MAKALAH MATERNITAS
TENTANG
ASKEP PENYAKIT PENYERTA DALAM KEHAMILAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehamilan merupakan suatu proses yang alamiah dan
fisiologis, namun setiap ibu hamil menghadapi resiko yang bisa mengancam
jiwanya, oleh karena itu ibu hamil harus mendapatkan pelayanan antenatal dari
tenaga kesehatan yang professional, yakni seorang bidan untuk mengantisipasi
resiko dan penyulit persalinan.
ANC atau pemeriksaan kehamilan antenatal adalah
pemeriksaan kehamilan untuk mengoptialkan kesehatan mental dan fisik ibu hami
sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas, persiapan pemberian ASI, dan
kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar.
Dalam setiap kehamilan tentu tidak selamanya aman dan
sesuai dengan yang diharapkan, kadang adakalanya ibu hamil tersebut menderita
suatu penyakit sehingga berpebgaruh besar terhadap kehamilan, persalinan, dan
bahkan nifasnya. Sebenarnya tidak ada seorang pun wanita hamil yang
menginginkan kehamilannya disertai dengan penyakit, namun dilapangan ini sering
kita temui.
Dan penyakit penyerta kehamilan ini sering kali menjadi menyumbangkan angka
kematian ibu dan bahkan bayi. Ada beberapa penyakit yang dapat menyertai
kehamilan, da penyakit tersebut tidak main – main terhadap keselamatan ibu dan
bayi.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan
makalah ini adalah untuk mengetahui penyakit – penyakit apa saja yang berbahaya
untuk kehamilan.
b. Tujuan Khusus :
1. Diketahuinya defenisi dan maksud masing – masing penyakit
2. Diketahuinya etiologi masing – masing penyakit
3. Diketahuinya penatalaksanaan terhadap masing – masing penyakit
4. Diketahuinya dampak masing – masing penyakit terhadap kehamilan
5. Diketahuinya alternaif dan hal – hal yang dapat kita lakukan untuk
meminimalisirdampak negative dari penyakit yang diderita oleh ibu hamil tersebut.
BAB II
TINJAUAN TEORI
Penyakit Yang Menyertai Kehamilan Dan Persalinan
A.
Penyakit Herpes pada Kehamilan
Herpes berasal dari
bahasa yunani yang artinya merayap. Penyakit herpes disebabkan oleh Virus
Herpes Simpleks (HSV). Virus ini memiliki karakteristik bergerak dari satu
saraf kecil ke saraf kecil dengan cara merayap. Pergerakannya akan berakhir
ketika virus-virus tersebut sampai di kumpulan saraf.
Herpes masuk dalam
kelompok penyakit TORCH. TORCH merupakan sebutan atau akronim dari kelompok
penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan janin, terdiri dari:
1.
Toxoplasmosis
2.
Other (seperti syphilis, varicella, mumps,
parvovirus dan HIV)
3.
Rubella
4.
Cytomegalovirus
5.
Herpes simpleks
a.
Tipe Herpes Simplex dan Penularannya
Pada pengkajian lebih
lanjut, sebagaimana dilansir NYTimes.com, penyakit herpes dibagi menjadi dua
tipe yakni Herpes Simplex Tipe 1 (HSV-1) dan Herpes Simplex Tipe 2 (HSV-2).
HSV-1 menyerang mulut
dan bibir, berupa cold sore yakni semacam lepuhan-lepuhan kecil yang kadang
nampak seperti jerawat dengan warna kemerahan. Herpes tipe ini bisa ditularkan
dari organ genital ke mulut melalui hubungan seks oral (lewat mulut).
HSV-2 menyerang organ
genital. Penularannya juga terjadi terjadi lewat kontak kulit antar organ
genital maupun dari organ genital ke mulut melalui seks oral. Penularan ini
karena dalam seks oral maupun intercourse (memasukkan Mr. P ke Mrs. V) terjadi
pertukaran cairan.
Jika seseorang
terinfeksi virus herpes, akan dengan mudah menularkan penyakit ini ke siapapun
yang menjalin kontak dengannya.
b.
Penyakit herpes genitalis
Gejala herpes berbeda
antara satu penderita dengan yang lainnya. Pasalnya, penyakit ini tidak selalu
terekspresi, dalam artian adakalanya virus aktif adakalanya tidak. Seseorang
yang pernah terinfeksi umumnya tubuh akan selamanya menyimpan virus ini dan
sewaktu-waktu bisa saja kambuh.
Gejala herpes genitalis sebagaimana dilansir mayoclinic.com:
(1)
Gejala herpes genital pada pria akan
muncul gelembung kecil sepertu bisul yang kemudian pecah lalu menjadi koreng.
Luka tersebut muncul di organ genital dan sekitarnya seperti penis, skortum,
paha, anus, pantat, kandung kemih, hingga saluran kencing.
(2)
Gejala herpes genital pada wanita akan
muncul bentuk luka sama seperti pada pria. Pada wanita juga menyerang organ
genital dan sekitarnya seperti vagina, pantat, paha, anus, hingga leher rahim.
c.
Pengaruh virus herpes pada kehamilan dan cara aman melahirkan
Ibu hamil yang
terinfeksi virus herpes pada minggu-minggu awal bisa mengalami keguguran. Pun
misalkan tidak sampai terjadi keguguran dan bayi bisa diselamatkan, umumnya
tetap berbahaya bagi janin karena infeksi virus herpes dapat menyebabkan cacat
sistem syaraf dan penglihatan.
