Askep
kgd tengelam
Tenggelam (drawning)
adalah kematian yang disebabkan oleh aspirasi cairan ke dalam pernapasan akibat
terbenamnya seluruh atau sebagian tubuh ke dalam cairan, sedangkan Hampir
tenggelam (near drowning) adalah keadaan
gangguan fisiologi tubuh akibat tenggelam tetapi tidak terjadi kematian
(Onyekwelu, 2008).
Tenggelam
(drawning) adalah masuknya cairan ke dalam saluran napas yang mengakibatkan
gangguan pertukaran udara di alveoli dan dapat terjadi mati lemas (Arif
Mansjoer, 2011)
2.
Etiologi
Menurut Levin terdapat
banyak penyebab tenggelam antara lain adalah :
a. Terganggunya
kemampuan fisik akibat pengaruh obat-obatan
b. Ketidakmampuan
akibat hipotermia, syok, cedera, atau kelelahan
c. Ketidakmampuan akibat penyakit akut ketika
berenang
3. Klasifikasi
Berdasarkan temperatur
air, klasifikasi tenggelam dibagi menjadi tiga:
1.Tenggelam di air
hangat (warm water drowning), bila temperatur air ≥ 20°C
2. Tenggelam di air
dingin (cold water drowning), bila temperatur air 5-20°C
3. Tenggelam di air
sangat dingin (very cold water drowning), bila temperatur air < 5°C
Berdasarkan osmolaritas
air, klasifikasi tenggelam dibagi menjadi dua:
1. Tenggelam di air
tawar
2. Tenggelam di air
laut
Berdasarkan Kondisi Paru-Paru Korban
1) Typical Drawning
Yaitu keadaan dimana cairan masuk ke dalam saluran pernapasan korban saat korban tenggelam.
1) Typical Drawning
Yaitu keadaan dimana cairan masuk ke dalam saluran pernapasan korban saat korban tenggelam.
2) Atypical Drawning
• Dry Drowning
Yaitu keadaan dimana hanya sedikit bahkan tidak ada cairan yang masuk ke dalam saluran pernapasan.
• Immersion Syndrom
Terjadi terutama pada anak-anak yang tiba-tiba terjun ke dalam air dingin ( suhu < 20°C ) yang menyebabkan terpicunya reflex vagal yang menyebabkan apneu, bradikardia, dan vasokonstriksi dari pembuluh darah kapiler dan menyebabkan terhentinya aliran darah koroner dan sirkulasi serebaral.
• Submersion of the Unconscious
Sering terjadi pada korban yang menderita epilepsy atau penyakit jantung khususnya coronary atheroma, hipertensi atau peminum yang mengalami trauma kepala saat masuk ke air.
• Delayed Dead
Yaitu keadaan dimana seorang korban masih hidup setelah lebih dari 24 jam setelah diselamatkan dari suatu episode tenggelam.
• Dry Drowning
Yaitu keadaan dimana hanya sedikit bahkan tidak ada cairan yang masuk ke dalam saluran pernapasan.
• Immersion Syndrom
Terjadi terutama pada anak-anak yang tiba-tiba terjun ke dalam air dingin ( suhu < 20°C ) yang menyebabkan terpicunya reflex vagal yang menyebabkan apneu, bradikardia, dan vasokonstriksi dari pembuluh darah kapiler dan menyebabkan terhentinya aliran darah koroner dan sirkulasi serebaral.
• Submersion of the Unconscious
Sering terjadi pada korban yang menderita epilepsy atau penyakit jantung khususnya coronary atheroma, hipertensi atau peminum yang mengalami trauma kepala saat masuk ke air.
• Delayed Dead
Yaitu keadaan dimana seorang korban masih hidup setelah lebih dari 24 jam setelah diselamatkan dari suatu episode tenggelam.
b. Berdasarkan Kondisi Kejadian
1) Tenggelam
Yaitu suatu keadaan dimana penderita akan meneguk air dalam jumlah yang banyak sehingga air masuk ke dalam saluran pernapasan dan saluran nafas atas tepatnya bagian apiglotis akan mengalami spasme yang mengakibatkan saluran nafas menjadi tertutup serta hanya dapat dilalui oleh udara yang sangat sedikit.
