BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Rencana
pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat Tahun 2010 diawali dengan tinjauan
tentang keadaan, masalah dan kecenderungannya dalam bidang kesehatan di
Indonesia. Bagian tersebut memuat analisis determinannya yang meliputi faktor
perilaku dan lingkungan kesehatan, yang mencakup faktor : ekonomi kesehatan,
demografi, kesehatan lingkungan dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi
serta globalisasi.
Menurut
Survei Kesehatan Rumah Tangga, 1995, dikatakan bahwa penyakit yang erat
hubungannya dengan perilaku dan lingkungan masih termasuk dalam sepuluh besar
penyakit yang di derita oleh penduduk di Indonesia. Di antara penyakit
tersebut, yaitu infeksi saluran pernapasan akut sebanyak 234 orang per 1000
penduduk dan hipertensi 83 orang per 1000 penduduk. Selain itu juga ditemukan
adanya peningkatan angka kematian yang cukup tinggi sebagai akibat dari
perilaku dan lingkungan yang kurang baik. Dari data yang dicatat pada tahun
1986, 1992, dan 1995 didapatkan adanya penyakit yang erat kaitannya dengan
perilaku dan lingkungan. Penyakit yang berkaitan dengan sirkulasi mengalami
peningkatan dari 16,0% menjadi 18,9%, sistem pernapasan dari 6,2% naik menjadi
9,5% dan terakhir menjadi 15,7%, angka kecelakaan lalu lintas juga meningkat
dari 4,7% menjadi 5,2%, sedangkan diare walaupun menurun tetapi angkanya masih
relatif tinggi yaitu 12,0% menjadi 8,0% dan terakhir menjadi 7,4% (Dep Kes RI,
1999).
Sampai
saat ini masih ada masyarakat yang belum membiasakan diri untuk buang air besar
pada tempat yang benar, masih membuang sampah sembarangan, serta memperluas
lahan pertanian dan perikanan dengan melakukan penebangan hutan tak terkendali
tanpa mempertimbangkan keseimbangan lingkungan sehingga menyebabkan terjadinya
ledakan pembiakan nyamuk dan hewan penular penyakit lainnya sehingga akan
memperburuk situasi. Angka kesakitan yang disebabkan oleh buruknya kesehatan lingkungan
ini diperkirakan masih akan meningkat di masa yang akan datang seiring dengan
semakin banyaknya kawasan-kawasan kumuh, baik diperkotaan maupun di daerah
semi-urban.
B.
Tujuan
a.
Tujuan
Umum
Tujuan umum makalah ini adalah untuk mempelajari Konsep
Kesehatan Lingkungan.
b.
Tujuan
Khusus
1. Untuk
mengetahui defenisi Konsep Kesehatan Lingkungan
2. Untuk
mengetahui Ruang Lingkup Kesehatan Komunitas
3. Untuk
mengetahui Sasaran Kesehatan Lingkungan
4. Untuk
mengetahui Sejarah Perkembangan Kesehatan Lingkungan
5. Untuk
mengetahui Konsep Hubungan Interaksi Antara Agen-Host-Lingkungan
6. Untuk
mengetahui Masalah-Masalah Kesehatan Lingkungan Di Indonesia
7. Untuk
mengetahui Penyebab masalah kesehatan lingkungan di Indonesia
8. Untuk
mengetahui Hubungan dan pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan
masyarakat di perkotaan dan pemukiman
9. Untuk
mengetahui Healthy City (Kabupaten/kota sehat)
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.