Jika ibu terinfeksi
HSV-2 di bulan-bulan akhir kehamilan, meski janin diketahui sehat, baiknya
hindari melahirkan secara normal. Â Sebagaimana dijelaskan bahwa HSV-2
menyerang organ genital. Saat bayi lahir secara normal, kulit bayi
bersinggungan dengan kulit vagina ibu sehingga beresiko tertular herpes.
Salah satu cara yang
bisa dilakukan adalah melahirkan dengan operasi sesar sehingga bayi tidak perlu
bersentuhan dengan organ genital ibu yang sudah terinfeksi.
Cara ini sudah umum
dilakukan di negara-negara maju. Jadi jika terlanjur terinfeksi herpes, operasi
sesar bisa menjadi salah satu pilihan terbaik untuk melahirkan.
d.
Tips Mencegah Penularan Herpes
Perawatan: Meskipun
tidak ada obat untuk genital herpes, obat-obatan yang tersedia untuk
meminimalkan / mengurangi kemungkinan mengurangi penularan dan keluhan.
Terdapat tiga obat
antivirus untuk perawatan genital herpes : acyclovir (Zovirax ®), valacyclovir
(Valtrex ®), dan famciclovir (Famvir ®). Obat antivirus umumnya diresepkan
untuk pasien yang mengalami episode pertama dari herpes genital, tetapi mereka
dapat digunakan untuk episode berulang juga.
Bersifat terapi
digunakan dalam individu dengan berulang genital herpes yang ingin mencegah
terserang kembali.
Pasien yang mempunyai
enam atau lebih serangan per tahun dapat menggunakan obat antivirus secara
berkala, sebelum gejala muncul. Penelitian telah melaporkan bahwa terapi
bersifat dapat mengurangi jumlah serangan sekurang-kurangnya 75% dari pengguna.
Sepenuhnya bersifat terapi mencegah serangan di beberapa pasien.
Efek samping dari obat
antivirus termasuk perut terasa tidak enak, kehilangan nafsu makan, mual,
muntah, diare, sakit kepala, pusing, dan / atau kelemahan.
B.
Penyakit CMV Dalam Kehamilan
CMV adalah virus DNA dan
merupakan kelompok dari famili virus Herpes sehingga memiliki kemampuan
latensi. Virus ditularkan melalui berbagai cara tranfusi darah, transplantasi
organ , kontak seksual, air susu , air seni dan air liur ; transplansental atau
kontak langsung saat janin melewati jalan lahir pada persalinan pervaginam.
30 – 60% anak usia
sekolah memperlihatkan hasil seropositif CMV, dan pada wanita hamil 50 – 85%.
Data ini membuktikan telah adanya infeksi sebelumnya. Gejala infeksi menyerupai
infeksi mononukleosis yang subklinis. Ekskresi virus dapat berlangsung berbulan
bulan dan virus mengadakan periode laten dalam limfosit, kelenjar air liur,
tubulus renalis dan endometrium. Reaktivasi dapat terjadi beberapa tahun pasca
infeksi primer dan dimungkinkan adanya reinfeksi oleh jenis strain virus CMV
yang berbeda.
1.
Penyebaran
Tidak ada vektor yang
menjadi perantara. Penularan transmisi atau penularan. Transmisi dari satu
individu ke individu lain dapat terjadi melalui berbagai cara. Transmisi
intrauterus terjadi karena virus yang beredar dalam sirkulasi (viremia) ibu
menular ke janin. Kejadian transmisi seperti ini dijumpai pada kurang lebih 0,5
– 1% dari kasus yang mengalami reinfeksi atau rekuren. 6 Viremia pada ibu hamil
dapat menyebar melalui aliran darah (per hematogen), menembus plasenta, menuju
ke fetus baik pada infeksi primer eksogen maupun pada reaktivasi, infeksi
rekuren endogen,2,10 yang mungkin akan menimbulkan risiko tinggi untuk
kerusakan jaringan prenatal yang serius. Risiko pada infeksi primer lebih
tinggi daripada reaktivasi atau ibu terinfeksi sebelum konsepsi. Infeksi transplasenta juga dapat terjadi, karena sel
terinfeksi membawa virus dengan muatan tinggi. Transmisi tersebut dapat terjadi
setiap saat sepanjang kehamilan, namun infeksi yang terjadi sampai 16 minggu
pertama, akan menimbulkan penyakit yang lebih berat.
Transmisi perinatal
terjadi karena sekresi melalui saluran genital atau air susu ibu. Kira-kira 2%
– 28% wanita hamil dengan CMV seropositif, melepaskan CMV ke sekret serviks
uteri dan vagina saat melahirkan, sehingga menyebabkan kurang lebih 50%
kejadian infeksi perinatal. Transmisi melalui air susu ibu dapat terjadi,
karena 9% – 88% wanita seropositif yang mengalami reaktivasi biasanya
melepaskan CMV ke ASI. Kurang lebih 50% – 60% bayi yang menyusui terinfeksi
asimtomatik, bila selama kehidupan fetus telah cukup memperoleh imunitas IgG
spesifik dari ibu melalui plasenta.8 Kondisi yang jelek mungkin dijumpai pada
neonatus yang lahir prematur atau dengan berat badan lahir rendah.
