pembedahan secepatnya. Katarak kongenital sudah dapat dilakukan pembedahan pada usia 2 bulan pada satu mata. Paling lambat dilakukan pembedahanpadamata lainnya sebelumbayi berusia 2 tahun.
Sekarang dilakukan pembedahan lensa pada katarak kongenital dengan melakukan anterior capsulotomydenganirigasidanaspirasimasalensaataudenganlensectomy. Prosedurinidilakukandengan menyayat kapsul anterior lensa dan mengharapkan masa lensa yang cair keluar bersama akuos humor atau difagositosis oleh makrofag. Biasanya sesudah beberapa waktu terjadi penyerapan sempurna masa lensa sehingga tidak terdapat lensa lagi, keadaan ini disebut afakia.

b)     Pembedahan Katarak Senil
Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Untuk menentukan waktu kapan katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan dan bukan oleh hasil pemeriksaan.
Digunakan nama insipien, imatur, dan hipermatur didasarkan atas kemungkinan terjadinya penyulit yang dapat terjadi. Bila pada stadium imatur terjadi glaukoma maka secepatnya dilakukan pengeluaran lensa walaupun kekruhan lensa belum total. Demikian pula pada katarak matur dimana bila masuk  ke dalam stadium lanjut hipermtur maka penyulit mungkin akan tambah berat dan sebaiknya pada stadium matur sudah dilakukan tindakan pembedahan.
Pembedahan yang dilakukanadalahekstraksilensa.Ekstraksi lensa sebenarnya suatu tindakan yang sederhana, namun resikonya berat. Kesalahan pada tindakan pembedahan atau terjadinya infeksi akan mengakibatkan hilangnya penglihatan tanpa dapat diperbaiki lagi. Pembedahan dapatdilakukan dengan anestesi lokalmaupunanestesi umum.
Pembedahan katarak senil dikenal 2 bentuk yaitu intrakapsular atau ekstrakapsular.
1.      Ekstraksi katarak intrakapsular (ICCE) merupakan tindakan umum pada katarak senil karena bersamaan dengan proses degenerasi lensa juga terjadi degenerasi zonula Zinn sehingga dengan memutuskan zonula ini dengan menarik lensa, maka lensa dapat keluar bersama-sama dengan kapsul lensa.Melaluiprosedurini seluruh lensa katarak dengan kapsul intak dinagkat. Saatini ICCE sudahjarangdilakukansejakadanyaECCE, namun ICCE masihdilakukandenganindikasiadanya lensa sublukasi dan dislokasi.
Gambar : ICCE
2.      Ekstraksikatarak ekstrakapsular (ECCE) dilakukan dengan merobek kapsul anterior lensa dan mengeluarkan epitel, nukleus, dan korteks, tetapi kapsul posterior dipertahankan intak.Ekstrakapsular sering dianjurkan pada katarak dengan miopia tinggi untuk mencegah mengalirnya badan kaca yang cair keluar, dengan meninggalkan kapsul posterior untuk menahannya. Pada saat ini ekstrakapsular sangatdianjurkan pada katarak senil untuk mencegah degenerasi makula pasca bedah. Cara lain mengeluarkan lensa yang keruh adalah yang keruh adalah dengan terlebih dahulu menghancurkan masa lensa dengan gelombang suara frekuensi tinggi (40.000 MHz), dan masa lensa yang sudah seperti bubur dihisap melalui sayatan yang lebarnya cukup 3.2 mm. Untuk memasukkan lensa intraokular yang dapat dilipat (foldable IOL) lubang sayatan tidak selebar sayatan pada ekstraksi katarak ekstrakapsulat. Keuntungan bedah dengan sayatan kecil ini adalah penyembuhan yang lebih cepat dan induksi terjadinya astigmatismat akan lebih kecil.Teknik pembedahan pada ECCE antara lain:
·         Conventional extracapsular cataract extraction (ECCE),
·         Manual small incision cataract surgery (SICS),
·         Phacoemulsification
Gambar : ECCE

           


Persiapan bedah katarak :
            Dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan, Uji Anel, Tonometri dari ada atau tidak            adanya infeksi di sekitar mata.
            Pemeriksaan keadaan umum penderita sebaiknya sudah terkontrol gula darah, tekanan       darah selain penderita sudah diperiksa paru untuk mencegah kemungkinan batuk pada   saat pembedahan atau pasca bedah.