Defenisi
Beberapa
pengertian tentang kesehatan lingkungan yang disampaikan oleh para ahli antara
lain adalah :
1. Kesehatan
lingkungan adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga
berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula
(Notoatmojo S., 2003)
2. Kesehatan
lingkungan adalah hubungan timbal-balik antara manusia dan lingkungan yang
berakibat atau memengaruhi derajat kesehatan manusia (Walter R.L)
3. Kesehatan
lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada di antara manusia
dan lingkungannya agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia (World Health Organization Expert Committee)
4. Kesehatan
lingkungan adalah ilmu yang mempelajari hubungan interaktif anatara komunitas
dengan perubahan lingkungan yang memiliki potensi bahaya/menimbulkan gangguan
kesehatan/penyakit, serta mencari upaya penanggulangannya (Susanna D, dkk)
Pada dasarnya pengertian yang dikemukakan para ahli tersebut adalah sama,
yang intinya adalah hubungan interaksi antara manusia/komunitas dengan
lingkungan. Untuk mendapatkan derajat kesehatan maupun kehidupan sehat optimal
diperlukan keseimbangan ekologi yang dinamis di antara manusia/komunitas dengan
lingkungannya.
B.
Ruang
Lingkup Kesehatan Komunitas
Menurut Haryoto K. (1985), lingkungan dapat diartikan sebagai segala
sesuatu yang ada di sekitar manusia. Secara lebih rinci, lingkungan di sekitar
manusia dapat dikategorikan sebagai :
1. Lingkungan
fisik, meliputi tanah, air, dan udara serta hasil interaksi di antara
faktor-faktor tersebut.
2. Lingkungan
biologi, yang termasuk ke dalam lingkungan ini adalah semua organisme hidup seperti
binatang dan tumbuh-tumbuhan, serta mikroorganisme lainnya.
3. Lingkungan
sosial, Lingkungan sosial yang dimaksud adalah semua interaksi antara manusia,
yang meliputi faktor budaya, ekonomi, dan psiko-sosial.
Berdasarkan kategori tersebut, maka lingkungan dapat diartikan sebagai
suatu kumpulan atau kekuatan luar yang memengaruhi kehidupan dan perkembangan
manusia/komunitas.
Dari berbagai permasalahan yang ada mengenai lingkungan di negara
berkembang, maka ada lima area penting yang perlu untuk dipahami, yaitu
perumahan, penyediaan air bersih, penanganan sampah, penanganan tinja, dan
pembuangan air limbah.
C.
Sasaran
Kesehatan Lingkungan
Menurut Pasal 22 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992, sasaran
kesehatan lingkungan adalah sebagai berikut :
1. Tempat
umum : hotel, terminal, pasar, pertokoan, dan usaha-usaha yang sejenis.
2. Lingkungan
pemukiman : rumah tinggal, asrama, dan pemukiman yang sejenis.
3. Lingkungan
kerja : perkantoran, kawasan industri, dan kawasan yang sejenis.
4. Angkutan
umum : kendaraan darat, laut, dan udara yang digunakan untuk umum.
5. Lingkungan
lain yang bersifat khusus : lingkungan yang berada dalam keadaan darurat,
bencana, perpindahan penduduk secara besar-besaran, reaktor atau tempat yang
bersifat khusus.
D.
Sejarah
Perkembangan Kesehatan Lingkungan
a. Sebelum
masa orde baru
Sebelum masa orde baru, sebenarnya sudah dipikirkan
mengenai perlindungan dan pelestarian lingkungan yang telah dimulai sejak tahun
1882 dengan dikeluarkannya undang-undang tentang hiegiene. Undang-undang
tersebut mengatur hiegiene perseorangan dan umum walaupun masih diterbitkan
dalam bahasa Belanda. Dilanjutkan pada tahun 1924 atas prakarsa Rockefeller
Foundation Amerika Serikat, maka didirikanlah Rival Hygiene Work di Banyuwangi
dan Kebumen. Upaya tersebut dilanjutkan dengan integrasi usaha pengobatan dan
usaha kesehatan lingkungan di Bekasi hingga didirikan Bekasi Training Centre
pada tahun 1956. Selanjutnya Prof. Muchtar memelopori tindakan kesehatan
lingkungan di Pasar Minggu sebagai upaya sosialisasi kepada masyarakat dan
berlanjut ke tahun 1959 dengan dicanangkannya program pemberantasan malaria
sebagai program kesehatan lingkungan di tanah air.
b. Setelah
masa orde baru
Masa setelah orde baru dimulai tahun 1968 dengan
dicanangkannya program kesehatan lingkungan terintegrasi dalam upaya pelayanan
puskesmas. Mengingat masih buruknya kesehatan keluarga maka pada tahun 1974
dikeluarkan instruksi presiden mengenai Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga
(Samijaga). Berikutnya dengan program Perumahan Nasional, proyek Husni Thamrin.