Transmisi postnatal
dapat terjadi melalui saliva, mainan anak-anak misalnya karena terkontaminasi
dari vomitus. Transmisi juga dapat terjadi melalui kontak langsung atau tidak
langsung, kontak seksual, transfusi darah, transplantasi organ.
Penyebaran endogen di
dalam diri individu dapat terjadi dari sel ke sel melalui desmosom yaitu celah
di antara 2 membran atau dinding sel yang berdekatan. Di samping itu, apabila
terdapat pelepasan virus dari sel terinfeksi, maka virus akan beredar dalam
sirkulasi (viremia), dan terjadi penyebaran per hematogen ke sel lain yang
berjauhan, atau dari satu organ ke organ lainnya.
Pada infeksi primer, IgG
muncul kira-kira 2 minggu kemudian. Pada reaktivasi, reinfeksi, IgG muncul
lebih cepat disertai kadar yang lebih tinggi dan kekuatan mengikat yang lebih
baik (avidity), sehingga serokonversi dan IgG aviditydipakai untuk membedakan
infeksi baru atau lama. Metoda pemeriksaan laboratorium yang digunakan ialah
ELISA (enzyme linked immunosorbent assay) atau ELFA (enzyme linked
immunofuorescent assay).
CMV adalah virus DNA dan
merupakan kelompok dari famili virus Herpes sehingga memiliki kemampuan
latensi. Virus ditularkan melalui berbagai cara a.l tranfusi darah,
transplantasi organ , kontak seksual, air susu , air seni dan air liur ;
transplansental atau kontak langsung saat janin melewati jalan lahir pada
persalinan pervaginam.
2.
Diagnosis
Virus dapat di isolasi
dari biakan urine atau biakan berbagai cairan atau jaringan tubuh lain. Tes
serologis mungkin terjadi peningkatan IgM yang mencapai kadar puncak 3 – 6
bulan pasca infeksi dan bertahan sampai 1– 2 tahun kemudian. IgG meningkat
secara cepat dan bertahan seumur hidup.
Masalah dari
interpretasi tes serologi adalah :
1)
Kenaikan IgM yang membutuhkan waktu lama
menyulitkan penentuan saat infeksi yang tepat
2)
Angka negatif palsu yang mencapai 20%
3)
Adanya IgG tidak menyingkirkan kemungkinan
adanya infeksi yang persisten
3.
Dampak Terhadap Kehamilan
CMV adalah infeksi virus
kongenital yang utama di US dan mengenai 0.5 – 2.5 % bayi lahir hidup. Infeksi
plasenta dapat berlangsung dengan atau tanpa infeksi terhadap janin dan infeksi
pada neonatus dapat terjadi pada ibu yang asimptomatik.
Resiko transmisi dari
ibu ke janin konstan sepanjang masa kehamilan dengan angka sebesar 40 – 50%.
10 – 20% neonatus yang
terinfeksi memperlihatkan gejala-gejala :
1)
Hidrop non imune
2)
PJT simetrik
3)
Korioretinitis
4)
Mikrosepali
5)
Kalsifikasi serebral
6)
Hepatosplenomegali
7)
Hidrosepalus
80 – 90% tidak menunjukkan gejala namun
kelak dikemudian hari dapat menunjukkan gejala :
a.
Retardasi mental
b.
Gangguan visual
c.
Gangguan perkembangan psikomotor
Seberapa besar kerusakan janin tidak
tergantung saat kapan infeksi menyerang janin.
4.
Pencegahan
Belum didapatkan obat
yang baik untuk mencegah terjadinya infeksi CMV pada ibu dan janin yang
dikandungnya.
Dapat diusahakan :
1)
Memberikan penerangan cara hidup yang
higienis, menjauhi kontak dengan cairan yang dikeluarkan oleh penderita CMV :
urine, saliva, semen dlsb.
2)
Bagi ibu, terutama yang melahirkan bayi
prematur untuk berhati-hati dalam memberikan ASI. Bayi prematur imunitasnya
masih rendah. ASI yang mengandung virus CMV, didinginkan sampai –20oC selama
beberapa hari dapat menghilangkan virus. Cara lain pasteurisasi cepat.
3)
Hati-hati pada transfusi, darah harus dari
donor sero-negatif.
4)
Vaksinasi mempunyai harapan dimasa datang
C.
Penyakit Varicella pada Kehamilan
Varicella / chickenpox
atau sering disebut cacar air adalah suatu infeksi virus menular, yang
menyebabkan ruam kulit berupa sekumpulan bintik – bintik kecil yang datar
maupun menonjol, lepuhan berisi cairan serta keropeng, yang menimbulkan rasa
gatal. Merupakan infeksi akut menular, disebabkan oleh virus varisela-zoster.
Varicella merupakan
penyakit anak-anak dan sangat jarang dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Walaupun umumnya cacar air itu suatu penyakit
ringan, namun pada wanita hamil kadang-kadang bisa menjadi berat dan dapat
menyebabkan partus prematurus.
1. Etiologi
Penyebab penyakit ini
adalah oleh infeksi dari virus Varicella-Zoster (VZV) Penamaan virus ini
memberi pengertian bahwa infeksi primer virus ini menyebabkan timbulnya
penyakit varisela, sedangkan reaktivasi (keadaan kambuh setelah sembuh dari
varisela) menyebabkan herves zoster.