Penatalaksana Non-Bedah
Selaindengan pembedahan, dapat dilakukan tatalaksana non bedah pada katarak, antara lain :
1. Tatalaksana kausa katarak.
Terutama pada katarak didapat, harus dicari penyebab katarak. Tatalaksana kausatif dapat menghentikan perkembangan dan terkadang dapat meregresi perubahan katarak pada stadium awal sehingga pembedahan dapat ditunda. Beberapa tindakan kausa antara lain:
·         Kontrol diabetes melitus.
·         Penghentian obat katarogenik seperti kortikosteroid, fenotiazin, dan miotik kuat, dapat menunda atau mencegah katarogenesis.
·         Penghentian iradiasi (infra merah atau sinar X) dapat menunda atau mencegah pembentukan katarak.
·         Tatalaksana awal dan adekuat pada penyakit mata seperti uveitis dapat mencegah komplikasi katarak.
2. Langkah-langkah untuk menunda progresi.
Penggunaan garam iodin dengan kalsium dan potasium pada stadium awal dengan tujuan menunda progresi atau vitamin E dan aspirin dengan tujuan menunda katarogenesis. Namun,  hingga saat ini masih belum ada data pastiyang mendukung peran obat-obat tersebut.
3. Langkah-langkah untuk meningkatkan penglihatan
Hal ini dapat dilakukan pada pasien dengan katarak yang baru atau imatur, dengan meningkatkan ketajaman penglihatan akan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Hal ini dapat dilakukan dengan :
·         Perbaiki refraksi, yang biasanya berubah dengan cepat, harus dikoreksi dengan interval yang cukupsering.
·         Penataan cahaya. Pasien dengan penglihatan yang buram pada bagian perifer (peripheral opacities) di mana area pupil masih bebas, dapat diedukasi mengenai penerangan yang terang. Sebaliknya, pada pasien dengan buram bagian sentral, cahaya redup pada daerah samping dan sedikit belakang pasien akan memberikan penerangan terbaik baginya.
·         Penggunaan kacamata hitam pada pasien dengan central opacities akan menyamankan pasien ketika berada di luar ruangan.
·         Midriatikum. Pasien dengan katarak aksial kecil seringkali lebih baik bila pupilnya berdilatasi. Hal ini membuat lensa paraxial yang jernih dalam transmisi cahaya, sehingga gambar terbentuk dan fokus. Midiratikum yang digunakan adalah fenilefrin 5% atau tropicamide 1%, 1 tetes pada mata yang mengalami katarak dapat menjernihkan penglihatan.
















B.ASUHAN KEPERAWATAN BEDAH TEORITIS
A S U H A N    K E P E R A W A T A N
PADA KLIEN LANSIA IBU JAIKEM DENGAN POST OPERASI KATARAK
DI WISMA PANDU, PSTW “BAHAGIA” MAGETAN
TANGGAL 03 – 07 DESEMBER 2001


a. Pengkajian
            Pengkajian dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2001 pada pukul 11.30 WIB samapi dengan selesai pada pukul 12.30 WIB.

b. Pengumpulan data
     
      1)    Data biografi klien
            a) Nama           : J A I K E M
b) Tempat dan tanggal lahir: Bojonegoro, 1916
c) Pendidikan terakhir: tidak sekolah
                  d)    Agama: Islam
                  e)    Satus perkawinan: janda meninggal tanpa anak
                  f)     TB/BB: 140 cm / 33 kg
                  g)    Penampilan umum: bersih dan rapi, tubuh kurus, ramah.
                  h)   Ciri – ciri tubuh: jalan masih tegak, rambut sebagian memutih.
                  i)     Alamat: Sepanjang, Surabaya
                  j)      Orang yang dekat dihubungi: adik klien
                  k)    Hubungan dengan klien: adik kandung.

