Saturday, February 18, 2017

Askep kgd tengelam

Askep kgd tengelam

1.      Definisi
Tenggelam (drawning) adalah kematian yang disebabkan oleh aspirasi cairan ke dalam pernapasan akibat terbenamnya seluruh atau sebagian tubuh ke dalam cairan, sedangkan Hampir tenggelam (near drowning) adalah keadaan  gangguan fisiologi tubuh akibat tenggelam tetapi tidak terjadi kematian (Onyekwelu, 2008).

Tenggelam (drawning) adalah masuknya cairan ke dalam saluran napas yang mengakibatkan gangguan pertukaran udara di alveoli dan dapat terjadi mati lemas (Arif Mansjoer, 2011)

2.   Etiologi
Menurut Levin terdapat banyak penyebab tenggelam antara lain adalah :
a. Terganggunya kemampuan fisik akibat pengaruh obat-obatan
b. Ketidakmampuan akibat hipotermia, syok, cedera, atau kelelahan
 c. Ketidakmampuan akibat penyakit akut ketika berenang

3.      Klasifikasi
Berdasarkan temperatur air, klasifikasi tenggelam dibagi menjadi tiga:
1.Tenggelam di air hangat (warm water drowning), bila temperatur air ≥ 20°C
2. Tenggelam di air dingin (cold water drowning), bila temperatur air 5-20°C
3. Tenggelam di air sangat dingin (very cold water drowning), bila temperatur air < 5°C

Berdasarkan osmolaritas air, klasifikasi tenggelam dibagi menjadi dua:
1. Tenggelam di air tawar
2. Tenggelam di air laut

Berdasarkan Kondisi Paru-Paru Korban
1) Typical Drawning
Yaitu keadaan dimana cairan masuk ke dalam saluran pernapasan korban saat korban tenggelam.

2) Atypical Drawning
• Dry Drowning
Yaitu keadaan dimana hanya sedikit bahkan tidak ada cairan yang masuk ke dalam saluran pernapasan.
• Immersion Syndrom
Terjadi terutama pada anak-anak yang tiba-tiba terjun ke dalam air dingin ( suhu < 20°C ) yang menyebabkan terpicunya reflex vagal yang menyebabkan apneu, bradikardia, dan vasokonstriksi dari pembuluh darah kapiler dan menyebabkan terhentinya aliran darah koroner dan sirkulasi serebaral.
• Submersion of the Unconscious
Sering terjadi pada korban yang menderita epilepsy atau penyakit jantung khususnya coronary atheroma, hipertensi atau peminum yang mengalami trauma kepala saat masuk ke air.
• Delayed Dead
Yaitu keadaan dimana seorang korban masih hidup setelah lebih dari 24 jam setelah diselamatkan dari suatu episode tenggelam.

b. Berdasarkan Kondisi Kejadian
1) Tenggelam
Yaitu suatu keadaan dimana penderita akan meneguk air dalam jumlah yang banyak sehingga air masuk ke dalam saluran pernapasan dan saluran nafas atas tepatnya bagian apiglotis akan mengalami spasme yang mengakibatkan saluran nafas menjadi tertutup serta hanya dapat dilalui oleh udara yang sangat sedikit.