Secara morfologis
identik dengan virus Herpes Simplex. Virus ini dapat berbiak dalam bahan
jaringan embrional manusia. Virus yang infektif mudah dipindahkan oleh sel-sel
yang sakit. Virus ini tidak berbiak dalam binatang laboratorium. Pada cairan
dalam penderita, virus ini juga dapat ditemukan. Antibodi yang dibentuk tubuh
terhadap virus ini dapat diukur dengan tes ikatan komplemen, presipitasi gel,
netralisasi atau imunofluoresensi tidak langsung terhadap antigen selaput yang
disebabkan oleh virus.
2. Patofisiologi
Infeksi virus masuk
bersama airborne droplet masuk ke traktus respiratorius, tidak tertutup
kemungkinan penularan juga lewat lesi kulit tapi penyebaran paling efektif
melalui sistem respirasi. Selanjutnya virus akan berkembang di dalam sistem
retikuloendotelial, kemudian akan terjadi virema disertai gejala konstitusi
yang diikuti dengan munculnya lesi di permukaan virus.
Jalur transmisi
varicella melalui inhalasi/droplet infection, yang dianggap mulai infeksius
sejak 2hari sebelum lesi kulit muncul. Kemungkinan lain penularan terjadi
melalui lesi di kulit. Lesi di kulit dianggap tidak infeksius setelah semua
menjadi krusta, dengan kemungkinan penularan terjadi sampai 10-21 hari
(rata-rata 15 hari, sejak awal muncul lesi kulit).
Tanda awal varicella
mungkin mirip gejala flu, dengan malaise dan demam, diikuti munculnya lesi
kulit yang khas. Pada suatu periode waktu didapatkan lesi berupa makula,
papula, vesikel/pustula, dan krusta, dengan lokasi tersebar/tidak berkelompok.
Penyebarannya :
a.
Biasanya mulai dari badan (dada), menyebar
ke wajah dan ekstremitas.
b.
Bentuk makula, papula vesikuladan krusta
dapat terjadi pada waktu yang sama.
c.
Bila terjadi infeksi skunder, cairan
vesikula yang jernih akan berubah menjadi nanah lymfodenopati.
3. Tanda Gejala
a.
Pada penderita akan merasa sedikit demam,
pilek, cepat merasa lelah, lesu, dan lemah. Gejala-gejala ini khas untuk
infeksi virus.
b.
Pada kasus yang lebih berat, bisa di dapatkan
nyeri sendi, sakit kepala dan pusing. Berapa hari kemudian timbullah kemerahan
pada kulit yang berukuran kecil yang pertama kali ditemukan di sekitar dada dan
perut. Gejalanya mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi.
c.
Kemerahan pada kulit ini lalu berubah
menjadi lenting berisi cairan dengan dinding tipis. Ruam kulit ini mungkin
terasa agak nyeri atau gatal sehingga dapat tergaruk secara tidak sengaja. Jika
lenting ini tidak dibiarkan maka akan segera membentuk keropeng (krusta) yang nantinya
akan terlepas dan meninggalkan bercak di kulit yang lebih gelap
(hiperpigmentasi). Bercak ini lama-kelamaan akan pudar sehingga beberapa waktu
kemudian tidak akan meninggalkan bekas lagi. Proses ini memakan waktu selama
6-8jam. Selanjutnya akan terbentuk bintik-bintik dan lepuhan yang baru.
d.
Pada bayi, misalnya bayi yang usianya
belum genap satu tahun akan lebih menderita pada saat terserang virus ini
karena demamnya bisa sangat tinggi. Kulitnya pun akan bisa terinfeksi bakteri.
Mereka belum bisa mengeluarkan apa yang dirisaukannya kecuali menangis.
4. Efek Samping
a.
Pada Kehamilan
5 – 10% wanita dewasa
rentan terhadap infeksi virus varicella zoster. Infeksi varicella akut terjadi
pada 1 : 7500 kehamilan
Komplikasi maternal yang
mungkin terjadi :
1)
Persalinan preterm.
2)
Ensepalitis
3)
Pneumonia
Resiko terjadinya
sindroma fetal adalah 2% bila ibu menderita penyakit pada kehamilan antara 13 –
30 minggu ; dan 0.3% bila infeksi terjadi pada kehamilan kurang dari 13 minggu.
Bila infeksi pada ibu terlihat dalam jangka waktu 3 minggu pasca persalinan
maka resiko infeksi janin pasca persalinan adalah 24%. Bila infeksi pada ibu
terjadi dalam jangka waktu 5 – 21 hari sebelum persalinan dan janin mengalami
infeksi maka hal ini umumnya ringan dan “self limiting”
Bila infeksi terjadi
dalam jangka waktu 4 hari sebelum persalinan atau 2 hari pasca persalinan, maka
neonatus akan berada pada resiko tinggi menderita infeksi hebat dengan
mortalitas 30%.
Pada ibu hamil yang
terpapar dan tidak jelas apakah sudah pernah terinfeksi dengan virus varicella
zoster harus segera dilakukan pemeriksaan IgG. Bila hasil pemeriksaan tidak
dapat segera diperoleh atau IgG negatif, maka diberikan VZIG dalam jangka waktu
6 minggu pasca paparan. Imunisasi varciella tidak boleh dilakuykan pada kehamilan
oleh karena vaksin terdiri dari virus yang dilemahkan
b.