4. Patofisiologi
Serangkaian proses akan
terjadi sebagai berikut: pertama terjadi suatu periode panik dan usaha yang
hebat dengan berhenti bernapas selama 1- 2 menit, selajutnya terjadi refleks
menelan sejumlah air diikuti laringospasme, hipoksia menyebabkan apnea,
penurunan kesadaran, lalu relaksasi laring dan air masuk ke dalam paru-paru
dalam jumlah lebih banyak akhirnya menjadi asfiksia dan kematian. Ketika
terbenam ke dalam air atau media cair lainnya, korban yang sadar akan menahan
nafas dan mungkin meronta untuk menyelamatkan diri atau bahkan panik. Kemudian
dorongan untuk bernafas (“air hunger”) akan menyebabkan terjadinya inspirasi
spontan – terengah-engah. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya aspirasi cairan
yang dapat menghalangi jalan nafas korban sehingga dapat menghambat korban
untuk bernafas, kemudian akan diikuti oleh kejang dan kematian oleh karena
hipoksemia. Proses ini dikenal juga dengan wet drowning. Pada beberapa kejadian
korban tidak meminum air, melainkan terjadi spasme laring yang juga dapat
mengakibatkan terjadi hipoksemia dan kematian yang dikenal dengan istilah dry
drowning.. Pada sebagian besar kasus, terjadi aspirasi air yang banyak ke dalam
paru, tetapi pada lebih kurang 10% korban tetap terjadi laringospasme, dan
terjadi apa yang disebut dry drowningMeskipun aspirasi air tawar dan air laut
pada dasarnya menimbulkan perubahan yang berlawanan dalam volume darah dan
elektrolit, hanya sebagian kecil korban yang meminum air dalam jumlah yang
cukup dari kedua jenis cairan tersebut dapat menyebabkan efek yang signifikan
secara klinis. Namun, aspirasi sejumlah cairan, baik itu air tawar maupun air
laut, dapat menyebabkan adanya kerusakan pulmonal yang dapat mengakibatkan
edema paru non-kardiogenik. Cedera paru yang terjadi dapat diperburuk oleh
adanya kontaminan di dalam air seperti bakteri, material kecil, berbagai bahan
kimia dan muntahan. Hipoksia serebral juga dapat menyebabkan edema paru
non-kardiogenik. Sebagian besar pasien akan menjadi acidemic. Pada awalnya, hal
ini lebih berkaitan dengan hipoventilasi dibandingkan lactic acidosis akibat
adanya penurunan perfusi jaringan. Abnormalitas elektrolit jarang memerlukan
penanganan pada korban near drowning dan biasanya bersifat sementara kecuali
bila terdapat cedera ginjal yang signifikan oleh karena hipoksia,
hemoglobinuria atau myoglobinuria
5. Perubahan
yang terjadi pada sistem tubuh manusia terhadap keadaan tengelam
Onyekwelu
(2008) menyatakan beberapa kegawataruratan yang dapat terjadi pada keadaan near
drowning yakni :
1. Perubahan Pada
Paru-Paru
Aspirasi
paru terjadi pada sekitar 90% korban tenggelam dan 80 – 90% pada korban hampir
tenggelam. Jumlah dan komposisi aspirat dapat mempengaruhi perjalanan klinis
penderita, isi lambung, organism pathogen, bahan kimia toksisk dan bahan asing
lain dapat member cedera pada paru dan atau menimbulkan obstruksi jalan nafas.
2. Perubahan Pada
Kardiovaskuler
Pada korban
hampir tenggelam kadang-kadang menunjukkan bradikardi berat. Bradikardi dapat
timbul karena refleks fisiologis saat berenang di air dingin atau karena
hipoksia. Perubahan pada fungsi kardiovaskuler yang terjadi pada hampir
tenggelam sebagian besar akibat perubahan tekanan parsial oksigen arterial
(PaO2) dan gangguan keseimbangan asam-basa.
3. Perubahan Pada
Susunan Saraf Pusat
Iskemia
terjadi akibat tenggelam dapat mempengaruhi semua organ tetapi penyebab
kesakitan dan kematian terutama terjadi karena iskemi otak. Iskemi otak dapat
berlanjut akibat hipotensi, hipoksia, reperfusi dan peningkatan tekanan intra
kranial akibat edema serebral.Kesadaran korban yang tenggelam dapat mengalami
penurunan. Biasanya penurunan kesadaran terjadi 2 – 3 menit setelah apnoe dan
hipoksia. Kerusakan otak irreversibel mulai terjadi 4 – 10 menit setelah
anoksia dan fungsi normotermik otak tidak akan kembali setelah 8 – 10 menit
anoksia. Penderita yang tetap koma selama selang waktu tertentu tapi kemudian
bangun dalam
4. Perubahan Pada
Ginjal
Fungsi
ginjal penderita tenggelam yang telah mendapat resusitasi biasanya tidak
menunjukkan kelainan, tetapi dapat terjadi albuminuria, hemoglobonuria, oliguria
dan anuria. Kerusakan ginjal progresif akan mengakibatkan tubular nekrosis akut
akibat terjadinya hipoksia berat, asidosis laktat dan perubahan aliran darah ke
ginjal.
5. Perubahan Cairan
dan Elektrolit
Pada korban
tenggelam tidak mengaspirasi sebagian besar cairan tetapi selalu menelan banyak
cairan. Air yang tertelan, aspirasi paru, cairan intravena yang diberikan
selama resusitasi dapat menimbulkan perubahan keadaan cairan dan elektrolit.