4.      Patofisiologi
Serangkaian proses akan terjadi sebagai berikut: pertama terjadi suatu periode panik dan usaha yang hebat dengan berhenti bernapas selama 1- 2 menit, selajutnya terjadi refleks menelan sejumlah air diikuti laringospasme, hipoksia menyebabkan apnea, penurunan kesadaran, lalu relaksasi laring dan air masuk ke dalam paru-paru dalam jumlah lebih banyak akhirnya menjadi asfiksia dan kematian. Ketika terbenam ke dalam air atau media cair lainnya, korban yang sadar akan menahan nafas dan mungkin meronta untuk menyelamatkan diri atau bahkan panik. Kemudian dorongan untuk bernafas (“air hunger”) akan menyebabkan terjadinya inspirasi spontan – terengah-engah. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya aspirasi cairan yang dapat menghalangi jalan nafas korban sehingga dapat menghambat korban untuk bernafas, kemudian akan diikuti oleh kejang dan kematian oleh karena hipoksemia. Proses ini dikenal juga dengan wet drowning. Pada beberapa kejadian korban tidak meminum air, melainkan terjadi spasme laring yang juga dapat mengakibatkan terjadi hipoksemia dan kematian yang dikenal dengan istilah dry drowning.. Pada sebagian besar kasus, terjadi aspirasi air yang banyak ke dalam paru, tetapi pada lebih kurang 10% korban tetap terjadi laringospasme, dan terjadi apa yang disebut dry drowningMeskipun aspirasi air tawar dan air laut pada dasarnya menimbulkan perubahan yang berlawanan dalam volume darah dan elektrolit, hanya sebagian kecil korban yang meminum air dalam jumlah yang cukup dari kedua jenis cairan tersebut dapat menyebabkan efek yang signifikan secara klinis. Namun, aspirasi sejumlah cairan, baik itu air tawar maupun air laut, dapat menyebabkan adanya kerusakan pulmonal yang dapat mengakibatkan edema paru non-kardiogenik. Cedera paru yang terjadi dapat diperburuk oleh adanya kontaminan di dalam air seperti bakteri, material kecil, berbagai bahan kimia dan muntahan. Hipoksia serebral juga dapat menyebabkan edema paru non-kardiogenik. Sebagian besar pasien akan menjadi acidemic. Pada awalnya, hal ini lebih berkaitan dengan hipoventilasi dibandingkan lactic acidosis akibat adanya penurunan perfusi jaringan. Abnormalitas elektrolit jarang memerlukan penanganan pada korban near drowning dan biasanya bersifat sementara kecuali bila terdapat cedera ginjal yang signifikan oleh karena hipoksia, hemoglobinuria atau myoglobinuria

5.      Perubahan yang terjadi pada sistem tubuh manusia terhadap keadaan tengelam
Onyekwelu (2008) menyatakan beberapa kegawataruratan yang dapat terjadi pada keadaan near drowning yakni :
1.   Perubahan Pada Paru-Paru
Aspirasi paru terjadi pada sekitar 90% korban tenggelam dan 80 – 90% pada korban hampir tenggelam. Jumlah dan komposisi aspirat dapat mempengaruhi perjalanan klinis penderita, isi lambung, organism pathogen, bahan kimia toksisk dan bahan asing lain dapat member cedera pada paru dan atau menimbulkan obstruksi jalan nafas.
2.   Perubahan Pada Kardiovaskuler
Pada korban hampir tenggelam kadang-kadang menunjukkan bradikardi berat. Bradikardi dapat timbul karena refleks fisiologis saat berenang di air dingin atau karena hipoksia. Perubahan pada fungsi kardiovaskuler yang terjadi pada hampir tenggelam sebagian besar akibat perubahan tekanan parsial oksigen arterial (PaO2) dan gangguan keseimbangan asam-basa.


3.   Perubahan Pada Susunan Saraf Pusat
Iskemia terjadi akibat tenggelam dapat mempengaruhi semua organ tetapi penyebab kesakitan dan kematian terutama terjadi karena iskemi otak. Iskemi otak dapat berlanjut akibat hipotensi, hipoksia, reperfusi dan peningkatan tekanan intra kranial akibat edema serebral.Kesadaran korban yang tenggelam dapat mengalami penurunan. Biasanya penurunan kesadaran terjadi 2 – 3 menit setelah apnoe dan hipoksia. Kerusakan otak irreversibel mulai terjadi 4 – 10 menit setelah anoksia dan fungsi normotermik otak tidak akan kembali setelah 8 – 10 menit anoksia. Penderita yang tetap koma selama selang waktu tertentu tapi kemudian bangun dalam
4.   Perubahan Pada Ginjal
Fungsi ginjal penderita tenggelam yang telah mendapat resusitasi biasanya tidak menunjukkan kelainan, tetapi dapat terjadi albuminuria, hemoglobonuria, oliguria dan anuria. Kerusakan ginjal progresif akan mengakibatkan tubular nekrosis akut akibat terjadinya hipoksia berat, asidosis laktat dan perubahan aliran darah ke ginjal.
5.   Perubahan Cairan dan Elektrolit
Pada korban tenggelam tidak mengaspirasi sebagian besar cairan tetapi selalu menelan banyak cairan. Air yang tertelan, aspirasi paru, cairan intravena yang diberikan selama resusitasi dapat menimbulkan perubahan keadaan cairan dan elektrolit. Aspirasi air laut dapat menimbulkan perubahan elektrolit dan perubahancairan karena tingginya kadar Na dan Osmolaritasnya. Hipernatremia dan hipovolemia dapat terjadi setelah aspirasi air laut yang banyak. Sedangkan aspirasi air tawar yang banyak dapat mengakibatkan hipervolemia dan hipernatremia. Hiperkalemia dapat terjadi karena kerusakan jaringan akibat hipoksia yang luas.