Pada Persalinan
Bila infeksi terjadi
dalam jangka waktu 4 hari sebelum persalinan atau 2 hari pasca persalinan, maka
neonatus akan berada pada resiko tinggi menderita infeksi hebat dengan
mortalitas 30%.
Imunoglobulin varicella
zoster (VZIG) harus diberikan pada neonatus dalam jangka waktu 72 jam pasca
persalinan dan di isolasi. Plasenta dan selaput ketuban adalah bahan yang
sangat infeksius.
Bila serangan Herpes
Zoster sangat dekat dengan saat persalinan maka varicella dapat ditularkan
secara langsung pada janin sehingga hal ini harus dicegah.
5. Komplikasi
Pada ibu hamil yang
terpapar dan tidak jelas apakah sudah pernah terinfeksi dengan virus varicella
zoster harus segera dilakukan pemeriksaan IgG. Bila hasil pemeriksaan tidak
dapat segera diperoleh atau IgG negatif, maka diberikan VZIG dalam jangka waktu
6 minggu pasca paparan.
Imunisasi varciella
tidak boleh dilakukan pada kehamilan oleh karena vaksin terdiri dari virus yang
dilemahkan. Varisela pada ibu hamil trimester pertama dapat menimbulkan
kelainan kongenital sedangkan infeksi ibu hamil menjelang melahirkan dapat
terjadi varisela congenital.
Pada masa kehamilan
angka kejadian Herpes Zoster tidak lebih sering terjadi dan bila terjadi maka
tidak menimbulkan resiko terhadap janin. Bila serangan Herpes Zoster sangat
dekat dengan saat persalinan maka varicella dapat ditularkan secara langsung
pada janin sehingga hal ini harus dicegah.
Untuk mengurangi risiko
kerusakan akibat garukan, sebaiknya :
a.
kulit dicuci sesering mungkin dengan air
dan sabun menjaga kebersihan tangan
b.
kuku dipotong pendek agar saat digaruk
tidak terjadi infeksi
c.
pakaian tetap kering dan bersih
d.
diberi obat antibiotikan atau jika
kasusnya berat diberi obat anti-virus asiklovir.
e.
Isolasi untuk mencegah penularan
f.
diet bergizi tinggi (tinggi kalori dan
protein)
g.
bila demam tinggi, kompres dengan air
hangat
h.
upayakan agar tidak terjadi infeksi pada
kulit, misalnya pemberian antiseptik pada air mandi.
i.
upayakan agar vesikel tidak pecah
6.
Diagnosis
Diagnosa ditegakkan atas
dasar gambaran klinik meskipun usaha diagnosa juga dapat ditegakkan dengan
melakukan biakan virus dari vesikel dalam jangka waktu 4 hari setelah munculnya
ruam
Pada tes serologi IgM
varicella zoster muncul pada minggu ke 2 melalui pemeriksaan ELISA atau CFT.
IgG juga meningkat dalam waktu 2 minggu setelah pemeriksaan IgM. Pemeriksaan
untuk menentukan imunitas seorang wanita adalah dengan menggunakan FAMA –
Fluorescent Antibody Membrane Antigen.
Untuk mencegah cacar air
diberikan suatu vaksin. Kepada orang yang belum pernah mengalami komplikasi
(misalnya penderita gangguan system kekebalan), bisa diberikan immunoglobulin
zoster atau immunoglobulin varicella-zoster. Vaksin varicella biasanya
diberikan kepada anak yang berusia 12-18 bulan.
Pencegahan varicella,
selain dengan meningkatkan daya tahan tubuh, dapat ditempuh dengan pemberian
vaksinasi atau imunisasi immunoglobulin (IG) anti varicella. Vaksinasi
diberikan untuk mereka yang belum pernah terkena varicella. Immunoglobulin
diberikan setelah tejadi paparan (postexposure), terutama pada pasien dengan
status imun rendah, bayi baru lahir (BBL), dan ibu hamil. Bila sudah terjadi
infeksi, prinsip terapi adalah suportif dan pemberian anti viral sesuai
indikasi. Anti viral terpilih adalah acyclovir, yang akan bekerja efektif bila
diberikan 72 jam pertama sesudah munculnya lesi. Indikasi mutlak pemberian
terapi anti viral meliputi status imun rendah, manifestasi klinis berat, serta
kehamilan trimester ke-3. Pasien dengan varicella perlu dirawat bila keadaan
umum lemah, lesi luas, atau untuk keperluan isolasi.
D.
Penyakit Toxoplasmasis pada Kehamilan
Infeksi Toxoplasma
disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi. Pada umumnya, infeksi
Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesifik. Kira-kira hanya 10-20%
kasus infeksi.
Infeksi Toxoplasma
berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem
kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ
yang mendapatkan obat penekan respon imun).
Jika wanita hamil
terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus spontan
atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan.
pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya
kelainan mata dan telinga, retardasi mental, kejang-kejang dan ensefalitis.
1.