            Pekerjaan saat ini: -- Pekerjaan sebelumnya: tukang pijat keliling, sumber – sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan: --

     

      2)    Riwayat lingkungan hidup
            Klien tinggal di Wisma Pandu, 1 kamar berdua dengan Ibu Darmiatun. Kondisi kamar cukup bersih, peralatan makan tertata rapi di atas meja, tidak ada pakaian kotor yang menumpuk atau tergantung, kondisi tempat tidur cukup bersih. Pertukaran udara an cahaya matahari cukup bersih. Tingkat kenyamanan dan privacy cukup terjamin. Klien juga punya tongkat 1 buah, tapi jarang digunakan.
     
      3)    Riwayat rekreasi
            Klien mengaku sering jalan – jalan kewisma – wisma yang lain untuk menengok teman – temannya atau sekedar mengobrol. Klien juga mengatakan sangat senang dengan adanya kegiatan senam lansia setiap hari Selasa dan Kamis serta kegiatan rekreatif setiap hari Rabu, karena ada hiburan serta kesempatan bertemu dengan teman – temannya yang lain.



4)    Sistem pendukung
            Di panti ada seorang perawat lulusan SPK dan panti telah mengkibatkan kerjasama sistem rujukan dengan puskesmas pembantu Candirejo serta RSUD Magetan. Serta keberadaan teman sekamar klien yang sangat memperhatikan kondisi klien sangat membantu pegawasan kesehatan klien.

5)    Deskripsi kekhususan
            Klien semenjak bulan puasa, rajin puasa setiap hari dan sampai har ini belum pernah gagal puasa. Sholat 5 waktu juga dilaksanakan oleh klien secara rutin, bahkan shalat tarawih pun dilaksanakan setiap hari di musholla.
     
      6)    Status kesehatan
            Klien mengatakan penglihatannya mulai terasa kabur sejak lebih kurang 3 tahun yang lalu. Klien juga mengatakan tidak menderita penyakit lain, klien merasa seat – sehat saja. Semenjak operasi klien mengeluh nyeri pada mata kiri, mata kiri terasa panas, berair, nyeri terasa sampai menyebar ke kepala.

Provokative     : Nyeri dirasa setelah klien terpapar sinarmatahari langsung atau baru bangun tidur.

Quality            : Nyeri dirasakan menyebarsampai ke kepala disertai mata kiri terasa panas dan berair.

Region : Nyeri terasa pada mata kiri menyebar sampai kepala

Severity scale  : Bila nyeri kambuh, klien mengatakan sulit tidur.

Timming          : saat bangun tidur dan setelah terpapar sinar matahari langsung.
Klien post op 16 hari yang lalu dan telah banyak mendapatkan informasi dari perawat panti serta pendamping wisma yang bertugas mengenai perawatan luka pada post operasi serta pantangan – pantangan yang harus diperhatikan oleh klien. Tetapi setelah dilaksanakan pengkajian , terlihat banyak sekret yang menumpuk pada mata kiri dan ternyata klien belum memahami beberapa pantangan yang arus dijalaninya.
Obat – obatan: bila nyeri biasanya perawat memberikan Gentamycin Salp 3x1

Satus imunisasi: --
            Alergi terhadap obat – obatan, makanan maupun zat paparan lain seperti debu, cuaca tidak ada pada klien.
     
      7)    A D L (activity daily living)
            Berdasarkan indeks KATZS, pemenuhan kebutuhan ADL klien diskor dengan A karena berdasarkan pengamatan mahasiswa, klien mampu memenuhi kebutuhan makan, kontinen, berpindah, ke kamar kecil dan berpakaian secara mandiri.
Kebutuhan istirahat tidur kadang – kadang terganggu bila nyeri pada luka post operasi kambuh. Pada pengkajian personal hygiene tampak penumpukan sekret pada mata kiri klien.
Psikologis kien meliputi:
         Persepsi klien terhadap penyakit: klien merasa wajar karena umurnya sudah tua.
               Konsep diri baik karena klien mampu memandang dirinya secara positif dan mau menerima kehadiran orang lain.
               Emosi klien stabil
               Kemampuan adaptasi klien baik, terlihat daris eringnya klien mengunjungi teman – temannya di wisma yang lain.
               Mekanisme pertahanan diri: klien mengnaggap kehidupan di luar panti sudah tidak menarik lagi baginya, klien ingin menghabiskan hari tuanya di panti. Klien mengatakan senang tinggal di panti karena mendapatkan keteraturan dalam hal makan, istirahat dan kebutuhan lain terpenuhi.
     