6.      Manifestasi Klinik
 Beberapa manifestasi klinis tenggelam antara lain adalah :
a. Gawat pernapasan – berkisar dari pernapasan yang cepat dan dangkal sampai apnea
b.      Sianosis
c.       Sputum berbusa dan merah muda
d.      Edema paru
e.       Lunglai
f.       Postur tubuh deserebrasi atau dekortikasi
g. Koma
h. Peningkatan edema paru
i. Kolaps sirkulasi
j. Hipoksemia
k. Asidosis
l. Timbulnya hiperkapnia
7.      Kondisi Umum dan Faktor Resiko Pada Kejadian Korban Tenggelam
a. Pria lebih beresiko untuk mengalami kejadian tenggelam terutama dengan usia 18-24 tahun
b. Kurang pengawasan terhadap anak terutama yang berusia 5 tahun ke bawah
c. Tidak memakai pelampung ketika menjadi penumpang angkutan air
d. Kondisi air melebihi kemampuan perenang, arus kuat dan air yang sangat dalam
e. Ditenggelamkan dengan paksa oleh orang lain dengan tujuan membunuh,kekerasan atau permainan di luar batas.

8. Pemeriksaan Penunjang
a.    Pemeriksaan foto toraks : temuan bervariasi (dari infiltrate parenkim tersebar sampai edema pulmonal luas
b.   Nilai gas darah arteri : untuk mendeteksi asidosis respiratorik dan asidosis metabolic
c.    CT scan : mendeteksi trauma
d. Foto thoraks : bukti aspirasi, edema pulmo, atelektasis, benda asing
e.   Elektroensefalogram : untuk mengkaji aktivitas kejang dan membuktikan adanya kematian otak.
f.    Hitung darah lengkap, hematokrit, hemoglobin : untuk menentukan derajat hemodilusi atau hemokonsentrasi dan perlunya resusitasi cairan.
g.    Kadar nitrogen urea darah : untuk menentukan fungsi ginjal
h.   Klirens kreatinin : untuk menentukan fungsi ginjal
i.   Kultur dan sensitivitas darah : untuk mendeteksi adanya infeksi pernapasan yang tumpang tindih.

9. Penatalaksanaan
1. Tindakan darurat
Tindakan terpenting dalam setiap peristiwa tenggelam adalah mengembalikan fungsi ventilasi yang efektif dan mempertahankan sirkulasi. Resusitasi harus segera dilakukan sekalipun korban masih dalam air, tak perlu mengeluarkan air dari paru atau lambung.
2. Tindakan definitif
- Jalan napas dibersihkan dari benda asing
- Letakkan kepala lebih rendah dan penderita diletakkan miring.
- Segeralah memasang pipa nasogastric untuk decompresi lambung
- Berikan napas buatan dengan oksigen 100%, sedini mungkin, lanjutkan inkubasi trachea untuk mencegah aspirasi.
- Koreksi keseimbangan asam dan basa, elektrolit dan pemberian obat : Na Bikarbonat 1 – 2 meq/kg BB iv, Antibiotik untuk mencegah radang paru, misal PS 8 : 1 selama 5-7 hariKonsikosteroid untuk mencegah edema otak dan memperbaiki sufactan paru, misalkan : kortison 4 x 150 mg/hari IM dan tapering off

10. Komplikasi
a. Ensefalopati Hipoksik
b. Tenggelam sekunder
c. Pneumonia aspirasi
d. Fibrosis interstisial pulmoner
e. Disritmia ventricular
f. Gagal Ginjal
g. Nekrosis pancreas
h. Infeksi




No comments:

Post a Comment