Gejala Toxo
Sekitar 80% - 90% dari orang yang terinfeksi Toxoplasma tidak menunjukkan
gejala. Mereka yang mengalami gejala biasanya mengalami pembengkakan kelenjar
getah bening serviks dan gejala mirip flu yang hilang dalam beberapa minggu
atau bulan tanpa pengobatan. Organisme ini sebenarnya masih berada di tubuh
dalam kondisi laten dan dapat aktif kembali jika orang tersebut menjadi
immunodepressed. Sebagai contoh, pasien dengan AIDS dapat terkena lesi di otak
akibat reaktivasi Toxoplasma. Pasien kemoterapi dapat terserang pada organ
mata, jantung (miokarditis), paru-paru atau otak ketika parasit menjadi aktif
kembali.
Infeksi bawaan Toxoplasma bisa menyebabkan masalah serius pada mata,
telinga, dan kerusakan otak pada saat lahir. Namun, infeksi bawaan mungkin
asimtomatik sampai beberapa tahun pertama kehidupan atau bahkan sampai dekade
kedua atau ketiga ketika mata (penurunan penglihatan atau kebutaan), telinga
(pendengaran), atau gejala kerusakan otak (kejang, perubahan status mental)
terkena. Toxoplasmosis merupakan penyebab utama retinochoroiditis (peradangan
retina dan koroid mata) di Amerika Serikat.
2.
Pengobatan Toxoplasma
Toxoplasmosis dapat ditangani secara medis. Ada beberapa obat, biasanya
digunakan dalam kombinasi, untuk mengobati infeksi oleh parasit ini. Tiga obat
yang paling sering digunakan ke pasien, termasuk orang dengan HIV adalah
pirimetamin (Daraprim), sulfadiazin (Microsulfon), dan asam folinic. Namun,
pasien hamil diobati dengan spiramisin (Rovamycine) dan leucovorin
(Wellcovorin) di samping obat yang tercantum di atas. Pasien dengan HIV
biasanya membutuhkan pengobatan seumur hidup untuk menjaga parasit tetap
ditekan. Obat lain kadang-kadang digunakan adalah klindamisin (Cleocin),
azitromisin (Zithromax), atau atovakuon (Mepron). Obat ini digunakan terutama
ketika pasien alergi terhadap pirimetamin atau sulfadiazin. Dosis bervariasi,
cara terbaik untuk menentukan perawatan medis individu adalah didasarkan pada situasi
kesehatan pasien.
Sayangnya, pirimetamin (Daraprim) dan sulfadiazin (Microsulfon) dapat
menyebabkan efek samping yang signifikan, terutama pada janin. Dua dari efek
samping utama adalah penekanan sumsum tulang (pengobatan leucovorin dapat
mengurangi penekanan ini) dan toksisitas hati untuk pirimetamin. Untuk
sulfadiazin, efek samping bisa mual, muntah, toksisitas hati, kejang, dan
gejala lainnya. Obat ini digunakan pada wanita hamil karena risiko infeksi oleh
Toxoplasma biasanya lebih parah daripada efek samping obat. Dokter yang merawat
harus diberitahu cepat jika efek samping terjadi.
3.
Pencegahan Toxoplasma
Pencegahan Toxoplasmosis utamanya adalah untuk menghindari masuknya
parasit. Berikut ini disarankan untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terinfeksi
Toxoplasmosis:
(1)
Benar-benar memasak semua daging (daging
beku selama beberapa hari juga mengurangi kemungkinan Toxoplasma).
(2)
Mencuci tangan dengan benar setelah
menyentuh daging mentah.
(3)
Cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi
(4)
Jangan minum susu yang tidak
dipasteurisasi atau minum air mentah.
(5)
Beri makan kucing dengan makanan yang
dimasak dengan matang.
(6)
Jangan mengadopsi atau memegang kucing
liar.
(7)
Jangan memelihara kucing baru saat hamil.
(8)
Wanita hamil harus memakai sarung tangan
saat berkebun, benar-benar mencuci tangan mereka setelah itu, dan menghindari
kontak dengan kotoran kucing, dan sebaiknya meminta orang lain untuk
membersihkan kotak kotoran kucing (bersihkan kotak kotoran kucing setiap hari).
(9)
Taruh kotak pasir kotoran kucing di luar
ruangan saat tidak digunakan.
E.
Penyakit Typus abdominalis pada Kehamilan
1.
Definisi
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran pencernaan dengan gejala demam
yang lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran.
2.
Etiologi
Salmonella typhi Batang gram negative yang mempunyai sekurang-kurangnya
tiga macam antigen yaitu: antigen O (somatic, terdiri darizat
komplekliopolisakarida), antigen H (flagella), antigen V1 dan protein membrane
hialin.
3.
Patofisiologi
Kuman salmonella typhosa masuk kedalam saluran cerna, bersama makanan dan
minuman, sabagian besar akan mati oleh asam lambung HCL dan sebagian ada yang
lolos (hidup), kemudian kuman masuk kedalam usus (plag payer) dan mengeluarkan
endotoksin sehingga menyebabkan bakterimia primer dan mengakibatkan perdangan
setempat, kemudian kuman melalui pembuluh darah limfe akan menuju ke organ RES
terutama pada organ hati dan limfe.