Kampanye Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta berbagai program lainnya.
E.
Konsep
Hubungan Interaksi Antara Agen-Host-Lingkungan
Tiga
komponen (faktor) yang berperan dalam menimbulkan penyakit (model ekologi)
adalah sebagai berikut :
1. Agen
(agent) atau penyebab : adalah
penyebab penyakit pada manusia.
2. Penjamu
(host) atau tuan rumah/induk semang :
adalah manusia yang terkena penyakit.
3. Lingkungan
(environment) : adalah segala sesuatu
yang berada di luar kehidupan organisme contohnya lingkungan fisik, kimia, dan
biologi.
Interaksi antara agent, host, dan lingkungan serta model ekologinya
adalah jika antara agen, host, dan lingkungan dalam keadaan seimbang maka tidak
terjadi penyakit. Jika kemampuan agent meningkat maka dapat menginfeksi manusia
serta mengakibatkan penyakit pada manusia. Perubahan lingkungan yang buruk juga
dapat menyebabkan meningkatnya perkembangan agen.
F.
Masalah-Masalah
Kesehatan Lingkungan Di Indonesia
Berikut masalah kesehatan lingkungan di Indonesia :
a. Air
Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan
sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum
apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat
kesehatan dan dapat langsung diminum. Syarat-syarat Kualitas Air Bersih
diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Syarat
Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
2. Syarat
Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500
mg/l)
3. Syarat
Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)
b. Pembuangan
Kotoran/Tinja
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban
dengan syarat sebagai berikut :
1. Tanah
permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
2. Tidak
boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau
sumur
3. Tidak
boleh terkontaminasi air permukaan
4. Tinja
tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
5. Tidak
boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila memang benar-benar
diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin.
6. Jamban
harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang.
7. Metode
pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.
c. Kesehatan
Pemukiman
Secara umum rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi
kriteria sebagai berikut :
1. Memenuhi
kebutuhan fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan dan ruang gerak yang
cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
2. Memenuhi
kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar
anggota keluarga dan penghuni rumah
3. Memenuhi
persyaratan pencegahan penularan penyakit antarpenghuni rumah dengan penyediaan
air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit
dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi,
terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan
penghawaan yang cukup.
4. Memenuhi
persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan
luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis sempadan jalan,
konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung
membuat penghuninya jatuh tergelincir.
d. Pembuangan
Sampah
Teknik pengelolaan sampah yang baik harus memperhatikan
faktor-faktor/unsur :
1. Penimbulan
sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah adalah jumlah penduduk dan
kepadatanya, tingkat aktivitas, pola kehidupan/tk sosial ekonomi, letak
geografis, iklim, musim, dan kemajuan teknologi.
2. Penyimpanan
sampah.
3. Pengumpulan,
pengolahan dan pemanfaatan kembali.
4. Pengangkutan
5. Pembuangan
Dengan
mengetahui unsur-unsur pengelolaan sampah, kita dapat mengetahui hubungan dan
urgensinya masing-masing unsur tersebut agar kita dapat memecahkan
masalah-masalah ini secara efisien.
e. Serangga
dan Binatang Pengganggu
Serangga sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit
penyakit yang kemudian disebut sebagai vektor misalnya : pinjal tikus untuk
penyakit pes/sampar, Nyamuk Anopheles sp untuk penyakit Malaria, Nyamuk Aedes
sp untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk Culex sp untuk Penyakit Kaki
Gajah/Filariasis. Penanggulangan/pencegahan dari penyakit tersebut diantaranya
dengan merancang rumah/tempat pengelolaan makanan dengan rat proff (rapat
tikus), Kelambu yang dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan Nyamuk
Anopheles sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur dan menutup) tempat penampungan
air untuk mencegah penyakit DBD, Penggunaan kasa pada lubang angin di rumah
atau dengan pestisida untuk mencegah penyakit kaki gajah dan usaha-usaha
sanitasi.