Aspirasi air laut dapat menimbulkan perubahan elektrolit dan perubahancairan
karena tingginya kadar Na dan Osmolaritasnya. Hipernatremia dan hipovolemia
dapat terjadi setelah aspirasi air laut yang banyak. Sedangkan aspirasi air
tawar yang banyak dapat mengakibatkan hipervolemia dan hipernatremia.
Hiperkalemia dapat terjadi karena kerusakan jaringan akibat hipoksia yang luas.
6. Manifestasi
Klinik
Beberapa manifestasi klinis tenggelam antara
lain adalah :
a. Gawat pernapasan – berkisar dari pernapasan yang cepat dan dangkal
sampai apnea
b.
Sianosis
c.
Sputum
berbusa dan merah muda
d.
Edema paru
e.
Lunglai
f.
Postur tubuh
deserebrasi atau dekortikasi
g. Koma
h. Peningkatan edema
paru
i. Kolaps sirkulasi
j. Hipoksemia
k. Asidosis
l. Timbulnya
hiperkapnia
7. Kondisi Umum dan Faktor Resiko Pada Kejadian Korban Tenggelam
a. Pria lebih beresiko untuk mengalami kejadian tenggelam terutama dengan usia 18-24 tahun
b. Kurang pengawasan terhadap anak terutama yang berusia 5 tahun ke bawah
c. Tidak memakai pelampung ketika menjadi penumpang angkutan air
d. Kondisi air melebihi kemampuan perenang, arus kuat dan air yang sangat dalam
e. Ditenggelamkan dengan paksa oleh orang lain dengan tujuan membunuh,kekerasan atau permainan di luar batas.
a. Pria lebih beresiko untuk mengalami kejadian tenggelam terutama dengan usia 18-24 tahun
b. Kurang pengawasan terhadap anak terutama yang berusia 5 tahun ke bawah
c. Tidak memakai pelampung ketika menjadi penumpang angkutan air
d. Kondisi air melebihi kemampuan perenang, arus kuat dan air yang sangat dalam
e. Ditenggelamkan dengan paksa oleh orang lain dengan tujuan membunuh,kekerasan atau permainan di luar batas.
8. Pemeriksaan
Penunjang
a. Pemeriksaan foto toraks : temuan
bervariasi (dari infiltrate parenkim tersebar sampai edema pulmonal luas
b. Nilai gas darah arteri : untuk
mendeteksi asidosis respiratorik dan asidosis metabolic
c. CT scan : mendeteksi trauma
d.
Foto thoraks : bukti aspirasi, edema pulmo, atelektasis, benda asing
e. Elektroensefalogram : untuk mengkaji
aktivitas kejang dan membuktikan adanya kematian otak.
f. Hitung darah lengkap, hematokrit,
hemoglobin : untuk menentukan derajat hemodilusi atau hemokonsentrasi dan
perlunya resusitasi cairan.
g. Kadar nitrogen urea darah : untuk
menentukan fungsi ginjal
h. Klirens kreatinin : untuk menentukan
fungsi ginjal
i. Kultur dan sensitivitas darah :
untuk mendeteksi adanya infeksi pernapasan yang tumpang tindih.
9. Penatalaksanaan
1.
Tindakan darurat
Tindakan
terpenting dalam setiap peristiwa tenggelam adalah mengembalikan fungsi
ventilasi yang efektif dan mempertahankan sirkulasi. Resusitasi harus segera
dilakukan sekalipun korban masih dalam air, tak perlu mengeluarkan air dari
paru atau lambung.
2.
Tindakan definitif
-
Jalan napas dibersihkan dari benda asing
-
Letakkan kepala lebih rendah dan penderita diletakkan miring.
-
Segeralah memasang pipa nasogastric untuk decompresi lambung
-
Berikan napas buatan dengan oksigen 100%, sedini mungkin, lanjutkan inkubasi
trachea untuk mencegah aspirasi.
-
Koreksi keseimbangan asam dan basa, elektrolit dan pemberian obat : Na
Bikarbonat 1 – 2 meq/kg BB iv, Antibiotik untuk mencegah radang paru, misal PS
8 : 1 selama 5-7 hariKonsikosteroid untuk mencegah edema otak dan memperbaiki
sufactan paru, misalkan : kortison 4 x 150 mg/hari IM dan tapering off
10. Komplikasi
a. Ensefalopati Hipoksik
b. Tenggelam sekunder
c. Pneumonia aspirasi
d. Fibrosis interstisial pulmoner
e. Disritmia ventricular
f. Gagal Ginjal
g. Nekrosis pancreas
h. Infeksi
a. Ensefalopati Hipoksik
b. Tenggelam sekunder
c. Pneumonia aspirasi
d. Fibrosis interstisial pulmoner
e. Disritmia ventricular
f. Gagal Ginjal
g. Nekrosis pancreas
h. Infeksi
No comments:
Post a Comment