Di organ RES ini sebagian kuman akan difagosif dan sebagian yang tidak
difagosif akan berkembang biak dan akan masuk pembuluh darah sehingga menyebar
ke organ lain, terutama usus halus sehingga menyebabkan peradangan yang
mengakibatkan malabsorbsi nutrien dan hiperperistaltik usus sehingga terjadi
diare. Pada hipotalamus akan menekan termoregulasi yang mengakibatkan demam
remiten dan terjadi hipermetabolisme tubuh akibatnya tubuh menjadi mudah lelah.
Selain itu endotoksin yang masuk kepembuluh darah kapiler menyebabkan
roseola pada kulit dan lidah hipermi. Pada hati dan limpa akan terjadi
hepatospleno megali. Konstipasi bisa terjadi menyebabkan komplikasi intestinal
(perdarahan usus, perfarasi, peritonitis) dan ekstra intestinal (pnemonia,
meningitis, kolesistitis, neuropsikratrik).
4.
Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala Demam Pada minggu pertama demam berangsur naik berlangsung
pada 3 minggu pertama .pada minggu ke 3 suhu berangsur-angsur turun dan kembali
normal. Demam tidak hilang dengan pemberian antiseptic, tidak menggigil dan
tidak berkeringat. Kadang pasien disertai epitaksis.
a.
Gangguan pada saluran pencernaan :
b.
Halitosis
c.
Bibir kering
d.
Lidah kotor berselaput putih dan
pinggirannya hiperemesis
e.
Perut agak kembung.
f.
Mual
g.
Splenomegali disertai nyeri pada perabaan
h.
Pada permulaan umumnya terjadi diare
i.
Kemudian menjadi obstipasi
j.
Gangguan kesadaran:
1.
Kesadaran menurun ringan sampai berat.
2.
Umumnya apatis
3.
Bradikardi relative
4.
Umumnya tiap kenaikan 1celcius di ikuti
penambahan denyut nadi 10-15 kali permenit.
5.
Penderita mulai cepat lelah, malas, sakit
kepala, rasa tidak enak di perut, nyeri seluruh tubuh, hal tersebut dirasakan
antara 10-14 hari
5.
Infeksi Typus Abdominalis pada Kehamilan
Typus abdominalis dalam kehamilan, dan nifas menunjukan angka kematian yang
lebih tinggi dari pada di luar kehamilan. Penyakit ini mempunyai pengaruh buruk
terhadap kehamilan. Dalam 60-80 % hasil konsepsi keluar secara spontan : lebih
dini terjadinya infeksi dalam kehamilan, lebih besar kemungkinan berakhirnya
kehamilan.
Pengobatan dengan kloramfenikol atau tiamfenikol (Urfamycin) biasanya cukup
manjur. Waktu ada wabah, semua wanita hamil perlu diberi vaksinasi. Walaupun
kuman-kuman tufus abdominalis tidak di keluarkan melalui air susu, namun
sebaiknya penderita tidak menyusui bayinya karena keadaan umum ibu biasanya
tidak mengizinkan, dan karena kemungkinan penuluaran oleh ibu melalui jalan
lain tetap ada. Tifus abdominalis tidak merupakan indikasi bagi abortus buatan.
6.
Penanganan dan Pengobatan
a.
Pengobatan
1.
Kloramfenikol
2.
Kotrimoksasol
3.
Bila terjadi ikterus dan hepatomegali:
selain kloramfenikkol, diterapi denganAmpisilin 100 mg/kgBB/hari selama 14 hari
dibagi dalam 4 dosis.2.
b.
Perawatan
1.
Penderita dirawat dengan tujuan untuk
isolasi, observasi, dan pengobatan. Klien harus tetap berbaring sampai minimal
7 hari bebas demam atau 14 hari untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan
usus atau perforasi usus.
2.
Pada klien dengan kesadaran menurun,
diperlukan perubahan posisi berbaring untuk menghindari komplikasi pneumonia
hipostatik dan dekubitus
3.
Isolasi penderita dan desinfeksi pakaian
dan ekskreta.
4.
Perawatan yang baik untuk menghindarkan
komplikasi mengikat sakit yang lama, lemah dan anoreksia dll.
5.
Istirahat selama demam sampai dengan 2
minggu normal kembali, yaitu istirahat mutlak, berbaring terus ditempat tidur.
Seminggu kemudian boleh duduk dan selanjutnya boleh berdiri dan berjalan.
6.
Diet makanan harus cukup mengandung
kalori, cairan dan tinggi protein. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak
serat, tidak meragsang dan tidak banyak menimbulkan gas.
7.
Bila terdapat komplikasi harus diberikan
terapi yang sesuai.
8.
Obat terpilih adalah kloramferikol 100
mg/kg BB/hari dai bagi dalam 4dosis selama 10 hari. Dosis maksimal
kloramfenikol 2g/hari. Bla pasien tidak serasi/alergi dapat diberikan golongan
obat lain misalnya penisilin atau kortimoksazol.
9.
Pengobatan dengan kloramfenikol atau
tiamfenikol (Urfamycin) biasanya cukup manjur. Waktu ada wabah, semua wanita
hamil perlu diberi vaksinasi. Walaupun kuman-kuman tifus abdominalis tidak di
keluarkan melalui air susu, namun sebaiknya penderita tidak menyusui bayinya
karena keadaan umum ibu biasanya tidak mengizinkan, dan karena kemungkinan
penuluaran oleh ibu melalui jalan lain tetap ada. Tifus abdominalis tidak
merupakan indikasi bagi abortus buatan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Herpes disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks. Virus
herper ini tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat diobati. Obat yang biasa
diberikan untuk genital herpes adalah Acyclovir. Karena cara kerjanya menetap
dalam system saraf tubuh, virus tersebut tidak dapat disembuhkan atau
dihilangkan selama-lamanya. Herpes dapat juga ditularkan selama masa kehamilan
dan kelahiran.