      8) Tinjauan sistem :

      a)    Keadaan umum: baik, klien tampak bersih.
      b)    Tingkat kesadraan : CM (compos mentis)
      c)    Skala koma glasgow: 15
      d)    Tanda – tanda vital: N: 76 x/mnt; S: 36,80C, RR: 18 x/mnt; TD: 130/80 mmHg.
      e)    Sistem kardiovaskuler:
                  -          Inspeksi: keadaan umum terlihat baik
                  -          Palpasi: Tidak ada pelebaran pembuluh darah dan pembesaran jantung.
                  -          Perkusi: Tidak ada suara redup, pekak atau suara abnoral lain.
                  -          Auskultasi: Irama jantung teratur, tidak ada suara lain menyertai.
      f)     Sistem pernafasan:
                  -          Inspeksi: dada ka/ki terlihat simetris, pergerakan otot dada (-)
                  -          Palpasi: Tidak ada pembesaran abnormal, iktus kordis teraba.
                  -          Perkusi: Suara paru ka/ki sama dan seimbang
                  -          Auskultasi: Suara pekak, redup, wheezing (-)
      g)    Sistem integumen
            Inspeksi: tekstur kulit terlihat kendur, keriput(+), peningkatan pigmen (+), dekubitus (-), bekas luka (-). Palpasi: turgor kulit baik.
      h)   Sistem perkemihan
            Klien mengatakan biasa buang air kecil di kamar mandi, frekuensi 3-4 x/hari, jumlah baias (K100 cc). Ngompol (-)
      i)     Sistem muskuloskletal
            ROM klien baik/penuh, klien seimbang dalam berjalan, osteoporosis (-), kemampuan menggenggam kuat, otot ekstremitas ka/ki sama kuat, tidak ada kelainan tulang, atrofi dll.

      j)      Sistem endokrin
            Klien mengatakan tidak menderita kencing manis. Palpasi: tidak ada pembesaran kelenjar.
      k)    Sistem immune
            Klien mengatkan belum pernah disuntik imunisasi, sensitivitas terhadap zat alergen (-), riwayat penyakit berkaitan dengan imunisasi, klien mengatakan tidak tahu.
     
      l)     Sistem gastrointestinal
            Klien hanya mengkonsumsi makanan yang disediakan dari dapur umum panti ditambah dengan kadang – kadang minum kopi. Klien mampu menghabiskan 1 porsi makanan yang disediakan pendamping wisma tanpa keluhan mual. Klien mengatakan tinggal di panti membuatnya makan teratur 3x/hari dengan snack 2x/hari dan tambahan susu, teh atau kopi sehingga klien merasakan badannya lebih gemuk semenjak tinggal di panti. BB sekarang: 33 kg, keadaan gigi klien: sudah ompong semuanya, klien mengatakan tidak ada kesulitan menelan an mengunyah makanan.
      m)  Sistem reproduksi
            Klien mengatakan tidak punya anak dari hasil pernikahannya, riwayat berhenti menstruasi lebih kurang 30 tahun yll.
      n)   Sistem persyarafan
            Keadaan status mental klien baik dengan emosi stabil. Respon klien terhadap pembicaraan (+) dengan bicara yang normal dan jelas, suara pelo (-), bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Interpretasi klien terhadap lawan bicara cukup aik.
Keadaan mata kiri tampak penumpukan sekret, penglihatan agak kabur tetapi klien mampu pergi ke wisma lain tanpa bimbingan orang lain atau menggunakan tongkat dan klien juga mampu mengikuti kegiatan senam dengan baik. IOL (+), hiperemis (+). Klien mampu melihat dalam jarak pandang K50 mtr. Kemampuan pendengaran agak menurun sehingga lawan bicara harus berbicara agak keras supaya klien mendengar.