Binatang pengganggu yang dapat menularkan penyakit
misalnya anjing dapat menularkan penyakit rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat
dapat menjadi perantara perpindahan bibit penyakit ke makanan sehingga
menimbulakan diare. Tikus dapat menyebabkan Leptospirosis dari kencing yang
dikeluarkannya yang telah terinfeksi bakteri penyebab.
f. Makanan
dan Minuman
Sasaran higene sanitasi makanan dan minuman adalah
restoran, rumah makan, jasa boga dan makanan jajanan (diolah oleh pengrajin
makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap
untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran,
dan hotel).
Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat
pengelolaan makanan meliputi :
1. Persyaratan
lokasi dan bangunan;
2. Persyaratan
fasilitas sanitasi;
3. Persyaratan
dapur, ruang makan dan gudang makanan;
4. Persyaratan
bahan makanan dan makanan jadi;
5. Persyaratan
pengolahan makanan;
6. Persyaratan
penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi;
7. Persyaratan
peralatan yang digunakan.
g. Pencemaran
Lingkungan
Pencemaran lingkungan diantaranya pencemaran air, pencemaran
tanah, pencemaran udara. Pencemaran udara dapat dibagi lagi menjadi indoor air
pollution dan out door air pollution. Indoor air pollution merupakan problem
perumahan/pemukiman serta gedung umum, bis kereta api, dll. Masalah ini lebih
berpotensi menjadi masalah kesehatan yang sesungguhnya, mengingat manusia
cenderung berada di dalam ruangan ketimbang berada di jalanan. Diduga akibat
pembakaran kayu bakar, bahan bakar rumah tangga lainnya merupakan salah satu
faktor resiko timbulnya infeksi saluran pernafasan bagi anak balita. Mengenai
masalah out door pollution atau pencemaran udara di luar rumah, berbagai
analisis data menunjukkan bahwa ada kecenderungan peningkatan. Beberapa
penelitian menunjukkan adanya perbedaan resiko dampak pencemaran pada beberapa
kelompok resiko tinggi penduduk kota dibanding pedesaan. Besar resiko relatif
tersebut adalah 12,5 kali lebih besar. Keadaan ini, bagi jenis pencemar yang
akumulatif, tentu akan lebih buruk di masa mendatang. Pembakaran hutan untuk
dibuat lahan pertanian atau sekedar diambil kayunya ternyata membawa dampak
serius, misalnya infeksi saluran pernafasan akut, iritasi pada mata,
terganggunya jadual penerbangan, terganggunya ekologi hutan.
G.
Penyebab
masalah kesehatan lingkungan di Indonesia
Penyebab
masalah kesehatan lingkungan di Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Pertambahan
dan kepadatan penduduk.
2. Keanekaragaman
sosial budaya dan adat istiadat dari sebagian besar penduduk.
3. Belum
memadainya pelaksanaan fungsi manajemen.
H.
Hubungan
dan pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan masyarakat di perkotaan dan
pemukiman
Contoh
hubungan dan pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan masyarakat di
perkotaan dan pemukiman diantaranya sebagai berikut :
1. Urbanisasi
> kepadatan kota > keterbatasan lahan > daerah slum/kumuh >
sanitasi kesehatan lingkungan buruk
2. Kegiatan
di kota (industrialisasi) > menghasilkan limbah cair > dibuang tanpa
pengolahan (ke sungai) > sungai dimanfaatkan untuk mandi, cuci, kakus >
penyakit menular.
3. Kegiatan
di kota (lalu lintas alat transportasi) > emisi gas buang (asap) > mencemari
udara kota > udara tidak layak dihirup > penyakit ISPA.