CMV adalah virus DNA dan merupakan kelompok dari
famili virus Herpes sehingga memiliki kemampuan latensi. Virus ditularkan
melalui berbagai cara tranfusi darah, transplantasi organ , kontak seksual, air
susu , air seni dan air liur
Varicella merupakan penyakit yang disebabkan oleh
virus varisella sozter, biasanya sering terjadi pada anak-anak dan sangat jarang dijumpai dalam
kehamilan dan nifas. Walaupun umumnya
cacar air itu suatu penyakit ringan, namun pada wanita hamil kadang-kadang bisa
menjadi berat dan dapat menyebabkan partus prematurus, atau kematian janin.
Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang
disebut Toxoplasma gondi. Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang
dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau
bayi menderita Toxoplasmosis bawaan.
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang
biasanya mengenai saluran pencernaan
dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan dan gangguan
kesadaran. Penyakit ini mempunyai pengaruh buruk terhadap kehamilan. Dalam
60-80 % hasil konsepsi keluar secara spontan : lebih dini terjadinya infeksi
dalam kehamilan, lebih besar kemungkinan berakhirnya kehamilan.
Hepatitis dapat disebabkan oleh kondisi non-infeksi
seperti obat-obatan, alkohol, dan penyakit autoimun, atau oleh adanya infeksi
seperti hepatitis virus.
Infeksi traktus urinalis atau infeksi saluran kemih
adalah infeksi bakteri yang paling sering dijumpai selama kehamilan. Walaupun
bakteriuria asimtomatik merupakan hal biasa, infeksi simtomatik dapat mengenai
saluran bawah yang menyebabkan sistitis atau menyerang kaliks, pelvis, dan
parenkin ginjal sehingga menyebabkan pielonefritis.
Bahwa penyebaran penyakit infeksi dalam kehamilan telah sangat
menghawatirkan dan perlu penanganan yang serius. Penyakit infeksi dalam
kehamilan sangat berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang dan kondisi
kesehatan reproduksi. Penanggulangan Penyakit infeksi dalam kehamilan dapat
lebih efektif dengan dilakukannya upaya pencegahan dengan pemeriksaan khusus
sedini mungkin sebelum terlambat.
B. Saran
1.
Bagi ibu yang sedang hamil
a.
Sebaiknya selama masa kehamilan
selalu menjaga daya tahan tubuh atau
stamina sehingga tidak rentan terserang
berbagai penyakit.
b.
Diharapkan agar lebih menjaga kebersihan
diri terutama pada bagian Genital (alat kelamin), karena hal itu dapat mencegah
timbulnya jamur atau virus pada bagian genital yang dapat menyebabkan berbagai
penyakit seperti Herpes Genitalis dan varicella.
c.
Jika ibu mengalami gejala – gejala seperti
nafsu makan berkurang, demam, terdapat ruam pada bagian tubuh, dan terasa
gatal ibu harus segera datang ketenaga
kesehatan untuk mendapatkan pengobataan.
2.
Bagi petugas kesehatan agar senantiasa
meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya untuk menurunkan angka mortalitas
dan morbiditas Ibu dan anak. Serta dapat memberikan penyuluhan dengan penekanan
pada aspek perubahan perilaku.
3.
Bagi teman teman agar belajar yang rajin
agar kelak bisa menangani pasien dengan professional
DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo, Sarwono,
2005. Ilmu Kebidanan, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardjo, Sarwono.
2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Nugraheny,Esti.2010.Asuhan
Kebidanan Pathologi.Yogyakarta: Pustaka Rihama
http://ayufatmawatianterior.blogspot.com/2013/05/makalah-herpes-dan-varicella-pada-ibu.html diunduh pada hari Jumat, 13 Desember 2013
pkl: 10.10 WIB
http://blog-bidanrika.blogspot.com/2012/03/cmv-dalam-kehamilan.html diunduh pada hari Jumat, 13 Desember 2013
pkl: 10.10 WIB
http://www.info-kes.com/2013/05/penyakit-toxoplasmosis-toxo.html diunduh pada hari Jumat, 13 Desember 2013
pkl: 10.25 WIB
http://yhani21june.blogspot.com/2013/05/makalah-dan-asuhan-kebidanan-typus_5.html diunduh pada hari Jumat, 13 Desember 2013
pkl: 10.45 WIB
http://masalahkebidanan.blogspot.com/2013/04/makalah-hepatitis-dalam-kehamilan-askeb.html diunduh pada hari Jumat, 13 Desember
2013 pkl: 11.00 WIB
http://sichesse.blogspot.com/2012/04/makalah-askeb-iv-patologi-infeksi.html diunduh pada hari Jumat, 13 Desember 2013
pkl: 11.20 WIB
Sumber Artikel Dari:
http://rofhiah.blogspot.com/2013/12/makalah-penyakit-yang-menyertai.html#ixzz3UYxhqR2R
No comments:
Post a Comment