      9) Status kognitif/afektif/sosial
                  a)    Short potable mental status questionaire (SPMSQ) dengan skor: 10, fungsi intelektual utuh.
                  b)    Mini mental state exam (MMSE) dengan skor: 25, aspek kognitif dari fungsi mental dalam keadaan baik.
                  c)    Inventaris depresi beck, dengan skor: 3 pada keraguan – raguan, kesulitan kerja dan keletihan. Jadi tidak ada tanda – tanda depresi pada klien.
                  d)    Apgar keluarga denagn lansia, skor: 8 dimana fungsi sosial klien dalam kedaan normal.
     
      10) Data penunjang
`           Hasil pemeriksaan gluko test (-)

Analisa Data
No
Data
Etiologi
Masalah
1.
















2.













3.
DS:
-    Klien mengeluh nyeri pada mata kiri pot op menyebar ke kepala saat terpapar sinar matahari atau baru bangun tidur.
-    Klien mengatakan bila nyeri kambuh, mengalami kesulitan tidur.
-    Klien mengatakan riwayat operasi katarak mata kiri 16 hari yll.

DO:
-    Mata kiri berair, hiperemis(+)
-    IOL (+)

DS:
-    Klien mengatakan mata kiri terasa nyeri, panas dan nyeri menyebar sampai ke kepala.
-    Klien mengatakan mata kirinya terus berair dan mengeluarkan kotoran.

DO:
-    Sekret pada mata kiri (+).
-    Mata kiri berair(+)
-    Riwayat post op katarak 16 hari yll.

DS:
-    Klien mengatakan matanya terasa kabur sejak K3 tahun yang lalu.
-    Klien mengatakan usianya sudah 85 tahun.

DO:
-    Klien berjalan tegap, cara berjalan seimbang tapi ragu – ragu.
-    Klien mampu melihat dalam jarak pandang K50 mtr.

Interupsi pembedahan katarak pada mata kiri.














Peningkatan kerentanan skunder terhadap interupsi pembedahan katarak.








Keterbatasan penglihatan.
Nyeri

















Resiko infeksi













Resiko cidera

Perumusan Masalah
1)    Nyeri
2)    Resiko infeksi
3)    Resiko cidera

b. Diagnosa Keperawatan dan Perumusan Prioritas keperawatan

1)         Nyeri b/d interupsi pembedahan katarak pada mata kiri ditandai dengan:
DS:
-          Klien mengeluh nyeri pada mata kiri pot op menyebar ke kepala saat terpapar sinar matahari atau baru bangun tidur.
-          Klien mengatakan bila nyeri kambuh, mengalami kesulitan tidur.
-          Klien mengatakan riwayat operasi katarak mata kiri 16 hari yll.
DO:
-          Mata kiri berair, hiperemis(+)
-          IOL (+)

2)    Resiko infeksi b/d peningkatan kerentanan skunder terhadap interupsi pembedahan katarak ditandai dengan:
DS:
-          Klien mengatakan mata kiri terasa nyeri, panas dan nyeri menyebar sampai ke kepala.
-          Klien mengatakan mata kirinya terus berair dan mengeluarkan kotoran.
DO:
-          Sekret pada mata kiri (+).
-          Mata kiri berair(+)
-          Riwayat post op katarak 16 hari yll.

3)    Resiko cidera b/d keterbatasan penglihatan ditandai dengan:
DS:
-          Klien mengatakan matanya terasa kabur sejak K3 tahun yang lalu.
-          Klien mengatakan usianya sudah 85 tahun.
DO:
-          Klien berjalan tegap, cara berjalan seimbang tapi ragu – ragu.
-          Klien mampu melihat dalam jarak pandang K50 mtr.