I.
Healthy
City (Kabupaten/kota sehat)
Dalam
tatanan desentralisasi/otonomi daerah di bidang kesehatan, pencapaian Visi
Indonesia Sehat 2010 ditentukan oleh pencapaian Visi Pembangunan Kesehatan
setiap provinsi (yaitu Provinsi sehat). Khusus untuk Kabupaten/Kota, penetapan
indikator hendaknya mengacu kepada indikator yang tercantum dalam Standard
Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan. SPM ini dimasukkan sebagai bagian
dari Indikator Kabupaten/Kota Sehat. Kemudian ditambah ha-hal spesifik yang
hanya dijumpai/dilaksanakan di Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Misalnya
Kota/Kabupaten yang area pertaniannya luas dicantumkan indikator pemakaian
pestisida.
Lima
diantara 16 indikator merupakan Perilaku yang berhubungan dengan Kesehatan
Lingkungan, yaitu :
1. Menggunakan
Air Bersih untuk kebutuhan sehari-hari
2. Menggunakan
jamban yang memenuhi syarat kesehatan
3. Membuang
sampah pada tempat yang disediakan
4. Membuang
air limbah pada saluran yang memenuhi syarat
5. Mencuci
tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesehatan
lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada di antara manusia
dan lingkungannya agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia (World Health Organization Expert Committee)
Rencana
pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat Tahun 2010 diawali dengan tinjauan
tentang keadaan, masalah dan kecenderungannya dalam bidang kesehatan di
Indonesia. Bagian tersebut memuat analisis determinannya yang meliputi faktor
perilaku dan lingkungan kesehatan, yang mencakup faktor : ekonomi kesehatan,
demografi, kesehatan lingkungan dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi
serta globalisasi.
B.
Saran
Untuk
mendapatkan manfaat yang sempurna dari makalah yang kelompok buat ini, hendaknya pembaca memberikan kritik dan saran serta melakukan
pengkajian ulang (diskusi) terhadap penulisan sehingga kelompok terhindar dari
kekeliruan.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Umar Fahmi, 1991.
Transformasi Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja di Indonesia, Jakarta :
UI Press.
Azwar, 1983. Pengantar Kesehatan
Lingkungan. Mutiara. Jakarta
Depkes RI, 1982. Sistem Kesehatan
Nasional. Depkes RI.Jakarta
Ehler, Victor M. 1965., Municifal
and Rural Sanitation. Mc. Graw Hill, Publishing Company Ltd, New Delhi.
Harsanto, et al.2002. Pedoman
Teknis Penilaian Rumah Sehat. Jakarta : Depkes RI.
Keputusan Gubernur Jawa Tengah No
71 tahun 2004 tentang Standard Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kab/Kota di
Provinsi Jawa Tengah
Keputusan Menteri Kesehatan No
1202/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Penetapan
Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat
Keputusan Menteri Kesehatan No
1457/Menkes/SK/X/2003 Standard Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kab/Kota
Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1098/MENKES/SK/VII/2003 tentang Persyaratan Hygiene
Sanitasi Rumah Makan dan Restoran
Leavel and Clark. 1965. Preventive
Medicine for the Doctor in His Community, 3th Edition, McGraw-Hill Inc, New
York.
Notoatmodjo, Soekidjo.2003. Ilmu
Kesehatan Masyarakat ; Prinsip-prinsip Dasar. Jakarta : Rineka Cipta.
Peraturan Menteri Kesehatan No 416
tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air
Purdom, 1980. Environmental
Health.second edition. Academic Press.
Soeparman dan Suparmin.
2001.Pembuangan Tinja dan Limbah Cair : Suatu Pengantar. Jakarta : EGC.
Undang-undang Nomor 23 tahun 1992
tentang Kesehatan
Wagner & Lanoix,1958. Excreta
Disposal for Rural Areas and Small Comunities, World Health Organization.
Geneva.
No comments:
Post a Comment