Proritas Keperawatan
1)    Nyeri b/d interupsi pembedahan katarak pada mata kiri ditandai dengan:
DS:
-          Klien mengeluh nyeri pada mata kiri pot op menyebar ke kepala saat terpapar sinar matahari atau baru bangun tidur.
-          Klien mengatakan bila nyeri kambuh, mengalami kesulitan tidur.
-          Klien mengatakan riwayat operasi katarak mata kiri 16 hari yll.
DO:
-          Mata kiri berair, hiperemis(+)
-          IOL (+)

2) Resiko infeksi b/d peningkatan kerentanan skunder terhadap interupsi pembedahan katarak ditandai dengan:
DS:
-          Klien mengatakan mata kiri terasa nyeri, panas dan nyeri menyebar sampai ke kepala.
-          Klien mengatakan mata kirinya terus berair dan mengeluarkan kotoran.

DO:
-          Sekret pada mata kiri (+).
-          Mata kiri berair(+)
-          Riwayat post op katarak 16 hari yll.

3)    Resiko cidera b/d keterbatasan penglihatan ditandai dengan:
DS:
-          Klien mengatakan matanya terasa kabur sejak K3 tahun yang lalu.
-          Klien mengatakan usianya sudah 85 tahun.
DO:
-          Klien berjalan tegap, cara berjalan seimbang tapi ragu – ragu.
-          Klien mampu melihat dalam jarak pandang K50 mtr.



c. Intervensi

No
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.









































2.








































3.
Nyeri b/d interupsi pembedahan katarak pada mata kiri.






































Resiko infeksi b/d peningkatan kerentanan skunder terhadap interupsi pembedahan katarak.



































Resiko cidera b/d keterbatasan penglihatan.

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari, nyeri berkurang ditandai dengan:
-    Nyeri berkurang.
-    Istirahat tidur tercukupi K8 jam.
-    Mata tidak berair dan tidak merah.































Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari, infeksi tidak terjadi ditandai dengan:
-    Penyembuhan luka insisi tanpa infeksi.
-    Kemerahan (-)
-    Edema kelopak mata (-)
-    Drainase pada kelopak mata (-)
-    Materi purulen (-)
-    Peningkatan suhu tubuh (-)
























Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari, cidera tidak terjadi ditandai dengan:
-    Klien tidak mengalami cidera atau trauma jaringan selama dirawat.
         Bantu klien dalam mengidentifikasi tindakan penghilangan nyeri yang efektif dengan tidur dalam posisi ½ duduk.

         Lakukan tindakan penghilangan nyeri non invasif atau non farmakologik, seperti berikut;
-          Posisi: tinggikan bagian kepala tempat tidur, berubah – ubah antara berbaring pada punggung dan pada sisi yang tidak dioperasi.
-          Distraksi
-          Latihan relaksasi
         Berikan dukungan tindakan penghilangan nyeri dengan aalgesik yang diresepkan.

         Observasi nyeri terutama bila disertai mual.


         Pertegas pembatasan aktifitas yang disebutkan dokter yang mungkin termasuk menghindari aktifitas berikut:
-          Berbaring pada sisi yang dioperasi
-          Membungkuk melewati pinggang
-          Mengangkat benda yang beratnya melebihi 10 kg.
-          Mandi
-          Mengedan selama defekasi.




         Tingkatkan penyembuhan luka:
-          Berikan dorongan untuk mengikuti diet yang seimbang dan asupancairan yang adekuat.
         Gunakan teknik aseptik untuk meneteskan tetes mata:
-          Cuci tangan sebelum memulai
-          Pegang alat penetes agak jauh dari mata
-          Ketika meneteskan, hindari kontak antara ata, tetesan dan alat penetes.
Ajarkan teknik ini kepada klien dan anggota keluarganya.
         Kaji tanda dan gejala infeksi:
-          Kemerahan, edema pada kelopak mata
-          Infeksi konjungtiva (pembuluh darah menonjol)
-          Drainase pada kelopak mata dan bulu mata
-          Materi purulen pada bilik anterior (antara korm\nea dan iris)
-          Peningkatan suhu
-          Nilai laboratorium abnormal (mis. Peningkatan SDP, hasil kultur dan sensitivitas positif)
         Lakukan tindakan untuk mencegah ketegangan pada jahtan (misal anjurkan klien menggunakan kacamata protektif dan pelindung mata pada siang hari dan pelindung mata pada malam hari).

         Modifikasi lingkungan untuk menghilangkan kemungkinan bahaya:
-          Singkirkan penghalang dari jalur berjalan.
-          Pastikan pintu dan laci tertutup atau terbuka dengan sempurna.
         Tinggikan tempat tidur. Letakkan benda dimana klien dapat melihat dan meraihnya tanpa klien menjangkau terlalu jauh.
         Membantu memberikan kenyamanan dan mengurangi tekanan pada bola mata.


         Beberapa tindakan penghilang nyeri non invasif adalah tindakan mandiri yang dapat dilaksanakan perawat dalam usaha meningkatkan kenyamanan pada klien.





         Analgesik mambantu dalam menekan respon nyeri dan menimbulkan kenyamanan pada klien.
         Tanda ini menunjukkan peningaktan tekanan intra okuli (TIO) atau komplikasi lain.
         Pembatasan diperlukan utnuk menguangi gerakan mata dan mencegah peningkatan tekanan okuler. Pembatasan yang spesifik tergantung pada beberapa faktor, termasuk sifat dan luasnya pembedahan, preferensi dokter, umur serta status kesehatan klien secara keseluruhan. Pemahaman klein tentang alasan untuk pembatasan ini dapat mendorong kepatuhan klien.

         Nutrisi dan hidrasi yang optimal meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, yang meningkatkan penyembuhan

         Teknik aseptik meminimialkan masuknya mikroorganisme dan mengurangi resiko infeksi.







         Deteksi dini infeksi memungkinkan penanganan yang cepat untuk meminimalkan keseriusan infeksi.










         Ketegangan pada jahitan dapat menimbulkan interupsi menciptakan jalan masuk untuk mikroorganisme.



         Gangguan penglihatan atau menggunakan pelindung mata dapat mempengaruhi resiko cidera yang berasal dari gangguan ketajaman dan edalaman persepsi.

         Tindakan ini dapat mengurangi resiko terjatuh.




d.Implementasi

Waktu/tgl
Implementasi
Evaluasi
4 – 12 – 2001
09.00








5 – 12 – 2001
09.30







5 – 12 – 2001
11.00






5 – 12 – 2001
12.30


6 – 12 – 2001
09.00
         Memberikan HE pentingnya:
-          Pembatasan aktifitas.
-          Asupan gizi dan minum yang memadai (makan 1 porsi habis).
-          Mengurangi paparan terhadap sinar matahai atau kontak langsung dengan benda alergen.

         Mengevaluasi lingkungan kamar tidur klien:
-          Penempatan benda – benda di meja.
-          Kebersihan lantai kamar.
-          Memasang gorden untuk mengurangi paparan terhadap snar matahari.





         Mengajarkan teknik perawatan kebersihan mata:
-          Cara membersihkan sekret.
-          Cara meneteskan obat tetes mata.
-          Menggunakan pelindung mata bila keluar wisma di siang hari.


         Mengatur posisi tidur klien berbaring ke sisi mata yang tidak dioperasi.


         Melatih relaksasi untuk mengurangi rasa sakit pada mata kiri.
         Klien kooperatif.
         Klien berjanji akan selalu mengahbiskan porsi makanannya.Klien banyak bertanya tentang nyeri yang dirasakannya.


         Klien marapikan meja kecil di samping tempat tidur.
         Klien menata barang – barang (gelas, piring, sendok) di atas tempat tidur.
         Gorden telah terpasang.
         Lantai kamar disapu dan dipel oleh petugas.

         Klien bersemangat belajar memebrsihkan sekret mata.Klien dapat meneteskan obat tetes mata sendiri dibantu oleh teman sekamarnya.
         Klien sudah punya kacamata pelindung sinar matahari.

         Klien berbaring ke posisi sebelah kanan, kadang berganti posisi dengan semi fowler.

         Klien tampak kesulitan mengikuti instruksi, tetapi mau mencoba unutk berlatih.



























e. Evaluasi
No
Diagnosa Keperawatan
Evaluasi
1.








2.








3.
Nyeri b/d interupsi pembedahan katarak pada mata kiri.






Resiko infeksi b/d peningkatan kerentanan skunder terhadap interupsi pembedahan katarak.





Resiko cidera b/d keterbatasan penglihatan.

S:    S: Klien mengatakan nyeri pada mata kiri sudah agak berkurang, klien sudah dapat istirahat dengan baik.
O: Mata berair (-), kemerahan (-)
A: Masalah teratasi sebagian.
P:    P: Lanjutkan perencanaan dengan mengadakan koordinasi dengan pendamping wisma.

S:    S: Klien mengatakan matanya sudah tidak panas lagi,berair (-)
O:    O: mata berair (-), kemerahan (-), sekret (-)
A:     A: Masalah teratasi sebagian.
P:     P: Lanjutkan perencanaan dengan mengadakan koordinasi dengan pendamping wisma.

S:    S: Klien mengatakan penglihatannya sudah lebih terang.
O:    O: Klien berjalan ke luar wisma tanpa dibimbing dan tanpa memakai tongkat.
A:    A: Masalah teratasi sebagian.
P: Lanjutkan perencanaan dengan mengadakan koordinasi dengan pendamping wisma.







PENUTUP

A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil diskusi dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa gambaran kejadian katarak di tinjau dari umur dan jenis kelamin
                  1.      Penderita katarak hampir sebagian besar terjadi pada umur lebih dari 60 tahun sebanyak 27 pasien (51,9).
                  2.      Penderita katarak lebih dari setengah terjadi pada laki-laki sebanyak 32 pasien (61,5%).

      B.     Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka peneliti dapat mengemukakan saran sebagai berikut :
      1.      Untuk Akademik
Diharapkan agar pihak akademik dapat memperbanyak sumber buku tentang katarak agar peneliti dapat dengan mudah menguraikan pembahasan pada pasien melalui program penyuluhan kesehatan tentang perawatan dan pencegahan katarak.


      2.      Bagi Peneliti Lain
Diharapkan peneliti lain dapat melakukan penelitian mengenai apa yang mempengaruhi kurangnya perawatan pada penderita katarak.          









DAFTAR PUSTAKA
1.      PERDAMI. Katarak. Available from: http://www.perdami.or.id/?page=news_seminat.detail&id=2. [cited on: Monday, 18/03/2013, 20:00].
2.      WHO. Cataract. Available from : http://www.who.int/blindness/causes/priority/en/index1.html (cited on Monday 18 March 2013 : 21:00)
3.      Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology – 4th ed. New Delhi: New Age International Publishers; 2007. p.93-103
4.       Soehardjo. Kebutaan katarak: faktor risiko, gejala klinis, dan pengendalian. [Disertasi]. Jogjakarta: Universitas Gajah Mada; 2008.
5.      Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asbury's General Ophthalmology 16th Edition. New York: McGraw-Hill; 2007. p.105-20
6.      Kanski JJ. Clinical ophthalmology: a systematic approach – 7th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2007. P. 270-93.
7.      Artini W, Hutauruk JA, Yudisianil. Pemeriksaan Dasar Mata. Jakarta : Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKUI-RSCM; 2011. Halaman 74-76.
8.      Collins N, Mizuiri D, Ravetto J, Lum FC. Cataract in the adult eye. San Fransisco : American Academy of Ophthalmology; 2011. Page 4-6.

  1. Pascolini D, Mariotti SP. Global estimates of visual impairment:2010. BR J Ophthalmol. 2011.
  2. Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asbury’s General Ophthalmology. 17th ed. USA : Mc Graw-Hill; 2007.
  3. Scanlon VC, Sanders T. Indra. In. : Komalasari R, Subekti NB, Hani A, editors. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi. 3rd ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.
  4. Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology : A Systemic Approach. 7th ed. China: Elsevier : 2011. (e-book)
  5. Guyton AC, Hall EH. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Philadelphia : W.B. Saunders Company ; 2006.
  6. Illyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.
  7. Ocampo VVD. Cataract, Senile : Differential Diagnosis and Workup. 2009. Diakses dari http://emedicine.medscape.com/article/1210914-overview, tanggal 23 Maret Januari 2013.

No comments:

Post a Comment